
"Aku hanya bisa memasak telur." Kata Audrey ketika melihat barang belanjaan yang telah tertata rapih di dalam lemari pendingin.
"Kamu tidak perlu bisa memasak, jika nanti hidup denganku sudah ada chef andalan di rumahku." Balas Kaisar dan membuat Audrey mendelikan matanya.
Kaisar tertawa. "Aku hanya bercanda." Ucapnya. "Serius juga boleh." Imbuhnya lagi.
Hening sejenak, hanya terdengar suara kocokan telur di apartemen kecil itu.
"Papaku menceraikan Mamaku begitu saja saat cinta pertamanya kembali, Mama keluar dari rumah dan aku berpisah dengannya selama dua puluh tahun." Kata Kaisar tiba tiba yang membuat Audrey menghentikan aktifitasnya.
"Mamaku pergi dalam kondisi mengandung adikku. Aku sangat membenci papaku dan wanitanya hingga detik ini pun aku masih enggan berdamai dengan Papaku." Kata Kaisar lagi dan kini berjalan ke arah jendela besar di apartemen mungil itu dan tanpa sadar Audrey pun mengikutinya.
Kaisar menatap gedung gedung tinggi di balik jendela, "Meski akhirnya aku bisa menemukan Mama dan Adikku, aku tetap tidak akan memaafkan Papaku. Meski aku meredam emosi dan ingin membalaskan dendam, namun karena Mama aku melepaskannya walaupun tetap tidak bisa berdamai dengan Papaku."
"Kamu menemukan Mamamu?" Tanya Audrey dengan tanpa sadar memanggil Kaisar dengan kata Kamu.
Kaisar mengangguk, "Ryu yang menemukan Adik dan Mamaku saat kita bertemu pertama kali di pantai, itulah kali aku bertemu dengan Mamaku."
"Mama sengaja pergi agar Papa tidak mengambil adikku dari Mamaku juga." Kaisar menjeda kalimatnya sejenak lalu menoleh ke arah Audrey yang berada di sampingnya, "Apa kau tau, Audrey?"
Audrey terus menatap wajah Kaisar.
"Adikku begitu membenci Papaku dan tidak ingin mengenalnya. Bahkan Adikku tidak ingin di publikasi keberadaannya sebagai adikku, adik dari Kaisar Wiguna." Kata Kaisar lagi dan suaranya mulai tercekat. "Dan adikku pun punya rasa trauma dan enggan menjalin hubungan dengan seorang pria, dia membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta meski Ryu tengah mengejarnya." Kata Kaisar lagi.
Kaisar menghadapkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Audrey, "Aku, adikku dan juga kamu sama, sama sama terluka oleh perpisahan ke dua orang tua. Tapi bukan berarti kita menutup diri, Audrey."
"Tapi kamu terlahir bukan dari hubungan yang salah, tidak sepertiku yang terlahir dari hubungan yang salah." Balas Audrey.
"Ceritakan padaku." Pinta Kaisar.
"Papaku bersaudara tiri dengan Om Regan ayah nya Ryu. Om Regan dan Aunty Ayla adalah sahabatnya Aunty Nanda dan Papa menikahi Aunty Nanda." Audrey menjeda kalimatnya. "Mamaku hanya masa lalu Papaku sebelum menikah dengan Aunty Nanda, namun entah bagaimana Mama bertemu dengan Papa lagi dan menjalin hubungan dengannya di belakang Aunty Nanda dan membuatku hadir di dalam permasalahan mereka." Audrey memilih duduk lalu menatap kedepan dengan tatapan kosong. "Mama meninggalkanku di saat aku masih bayi, pergi begitu saja tanpa jejak, Nenek membantu papa untuk menjagaku selama Papa bekerja, namun Nenek meninggal karena sakit, sejak saat itu Aunty Ay ikut merawatku, dan hal itu malah membuat Papa juga ikut meninggalkanku untuk bekerja di pulau sebrang tanpa memikirkan bagaimana bisa aku di besarkan oleh orang orang yang membenci Mama dan Papaku."
__ADS_1
Hati Kaisar begitu tersentuh mendengar cerita khidupan dari Audrey, tanpa ragu Kaisar menarik Audrey ke dalam dekapannya. Audrey menangis sejadi jadinya di dalam dekapan Kaisar. "Aku tidak meminta di lahirkan, mengapa aku harus terlahir dari orang tua egois seperti mereka? Mengapa aku harus terlahir dari sebuah kesalahan?" Kata Audrey mengeluarkan isi hatinya yang slama ini tidak pernah di utarakannya pada siapapun. "Aku menarik diri dari keramaian tanpa mereka tau jika aku pun ingin di kelilingi oleh orang orang yang menyayangiku." Ucap Audrey tersedu sedu. "Namun aku malu, aku sadar diri jika aku terlahir dari hubungan yang tidak di harapkan, itu mengapa aku tidak percaya pada diriku sendiri."
