TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 62


__ADS_3

Audrey terlelap di ranjang empuk Kaisar, ia beristirahat setelah Audrey meminum obatnya. Sementara Kaisar mengerjakan pekerjaannya yang tertunda di meja kerja yang ada di dalam kamarnya. Kaisar memijat pangkal hidungnya saat lelah menyapanya, ia juga merasa lelah karena kurang tidur selama satu minggu. Kaisar menutup laptopnya dan naik ke tempat tidur dan ikut terlelap bersama Audrey.


Ryu mendatangi rumah Kaisar selepas dinas dari rumah sakit, Keiina yang sudah tau pun menyambut kedatangan Ryu.


"Hai..." Sapa Ryu saat turun dari mobil dan naik ke tangga teras rumah megah Kaisar.


Keiina hanya tersenyum.


Ryu mengeluarkan sesuatu dari jas nya. "Untukmu." Kata Ryu sambil memberikan dua batang coklat untuk Keiina.


Keiina menerimanya, "Terimakasih."


Mereka duduk bersama di ruang tamu. "Mama dan Oma kemana?" Tanya Ryu.


"Ada di kamar, mungkin sebentar lagi turun untuk makan malam." Jawab Keiina.


**


Kaisar terbangun saat merasakan pergerakan Audrey di sampingnya.


"Queen, kamu sudah bangun." Kata Kaisar dengan suara serak khas bangu tidur.


"Aku mau ke kamar mandi." Jawab Audrey sambil mencoba berdiri dari duduknya.


"Sekalian bersih bersih ya, biar aku bantu." Kata Kaisar dan ikut beranjak dari tempat tidur.


"Jangan." Kata Audrey dengan cepat.


"Kenapa?" Tanya Kaisar dengan heran.


"A.. Aku sendiri saja." Ucapnya gugup.


Kaisar tersenyum melihat Audrey yang malu malu itu. "Aku sudah pernah membuka seluruh pakaianmu, kenapa kamu masih malu, hem?"


"Kai..." Kata Audrey malu.


Kaisar segera memapah Audrey untuk ke kamar mandi dan mendudukannya di atas closet.


Dengan perlahan Kaisar membuka pakaian Audrey.


"Kai, aku malu." Kata Audrey dengan pelan sambil menahan lengan Kaisar.


Kaisar berjongkok di depan Audrey. "Aku suamimu. Kenapa harus malu?" Katanya dengan lembut.


"Tapi aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya." Kata Aundrey lagi.


"Hei, cepat atau lambat kita akan melakukannya. Dan aku juga sudah pernah membuka pakaianmu, bahkan tubuhku juga menempel dengan tubuhmu meski kita tidak melakukan apa apa dan hanya berpelukan." Balas Kaisar.


"Tapi kan saat itu aku tidak sadar." Kata Audrey keras kepala.


"Jadi kamu tidak mau aku bantu?" Tanya Kaisar.

__ADS_1


"Bukan begitu, Kai. Aku hanya malu." Jawab Audrey.


Kaisar mengecup kedua tangan Audrey yang sedari tadi di genggamnya. "Percaya padaku, ya. Aku ini sekarang suamimu, aku akan mengurusmu di saat kamu sakit seperti ini." Kata Kaisar dengan lembut. Tak terlihat sedikitpun kemarahan di wajah Kaisar.


Audrey mengangguk dan Kaisar segera mencium kening Audrey dengan begitu dalam.


Perlahan Kaisar kembali membuka pakaian Audrey, membuat jantungnya berdetak dengan kencang.


"Sewaktu aku membuka pakaianmu saat sakit, aku tidak melihat tubuhmu." Kata Kaisar.


"Aku menutupi tubuhmu dengan selimut. Aku tidak selancang itu, Quenn." Ucap Kaisar lagi.


Audrey tidak mengetahui hal itu, ia tidak menyangka jika Kaisar bisa bersikap sopan padanya.


"Aku terlahir dari seorang wanita, Oma juga seorang wanita yang membesarkanku, adikku juga seorang wanita, tidak mungkin aku melecehkan seorang wanita." Ucap Kaisar lagi.


"Jadi kamu tidak lihat?" Tanya Audrey.


Kaisar tersenyum, "Tidak sama sekali, namun saat aku memelukmu, untuk memberikan metode skin to skin agar demammu cepat turun, aku sedikit membayangkan bentuk tubuhmu, aku pria normal, Queen." Jawab Kaisar.


Kaisar menelan salivanya saat pakaian Audrey terlepas dari tubuh Audrey, kulit putih susu nan lembut itu membuatnya tidak berkedip. Bahkan saat melihat dua gundukan menyembul meski masih terbungkus rapih.


"Tuh kan." Kata Audrey ambigu.


Kaisar segera kembali pada kesadarannya. "Ah ya Maafkan aku Queen."


Tangan Kaisar mencoba membuka kaitan pembungkus itu, namun Audrey menahannya.


