
Kini usia kandungan Audrey memasuki usia 9 bulan, tinggal beberapa hari lagi untuk menunggu jadwal operasinya karena Audrey akan melahirkan tiga bayi sekaligus. Bahkan Regan sendiri yang akan mengoperasi Audrey dan Kaisar mempercayai hal itu.
"Masa kalian belum menemukan keberadaan Papaku?" Tanya Kaisar pada Harun.
"Maaf Tuan Kai, tapi tidak ada satu petunjukpun yang bisa kami dapatkan. Tuan Anhar seperti hilang begitu saja." Jawab Harun.
Kaisar menggusar rambutnya frustasi. Sudah enam bulan Anhar menghilang dari rumah sakit. Semua cara sudah Kaisar lakukan namun masih belum mendapatkan titik terang dimana keberadaan Anhar. Anhar menghilang begitu saja bagai di telan bumi.
"Saya mencurigai ada yang membantu pelarian Tuan Anhar. Tapi saya belum bisa mendapatkan buktinya." Kata Harun.
"Siapa yang kau curigai?" Tanya Kaisar.
"Dokter Ryuga Elvano Aditya."
Kaisar seketika menatap tajam ke arah Harun. "Atas dasar apa kamu mencurigai Ryu?"
"Tiba tiba saja CCTV rumah sakit rusak dan itu terlihat janggal, rumah sakit sebesar itu bisa rusak CCTV nya." Ucap Harun.
"Tuduhanmu tidak mendasar." Kata Kaisar dengan marah.
"Maaf, Tuan." Ucap Harun tak enak.
Keiina tengah menatap langit sore dari balkon kamarnya di rumah Adelia. Semenjak Anhar menghilang, Keiina berubah menjadi pendiam dan hanya bicara seperlunya. Keiina juga memulihkan psikisnya dengan rajin berkonsultasi dengan psikiater terbaik pilihan Ryu.
Ryu memeluk Keiina dari belakang, mengusap perut Keiina yang membuncit, kandungan Keiina kini berusia tujuh bulan. Hanya berbeda dua bulan dengan kandungan Audrey.
"Memikirkan apa? Hem?" Tanya Ryu.
"Papa Anhar." Ucap Keiina.
Ryu terkejut mendengar Keiina yang mengucapkan kata Papa pada Anhar.
"Aku terlalu kejam padanya, Mas. Kebencianku padanya salah. Aku egois." Ucap Keiina dengan pandangan lurus ke depan.
"Bagaimana jika suatu saat Papa Anhar kembali? Apa kamu mau menerimanya?" Tanya Ryu.
Keiina mengangguk, "Aku ingin sekali memanggilnya Papa." Kata Keiina dengan pelan. "Bisakah saat aku melahirkan, Papa ada bersamaku?" Tanya Keiina.
__ADS_1
Ryu terdiam, "Andai aku bisa mencari Papamu, sudah pasti aku akan mempertemukanmu." Kata Ryu.
"Aku takut, Mas. Aku takut tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Papa lagi." Kata Keiina.
**
Anhar tengah berjalan jalan di kota lain yang cukup jauh dari kota yang Adelia dan kedua anaknya tempati. Ia mengunjungi sebuah Mall untuk membelikan banyak pakaian bayi untuk ketiga calon bayi Kaisar yang akan lahir beberapa hari lagi.
Kaisar selalu bingung saat mendapati paket berisikan perlengkapan bayi untuk ke tiga calon anaknya. Ia mencurigai jika yang mengirimkannya adalah Anhar, namun setelah di telusuri, tidak ada jejak nya, jejak itu seolah terhapus dan hilang begitu saja.
"Aku tau ini Kau, Pa.. Pulanglah Pa..." Ucap Kaisar dalam hati.
Anhar membaca sebuah pesan singkat dari Ryu. Memang Ryu lah yang membantu Anhar untuk menghilang. Anhar memohon pada Ryu dan Ryu ikut mencarikannya tempat, Ryu juga yang menyuruh orang menghapus CCTV saat kejadian itu hingga Anhar berhasil keluar dari rumah sakit.
Ryu menyetujui permintaan Anhar untuk membuat Keiina merasa tenang lebih dulu dan menjalani teraphynya bersama psikiaternya. Dan penantian Anhar juga rencana Ryu berhasil. Kini bahkan Keiina yang begitu ingin bertemu dengan Anhar.
"Papa akan pulang, Kai, Keii." Ucap Anhar dengan tersenyum.
**
Audrey tengah bersiap untuk melakukan operasi caesar nya, ia masih menunggu suster menjemputnya ke ruangan perawatannya. Adelia dan Kaisar setia mendampingi Audrey.
Kaisar terus saja mengusap perut Audrey. Ia menjadi calon Ayah yang sangat siaga untuk ke tiga anaknya. Ia merasa masih seperti mimpi, menikah dengan Audrey lalu memiliki tiga orang anak sekaligus. Bahkan Kaisar sudah menyiapkan tiga baby sitter untuk masing masing anaknya meski Audrey tidak mengijinkannya.
