
Saat makan malam bersama, Kaisar melihat kursi yang biasa di duduki oleh Anhar kosong. Membuat Kaisar bertanya dengan heran.
"Dimana Papa?" Tanya Kaisar entah di tunjukan pada siapa.
Audrey menjawab, "Papa bilang kurang enak badan, jadi makan di kamar, aku sudah mengantarkan makan malam untuk Papa."
Jawaban Audrey membuat Kaisar panik seketika. Mendengar Anhar sedang tidak enak badan membuat Kaisar berpikir jika terjadi sesuatu pada Anhar karena fungsi ginjalnya yang tidak stabil.
Tanpa berpikir panjang, Kaisar berdiri dari duduknya untuk pergi melihat Anhar, namun langkah nya terhenti saat menyadari jika keluarganya tengah menatap penuh tanya padanya.
"Maaf.." Ucap Kaisar pada akhirnya. "Kalian makan saja duluan, aku ingin melihat Papa dulu." Ucap Kaisar lalu menunduk hormat pada Mutia dan Adelia.
Adelia semakin merasakan ada hal yang tidak beres, ia tidak pernah melihat Kaisar sepanik ini. Begitupun dengan Keiina, dalam hatinya bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada Anhar.
Mereka kembali makan bersama dan tenggelam dalam pikirannya masing masing dan meski tanpa adanya Kaisar.
Kaisar masuk ke dalam kamar Anhar dan di lihatnya Anhar yang sedang memakan makanannya.
"Kenapa kamu kesini? Apa kamu sudah selesai makan?" Tanya Anhar sambil memakan sup ayam di mangkuknya.
"Audrey bilang, Papa sakit?" Tanya Kaisar.
"Papa hanya tidak enak badan saja." Jawabnya singkat. "Kembalilah ke meja makan dan makan bersama keluargamu." Kata Anhar.
Kaisar menghela nafas, kini ia merasa jika Anhar yang membatasi dirinya untuk dekat dengannya.
"Papa menghindar?" Tanya Kaisar.
Anhar menghentikan tangannya saat ingin menyendokan kuah sup ke mulutnya.
"Kenapa, Pa?" Tanya Kaisar lagi.
"Papa hanya merasa tidak pantas berada di sini." Ucap Anhar. "Harusnya kamu membiarkan Papa untuk tetap tinggal di villa saja." Imbuhnya lagi.
"Pa...." Panggil Kaisar.
"Keluarlah, Kai. Papa tidak apa apa." Kata Anhar dengan tak menatap wajah Kaisar.
"Aku menyayangi Papa." Ucap Kaisar.
__ADS_1
Anhar tersenyum getir, "Papa juga menyayangimu." Anhar menghela nafas sejenak, "Papa juga menyayangi adikmu meski Papa telat mengetahui keberadaannya." Ucapnya dengan lirih.
"Tidak cukupkah jika hanya Kai saja, Pa?" Kata Kaisar berharap Anhar tidak tertekan karena penolakan Keiina.
"Cukup." Lirih Anhar. "Bagi Papa kamu saja sudah lebih dari cukup." Jawab Anhar seolah menerawang ke depan. "Papa tidak ingin banyak menuntut, kamu bersikap baik dan kembali pada Papa saja itu sudah lebih dari cukup, Kai. Setidaknya Papa tidak sendirian menjalani masa tua Papa."
Sungguh Kaisar merasa tidak tega pada Anhar, ingin sekali ia bertanya pada Anhar mengapa Anhar bisa melakukan hal itu, yakni mendonorkan ginjalnya untuk Keiina.
Kaisar kembali ke meja makan dan dengan sigap Audrey melayaninya.
Adelia dan Keiina terus memperhatikan Kaisar yang terlihat tak berselera untuk makan. Sementara itu Mutia yang sudah selesai duluan makan, pamit untuk melihat kondisi Anhar.
"Apa Papa Anhar baik baik saja?" Tanya Ryu cukup mewakili keingin tahuan Adelia dan Keiina. "Apa aku perlu memeriksanya?" Tanya Ryu.
"Papa baik baik saja." Jawab Kaisar, "Papa hanya butuh istirahat." Ucapnya lagi.
Kaisar makan dengan perasaan yang tak menentu. Hingga Audrey menggenggam tangan Kaisar dan Kaisar menatap mata teduh Audrey. Lewat tatapan matanya Audrey seolah mengatakan semua akan baik baik saja.
Kaisar tersenyum tipis dan segera menghabiskan makan malamnya.
"Kai, bisa kita bicara?" Tanya Adelia.
Kaisar mengangguk, "Baiklah, Ma.. Kita bicara di ruang kerjaku." Ajak Kaisar.
Kini mereka berdua berada di ruang kerja Kaisar, duduk di sofa yang berada dalam ruangan itu.
