TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 85


__ADS_3

Anhar tetap melakukan pekerjaan, jabatannya sebagai CEO tetap di pegang oleh Anhar meski Kaisar adalah atasan Anhar karena memegang jabatan sebagai presdir perusahaan.


Anhar mengusap sedikit peluh di dahinya, ia mengingat jika hari ini adalah jadwal untuk memeriksakan kesehatannya, setelah operasi untuk mendonorkan ginjalnya, Anhar memang mendapatkan jadwal rutin untuk memeriksakan fungsi ginjalnya.


"Kalau aku pergi, Kai akan curiga. Tapi aku harus tetap mengecek kesehatanku." Gumam Anhar.


Namun pada akhirnya Anhar tetap meminta ijin pada Kaisar dengan alasan akan bertemu dengan kliennya.


Bayu mendampingi Anhar sesuai intruksi dari Kaisar.


"Bay, kamu jangan cerita ke anak saya jika saya ke rumah sakit. Lagi pula saya hanya memeriksa kolestrol saya saja." Kata Anhar beralasan.


"Iya Tuan." Jawab Bayu menurut.


Bayu menunggu di dalam mobil sementara Anhar memeriksakan kesehatannya. Anhar sengaja memilih rumah sakit yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Ryu. Anhar tetap ingin merahasiakan jika dirinyalah yang mendonorkan ginjalnya untuk Keiina.


"Tekanan darah anda sedikit tinggi, hindari stres dan tetap makan makanan dengan gizi seimbang." Kata dokter Mahesa, dokter spesialis nefrologi.


"Saya sering berkeringat, apa itu wajar?" Tanya Anhar.


"Itu tanda tidak baik, karena bisa berdampak pada gejala gagal ginjal, anda harus cek lab lebih lanjut lagi untuk mendapatkan penanganan lebih dini." Kata dokter Mahesa.


Anhar menghela nafasnya.


"Saya akan buatkan jadwal pemeriksaan anda tiga hari kedepan." Kata dokter Mahesa lagi dan Anhar mengangguk.


Anhar kembali ke kantor dengan perasaan cemas, ia harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari rumah Adelia dan hidup seorang diri, dengan begitu Anhar tidak perlu khawatir jika merasakan sakit karena tidak akan merepotkan banyak orang.


Kaisar memanggil Bayu ke dalam ruangannya. Bayu memberikan laporan jika bukan mengantar Anhar untuk bertemu klien, melainkan ke rumah sakit. Bayu juga sudah mengantongi laporan dari rumah sakit yaitu tentang Anhar yang memeriksakan fungsi ginjalnya yang di ketahui menurun dan harus melakukan cek lab lebih lanjut lagi.


Kaisar memijat pelipisnya, "Papa..." Gumamnya putus asa.


"Tiga hari lagi Tuan Anhar akan menjalani tes lab, dan Tuan Anhar harus menginap di rumah sakit itu. Saya juga sudah mendapatkan data dokter yang menangani Tuan Anhar, dia bernama dokter Mahesa spesialis nefrologi, dari rumah sakit Family Medika milik keluarga dokter Fitto, salah satu rumah sakit terbaik di kota ini juga." Kata Bayu lagi memberi laporan.


Kaisar mengangguk, "Pantau terus semua aktifitas Papaku, jangan membuatnya curiga, turuti saja semua apa yang dikatakannya." Titahnya yang di angguki oleh Bayu.


Kaisar kembali ke rumah agak larut, Audrey menyambutnya seperti biasa.


"Queen aku lelah sekali." Kata Kaisar bergelayut manja di bahu Audrey.


"Aku akan memijatmu." Ucap Audrey.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, Audrey memijat Kaisar sambil berbincang ringan.


"Sayang, tadi Papa tidak ikut makan lagi di meja makan. Papa memilih makan di kamar." Ucap Audrey memberi tau.


"Biarkan saja, Queen." Jawab Kaisar.


"Kenapa kita tidak memberi tahu pada Mama dan Keiina soal kondisi Papa." Tanya Audrey.


"Mama bukan lagi istri Papa, mereka tidak ada hubungan lagi. Satu satunya penghubung diantara mereka adalah aku karena Keii belum mau mengakui Papa. Sementara Keiina sejak awal tidak perduli dengan Papa, aku tidak tau jika Keiina tau soal Papa yang mendonorkan ginjalnya apa akan membuat Keiina menerima Papa atau semakin membuat Keii membencinya karena ada bagian tubuh Papa di tubuh Keiina." Jawab Kaisar.


