
Untuk pertama kalinya Keiina di jemput oleh seseorang, dan itu adalah Anhar. Selama di perjalanan, Keiina hanya diam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun Anhar menyangka jika diam nya Keiina karena ulah Reno, tentu saja Fajar yang sudah memberi tahu permasalahan di kantornya tadi kepada Anhar.
Anhar membawa Keiina ke cafe tempat biasa nya mereka bertemu, bahkan Anhar sendiri yang memesankan minuman untuk Keiina karena Keiina terlihat tidak bersemangat.
"Maafkan aku, Keii." Kata Anhar pada akhirnya.
"Kenapa Tuan meminta maaf padaku?" Tanya Keiina heran.
"Sikap Reno padamu." Kata Anhar pada akhirnya.
Keiina diam dan mencoba mendengarkan penjelasan Anhar lagi.
"Reno adalah putra istriku." Anhar meghela nafas.
"Jadi Mas Reno adalah anak tiri Tuan?" Tanya Keiina.
Anhar mengangguk. "Aku juga mempunyai seorang putra." Suara Anhar terdengar berat dan tercekat di tenggorokannya. "Keluargaku berantakan karena ulahku sendiri." Imbuhnya lagi.
Keiina menatap wajah Anhar yang terlihat sedikit kacau.
"Aku meninggalkan istriku hanya karena ingin kembali pada cinta pertamaku, Dia yang kini menjadi istriku, Ibu nya Reno." Kata Anhar memulai cerita.
"Aku adalah pria yang kejam, aku menyuruh mantan istriku untuk meninggalkan rumah dan tidak membawa anak kami. Selama dua puluh tahun, putra kandungku terus saja memusuhiku bahkan mungkin menganggapku musuhnya dari pada Ayahnya. Dan ini adalah karmaku."
Keiina menahan amarahnya. "Apa selama dua puluh tahun itu, putra anda bertemu dengan ibunya?" Tanya Keiina.
Anhar menunduk dan menggelengkan kepalanya samar. "Tiba tiba saja mantan istriku menghilang. Saat itu aku tidak tau mengapa dia memilih menghilang tanpa jejak, tanpa membawa semua fasilitas yang aku berikan. Dia membuatku berada di dalam penyesalan selama dua puluh tahun terakhir ini." Kata Anhar dengan sendu.
Di bawah meja, Keiina mengepalkan tangannya, namun Keiina tetap harus berakting agar Anhar tidak curiga padanya.
"Kenapa Tuan begitu baik padaku?" Tanya Keiina menyelidik.
Anhar mengangkat wajahnya dan menatap wajah Keiina. "Karena wajahmu, mengingatkanku pada mantan istriku. Mungkin jika dulu kami memiliki seorang anak perempuan, pastilah wajahnya mirip denganmu." Ucapnya.
"Apa itu maksudnya Tuan menganggapku putri Tuan sendiri? Tuan tidak menganggapku sebagai seorang teman wanita Tuan?" Tanya Keiina lagi.
Anhar terdiam, "Entanlah, aku tidak tau bagaimana perasaanku padamu, yang aku rasakan aku begitu ingin dekat dan melindungimu." Jawab Anhar.
Tanpa Anhar tau, Keiina telah menyuruh seseorang untuk selalu memfoto kebersamaan mereka, Keiina berencana akan mengirimkan foto foto itu pada Riska.
Dan tanpa Keiiina sadari juga, Harun sudah mulai mengikuti dirinya, mengawasi semua kegiatannya termasuk pertemuannya dengan Anhar.
Sementara itu di WG Group, Audrey merasakan tubuhnya semakin tidak enak. Audrey berjalan menuju lift untuk pulang, suasana kantor terlihat sudah sepi. Audrey memang slalu saja memilih pulang di saat kantor sudah sepi karena tidak suka bertemu dengan banyak orang.
Namun, saat itu Kaisar juga belum pulang, Kaisar melihat Audrey yang berjalan pelan sambil memegang dinding.
"Audrey.." Panggil Kaisar dan segera menghamipirinya.
__ADS_1
"Iya, Tuan." Jawab Audrey.
"Kamu sakit?" Tanya Kaisar.
Audrey hanya diam sambil menahan sakit di kepalanya.
Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera menggendong Audrey ala bridal.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" Tanyanya memekik tapi dengan nada lemah.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Kaisar dan kini masuk ke dalam lift khusus nya.
"Saya bawa motor, Tuan." Ucap Audrey.
"Motormu tidak akan hilang di sini."
Audrey tidak lagi membantah, kepalanya sakit berat dan tanpa sadar Audrey menyandarkan kepalanya di dada Kaisar, ada perasaan nyaman dan terlindungi. Begitu pun Kaisar, seketika perasaannya menghangat saat Audrey menyandarkan kepalanya, Kaisar merasa jika Audrey tengah mempercayai dan juga membutuhkannya.
Kaisar mendudukan Audrey di kursi sebelah kemudi dan memasangkan seatlbelt. Lalu ia mengitari mobil untuk duduk di belakang kemudi.
