
Keiina keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri.
"Apa hasilnya?" Tanya Adelia tak sabar.
"Keii hamil, Ma.. Keii akan punya anak." Jawab Keiina.
Ryu mengusap wajahnya tanda syukur. Ia merangkul Mutia yang berada di sebelahnya dengan perasaan gembira. "Ryu akan jadi Ayah, Oma." Ucapnya.
Audrey dan Kaisar pun ikut merasakan kebahagiaan itu, "Tahun depan rumah Mama ramai, akan ada empat baby sekaligus." Kata Kaisar.
Sementara itu Anhar masuk ke dalam kamarnya, hanya ia seorang diri yang tidak berani masuk ke dalam kamar Keiina. "Selamat, Keii." Gumamnya hanya seorang diri.
**
Setelah satu bulan tinggal di rumah Adelia, kini Anhar mulai membereskan pakaiannya untuk kembali tinggal di rumah keluarga Wiguna.
Audrey masuk ke kamar Anhar yang tidak tertutup rapat, Audrey menjemput Anhar untuk sarapan pagi bersama di ruang makan.
"Loh, Papa sedang apa?" Tanya Audrey.
Anhar menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Audrey, "Papa sedang berkemas, kan sudah satu bulan disini, Papa mau kembali ke rumah Wiguna saja." Jawab Anhar.
"Tapi Pa, Kai belum bilang apa apa." Ucap Audrey.
"Biar nanti Papa yang bilang saat sarapan nanti, Kamu duluan saja ke meja makan, nanti Papa menyusul." Ucap Anhar.
Audrey segera kembali ke meja makan, ia mengatakan soal Anhar pada Kaisar dengan berbisik, membuat Kaisar sedikit panik dan ingin menyusul Anhar ke kamar, namun Anhar sudah berada di ruang makan dan duduk di sebelah Audrey dengan tenang.
Kaisar menahan diri untuk tidak membahasnya, mereka makan dengan kondisi tenang. Semenjak hamilpun, Keiina memutuskan untuk tinggal di rumah Adelia dengan alasan ingin dekat dengan sang ibu juga Audrey untuk berbagi pengalaman, dan hal itu di mengerti oleh Ryu, bagi Ryu selama Keiina nyaman, Ryu akan menurutinya.
Selesai sarapan, Anhar memberanikan diri untuk berbicara.
"Kai, Papa ingin bicara." ucap Anhar dan membuat semua orang melihat ke arah Anhar.
Kaisar menatap mata Anhar, mata itu terlihat begitu banyak memperlihatkan kesedihannya.
"Sudah satu bulan Papa tinggal di sini, hari ini Papa ijin pamit untuk kembali ke rumah yang dulu." Ucap Anhar hati hati.
"Papa tidak akan kemana mana, Papa akan tetap tinggal di sini." Ucap Kaisar tidak ingin di bantah.
"Tapi, Kai.."
__ADS_1
"Kalau Papa tetap memutuskan pergi, Kai tidak akan pernah mengakui Papa sebagai Papa Kai lagi seperti dulu." Kata Kaisar dengan tegas.
Audrey menggenggam tangan Kaisar dan menggelengkan samar kepalanya. Namun hal itu tidak membuat Kaisar menarik kembali ucapannya.
Anhar berdiri dari duduknya. "Papa tidak masalah akan hal itu, Kai. Di sini bukan tempat Papa, Papa punya kehidupan sendiri." Kata Anhar.
Kaisar pun berdiri dari duduknya. Kaisar sangat tau jika Anhar berkata seperti itu bukanlah dari hatinya, melainkan dari ketidak percayaan dirinya.
"Pa..." Panggil Kaisar.
Adelia, Mutia dan Audrey pun ikut berdiri, sementara Keiina dan Ryu hanya memperhatikannya.
Anhar melihat ke arah Adelia. "Terimakasih, Adel. Sudah mengijinkanku tinggal di sini. Aku titipkan Mama padamu." Ucap Anhar.
"Anhar, dengarkan kata Kaisar, tetaplah di sini bersama kami." Sahut Mutia.
Anhar menggelengkan kepalanya, "Tidak, Ma. Anhar punya kehidupan sendiri, kalian sudah jauh lebih bahagia tanpa aku."
"Kalau begitu Mama akan ikut kamu pulang ke rumah utama." Kata Mutia keras kepala.
"Jangan, Ma. Aku tidak bisa mengurus Mama dengan baik. Di sini ada Adel dan Kaisar yang bisa menjaga Mama." Balas Anhar.
