TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 68


__ADS_3

Keiina menelusuri tangga untuk turun menuju taman belakang, dilihatnya semua sudah berkumpul dan ada Ryu yang tengah minum teh bersama Mutia dan Adelia.


"Hei Keii, Ryu datang mencarimu." Kata Adelia.


Keiina tersenyum kikuk.


"Tante, boleh Ryu minta ijin untuk mengajak Keiina makan malam di luar?" Tanya Ryu. "Ryu tadi sudah ijin sama Key dan Key mengijinkan." Imbuhnya lagi.


"Keii.." Panggil Adelia.


"Keii ganti baju dulu, Ma.." Kata Keiina kemudian menatap Ryu. "Tunggu bentar, Mas. Aku ganti baju dulu."


Setelah lima belas menit, Keiina kembali menemui Ryu, mereka pamit pada Mutia, Adelia dan juga Audrey yang ikut turun bersama Keiina.


Ryu membawa Keiina untuk makan malam di sebuah Restoran, Ryu membuka pintu mobil dan menggandeng tangan Keiina. Keiina menurut dan mengikuti perlakuan Ryu.


"Duduklah." Kata Ryu sambil menarik kursi untuk Keiina duduki.


"Terimakasih." Jawab Keiina kemudian Ryu duduk percis di depan Keiina.


Setelah memesan menu makanan, mereka sama sama diam, Ryu yang ekspresif mendadak jadi grogi dan diam sambil sesekali melirik ke arah Keiina yang juga sama sama diam.


"Mas...." Panggil Keiina..


"Ya..." Jawab Ryu sambil memberanikan diri menatap mata Keiina, mata indah yang membuat Ryu jatuh hati saat pertama kali memandangnya.


"Maaf soal tadi siang." Kata Keiina tiba tiba membuat Ryu mengernyitkan dahinya.


Ryu merasa aneh karena untuk pertama kalinya Keiina menjelaskan sesuatu padanya.


"Tadi aku dari kampus, saat pulang tiba tiba saja aku mengingat Mas Ryu." Kata Keiina lagi dan Ryu semakin di buat terperangah. Biasanya Keiina tipe orang yang perasaannya tidak mudah di tebak, namun kini Keiina sendiri memberi tahu perasaannya.


"Aku segaja membelikan makanan untuk Mas Ryu, tapi kejadian tadi membuatku salah paham." Kata Keiina akhirnya mengakui kesalahan.


Rasanya ingin sekali Ryu menampar pipinya sendiri, merasa tidak percaya jika Keiina bisa banyak bicara dengannya.


"Mas Ryu sudah satu minggu tidak ke rumah, apa Mas Ryu sudah melupakanku?" Tanya Keiina terang terangan.


"Ahh tidak begitu, Keii.." Jawab Ryu dengan cepat. "Ini menjelang akhir bulan, aku bukan hanya menjadi dokter di rumah sakit milik keluargaku, aku juga ikut mengelolanya dan sedari kemarin banyak menghadiri rapat direksi, juga beberapa seminar yang harus aku datangi." Kata Ryu menjelaskan.


Keiina hanya tersenyum.


"Dan wanita hamil tadi, dia...."


"Kak Disya." Sahut Keiina dengan cepat.


Ryu menatap wajah Keiina dengan penuh tanya.


"Kak Audrey yang sudah memberitahuku." Lanjut Keiina.


Ryu bernafas lega, benar apa yang di katakan oleh Kaisar jika Audrey pasti menjelaskannya pada Keiina.

__ADS_1


"Hubungan kami memang dekat, karena aku sering tinggal di rumah Mommy Nanda. Karena itu aku dekat sekali dengan Kak Disya. Maaf jika itu melukaimu." Kata Ryu pada Keiina.


"Aku tau." Ucap Keiina.


Mereka kembali diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.


"Keii, apa ini artinya kamu mulai menerimaku?" Tanya Ryu ragu ragu.


"Apa perasaan Mas Ryu padaku tidak berubah?" Keiina balik bertanya.


"Tidak sama sekali. Rasa cintaku padamu tidak berubah, malah semakin dalam." Jawab Ryu.


Keiina mengangguk.


Demi apapun, rasanya Ryu ingin sekali meloncat karena gembira, ia ingin sekali berteriak karena senangnya.


"Keii.." Panggil Ryu dan Keiina menatap wajah Ryu.


Ryu mengeluarkan sebuah cincin pada Keiina, cincin yang pernah ia beli namun belum berani memberikannya langsung pada Keiina.


"Will you marry Me?" Tanya Ryu dengan penuh harap.


"Mas, apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Keiina.


"Keiina Putri Adelia, maukah kau menikah denganku?" Tanya Ryu sekali lagi.


Keiina menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Keiina menatap wajah Ryu yang penuh harap, lalu perlahan mengangguk.


"Cantik sekali." Gumam Keiina sambil menatap cincin yang melingkar di jarinya.


"Secantik kamu." Sahut Ryu.


