
Jadwal operasi keiina sudah ditentukan, kini Keiina sedang menunggu di dalam ruang perawatannya sambil ditemani oleh Anhar Adelia dan juga Ryu sebagai suaminya.
"Pa... Keii takut sekali." Kata Keiina bermanja pada Anhar.
"Tidak apa apa sayang, semua pasti baik baik saja, lagi pula Papa mertuamu sendiri yang akan mengoperasimu, pasti Papa mertuamu akan melakukan hal yang terbaik untukmu dan juga bayimu." Kata Anhar menguatkan.
Adelia benar benar merasa bahagia karena Anhar memperlakukan Keiina dengan lembut, dan bersyukur karena akhirnya Keiina merasakan kasih sayang seorang ayah dari ayah kandungnya sendiri.
"Kamu jangan mikir macam macam, pikirkan saja sebentar lagi kamu akan bertemu dengan putrimu yang cantik ini. Papa akan selalu menunggu dan mendoakanmu di depan ruang operasi bersama Mama." Kata Anhar lembut. "Iya kan, Ma?" Tanya Anhar pada Adelia.
"Iya Keii, Papa dan Mama akan menunggumu dan tidak akan kemana mana." Sahut Adelia.
Anhar terus mengusap usap perut buncit Keiina dengan sayang, dan Keiina merasakan kasih sayang yang tulus dari Anhar. Ryu memaklumi hal itu dan Ryu pun tidak keberatan sama sekali dengan sikap manja Keiina pada Anhar.
Hingga tiba saat Keiina akan di operasi, Anhar sendiri yang mengantarkannya sampai pintu ruangan operasi.
Anhar mencium kening Keiina, "Papa menunggumu di sini." Ucapnya lembut.
Keiina tersenyum, "Terimakasih, Pa." Balasnya.
Adelia pun melakukan hal yang sama pada Keiina dan memeluknya.
Anhar meraih Adelia ke dalam dekapannya saat pintu ruangan operasi tertutup. "Keii wanita kuat sepertimu." Kata Anhar sambil mencium pelipis Adelia.
Adelia hanya mengangguk dan berdoa di dalam hatinya agar putrinya di berikan kekuatan dan keselamatan untuk melewati masa operasinya.
Ryu memeluk Keiina saat Keiina diberikan suntikan oleh dokter anastesi, "Mas jangan tinggalin aku, ya." Kata Keiina.
Ryu menggenggam tangan Keiina, "Never ever." Jawab Ryu dengan lembut.
Regan memulai operasinya dengan mengajak berbicara Keiina. Sementara Ryu mengusap lembut kepala Keiina.
"Mas..." Panggil Keiina..
"Iya, Baby..."
"Kenapa bisa mencintaiku sebanyak itu?" Tanya Keiina.
Jari jempol Ryu mengusap usap kening Keiina, "Entahlah, mencintai tidak butuh alasan, mengalir begitu saja. Tapi aku begitu mencintaimu, mencintai putri kita juga." Kata Ryu.
"Aku wanita paling beruntung." Ucap Keiina.
Ryu mengangguk, sesekali menciumi pipi Keiina. "Jangan pernah meragukan cintaku ya, By.." Kata Ryu.
Owekk Owekkk...
__ADS_1
Suara tangis bayi memecah ketegangan, Regan dengan senyum lebar penuh kebanggaan mengangkat bayi mungil dari dalam rahim Keiina, "Welcome to the world Baby Raelyne." Kata Regan dan memperlihatkan sekilas bayi mungil, merah dan lucu itu lalu memberikannya pada Bidan rumah sakit yang menjadi asistennya.
"Raelyne?" Tanya Keiina.
Regan kembali melakukan operasinya, "Bolehkah Papa ikut memberinya nama?" Tanya Regan sambil fokus menjahit setiap lapisan perut Keiina.
"Itu nama yang cantik sekali, Pa..." Kata Keiina.
"Ya, dan namanya cantik secantik putri kalian." Jawab Regan.
Di luar ruangan operasi, Anhar dan Adelia saling berpelukan saat mendengar suara tangis bayi. "Cucu ke empat kita, Sayang." Kata Anhar sambil mencium puncak kepala Adelia.
Setelah hampir dua jam dan melewati tahap observasi, Keiina akhirnya di pindahkan ke ruang perawatannya.
Keiina menangis saat bertemu dengan Adelia, "Mamaaa.."
Adelia menggenggam tangan Keiina, "Tidak apa apa sayang, Keii sudah hebat melewati tahap ini." Ucapnya penuh kelembutan.
"Maa, maafkan Keii." Ucap Keiina, ia mengingat semua pengorbanan Adelia di masa lalu. "Keii belum bisa jadi anak baik, belum bisa membahagiakan Mama."