Audrey hanya diam mencerna setiap ucapan Kaisar.


"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Audrey.


"Tidak ada, aku hanya ingin merawat Papa dan tetap menjaga Mama meski mereka tidak memiliki hubungan lagi." Jawabnya.


Kaisar duduk berhadapan dengan Audrey, "Terimakasih telah membantuku merawat Papa." Kata Kaisar.


"Papa Anhar adalah Papaku juga, Kai. Aku juga akan menyayanginya." Ucap Audrey membuat Kaisar merasa tenang.


Keesokan harinya di rumah Adelia, Anhar berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral, ia berpapasan dengan Keiina yang baru saja mengambil salad buah dari dalam lemari es.


"Apa kau menghindariku?" Tanya Keiina pada Anhar.


Anhar menghentikan langkahnya. "Aku hanya tidak ingin membuatmu tak nyaman." Kata Anhar.


"Aku nyaman jika kau tidak pernah menampakan dirimu lagi di depan mataku, seperti bulan bulan kemarin." Ucap Keiina dengan tegas.


Anhar hanya diam, dirinya pun sudah mencoba untuk tidak kembali menampakan dirinya di depan Keiina, namun Kaisar membawanya dan Anhar tidak bisa berbuat apapun.


"Aku hanya sementara di sini." Jawab Anhar terdengar lirih.


"Baguslah, aku harap anda tidak lama lama di sini. Kalau bukan karena Kak Kai, aku juga tidak mau Mama menampungmu di sini." Ucap Keiina.


Kata kata Keiina begitu menusuk hati Anhar, Anhar mengusap tengkuknya, ia mulai berkeringat, pandangannya sedikit berkunang kunang.


"Papa..." Audrey menahan tubuh Anhar yang hampir tumbang.


"Keii, tidak boleh seperti itu." Kata Audrey dengan lembut.


Audrey memapah Anhar untuk duduk di kursi yang ada di dekat Anhar. "Papa mau ambil apa? Kenapa tidak memanggil aku atau pelayan." Kata Audrey.

__ADS_1


Audrey merasakan tangan Anhar yang semakin dingin. "Tolong bawa Papa ke kamar, Audrey." Ucapnya lemah.


Audrey segera memanggil Pak Pur untuk membantunya memapah Anhar ke dalam kamar.


"Dingin..." Kata Anhar sedikit menggigil.


"Pak Pur tolong matikan Ac nya." Kata Audrey kemudian menyelimuti Anhar dengan selimut tebal.


Ryu yang melihat Anhar di papah ke dalam kamarpun segera mengambil stetoskop dan memeriksa Anhar.


"Kita bawa ke rumah sakit." Kata Ryu.


"Apa ada yang berbahaya?" Tanya Audrey pelan.


"Ini berkaitan dengan fungsi ginjalnya." Jawab Ryu berbisik.


Ryu dan Pak Pur memapah Anhar ke luar dari kamar.


"Ada apa ini?" Tanya Mutia dengan panik.


Audrey membisikan sesuatu pada Mutia dan membuat Mutia bersedih.


"Anhar putraku. Bertahanlah." Ucapnya lirih, sementara itu Adelia mengusap lengan Mutia untuk menguatkannya.


Keiina hanya diam dan memperhatikan dari kejauhan, Ryu menatap kecewa pada Keiina, sementara itu Audrey memutuskan untuk ikut dengan Ryu ke rumah sakit.


Diperjalanan, Audrey pun menelpon Kaisar untuk segera menyusulnya ke rumah sakit tanpa menceritakan detailnya.


Kaisar segera menujur rumah sakit milik keluarga Ryu, setelah tiba di rumah sakit, Kaisar segera menuju kamar perawatan Anhar.


"Bagaimana Papa?" Tanya Kaisar pada Audrey dan Ryu.


"Sedang di periksa oleh dokter ahli, sepertinya fungsi ginjalnya menurun, semoga tidak sampai mengakibatkan gagal ginjal." Kata Ryu.


Kaisar mengusap wajahnya Kasar, "Apa sesuatu terjadi di rumah?" Tanya Kaisar.


Ryu dan Audrey sama sama diam.


"Beri tahu aku, apa sesuatu terjadi di rumah?" Tanya Kaisar sekali lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2