"Apa aku harus mengantarmu ke rumah Ryu?" Tanya Kaisar yang mulai melajukan mobilnya.
"Jangan." Kata Audrey dengan lemah. "Antar aku ke Apartemen XX Tower C lantai 10." Ucapnya dan Kaisar tidak lagi bertanya.
Kaisar membawa mobil menuju apartemen yang di maksud oleh Audrey, apartemen yang cukup dekat itu tidak memakan waktu yang lama, cukup sepuluh menit dan mereka sudah tiba disana. Kaisar kembali menggendong Audrey menuju lantai 10 dan Audrey yang merasa tubuhnya lemaspun membiarkannya.
Pintu lift terbuka, "Di mana unit mu?" Tanya Kaisar.
"Belok kiri dan paling ujung di sebelah kanan." Jawabnya masih dengan nada lemah.
Kaisar melangkah lebar menuju unitnya, "Apa passcode nya?" Tanya Kaisar lagi saat sudah berada di depan pintu.
"654321" Jawab Audrey.
Kaisar menekan passcode dan seketika pintu terbuka, di lihatnya apartemen yang kecil dengan type studio, hanya ada satu ranjang besar, sofa single, lemari tiga pintu dan meja rias. Kamar mandi berukuran kecil dan dapur mini. Bahkan mungkin dengan kamar Mbak Nina saja masih lebih besar kamar Mbak Nina di rumah Kaisar.
Kaisar menidurkan Audrey di tempat tidur, membantu membukakan heels nya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kamu demam." Kata Kaisar. "Di mana kotak obat?" Tanya nya.
"Tidak ada obat, pulanglah, terimakasih sudah mengantarku." Kata Audrey dengan mata terpejam.
Kaisar mengedarkan pandangannya, ia membuka tempat nasi dan tidak ada nasi di sana, ia juga mencari makanan yang bisa ia buat namun tidak ada bahan makanan di lemari pendingin, bahkan Kaisar hanya menemukan berbagai macam mie instan juga makanan kaleng di mini kitchen set nya.
Kaisar menghela nafas, "Sebenarnya kamu menjalani kehidupan yang seperti apa, Audrey?" Tanya Kaisar dalam batinnya sambil menatap Audrey yang mungkin sudah tertidur.
Kaisar keluar dari unit apartemen Audrey, dan Audrey menyangka jika Kaisar akan pulang ke rumahnya. Sementara Kaisar, ia menuju lantai bawah apartemen dan mencari apotik, beruntung ada apotik di tempat khusus berjualan di lingkungan apartemen. Kaisar juga membelikan bubur untuk Audrey.
__ADS_1
Setelah membelikan obat dan bubur, Kaisar segera kembali ke unit apartemen Audrey, Kaisar masih mengingat passcode nya karena mudah sekali di ingat.
Blip..
Pintu apartemen kembali terbuka, di lihatnya Audrey yang masih tertidur dengan posisi yang sama seperti saat Kaisar tinggalkan.
Kaisar menuangkan bubur ke dalam mangkuk dan mengisi air mineral di gelas lalu membawanya untuk Audrey.
"Audrey..." Panggil Kaisar pelan. "Makan dulu agar kamu bisa minum obat." Ucapnya lagi.
Audrey membuka matanya, "Kenapa kamu tidak pulang saja?" Tanya Audrey dengan suara yang sangat pelan.
"Tidak ada yang mengurusmu, aku akan di sini untuk mengurusmu." Jawab Kaisar lembut.
Kaisar mengaduk buburnya dan menyuapkannya untuk Audrey, Audrey menerima suapan bubur dari tangan Kaisar. Hanya masuk tiga sendok dan sudah membuat Audrey mual.
Kaisar memberikan air minum dan juga obat penurun demam agar demam Audrey segera turun.
"Tidurlah.." Kata Kaisar masih dengan tatapan dan suara yang lembut.
"Aku ingin membersihkan wajahku dulu." Kata Audrey yang merasa tak nyaman karena belum menghapus sisa make up nya.
Kaisar mengambilkan kapas dan pembersih wajah, dengan telaten Kaisar membersihkan wajah Audrey.
"Biar aku saja." Kata Audrey tak enak, meski bagaimanapun Kaisar adalah atasannya.
"Tidak apa, kamu istirahat saja." jawabnya sambil menelusuri wajah Audrey yang terlihat cantik di mata Kaisar.
Demam Audrey tak juga kunjung turun, Kaisar membantunya dengan mengompres namun tetap saja. Di lihatnya dahi Audrey dengan banyak bulir keringat, dan pakaian Audrey yang juga basah karena berkeringat.
"Audrey." Kaisar mencoba membangunkan Audrey untuk mengganti pakaiannya. Namun Audrey tak kunjung bangun.
"Apa aku yang harus menggantikannya pakaian?" Batin Kaisar.
...****************...
...Note:...
...Satu Like,...
...Satu Vote,...
...Satu Komentar dari kalian,...
...Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini....
...Please jangan jadi silence readers....
__ADS_1