TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 54


__ADS_3

"Jangan!!" Pekik Kaisar.


"Tetap diam di situ!!" Sentak Reno, atau aku akan menembak adik dan sahabatmu sekaligus." Ucapnya mengancam.


"Jangan lakukan!!" Kata Kaisar. "Lepaskan mereka dan akan ku turuti semua maumu." Imbuhnya lagi.


Reno tertawa, "Kau pikir aku bodoh?? Aku melepaskan mereka dan polisi akan menangkapku?" Ucapnya sinis. "Lempar senjatamu atau ku tembak mereka." Titahnya.


Kaisar dengan ragu melempar senjata miliknya ke arah kaki Reno dan Reno menangkapnya dengan menginjaknya.


Namun reno meraih pelatuknya dan bersiap menekan senjatanya. "Aku tidak perduli jika harus membusuk di penjara asal bisa melihatmu tersiksa karena kehilangan adik dan sahabatmu."


Dorrrr..


"Jangaaaaannn!!"


Keiina menutup wajahnya, Sementara Ryu memaku saat seseorang berada di depannya, memberikan senyum dan ambruk seketika.


"Audreyyyy." Teriak Kaisar.


Doorrrr..


Harun berhasil menembak Reno di bagian tangannya hingga menjatuhkan senjatanya dan mengerang kesakitan.


Ryu menahan tubuh Audrey yang akan terjatuh. Mata Audrey tertutup rapat dan darah mengalir deras dari bagian bahunya.


Kaisar segera megambil alih Audrey dan meletakan kepala Audrey di pangkuannya. Ryu segera melakukan tindakan pertolongan pertama dengan menutup bekas tembakan untuk menghentikan pendarahan yang terus mengalir.


Ryu memeriksa nadi Audrey dan masih berdenyut. "Kita harus segera bawa ke rumah sakit."


Kaisar menggendong Audrey yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil. "Bertahanlah Audrey, aku mohon." Kata Kaisar dengan nada lemah.


Harun mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, beruntung di daerah perbatasan masih sepi dengan pengendara sehingga dalam waktu singkat mereka tiba di rumah sakit.


Audrey segera di tangani oleh dokter dan harus di operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Namun sayang, rumah sakit di perbatasan daerah tidak semaju rumah sakit di kota, membuat Audrey hanya di tangani sekedarnya sebelum di larikan kembali ke rumah sakit di kota.


Sementara itu anak buah Harun sudah mengamankan Reno dan membawanya ke pihak berwajib.


Ryu membawa Audrey ke rumah sakit Utama Medika, Regan yang baru saja selesai melakukan operasi menghampiri Ryu yang pakaiannya terlihat bersimbah darah.


"Ada apa, Ry? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Regan khawatir.


"Pa... Audrey tertembak karena melindungi Ryu dan Keii." Kata Ryu.


"Bagaimana bisa? Memang kalian dari mana? Mengapa tidak mengabari Papa?" Tanya Regan bertubi tubi.

__ADS_1


"Pa, nanti saja ceritanya. Tolong carikan dokter terbaik untuk Audrey, Pa. Siapkan ruangan operasi untuk Audrey." Pinta Ryu.


Audrey segera masuk ke dalam ruang operasi untuk tindakan mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya.


Ryu menemani Keiina yang juga mengalami shock dan harus di rawat karena sedari siang saat penculikan hingga malam, Keiina sama sekali tidak di beri makan juga minum dan mengakibatkan Keiina dehidrasi dan harus di infus.


Sementara Kaisar dengan setia menunggu di depan pintu ruang operasi, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, matanya menatap kosong pada pintu yang tertutup, Kaisar terlalu takut jika sampai terjadi sesuatu pada Audrey, bagi Kaisar, ini rasanya sama seperti saat kehilangan sang Mama di masa kecil dulu.


"Kai.." Adelia menghampiri Kaisar dan memeluknya.


Aldo menghubungi Adelia karena melihat Kaisar dan Keiina berada di rumah sakit dalam kondisi sama sama tak baik. Adelia yang mengkhawatirkan kedua putra dan putrinya segera meminta Aldo untuk menjemputnya. Aldo juga telah menceritakan kronologi yang sudah di jelaskan terlebih dahulu oleh Harun. Aldo juga menceritakan siapa Audrey bagi Kaisar dan Adelia memahami hal itu.


Kaisar menangis di ceruk leher sang Ibu, "Kai takut, Ma..."


Adelia mengusap punggung Kaisar sebagai tanda menguatkannya, "Berdoalah, Kai. Semoga Tuhan menyelamatkannya."


"Dia yang membuat Kai kuat, Ma." Kata Kaisar, "Dia semangat Kai." Imbuhnya lagi.


Adelia menenangkan Kaisar, "Mama yakin, Audrey akan baik baik saja, dia pasti akan bertahan untuk kamu."