"Siapa bilang, Keii sudah sangat membahagiakan Mama. Jangan lagi merasa seperti itu." Ucap Adelia.
Anhar pun mendekat pada Keiina, "Putri Papa hebat." Ucap Anhar.
"Pa.. Jangan lagi tinggalin Mama." Kata Keiina, entah mengapa Keiina menjadi cengeng seperti ini.
Keiina kembali tenang setelah merasa mengantuk, Anhar tak beranjak sedikit pun dari sisi Keiina. Semua perhatian Anhar tercurah pada Keiina selama di rumah sakit.
"Mas makan dulu." Kata Adelia.
"Nanti saja, Sayang. Takut Keiina bangun dan mencariku." Ucap Anhar.
"Mas, Keii bangun pasti yang di cari itu ya suaminya. Masa Mas sih." Balas Adelia.
Ryu tersenyum, "Tidak apa, Ma. Aku mengerti." Sahutnya.
"Ya tapi Papa mertuamu itu belum makan, Ry. Mumpung Keii tidur, makanlah dulu." Ucap Adelia lagi.
"Iya, Pa.. Papa harus perhatikan jam makan Papa agar tetap sehat." Kata Ryu menyetujui.
Anhar menghela nafas, "Baiklah." Anhar lalu berdiri dan menuju meja makan yang berada di dalam ruangan eksekutif.
"Maaf, Sayang." Ucap Anhar.
Adelia tersenyum, "Kamu benar benar menebus kesalahanmu pada Keiina." Ucap Adelia.
__ADS_1
Anhar mengangguk, "Aku tidak pernah bisa menebusnya." Balasnya. "Ini tidak seberapa." Imbuhnya lagi.
Keesokan harinya, Bayi mungil yang di beri nama Raelyne Elvina Aditya dibawa masuk ke dalam ruang perawatan Keiina. Untuk pertama kalinya Keiina belajar menyusui, Adelia dan Ayla begitu bahagia merasakan kehadiran Baby Ril.
"Asinya keluar?" Tanya Ayla.
"Keluar, Ma. Ril nyusunya kuat sekali." Ucap Keiina sambil sesekali meringis merasakan sesapan dari bibir mungil Ril.
"Sama Daddy nya kuatan mana nyusunya?" Goda Ayla.
Wajah Keiina memerah, beruntung tidak ada Anhar maupun Regan yang mendengarnya. Hanya ada Adelia dan Ryu saja di ruangan itu.
"Mama nih ya." Kata Ryu sedikit merengut.
"Ah kamu ini Ry. Kamu kan tau, pria itu nyusunya sampai sudah dewasa juga masih kuat." Ayla tertawa.
Adelia pun ikut tertawa.
"Ma, malu dong di depan Mama Adel bicara seperti itu." Kata Ryu memperingatkan.
"Ya engga dong, kan Mama Adel juga tau." Balas Ayla sambil mengerlingkan satu matanya pada Adelia.
Adelia hanya tersenyum, ia terlalu malu jika membahas hal hal ranjang di depan orang lain.
"Kamu harus puasa selama dua tahun, Ry." Kata Adelia.
"Iya, kamu sudah kelebihan gizi, lebih baik sekarang puasa dan berikan hak penuh pada Ril." Sahut Ayla.
"Ryu tau, Ma. Tidak usah di ingatkan." Kata Ryu.
Menjelang siang, Adelia dan Ayla turun ke kantin untuk mencari makan, sementara Anhar masih belum kembali dari rumah.
Ryu mendekat pada brankar Keiina, "Baby, Ril cantik sekali sepertimu." Ucap Ryu.
"Tapi hidungnya mirip sepertimu." Balas Keiina menatap takjub pada bayi mungil di dalam gendongannya.
"Aku masih tak percaya, Ril terlahir dari rahimku." Kata Keiina.
"Terimakasih Baby, sudah percaya padaku dan memberiku kebahagiaan yang luar biasa ini. Aku akan menjadi cinta pertama untuk Ril." Kata Ryu dengan lembut.
"Aku sangat berharap seperti itu." Balas Keiina, "Aku ingin Ril di penuhi banyak cinta, aku tidak ingin Ril tumbuh kesepian."
"Ril tidak akan kesepian, ada kita sebagai Mommy dan Daddy nya, ada Papa Mamaku sebagai Grandpa dan GrandMa nya, Ada Papa Anhar dan Mama Adel sebagai Opa Oma nya, juga Ada Kai dan Audrey sebagai Papa Mama nya juga." Ucap Ryu.
"Dan ada Kevin, Kenzo juga Keysa." Ucap Keiina. "Dan Oma sebagai Oma buyutnya." Balas Keiina dan Keiina tersenyum membayangkan jika anaknya akan berlimpah penuh kasih sayang.
__ADS_1
...****************...