
Tidak terasa, Kaisar ikut terlelap bersama Audrey, setelah Kaisar mengeratkan pelukannya pada Audrey, Audrey tertidur tanpa mengigau lagi, suhu tubuhnya pun sudah menurun.
Audrey perlahan mengerjapkan matanya, ia menyadari berada dalam dekapan Kaisar dengan tubuh yang menempel sempurna, bahkan tanpa sehelai pakaian meski masih tertutup di bagian dada dan bagian inti Audrey, Audrey merutuki sikapnya yang tidak berdaya dan cenderung pasrah, namun Audrey juga tidak bisa menolaknya.
Audrey bergeser untuk memberi jarak dengan. Kaisar, pergerakan Audrey membuat Kaisar tersadar dari lelapnya. Kaisar mengerjapkan matanya dan melihat Audrey yang mencoba untuk duduk sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya.
"Audrey..." Panggil Kaisar dengan suara berat khas bangun tidur.
"Maafkan saya, Tuan." Kata Audrey masih dengan nada lemah.
Kaisar tersadar dengan apa yang di lakukannya, ia segera turun dari tempat tidur Audrey dan dengan segera memakai pakaiannya, sementara itu Audrey hanya menunduk sambil memegangi selimutnya tak berani menatap tubuh kekar Kaisar yang terekspos.
Kaisar mengambil piyama yang tadi ia ambilkan untuk Audrey, dan memberikannya pada Audrey. "Pakailah, aku tidak akan melihatnya." Ucapnya lalu membalikan tubuhnya agar tidak melihat Audrey.
Audrey dengan segera memakai pakaiannya. "Terimakasih." Kata Audrey setelah memakai piyamanya dengan lengkap.
Kaisar kembali membalikan tubuhnya lalu duduk di tepi tempat tidur Audrey dan mengulurkan tangannya untuk mengukur suhu tubuh Audrey.
"Demammu sudah turun." Kata Kaisar.
"Terimakasih, maaf merepotkanmu, Tuan." Ucap Audrey.
Kaisar mengangguk, "Kamu kenapa bangun? Butuh sesuatu?" Tanyanya.
"Aku haus."
Kaisar berdiri dan mengambilkan minum di dapur yang menyatu dengan ruang tidur itu. Audrey meminumnya hingga tandas.
"Pulanglah, Tuan. Ini sudah hampir pagi." Kata Audrey.
Kaisar melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukan pukul dua pagi. "Tapi kamu?" Tanya Kaisar.
"Aku sudah baik baik saja." Jawab Audrey yang masih saja menunduk menyembunyikan wajah malunya.
Hening sejenak..
"Maafkan aku jika aku berbuat hal yang membuatmu tidak nyaman, aku bingung dan panik sekali." Kata Kaisar pada akhirnya. "Tapi aku bersumpah tidak melakukan hal diluar batas, semua yang aku lakukan hanya untuk menolongmu." Imbuhnya lagi menjelaskan.
"Aku tau." Sahut Audrey dengan singkat.
__ADS_1
Mereka sama sama diam seolah tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Pulanglah, Tuan." Ucap Audrey kembali.
Kaisar hanya diam, sebenarnya ia berat meninggalkan Audrey, namun ia juga tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal.
Pada akhinya Kaisar mengangguk, "Istirahaltlah, aku akan pulang." Ucapnya. "Besok hari sabtu, pergunakanlah waktu untuk istirahat." Imbuhnya lagi.
"Terimakasih." Ucap Audrey.
Kaisar berdiri, "Jangan sungkan untuk menghubungiku jika butuh sesuatu." Kata Kaisar dan Audrey mengangguk samar.
Dengan berat, Kaisar meninggalkan unit apartemen milik Audrey.
Audrey merasakan jantungnya yang berdegup kencang, Kaisar adalah pria pertama yang dalam pikirannya mungkin sudah melihat sebagian tubuhnya. Audrey menggeleng gelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran negatif di kepalanya.
Sementara itu, Kaisar baru saja tiba di rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Ia segera membersihkan diri dengan berendam dengan air hangat, Kaisar ingin meredakan hasrat yang sedari tadi ia tahan, meski bagaimana pun Kaisar adalah pria normal, bersentuhan dengan Audrey meski tidak melakukan apapun membuat hasratnya bangkit dan ingin di tuntaskan. Namun Kaisar masih menguasai akal sehatnya, ia memilih menahan dan kini meredamnya sendiri dengan berendam.
"Queen Audrey..." Gumamnya sambil memejamkan matanya. "Kamu seksi sekali, My Queen..."
