
Satu minggu berlalu, kondisi Audrey semakin membaik, Audrey mulai bisa menggerakan tangannya dengan leluasa meski masih ada rasa sedikit sakit.
"Padahal aku masih ingin kerja." Kata Audrey sambil memasangkan dasi di kerah baju Kaisar.
"Hem." Jawab Kaisar dengan singkat.
"Ishh nyebelin." Ucap Audrey.
Kaisar tertawa lalu menangkup ke dua pipi Audrey. "Aku lebih suka kamu di rumah, bersama Oma, Mama, dan Keii."
"Tapi nanti kerjaan kamu menumpuk jika tidak ada aku."
"Ada Aldo yang bantu aku, lagi pula Aldo juga mencari asisten untuk menggantikanmu juga." Ucap Kaisar menenangkan Audrey.
"Laki laki atau perempuan?" Tanya Audrey.
Kaisar menaikan satu halisnya. "Kalau laki laki kenapa dan kalau perempuan kenapa?" Tanya Kaisar balik.
Audrey menghela nafas kemudian menjauh dari Kaisar. "Tidak apa apa, mudah mudahan kamu dapat asisten yang cocok." Kata Audrey dengan nada merajuk.
Kaisar tersenyum lalu memeluk Audrey dari belakang. "Aku minta sama Aldo, tim asistenku laki laki semua."
Audrey hanya diam, ia sendiri merasa bingung mengapa menjadi posesif seperti ini pada Kaisar.
"Aku suka kamu cemburu, itu tandanya kamu mencintaiku." Kata Kaisar dengan lembut.
"Apa aku posesif? Apa aku menjadi wanita yang menyebalkan?" Tanya Audrey lirih.
"Tidak, aku merasa kamu sangat mencintaiku dan takut aku berpaling." jawab Kaisar.
Audrey mengangguk.
"Aku tidak akan berpaling, aku akan terus mencintaimu." Kata Kaisar.
Audrey berbalik menghadap Kaisar dan tangannya melingkar di leher Kaisar. Mata mereka saling bertatapan, Kaisar merapihkan anak rambut Audrey ke belakang telinganya.
Kaisar mendekatkan wajahnya dan seketika membuat Audrey menutup matanya, Kaisar mencium bibir Audrey dengan lembut, satu tangan menahan tengkuknya dan satunya lagi menahan pinggang Audrey, mereka larut dalam ciuman hingga Audrey melepasnya karena merasa kehabisan nafas.
Kaisar mengusap bibir Audrey yang basah akibat ulahnya, "Sepertinya aku tidak ingin bekerja. Kita belum memulai malam pertama kita." Kata Kaisar dengan suara berat.
"Ini akhir bulan, akan banyak laporan masuk dari semua divisi dan perusahaan anak cabang. Kamu harus kerja." Ucap Audrey mengingatkan.
Kaisar menndessah lesu dan Audrey tersenyum.
"Nanti aku akan buat kejutan untukmu kalau waktunya sudah tiba." Audrey mengecup sekilas bibir Kaisar.
**
Siang hari Keiina pergi ke sebuah universitas dan menyerahkan formulir pendaftaran untuk meneruskan S1 nya di sebuah universitas ternama yang Kaisar carikan lewat Aldo. Keiina pergi di antar oleh supir sekaligus body guardnya yang bahkan sudah di lengkapi dengan senjata berapi. Kaisar melakukan hal itu karena merasa takut jika hal yang sama terulang kembali. Keiina pun menurut lantaran tidak ingin membuat Kaisar cemas.
Keiina melihat takjub pada universitas swasta ternama itu, "Ini besar sekali." Gumamnya. "Pasti Kak Kai membayar mahal untuk mengkuliahkan aku disini, aku tidak boleh mengecewakan Kak Kai." Ucapnya lagi dalam hati.
__ADS_1
Setelah mengurus semuanya dan ditemani oleh Aldo, Keiina kembali menuju mobilnya di antar oleh Aldo.
"Asisten Aldo tidak bekerja?" Tanya Keiina.
"Bekerja, Nona. Ini saya sedang bekerja." jawab Aldo.
"Memang mengantarku untuk mengurusi kuliahku itu juga kerjaan Asisten Aldo?" Tanya Keiina.
"Pekerjaan saya adalah menuruti semua perintah Tuan Kai, Nona." Jawabnya.
Keiina hanya menganggukan kepalanya. "Kak Audrey kan sudah tidak bekerja bersama Kak Kai, berarti Asisten Aldo kerjaannya makin banyak dong?" Tanya Keiina lagi.
"Iya, Nona. Tapi saya sudah terbiasa." Jawab Aldo lagi.
"Aku punya teman yang masih mencari pekerjaan, boleh gak aku merekomendasikan dia untuk bekerja gantiin Kak Audrey." Kata Keiina mengingat salah satu teman baiknya dari daerah.
"Boleh, Nona. Bilang saja pada teman Nona untuk mengirimkan CV nya ke email saya. Nanti saya kirim email saya ke ponsel Nona Keii." Balas Aldo.
