
Sayup sayup Kaisar mendengar suara dari dalam kamar mandi, perlahan Kaisar mengerjapkan matanya dan tak melihat keberadaan Audrey di sisinya. Kaisar segera bangun dan menyusul Audrey ke dalam kamar mandi.
Hatinya terenyuh saat melihat Audrey yang sedang muntah di wastafel. Kaisar segera mendekati Audrey dan memijat lembut tengkuknya.
Audrey menoleh, "Kenapa kesini? Aku sedang muntah, nanti kamu ilfeel." Ucap Audrey.
"Tidak Queen, kamu sedang bersusah payah mengandung anakku. Bukan hanya satu, melainkan tiga." Ucap Kaisar. "Bagaimana bisa ilfeel padamu."
Audrey membasuh mulutnya saat di rasa tidak ada lagi yang ingin di keluarkannya, Kaisar memberikan handuk dan membantu mengelap wajah Audrey.
"Mual sekali, ya?" Tanya Kaisar saat menududukan Audrey di sisi tempat tidur.
Audrey mengangguk lemah.
"Besok kita ke dokter lagi, ya?" Kata Kaisar.
"Tidak perlu. Kata dokter Vera ini wajar di trimester pertama, aku menikmatinya." Jawabnya tersenyum.
Kaisar terharu mendengar apa yang di katakan oleh Audrey. Audrey tak pernah mengeluh meski tubuhnya lemah dan slalu mual mual. Audrey tetap menikmati perannya sebagai ibu hamil.
**
Kaisar mengernyit heran saat tak melihat lagi Anhar di rapat perusahaan anak cabang. Lagi lagi ia hanya melihat Theo yang mewakili. Entah sudah berapa bulan lamanya Anhar tak lagi menampakan dirinya di WG Group pusat.
"Om Theo, bisa kita bicara." Kata Kaisar dan Theo mengangguk hormat meski Kaisar jauh dibawah umurnya.
Kaisar membawa Theo untuk duduk di ruangan Kaisar.
"Dimana Papaku? Mengapa selama berbulan bulan Papa tidak pernah menghadiri rapat perusahaan anak cabang?" Tanya Kaisar menyelidik.
"Maaf Tuan Kai, Tuan Anhar sedang berlibur dan tidak ingin menghadiri rapat. Beliau bilang pada saya ingin menghabiskan masa tuanya dengan berlibur, karena itu Tuan Anhar memberi saya kuasa untuk mewakilinya." Jawab Theo.
Kaisar tampak berpikir, "Apa Papaku sudah menemukan calon istri lagi?" Tanyanya tak suka.
"Iya Tuan." Jawab Theo.
Kaisar menghela nafasnya, ia cukup kecewa karena Anhar tidak ada keinginan untuk berjuang mendekati Keiina, namun entah mengapa Kaisar seperti tidak mempercayainya.
"Siapa wanita itu?" Tanya Kaisar lagi.
"Saya tidak tau, Tuan Kai." Jawab Theo sedikit gugup.
Kaisar mengangguk. "Baiklah, kau bisa pergi. Katakan pada Papaku, lebih baik dia fokus di perusahaan anak cabang dari pada berkenalan dengan wanita tidak jelas." Kata Kaisar dengan sinis.
Theo mengangguk hormat dan meninggalkan ruangan Kaisar.
__ADS_1
Kaisar meraih ponselnya dan menelpon Harun.
"Selidiki Papaku, apa saja kegiatannya dan siapa saja yang dekat dengannya." Lalu Kaisar menutup kembali ponselnya.
Kaisar menarik nafasnya kasar, ia sendiri lupa kapan terakhir melihat Anhar di perusahaan, Kaisar mencoba tidak perduli namun ia merasa berhutang karena Anhar pernah menyelamatkan Audrey. Sebenarnya Kaisar juga merasa jika Anhar sudah berubah saat mengetahui kebenaran akan Keiina, namun kesalahan Anhar di masa lalu membuat Kaisar masih menutup matanya.
Di rumah, Kaisar terlihat diam dan tidak banyak bicara. Bahkan selesai makan malam, Kaisar memilih masuk ke dalam ruang kerja dan tidak ikut bergabung dengan keluarganya untuk sekedar nonton televisi bersama.
Mutia berpura pura mengantarkan teh untuk Kaisar, sebenarnya Audrey mengerti karena Aldo memberi tahu Audrey jika Kaisar tengah mencari tau soal Anhar. Audrey meminta pada Aldo untuk melaporkan semua masalah Kaisar karena Kaisar termasuk pria yang slalu menyembunyikan masalahnya dan bersikap tegar.
"Kai..." Mutia masuk dan meletakan secangkir teh di atas meja kerja Kaisar.
Kaisar melihat wajah Mutia dan tersenyum.
"Apa sudah ada kabar tentang Papamu?" Tanya Mutia.