Selesai menekan hasratnya, Kaisar segera merebahkan diri dan melanjutkan tidurnya karena masih merasa ngantuk.
Pagi hari Anhar keluar dari ruang kerjanya dan melihat dua pelayan rumah yang tengah membersihkan barang barang pecah dan berantakan akibat ulah Riska, ia tak mengerti mengapa Riska bisa mengetahui jika Anhar sering kali bertemu dengan Keiina, apakah Riska menyuruh seseorang untuk memata matainya, pikir Anhar seperti itu dan membuat Anhar menjadi murka.
Anhar menuju kamar yang Riska tempati. Seketika bau alkohol dan asap rokok begitu menyeruak menusuk hidungnya. Anhar semakin geram lalu ia mengambil gelas berisikan air di atas nakas lalu menyiramkannya pada wajah Riska.
Riska terkesiap lalu bangun dengan mata yang masih memerah karena efek minuman keras. "Apa yang kau lakukan padaku, Mas?" Pekik Riska tak terima.
"Kenapa kamarku bau sekali alkohol dan asap rokok?" Sentak Anhar.
"Apa perdulimu?" Tanya Riska menantang.
"Jelas aku perduli karena rumah ini adalah rumah keluargaku." Balas Anhar.
"Ada apa ini?" Sahut seseorang yang masuk begitu saja ke kamar Anhar dan Riska.
Anhar menoleh ke arah Reno. "Urus ibumu, jangan hanya bisa memintainya uang saja." Sentak Anhar lalu keluar dari kamar yang di tempati oleh Riska.
"Sia*lan kamu, Mas!! Awas saja aku akan membunuh selingkuhanmu itu!!" Teriak Riska berapi api.
__ADS_1
Reno menenangkan Riska, "Ada apa, Bu?" Tanya Reno.
"Anhar berselingkuh dengan wanita lain, Reno!!" Jawab Riska masih dengan emosi.
"Tidak mungkin Om Anhar berselingkuh, Bu. Om Anhar sudah tergila gila pada Ibu." Kata Reno mencoba tak mempercayai Riska. Reno sendiri khawatir jika sampai Anhar berselingkuh, maka Riska akan keluar dari rumah keluarga Wiguna dan akan berimbas pada Reno juga.
Riska segera mengambil ponselnya yang tergelatak di atas nakas, ia membukanya dan memperlihatkan foto foto Anhar bersama wanita yang tidak terlihat wajahnya.
Reno melihat satu persatu foto itu. "Wajahnya tidak terlihat, Bu." Ucap Reno.
"Wanita itu sepertinya licik sekali." Desis Riska.
"Lalu kita harus bagaimana, Bu?" Ucap Reno.
"Cari tau siapa wanita itu, dan teror dia, bila perlu bunuh saja dia agar tidak merebut Anhar." Kata Riska dengan penuh emosi.
"Tapi kita tidak tau siapa wanita itu, Bu. Kita harus menyelidikinya dulu, dan aku tidak bisa menyewa detektif karena aku baru saja di pecat dari tempat kerjaku." Kata Reno yang sedari tadi ingin mengadukan nasibnya pada Riska.
"Apa?? Kamu di pecat lagi??" Tanya Riska tak percaya. "Tak bisa kah kamu bertahan dengan pekerjaanmu, Reno? Anhar sudah berkali kali memasukan mu bekerja di perusahaan teman temannya, dan sekarang tidak akan mungkin lagi Anhar mau membantumu lagi." Kata Riska yang menjadi semakin emosi
"Aku tidak cocok bekerja seperti itu Bu, menawarkan mobil, menjelaskan keunggulannya, tapi ternyata tidak di beli, sangat memuakkan bekerja seperti itu." Balas Reno.
Riska hanya bisa menghela nafas, salahnya sendiri terlalu memanjakan Reno hingga Reno malas dan hanya bergantung pada uang yang Riska punya.
"Lalu kita harus bagaimana, Ren? Posisi Ibu sudah terancam di sini, bagaimana jika Anhar serius pada wanita itu dan menikahinya? Itu tandanya kita akan di tendang dari rumah ini sama seperti Adelia dulu. Kalau begitu apa bedanya Ibu dan Adelia, sama sama terbuang!!" Riska terus saja meraung sambil mengacak ngacak rambutnya frustasi.
Reno pun berpikir keras, ia tidak mau hidupnya yang nyaman akan berakhir begitu saja.
...***********...
...Note:...
...Satu Like,...
...Satu Vote,...
...Satu Komentar dari kalian,...
...Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini....
__ADS_1
...Please jangan jadi silence readers....