TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 69


__ADS_3

Pagi hari di rumah keluarga Ryu, Ryu turun dengan senyum yang mengembang, membuat Ayla dan Regan saling melirik.


"Ryu mau kawin, Pa, Ma.." Ucapnya tersenyum.


"Nikah, Ry.. Bukan kawin, memang kamu ayam mau di kawinin." Ledek Regan.


Ryu tertawa, "Iya iya, Pa... Ryu mau nikahin Keii. Keiina udah nerima lamaran Ryu semalam." Ucap Ryu.


"Benarkah?" Tanya Ayla menanggapi.


"Iya, Ma.. Nanti Ryu ngobrol dulu sama Key, kira kira kapan bisa melamar Keii secara resmi." Kata Ryu lagi.


"Terus bagaimana keberangkatanmu ke Jerman?" Tanya Regan.


"Batal." Jawab Ryu singkat.


"Dassar bucin." Ledek Regan lagi.


Ryu menyesap tehnya sesaat. "Kayak Papa gak bucin aja sama Mama."


Ayla hanya tersenyum melihat Ayah dan Anak itu, "Like father like son." Kata Ayla sambil menyendokan oatmeal ke mulutnya.


**


Audrey bangun dan melihat Kaisar yang memeluk tubuhnya posesif, ia membalikan tubuhnya dan melihat wajah Kaisar yang terlihat sangat lelah.


"Bebanmu pasti banyak sekali, kamu pria hebat yang pernah aku temui." Ucap Audrey lalu mencium pipi Kaisar.


Kaisar tidur dengan begitu lelap, tidak menyadari pergerakan Audrey. Audrey memilih membersihkan diri dan segera turun ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Kaisar.


"Kai, mana Audrey?" Tanya Mutia yang juga sedang berada di dapur.


"Masih tidur. Oma, semalam pulang larut sekali." Ucap Audrey.


"Ya, ini akhir bulan, pasti berat sekali di kantor." Kata Mutia.


"Kai melarangku untuk kembali bekerja, Oma. Padahal aku ingin sekali membantunya di kantor."


Mutia tersenyum, "Itu karena Kai sangat mencintaimu, Kai tidak ingin membebanimu dengan pekerjaan."


Audrey mengangguk, baginya ini masih seperti mimpi, Oma saja bisa begitu menerima dan memperlakukan Audrey seperti cucu nya sendiri.


"Audrey, apa Kai menyusahkanmu?" Tanya Mutia.


Audrey menggelengkan kepalanya, "Tidak, Oma.. Kai sangat baik padaku."


Mutia menggenggam tangan Audrey, "Terimakasih Audrey. Kamu hadir dan menyempurnakan hidup Kai. Selama ini Kai selalu bersikap dewasa sebelum waktunya, masa kecilnya di habiskan dengan kesedihan. Tapi kamu datang di hidup Kai dan Oma melihat perubahan yang drastis pada Kai. Kai terlihat slalu tersenyum dan bahagia."


"Oma..." Audrey memeluk Mutia, "Aku yang beruntung bertemu dengan Kai."


Adelia menghampiri mereka berdua dan Audrey melerai pelukannya.


"Benar kata Oma, Audrey. Hidup Kai lebih sempurna saat bertemu denganmu." Sahut Adelia.


Audrey begitu terharu, kasih sayang yang ia terima bukan hanya dari suaminya saja, melainkan dari mertua dan nenek sang suami. Bahkan Keiina juga begitu menyayanginya. Mungkinkah ini buah kesabaran Audrey? Entahlah, yang pasti Audrey begitu bersyukur atas semua yang terjadi kini dalam hidupnya.

__ADS_1


Audrey membawakan secangkir kopi dan satu gelas air mineral untuk Kaisar, di lihat nya Kaisar masih terlelap dengan posisi tertelungkup.


"Sayang...." Audrey mengusap lembut rambut Kaisar.


"Bangun, sudah pagi.. Nanti kamu kesiangan." Kata Audrey masih dengan membelai kepala Kaisar.


"Aku lelah sekali, Queen." Ucap Kaisar masih dengan mata terpejam.


"Hari ini aku akan membantumu di kantor." Ucap Audrey.


Perlahan Kaisar mengerjapkan matanya, "Tidak, kamu di rumah saja." Katanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Satu hari ini, saja Yank." Kata Audrey memohon.


Kaisar tersenyum, Audrey dengan menggemaskan memanggilnya Sayang.


"Ya.. Please.." Kata Audrey lagi.


Kaisar duduk dan memeluk Audrey, "Iya." Ucapnya sambil melepas pelukannya dan menarik ujung hidung Audrey.


"Minum dulu air mineralnya." Kata Audrey sambil memberikan satu gelas air mineral.


Kaisar membenarkan posisi duduknya dan meminum air mineral yang diberikan oleh Audrey.


"Aku siapkan dulu air hangat untukmu, supaya lebih segar." Kata Audrey dan Kaisar tersenyum.


Audrey tengah mengisi air di bathtub dan memberikan tetesan aroma teraphy di dalam airnya. Sebuah tangan melingkar di perut Audrey dan membuat Audrey terkesiap.