Wajah Keiina memerah, "Ishh gombal."


"Ya gak apa apa dong, gombal sama calon istri sendiri." Balas Ryu sambil tersenyum.


Wajah mereka kini berseri, terlebih Ryu yang sedari tadi terus saja mengulas senyum.


**


Audrey tengah mempersiapkan dirinya untuk menyambut Kaisar, selesai makan malam, Audrey berendam dalam bathtub dan memakai wewangian. Audrey pun mengeluarkan sebuah lingeri yang ia sempat beli saat berjalan jalan bersama Keiina ke sebuah Mall.


Audrey menatap tubuhnya di depan cermin, "Ya ampun, aku sudah seperti wanita nakal saja, apa Kai akan menyukainya? Atau malah ilfeel ya?" Kata Audrey di depan cermin.


"Tapi ini malam pertama kami, aku ingin memberikan yang berkesan pada Kai." Ucapnya lagi.


Audrey tersenyum sendiri saat mengingat Kaisar yang selalu menahan hasratnya, meski Audrey belum pernah melakukannya, namun Audrey adalah wanita dewasa yang juga mengerti hal hal kebutuhan ranjang, seperti saat Kaisar memeluk Audrey saat tidur dan Audrey merasakan ada sesuatu yang menonjol di bagian inti Kaisar yang menempel pada tubuh Audrey.


Wajah Audrey memerah dan menggeleng gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotornya. Bahkan setelah menikah saja, Kaisar hanya berbuat sebatas mencium Audrey tanpa menyentuhnya lebih.


"Kamu pria yang baik sekali, semoga kamu tidak pernah berubah." Ucap Audrey sambil menatap foto Kaisar dan dirinya yang diambil menggunakan kamera ponsel milik Audrey.

__ADS_1


Dua jam terlewati, namun Kaisar belum juga kembali kerumah, membuat Audrey menjadi mengantuk. Suara ketukan pintu membuat Audrey terkesiap apa lagi setelah mendengar jika Keiina yang memanggilnya. Audrey segera mengganti lingeri dengan pakaiannya yang lebih sopan.


Audrey membuka pintu dan Keiina memeluk Audrey. "Mas Ryu melamarku, Kak." Ucapnya ceria.


Audrey ikut tersenyum. Keiina melerai pelukannya dan memperlihatkan jari manismya, dimana ada sebuah cincin melingkar di jarinya.


"Kamu menerima Ryu?" Tanya Audrey dan Keiina mengangguk.


Audrey tersenyum, "Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan bersama Ryu. Aku ikut bahagia." Ucap Audrey dengan tulus.


"Terimakasih, Kak." Kata Keiina. "Apa Kak Kai belum pulang?" Tanya Keiina sambil mengedarkan pandangannya.


"Belum, mungkin Kai masih banyak pekerjaan." Jawab Audrey.


"Kalau begitu Kak Audrey tidur di kamarku saja." Ajak Keiina


"Ahh tidak, Keii." Ucap Audrey yang membuat Keiina mengernyitkan dahinya.


"Maksudku, takutnya nanti Kai pulang dan minta di pijat oleh ku, atau mau di hangatkan makanannya." Ucap Audrey lagi beralasan, Audrey tidak mungkin bilang jika tengah mempersiapkan malam pertamanya bersama Kaisar.


Keiina menganggukan kepalanya, "Ya sudah, aku tidur dulu ya Kak." Pamit Keiina dan Audrey tersenyum.


Audrey segera kembali ke walk in closet dan mengganti pakaiannya kembali dengan lingerie berwarna nude. Audrey kembali menunggu Kaisar yang belum bisa di hubunginya.


"Dingin sekali, kalau lama begini aku bisa masuk angin." Ucap Audrey bermonolog lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun rasa hangat dan kenyamanan yang di rasakan oleh Audrey membuatnya terlelap.


Hampir jam 12 malam Kaisar tiba di rumah, ia berjalan gontai dengan jas di tangannya, dasi yang sudah di longgarkan dan tangan kemeja yang di gulungnya hingga siku. Rumah sudah terlihat sepi dan lampu terang tergantikan dengan lampu temaram.


Kaisar masuk ke dalam kamarnya dan melihat Audrey yang tertidur meringkuk dengan selimut hingga dagunya, ia tersenyum melihat tidur Audrey.


Kaisar segera membersihkan diri dan memakai pakaian tidurnya, ia segera naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Audrey.


Kaisar tersenyum saat selimut Audrey sedikit turun dari dagunya dan memperlihatkan Audrey yang memakai baju transparant berwarna nude.


"Dia pasti menungguku, harusnya aku tidak lembur." Gumam Kaisar sambil merapihkan anak rambut Audrey.


Kaisar segera memeluk Audrey, "Wangi sekali." Gumamnya lalu ikut tertidur bersama Audrey.


...****************...


Note:


Satu Like,


Satu Vote,


Satu Komentar dari kalian,


Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.


Please jangan jadi silence readers.

__ADS_1


__ADS_2