Kasiar dan Mutia lebih nyaman berbicara seperti ini jika membicarakan Anhar, mereka merasa tidak enak dengan Adelia karena meski bagaimanapun Adelia tetaplah mantan istri Anhar yang pernah Anhar sakiti.
"Kai sudah meminta tim Harun untuk menyelidiki soal Papa, Oma." Kata Kaisar.
Mutia merasakan sesuatu hal yang tidak enak. "Entah mengapa Oma merasa, Papamu yang mendonorkan ginjalnya pada Keii."
Kaisar melihat Mutia dengan tatapan serius.
Kaisar mulai berpikir, selama ini juga ia merasakan hal tidak enak. Tapi Kaisar tidak sampai berpikir kesitu.
**
Keiina tengah menyisir rambutnya, entah mengapa akhir akhir ini perasaannya begitu sensitif.
"Baby.. Ayo cepat tidur." Panggil Ryu.
Keiina segera menghampiri Ryu dan masuk kedalam dekapan Ryu.
"Kamu memikirkan sesuatu?" Tanya Ryu.
"Jika Mas jadi aku, apa Mas akan memaafkan Tuan Anhar? Atau malah sebaliknya masih menyimpan dendam?" Tanya Keiina.
Ryu mengerti apa yang ada dalam pikiran Keiina, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Mungkin aku masih marah dengan kondisiku seperti mu, tapi aku memilih memaafkan." Ucap Ryu hati hati.
"Memaafkan yang bagaimana? Aku juga sudah memaafkan tuan Anhar. Hanya saja aku tidak bisa menerimanya sebagai Papaku." Ucap Keiina.
"Memaafkan itu tanpa syarat, Baby.. Aku pikir Papa Anhar sudah menyesali semuanya, Papa Anhar hidup sendirian, tanpa Key, tanpa kamu, bahkan tanpa Oma Mutia sebagai orang tuanya."
"Dulu juga Mama seperti itu." balas Keiina.
__ADS_1
"Mama Adelia sudah memaafkannya meski tidak ingin kembali bersama Papa Anhar. Tapi darah lebih kental dari pada Air, kamu dan Key adalah keturunan Papa Anhar." Ucap Ryu dengan bijak.
Keiina diam dan mencerna semua ucapan Ryu.
"Baby, kasian Papa Anhar, di masa tuanya dia hanya hidup seorang diri. Maafkanlah Papa Anhar sepenuhnya. Supaya hatimu juga lapang dan tenang menjalani kehidupan." Ryu mencoba membuat pikiran Keiina terbuka.
**
Kaisar tengah menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Audrey dengan wajah menghadap ke perut Audrey yang ia buka sedikit. Tangan Audrey terulur mengusap kepala Kaisar dengan penuh kasih sayang.
"Hai Triplets." Sapa Kaisar.
"Kalian rindu bertemu dengan Papa?" Tanyanya pada perut Audrey. "Tapi Papa belum bisa menjenguk kalian, Mama masih tidak boleh banyak lelah, Kalian jangan nakal ya di dalam perut Mama."
Audrey tersenyum mendengar ucapan Kaisar, Kaisar sangat siaga dan begitu menjaga dirinya.
"Memangnya Papa tidak ingin jenguk Triplets?" Tanya Audrey dengan nada seperti anak kecil.
"Mau, tapi Papa sayang sama kalian, Papa tidak ingin menyakiti Mama. Papa akan sabar sampai di perbolehkan oleh dokter." Kata Kaisar menjawab.
Dokter memang melarang Audrey dan Kaisar untuk sementara waktu tidak berhubungan, hal itu untuk menjaga agar janin mereka tetap aman mengingat Audrey dapat hamil melalui program inseminasi.
"Besok aku akan pergi." Kata Kaisar.
"Mengunjungi Papa Anhar?" Tanya Audrey.
Kini Kaisar duduk dengan menghadap Audrey, "Aku ingin mengajakmu jika itu memungkinkan."
Audrey menggelengkan kepalanya, "Aku di rumah saja, menjaga Triplets."
Kaisar mengangguk, "Ya, baiknya memang seperti itu." Katanya dengan tangan terulur mengusap perut Audrey. "Kira kira mereka laki laki atau perempuan?" Tanya Kaisar.
Audrey terlihat berpikir, "Aku ingin mereka laki laki, supaya bisa membantumu untuk menjagaku, Mama, Oma, dan Keii."
Kaisar tersenyum, "Aku juga ingin bayi perempuan, rasanya lucu dan menggemaskan." Ucapnya.
"Setelah melahirkan Triplets, perlukah aku hamil lagi?" Tanya Audrey.
"Jika kamu mau, aku akan mendukungnya. Jika kamu merasa sudah cukup dengan kehadiran Triplets, maka aku juga akan mengerti."
...****************...
Deket deket mau Tamat ya..
Bantu like, koment dan votenya dong..
__ADS_1