"Ya ampun Sayang, aku kaget tau." Kata Audrey.


"Geli, Yank..." Kata Audrey.


"Semalam kamu seksi sekali, malah meninggalkan aku tidur." Kaisar masih terus menelusuri leher jenjang Audrey.


"Maaf, aku ketiduran." Audrey membalikan tubuhnya menghadap Kaisar. "Jangan marah, ya."


Kaisar tersenyum dan mengusap pipi Audrey. "Mana bisa aku marah padamu." Ucapnya lalu mencium kening Audrey kemudian kembali menatap mata bening Audrey. "Aku takut kalau marah sama kamu, nanti kamu meninggalkan aku." Imbuhnya lagi.


Audrey merasa sedih mendengar apa yang di utarakan oleh Kaisar, ternyata Kaisar pun mempunyai trauma akan takut di tinggalkan.


Audrey memeluk Kaisar dengan begitu erat, "Tidak ada alasan untuk meninggalkanmu. Kamu begitu banyak memberiku cinta, kenapa aku harus meninggalkanmu." Audrey mengusap punggung Kaisar. "Bukan hanya Keii yang memiliki trauma, ternyata kamu pun seperti itu."


"Apa aku berlebihan? Aku takut menjadi suami yang posesif untukmu." lirih Kaisar.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku, seperti apa kamu aku tidak menganggapnya posesif, melainkan itu bentuk kasih sayangmu untukku." Jawab Audrey.


Kaisar mengendurkan pelukannya. "Terimakasih, I love U, Queen."


"Love U too." Jawab Audrey.


"Ayo cepat mandi, aku mau bantu mama menyiapkan sarapan dulu ya." Kata Audrey dan Kaisar mengangguk.


Kaisar begitu kagum pada Audrey yang menurutnya sama seperti Adelia. Meski di rumah ini ada banyak pelayan, namun untuk urusan keluarga, Adelia mempersiapkannya sendiri. Bahkan tak jarang Adelia memilih memasakan masakan kesukaan para penghuni rumah. Dan kini, Audrey mengikuti sifat Adelia dan slalu membantunya dengan senang hati.


Kini mereka sarapan bersama dengan penuh suka cita. Mutia merasa tenang karena menurutnya badai telah berlalu meski dalam pikirannya ia juga masih mengkhawatirkan Kehidupan Anhar setelah berpisah dengan Riska dan kini jauh dari Kaisar.

__ADS_1


Mata Kaisar tertuju pada jari manis Keiina, sebuah cincin melingkar di jarinya.


"Keii, apa Ryu melamarmu?" Tanya Kaisar secara langsung.


Uhukkk.. Uhukk..


Keiina tersedak makanannya sendiri. Audrey yang duduk di sebelah Keiina segera memberikannya air mineral.


"Kakak memberitahu Kak Kai?" Tanya Keiina berbisik pada Audrey.


"Tidak, Keii. Aku tidak mengatakan apapun pada Kai." Jawab Audrey berbisik juga.


"Koq Kak Kai bisa tau?" Tanya Keiina lagi.


"Mungkin Ryu yang mengatakannya." Balas Audrey.


Ekhemmm.


Suara Kaisar berdehem yang melihat Keiina dan Audrey saling berbisik. Sementara Mutia dan Adelia hanya saling melirik dan mengulas senyum.


"Bukan Audrey yang memberitahu Kakak." Kata Kaisar yang mendengar bisik bisikan mereka. "Bukan Ryu juga yang mengatakannya." imbuhnya lagi. "Tapi Kakak melihat cincin di jarimu." Kata Kaisar pada akhirnya.


Mutia dan Adelia segera melihat ke arah jari jari Keiina dan melihat sebuah cincin melingkar di jari manis Keiina.


"Apa itu betul, Keii?" Tanya Adelia.


Keiina tampak ragu, namun Audrey mengusap punggung Keiina dan membuat Keiina menoleh ke arah Audrey yang mengangguk.


"Jujurlah." Kata Audrey.


Keiina mengangguk samar.


"Iya Ma, Mas Ryu semalam melamar Keii." ucapnya.


"Kamu menerimanya?" Tanya Adelia tak percaya.


Keiina mengangguk, "Keii mau coba buka hati, Ma."


Semua orang terlihat menghembuskan nafas leganya, namun Kaisar melihat ke arah Audrey, satu lagi yang membuat Kaisar kagum, yaitu Audrey bisa membuka pikiran Keiina.


"Kapan keluarga Ryu akan kesini melamarmu secara resmi?" Tanya Kaisar lagi.


"Kata Mas Ryu, nanti Mas Ryu akan bicara dengan Kak Kai dulu." Jawab Keiina.


Kaisar menganggukan kepalanya. "Baiklah." Ucapnya.


"Kai, Audrey. Apa kalian sudah membicarakan soal resepsi pernikahan kalian?" Tanya Mutia.


Kaisar melihat ke arah Audrey, "Belum, Oma." Jawab Kaisar.


"Kamu ini bagaimana sih, setidaknya kalian harus membuat resepsi pernikahan." Kata Mutia memberitahu.


"Iya Oma, nanti Kai bicarakan dengan Audrey dulu." Jawab Kaisar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2