Aldo mengantar Keiina hingga ke mobil, lalu supir pribadi sekaligus bodyguard bernama Jemmy membukakan pintu mobil untuk Keiina.
"Terimakasih, Asisten Aldo." Ucap Keiina dan Aldo mengangguk hormat.
Jemmy membawa Keiina menuju jalan pulang, namun tiba tiba saja Keiina mengingat Ryu. Sudah satu minggu ini Ryu tidak berkunjung ke rumahnya maupun mengirimi pesan pada Keiina.
"Om Jemm, bisakah kita mampir ke restoran dulu?" Tanya Keiina.
"Nona tidak makan siang di rumah?" Tanya Jemmy.
Jemmy yang sudah di beri tahu oleh Aldo tentang siapa saja yang boleh bertemu dengan Keiina termasuk Ryu akhirnya mengikutinya.
Di restoran, Keiina memesan makan siang yang akan ia bawa untuk Ryu. Entah mengapa ada perasaan rindu yang menelusup ke hati Keiina, perasaan rindu yang tiba tiba saja datang tanpa Keiina undang.
Jemmy mengantar Keiina ke rumah sakit Utama Medika. Tempat di mana Ryu bekerja sebagai dokter. Jemmy menunggu di mobil sementara Keiina masuk sendiri ke dalam rumah sakit.
"Di mana ya ruangannya Mas Ryu?" Tanya Keiina dalam hatinya.
Keiina bertanya pada bagian informasi namun terlihat mengantri.
"Keii..." Panggil seseorang ber jas putih yang wajahnya mirip sekali dengan Ryu.
Keiine menoleh, "Om Regan..." Lalu tersenyum.
"Sedang apa di sini? Apa kamu sakit?" Tanya Regan.
Keiina menggelengkan kepalanya, "Tidak, Om." Jawabnya ragu.
Regan mengernyitkan dahinya lalu melihat paperbag berlogokan sebuah rumah makan yang di tenteng oleh Keiina. "Cari Ryu?" Tebaknya.
Keiina mengangguk samar.
Regan tersenyum, "Ayo Om antar ke ruangan Ryu."
__ADS_1
Keiina pun mengikuti Regan. "Tidak janjian sama Ryu, ya?" Tanya Regan saat mereka ada di dalam lift.
"Tidak, Om. Tadi sekalian lewat habis lihat kampus." Jawab Keiina.
Regan mengangguk.
Kini mereka berada di depan ruangan Ryu. Regan ingin membuka pintu, namun seorang suster memanggilnya.
"Dokter Regan, ada passien dokter yang mengalami pendarahan sehabis operasi." Ucap Suster.
"Baik, saya akan segera kesana." Jawab Regan.
"Keii, tunggulah di dalam. Ini ruang pribadi Ryu, mungkin Ryu masih ada praktik di poli, tapi jam makan siang biasanya Ryu kembali dulu ke ruangan." Kata Regan sambil membuka handel pintu.
Keiina tersenyum, "Terimakasih, Om. Selamat bekerja." Kata Keiina dan Regan mengusap puncak kepala Keiina.
Keiina melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan pribadi Ryu. Namun dirinya mematung saat melihat seorang wanita yang tengah hamil besar duduk di kursi kerja Ryu sambil mengusap perutnya yang buncit dan melihat ke arah Keiina dengan tatapan penuh tanya.
"Maaf.." Kata Keiina tidak enak. Dalam hatinya ia bertanya tanya siapakan wanita cantik yang tengah hamil besar ini dan duduk di kursi kerja Ryu.
"Iya, kamu siapa?" Tanya wanita itu.
"A... Aku Keiina. Temannya Mas Ryu." Jawab Keiina ragu.
Wanita itu tersenyum. "Masuklah, tadi Ryu turun ke bagian farmasi untuk menebus vitaminku."
Keiina melangkah ragu.
"Dudulah Keiina.. Sebentar lagi juga Ryu datang." Ajak wanita itu dengan ramah.
Keiina duduk di sofa dan meletakan paper bagnya di pangkuannya. Kurang dari lima menit Ryu masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Ryu langsung menghampiri wanita itu tanpa melihat keberadaan Keiina.
"Ini Vitaminmu, jangan lupa di minum. Apa babynya rewel?" Tanya Ryu yang kemudian berlutut dengan satu kaki dan menempelkan telinganya di perut buncit wanita itu.
Keiina melihatnya, ia melebarkan matanya dan perasaannnya seperti tercubit begitu saja.
Brakk..
Keiina berdiri dan membuat paperbag itu jatuh ke lantai.
Ryu melihat ke arah Keiina. "Keii, kamu di sini?"
...****************...
Note:
Ada yang bisa tebak wanita hamil itu siapa? Tenang aja, cerita ini tetap di jalurnya koq, wanita hamil ini cuma figuran aja 😉
Cerita Anhar dan segala penyesalannya juga masih berjalan, pokonya cerita ini tetap ada di alurnya yg sdh aku siapkan.
Like dan komentarnya jangan lupa ya
__ADS_1
Please jangan jadi silence readers.