Adelia membawa Kaisar untuk duduk dan tidak lagi berdiri di depan pintu ruangan operasi, tangannya setia menggenggam tangan Kaisar yang terlihat rapuh.


Suster keluar dan mencari keluarga Audrey, seketika membuat Kaisar dan Adelia berdiri.


"Apa golongan darahnya sus?" Tanya Kaisar.


"O rhesus negatif." Jawab Suster.


"Golongan darahku B, Ma.. Bagaimana ini?" Tanya Kaisar.


Regan dan Ayla juga datang untuk mengetahui kondisi Audrey. Suster menceritakannya pada Regan sebagai salah satu direksi rumah sakit.


"Golongan darah O negatif, sama seperti bang Raja." Gumam Regan yang terdengar oleh Ayla juga Kaisar dan Adelia.


"Apa dia Papanya Audrey?" Tanya Kaisar.


Regan mengangguk. "Hanya saja Papanya Audrey tinggal di Pulau K, di daerah pedalaman dan sulit sekali berkomunikasi dengannya. Di iya nya bisa berkomunikasi juga tetap saja waktunya tidak terkejar."


Kaisar memerintahkan Aldo untuk mencari stock darah yang di butuhkan oleh Audrey, memberi pengumuman pada seluruh karyawan WG Gorup dan akan mendapatkan imbalan yang tinggi jika bersedia mendonorkan darahnya untuk Audrey.


"Adikmu memiliki darah yang sama dengan Audrey, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk mendonorkannya." Ucap Adelia.


Mereka hening sejenak, memikirkan bagaiman bisa mendapatkan darah yang cocok untuk Audrey.


"Aku akan mendonorkan darahku untuk nya." Kata seseorang dengan lantang dan tanpa ragu.

__ADS_1


Semua mata tertuju padanya. Adelia membuang pandangannya saat pria itu menatap sendu pada Adelia.


"Golongan darahku O negatif, aku akan mendonorkannya." Kata Anhar.


Kaisar ingin menolaknya mentah mentah, namun sekarang yang ia pikirkan hanya Audrey, Audrey sedang berjuang di dalam sana, berjuang untuk bertahan, dan Kaisar pun akan memperjuangkan apapun demi keselamatan Audrey.


Kaisar hanya diam dan tidak banyak bicara. Ia membiarkan Anhar mendonorkan darahnya untuk wanita yang Kaisar cintai.


Setelah dua jam, Operasi pun selesai, namun kondisi Audrey masih kritis, ia di pindahkan di ruangan ICU yang hanya bisa di akses oleh suster dan dokter yang memantaunya.


Pagi menjelang, namun Kaisar masih setia menunggu Audrey di deoan ruang ICU.


"Kai.. Bersihkanlah tubuhmu dulu." Kata Adelia.


Regan memberikan satu ruangan khusus untuk keluarga Kaisar yang menjaga Audrey. Bahkan Ayla juga menempati ruangan khusus lainnya untuk dirinya sendiri karena tidak ingin meninggalkan rumah sakit.


Dari cermin, Kaisar melihat pakaiannya yang bersimbah darah yang sudah mengering. Darah dari wanita yang Kaisar cintai. "Aku mohon bertahanlah demi aku, Audrey." Lirih Kaisar.


Selesai membersihkan diri, Kaisar kembali turun ke tempat ICU, meski tidak bisa masuk dan menemani Audrey, setidaknya Kaisar bisa melihat Audrey yang masih belum sadarkan diri.


"Kai..." Panggil Anhar dengan pelan dan berdiri di samping Kaisar.


Kaisar hanya bergeming dan tidak menjawab panggilan Anhar.


"You love her?" Tanya Anhar.


Kaisar hanya mengangguk samar.


"Terimakasih untuk darahmu." kata Kaisar pada akhirnya. "Dengan apa aku harus membalasmu?" Tanyanya dengan mata tak lepas memandangi Audrey dari balik kaca lebar transparant.


"Aku tidak menginginkan apapun meski aku sangat menginginkannya." Jawab Anhar. "Setidaknya dalam hidupku, aku melakukan sesuatu yang berguna untuk keluargaku, menyelamatkan wanita yang di cintai oleh putraku." Imbuhnya lagi.


"Andai dulu kau tidak membuang Mama, kita pasti tidak akan seperti ini, Keii tidak akan menyimpan dendam padamu, dan Audrey tidak akan menjad korban." Balas Kaisar.


Anhar mengangguk meski Kaisar tak melihatnya. "Aku tau, kesalahanku terlalu fatal untuk di maafkan."


"Mas Anhar...."


Anhar mematung saat mendengar suara wanita yang pernah ia sia siakan di masa lalu, wanita yang akhir akhir ini ingin ia temui hanya untuk mengucap satu kata. "Maaf..."


...****************...


Tenang Readers, Anhar akan dapat karmanya koq..


Dibantu Like, Koment, Vote dan Hadiahnya ya biar akunya semangat gitu.

__ADS_1


__ADS_2