"Kamu bisa melepasnya?" Tanya Kaisar.


Audrey menggelengkan kepalanya.


Kaisar membuka kaitannya dan Audrey menahannya dari depan.


"Kai, please keluar. Aku malu." Kata Audrey dengan wajah memerah.


Kaisar menatap wajah Audrey.


"Nanti saja, saat malam pertama kita." Kata Audrey memberi sebuah janji yang pasti akan Kaisar tagih. "Aku janji, akan memperlihatkan semuanya saat malam pertama kita nanti. Aku takut nanti kamu sendiri yang tersiksa karena meenahan hasrat." Kata Audrey lagi yang memang masuk akal.


Kaisar menganggukan kepalanya, benar apa yang di katakan Audrey, bagaiman jika nanti Kaisar tidak bisa menahan dirinya.


Kaisar berbalik mengambilkan handuk kecil untuk Audrey, menyalakan keran air hangat. "Panggil aku jika sudah selesai." Kata Kaisar dengan lembut.


Audrey menahan lengan Kaisar yang akan keluar dari kamar mandi. "Maaf." Ucapnya ragu.


Kaisar tersenyum, "Tidak apa, Queen. Aku akan mengaih janjimu nanti saat kamu sudah pulih 100%."


Audrey mengangguk. "Terimakasih, Kai."


**

__ADS_1


Adelia dan Mutia menemani Ryu yang sedang mengobrol dengan Keiina.


"Ryu, nanti tolong ingatkan Mama, Mama membuatkan puding strawberry untuk Mamamu." Kata Adelia dengan ramah.


"Ah iya, Ma. Terimakasih." Jawab Ryu.


"Mama sudah pernah bertemu dengan Mamanya Mas Ryu?" Tanya Keiina yang tidak tau.


"Iya sudah, sewaktu pernikahan Kak Kai dan Kak Audrey." Jawab Adelia.


"Kamu mau bertemu juga dengan Mamaku, Keii?" Tanya Ryu menggoda.


"Ti.. Tidak.." Jawab Keiina.


"Hem sayang sekali, padahal Mamaku ingin sekali bertemu denganmu." Kata Ryu.


Wajah Keiina seketika merona, dan hal itu terlihat oleh Adelia dan juga Mutia. Keiina masih saja membentengi dirinya, padahal Adelia juga melihat rasa ketertarikan Keiina pada Ryu.


"Kalian ngobrol dulu, ya. Mama dan Oma akan mempersipkan makan malam dulu." Kata Adelia sambil mengedipkan satu matanya pada Mutia.


Mutia pun mengerti hal itu, Keiina memang harus banyak menghabiskan waktu dengan Ryu. Mutia berpikir akan ada rasa cinta jika sudah terbiasa sering bersama. Karena hal itulah Adelia dan Mutia banyak memberikan waktu ruang pada Ryu untuk pendekatan pada Keiina.


"Keii, makan keluar yuk." Ajak Ryu saat mereka tinggal berdua.


Keiina menggelengkan kepalanya, untuk kesekian kalinya Keiina menolak ajakan Ryu.


Ryu yang sudah terbiasa mendapatkan penolakan itu tetap tersenyum, Ryu yang seorang dokter begitu paham mengenai psikis yang tengah di alami Keiina.


"Maksud aku, nanti aja Mas. Kan hari ini hari pertama Kak Audrey berada di rumah ini. Masa kita tinggal makan keluar. Mama juga sudah masak banyak." Kata Keiina menjelaskan.


Sebenarnya Keiina merasa tak Enak pada Ryu, meski bagaimanapun Ryu lah jembatan baginya bisa menemukan keluarganya.


"Oh iya, aku lupa." Balas Ryu dengan ceria seperti biasanya. "By the way, dimana pengantin baru itu?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya.


"Sepertinya masih di kamar." Jawab Keiina melihat ke arah tangga.


"Kakakmu pasti sangat bahagia." Kata Ryu. "Aku saksi jika Kakakmu tidak pernah bahagia dalam hidupnya, bertahun tahun ia mencari Mama kalian dan juga tentangmu." Imbuhnya lagi dan Keiina menyimaknya dengan serius.


"Sekarang hidup Key begitu sempurna. Ada Oma, Mama, kamu dan kini ada Audrey di hidupnya." Ryu menghela nafasnya sejenak. "Aku sudah tenang jika nanti meninggalkan Key lagi."


Keiina mengernyitkan dahinya. Ryu tersenyum melihat Keiina. "Aku akan kembali ke Jerman, aku di undang untuk ikut bergabung di sebuah rumah sakit disana."


"Je.. Jerman.. Bukannya Mas Ryu sudah menjadi dokter spesialis bedah?" Tanya Keiina.


...****************...


Mumpung senin, aku mau minta Vote.


satu like, satu komentar dari readers semua sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.


Please jangan jadi silence readers.

__ADS_1


__ADS_2