"Kai.. Kamu tau jika Papa dan Mamamu sudah tidak ada hubungan apapun, tidak mungkin kami tinggal di satu atap." Kata Anhar dengan nada mulai meninggi.
"Tapi Papa dan Mama tetaplah orang tua Kai. Papa dan Mama tetap tanggung jawab Kai sampai kapanpun." Balas Kaisar.
Anhar menghela nafasnya sejenak. "Papa hargai ketulusanmu, Kai. Tapi Papa bisa menjaga diri Papa sendiri. Papa sudah memutuskan tinggal sendiri."
"Hentikan!!" Kata Keiina dengan suara tegas. Keiina berdiri lalu menatap Anhar dengan sengit.
"Baby..." Panggil Ryu menahan Keiina.
"Biarkan aku, Mas." Kata Keiina pada Ryu.
"Kak Kai, jika dia mau pergi biarkan saja dia pergi. Kenapa Kakak dan Oma menahannya? Bukankah dari dulu juga dia memang tidak perduli dengan pendapat orang lain." Kata Keiina berapi api.
"Keii, jaga ucapanmu." Ucap Kaisar.
"Aku muak dengan semuanya Kak, setelah memaafkannya kenapa Kak Kai mudah sekali menerimanya kembali? Apa karena dia yang sudah menyelamatkan Kak Audrey? Tidak ingatkah Kakak jika dia yang membuat luka di hati kita? Kita terluka karena perpisahan ke dua orang tua kita, dan dia juga yang sudah membuat Mama menderita." Keiina semakin berteriak histeris.
Ryu mencoba menenangkannya namun Keiina sudah diselimuti oleh amarah.
__ADS_1
"Biarkan saja dia pergi, Kak. Aku tidak akan perduli bahkan jika dia mati sekalipun." Kata Keiina dengan tegas.
"KEIINA, HENTIKAN!!" Teriak Kaisar. Untuk pertama kalinya Kaisar berteriak pada Keiina.
"Kakak membentakku hanya karena dia?" Tanya Keiina sambil menunjuk ke arah Anhar yang sedari tadi hanya diam.
"Keii, jangan begitu, Nak. Meski bagaimanapun, dia adalah Papamu." Ucap Adelia.
"Dia bukan Papaku. Sejak lahir aku tidak memiliki Papa." Kata Keiina.
Anhar mengeluarkan air mata penyesalan, tubuhnya pun mulai berkeringat serta pandangan yang mulai berkunang, Anhar memegang pinggiran meja mencoba menahan tubuhnya agar tidak tumbang.
"Papa..." Audrey memegang lengan Anhar.
Anhar mengangkat wajahnya melihat wajah Keiina yang terlihat tidak jelas karena pandangannya masih berkunang. "Maafkan Papa Kei.."
"Aku sudah memaafkanmu, tapi tidak bisa menerimamu, pergilah dan jangan pernah menampakan dirimu lagi di hadapanku, aku sangat membencimu, SANGAT MEMBENCIMU!!" Keiina berteriak kembali.
"Hentikan Keii, dia adalah Papamu." Balas Kaisar lagi.
"Sudah ku bilang dia bukan Papaku, Kak."
"Dia Papamu, Keii. Bahkan Papa yang mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan nyawamu!!" Ucap Kaisar dengan tanpa sadar.
Membuat Keiina membeku seketika.
Anhar terduduk lemas, dan matanya terpejam. "Papa..." pekik Audrey.
"Kai, Papa berkeringat, tubuhnya dingin." Ucap Audrey.
Ryu segera memeriksa kondisi Anhar. "Bawa ke rumah sakit." Katanya.
"Kakak kecewa padamu, Keii. Sangat kecewa." Ucap Kaisar yang mulai membawa Anhar bersama Ryu ke rumah sakit.
Adelia pun ikut shock dengan kenyataan yang di ungkapkan oleh Kaisar.
"Benarkah itu, Ma?" Tanya Adelia pada Mutia.
Mutia mengangguk. "Anhar adalah pendonor yang di rahasiakan itu, Mama sudah mencurigainya semenjak Anhar tidak lagi menampakan diri di depan kita lagi, terlebih saat Kai bilang jika Anhar sudah lama tidak datang ke kantor untuk rapat perusahaan anak cabang dan hanya di wakilkan oleh asistennya. Kai menyeledikinya dan semua benar adanya. Bahkan hingga detik ini Anhar tidak tau jika Kai dan Mama sudah mengetahui hal itu.
...****************...
__ADS_1