Suara pintu terbuka dan membuat semua orang terkejut.
"Papa.." Kata Kaisar lalu berdiri dari duduknya. Anhar terlihat lebih sehat dari sebelumnya, ia juga berhasil menaikan kembali berat badannya dan selalu menjalankan hidup dengan pola hidup sehat. Bahkan ginjalnya pun tidak pernah bermasalah.
Anhar melangkah masuk sementara Kaisar memeluknya. "Papa kemana saja?" Tanya Kaisar.
"Papa hanya butuh waktu, Kai. Setidaknya sampai adikmu selesai melakukan teraphy ke psikiater.".
Kaisar mengurai pelukannya lalu mengernyitkan dahinya, "Apa Ryu yang membantu Papa selama ini?" Tanya Kaisar.
Anhar mengangguk, "Papa ingin semua baik baik saja, Kai. Papa ingin memberikan waktu untuk adikmu." Jawab Anhar.
Suster masuk untuk membawa Audrey yang harus bersiap ke ruangan operasi. Audrey memilih naik kursi roda untuk di bawa ke ruang operasi.
__ADS_1
"Pa, jangan kemana mana, Kai akan menemani Audrey di ruangan operasi. Tetaplah bersama Mama." Ucap Kaisar kemudian Anhar melihat sekilas ke arah Adelia.
Anhar mengangguk, "Papa akan bersama Mamamu menunggu Audrey melahirkan 3 bayi penerus keluarga Wiguna." Kata Anhar yang membuat Kaisar tersenyum.
Di ruangan operasi, Kaisar menemani Audrey dan menggenggam tangan Audrey yang dingin.
"Audrey.. Jangan tegang." Kata Regan yang akan memulai operasinya.
Audrey hanya mengangguk.
"Aunty Ay dan Aunty Nanda akan kemari untuk melihatmu." Kata Regan yang mengajak ngobrol Audrey, tanpa Audrey sadari jika Regan tengah mulai melakukan operasi.
"Aku merindukan Aunty Ay." Balas Audrey.
"Sering seringlah main ke rumah, nanti bawa juga ke tiga anak kalian. Pasti rumah akan ramai sekali." Kata Regan yang tetap dengan fokus pada tindakannya.
Selang sepuluh menit, terdengar suara tangisan bayi laki laki. "Anak pertamamu lahir, dia laki laki." Kata Regan. Lalu tak lama terdengar suara tangisan bayi kedua yang kini bersahutan dengan bayi pertama. "Wah masih laki laki ya." Kata Regan. Dan terakhir Regan mengangkat seorang bayi perempuan. "Selamat Kaisar, Audrey.. Dua laki laki dan satu perempuan" Kata Regan pada akhirnya.
Kaisar terus saja mengecup wajah Audrey, "Dua laki laki dan satu perempuan, Queen." Ucap Kaisar tak percaya.
"Jaga mereka ya, Kai." Kata Audrey dengan nada melemah.
"Kita akan menjaganya bersama, Queen." Balas Kaisar dan Audrey hanya tersenyum.
Pasalnya mereka hanya mengetahui jenis dua kellammin bayinya saja, sedangkaan bayi ke tiga slalu tertutup dan tidak bisa terlihat.
"Mereka sedang di bersihkan dulu oleh suster." Kata Regan lagi.
Sementara di luar ruangan, Anhar dan Adelia sama sama diam, Adelia merasa enggan bertanya duluan pada Anhar kemana dirinya selama ini. Mengapa menghilang dan tak pernah mengabari dirinya. Adelia seolah berada di titik masa bodoh dan tidak ingin perduli lagi. Adelia cukup terkejut saat tau jika Anhar menghilang, hatinya merasa takut sesuatu akan terjadi pada Anhar. Tapi setelah Adelia melihat Anhar baik baik saja, membuat Adelia tak ingin lagi memikirkannya. Adelia juga cukup senang karena akhirnya Keiina sudah mau mengakui Anhar sebagai Ayahnya. Dan kini Adelia merasa tidak perlu menikah kembali dengan Anhar, meski telah berpisah Adelia yakin jika hubungan keluarga antara Ayah dan Anak akan baik baik saja.
Anhar sesekali menoleh ke arah Adelia yang terlihat cuek. Anhar tersenyum tipis dan tetap tidak berbicara pada Adelia. Ia akan menjalankan sebuah rencana yang sudah ia susun selama ini.
...****************...
Note:
Senin terakhirku di Novel ini,
__ADS_1
Adakah yang mau berbaik hati memberikan satu saja Vote nya untukku? Memberikan Like di setiap Bab, memberikan komentar penyemangat untukku, dan hadiah juga nilai novel ini dgn bintang 5.