"Tidak adakah yang ingin kamu ceritakan pada Mama?" Tanya Adelia dengan lembut.
"Soal apa, Ma?" Tanya Kaisar pura pura tidak tau.
"Baiklah Kai, jika kamu tidak ingin memberitahu Mama juga tidak apa." Kata Adelia tidak memakasa.
"Ma, bukan seperti itu." Kata Kaisar sambil mengusap pangkal hidungnya.
Kaisar menghela nafas sejenak.
"Ada apa dengan Papamu? Apa ada yang terjadi dengan Papamu?" Tanya Adelia.
"Kesehatan Papa akhir akhir ini menurun, Ma." Jawab Kaisar tanpa menjelaskan lebih detailnya, terutama soal mendonorkan ginjalnya.
__ADS_1
"Maafkan Kai, Ma. Kai hanya ingin berbakti juga pada Papa meski Mama dan Papa sudah tidak bersama lagi." Ucap Kaisar.
Adelia dengan setia mendengarkan apa yang ingin di ungkapkan oleh Kaisar.
"Papa hanya punya Kai, karena itu Kai ingin mengurusnya juga, Ma." Kaisar menunduk menyembuyikan air matanya.
Adelia memahami hal itu, Kaisar memang miniatur dirinya, mempunyai hati yang lembut dan mudah tersentuh.
Adelia menggenggam tangan Kaisar, "Mama bangga padamu. Mama tidak melarangmu, Kai. Papa Anhar memanglah Papamu, Papa Anhar adalah tanggung jawabmu saat dirinya seperti ini." Ucap Adelia penuh pengertian.
"Maafkan Kai jika membuat Mama tak nyaman. Kai hanya ingin merawat Papa tanpa meninggalkan Mama. Kai bingung Ma, Kai tidak bisa memilih satu diantara kalian, Kai menyayangi kalian berdua." Ucap Kai mengeluarkan kegundahan di dalam hatinya.
Sungguh hati Adelia terasa pilu, terasa pisau yang yang mengiris iris hatinya. Kaisar meski sudah dewasa dan menikah, luka itu tetap ada. Luka karena perpisahan ke dua orang tuanya. Adelia pun merasa bersalah pada Kaisar.
"Apa di dalam hatimu, kamu ingin Mama dan Papa kembali?" Tanya Adelia ingin tau.
"Jika itu masih bisa, bolehkah Kai berharap seperti itu, Ma?" Tanya Kaisar.
Adelia hanya diam meski matanya tak lepas melihat wajah Kaisar.
Kaisar tersenyum, "Kai tau itu tidak mungkin, Ma. Keiina sendiri pasti akan menentangnya." Kaisar menghembuskan nafas kasarnya.
Ucapan Kaisar atau yang terlebih seperti sebuah harapan terus saja terngiang dalam pikiran Adelia. Semalaman Adelia tidak bisa tidur karena terus saja memikirkan ucapan Kaisar. Meski bagaimanapun, Adelia dan Anhar adalah orang tua untuk Kaisar, mereka berdualah yang membuat hati Kaisar menjadi rapuh seperti ini.
"Mama harus bagaimana, Kai." Gumamnya dalam hati sambil menatap langit langit kamarnya. "Haruskah Mama menerima Papamu kembali dan memberikannya kesempatan ke dua?" Kata Adelia lagi. "Lalu bagaimana dengan Keii, Kai. Mama harus bagaimana?" Lirih Adelia sebelum akhirnya memejamkan matanya dan tertidur tepat pukul dua dini hari.
Anhar baru saja selesai membersihkan diri, sesuai apa kata Kaisar, ia boleh bekerja dua kali dalam satu minggu dan hari ini Anhar akan masuk kerja bersama Kaisar.
Anhar selalu saja diam saat ikut makan bersama di meja makan, Adelia memperhatikan apa yang Anhar makan. Anhar terlihat memilih makanan dengan gizi seimbang, Anhar juga sudah tidak lagi meminum kopi ataupun teh, hanya air mineral yang slalu ia minum.
Diam diam juga Keiina memperhatikan wajah Anhar yang terlihat lebih tua dari sebelumnya, guratan keriput terlihat jelas karena wajahnya yang terlihat kurus. Anhar juga tidak lagi banyak bicara dan hanya diam. Bahkan Anhar lebih sering berada di kamar dari pada ikut berkumpul di ruangan. Hanya Mutia ataupun Kaisar yang berada cukup lama di dalam kamar Anhar.
...****************...
Note:
Novel ini sudah mau tamat, tapi aku tuh sedih karena vote untukku belum sampai 50 🥲
Like tiap bab juga gak sampai 50.
__ADS_1
Banyak nya yg jd silence readers, padahal 1 like kalian itu sangat berarti lho untukku.