Kaisar mengusap lembut rambut panjang Audrey, mencoba memberikan ketenangan untuk Audrey. Kaisar pun merasakan kepedihan hati Audrey dengan segala kesepian yang audrey rasakan.
"Percaya padaku, aku akan menjadi orang yang paling dekat denganmu, memberikanmu banyak cinta dan kasih sayang yang aku punya. Aku mohon, percayalah padaku Queen Audrey." Bisik Kaisar di telinga Audrey.
Audrey berusaha ingin melerai pelukannya namun Kaisar tetap memeluknya. "Biarkan seperti ini dulu. Jangan melepas pelukanku, My Queen." Kata Kaisar masih dengan suara berbisik.
Hingga Audrey merasakan lelah karena menangis dan tertidur dalam dekapan Kaisar, suhu tubuhnya masih terasa hangat dan Kaisar membawa Audrey untuk berbaring di atas tempat tidur milik Audrey, tentu saja masih dalam dekapan Kaisar.
Kaisar dengan penuh kasih terus mengusap punggung Audrey, sesekali menciumi puncak kepalanya, membuat rasa nyaman yang tidak pernah Audrey dapatkan dari siapapun.
Kaisar memantapkan hatinya untuk berlabuh pada Audrey, ia akan mencurahkan kasih sayang dan cintanya hanya untuk Audrey.
Sementara itu, di tempat lain.
Keiina dan Ryu tengah berada di sebuah cafe untuk makan siang bersama, Ryu tidak menyangka jika Keiina mengajaknya terlebih dahulu.
"Kapan Mas Ryu akan kembali ke daerah?" Tanya Keiina sambil meminum juice alpukatnya.
"Lama sekali." Kata Keiina.
Ryu mengangguk, "Iya, karena banyak hal yang harus di kerjakan di sana sebelum aku menetap di sini."
"Jadi Mas akan menetap di sini?" Tanya Keiina sedikit terkejut, pasalnya yang Keiina tau, jika Ryu akan bertangung jawab penuh dengan rumah sakit di daerah.
Ryu tersenyum, "Papa dan Mama ku melarang aku untuk tinggal di daerah, aku ini putra satu satunya mereka, hanya aku yang mereka punya." Jawab Ryu.
"So sweet sekali." Keiina tersenyum dengan manis, Keiina juga sebenarnya menyukai Ryu, namun rasa trauma karena melihat penderitaan sang Ibu membuatnya membentengi hatinya agar tidak mudah terbuai oleh pria.
"Siapa dulu dong? Calon suami Keikeii.." Kata Ryu jumawa.
__ADS_1
"Ishh.. percaya diri sekali." Cibir Keiina.
"Tentu saja, hidup harus penuh dengan percaya diri, apa lagi aku sudah mengantongi restu dari Key dan Oma." Balas Ryu.
"Tapi Mas belum dapat restu Mama." Ucap Keiina.
Ryu tertawa, "Aku yakin Mama Adelia akan merestui." Jawab Ryu.
"Kenapa bisa yakin sekali?" Tanya Keiina.
"Karena aku mencintaimu, aku harus yakin dengan semuanya." Jawab Ryu dengan mantap.
Wajah Keiina bersemu merah, dan Ryu tersenyum melihatnya.
"Tapi orang tuamu belum tau tentang aku." Kata Keiina.
"Siapa bilang? Mereka tau, tentu saja aku yang memberi taunya, seperti sekarang ini, mereka tau aku tengah datang mengunjungimu." Jawab Ryu lagi.
"Tapi mereka tidak tau jika aku adalah anak yang bahkan Papaku sendiri tidak mengetahui adanya aku di dunia ini." Ucap Keiina dengan nada gemetar.
"Bahkan jika kamu hanya sebatang kara pun, aku akan tetap jatuh cinta padamu, Keii." Ryu memberanikan diri memegang tangan Keiina.
"Mas... Aku masih belum bisa." Lirih Keiina.
Ryu tersenyum. "Aku akan menunggumu, Keiina Putri Adelia."
...****************...
Note:
Satu Like, Satu Vote, Satu Komentar dari kalian,
__ADS_1
Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.
Please jangan jadi silence readers.