
"Quenn, bajumu basah." Kata Kaisar melihat ke area dada Audrey.
Audrey yang masih berbaringpun melihat ke arah dadanya. "Sepertinya Asi ku keluar, Kai."
Kaisar segera memanggil kembali suster dan suster menyarankan untuk memompa Asinya.
Kaisar meminta Adelia untuk membawakannya pompa Asi elektrik yang ada di rumah.
Mendengar menantunya sudah sadar, Adelia segera kembali ke rumah sakit dengan membawa pompa asi.
Dengan posisi Audrey yang masih berbaring, Adelia dengan telaten membantu menantunya untuk memompa asinya.
"Asi mu subur sekali, Sayang." Kata Adelia.
"Iya Ma, selama hamil aku slalu mensugesti diriku sendiri jika aku ingin menyusui anak anakku dengan asi ku sendiri." Jawab Audrey.
Adelia tersenyum, ia merasa bangga pada Audrey, Audrey wanita baik yang di pilih oleh putranya.
Sementara itu Audrey merasa bersyukur karena memiliki mertua sebaik Adelia. Ia merasa jika Adelia bukanlah mertuanya. melainkan melebihi Ibunya sendiri. Adelia selalu sama memperlakukan Audrey dengan Keiina. Tidak pernah bersikap tidak adil dan slalu tulus membantu Audrey melewati masa kehamilan hingga melahirkan seperti saat ini.
Siang hari, ke tiga bayi Audrey dibawa ke dalam kamar perawatan Audrey. Meski belum bisa menggendongnya, Audrey bisa melihat dan menyentuhnya secara langsung.
"Mereka tampan." Mata Audrey menunjuk Baby Kevin dan Baby Kenzo. "Dia juga cantik." Kata Audrey melihat ke arah Keysha.
"Karena papa dan Mama nya juga tampan dan cantik." Ucap Adelia yang meggendong Keysha dan memberikannya botol susu berisikan asi. Sementata Kaisar menggendong Kenzo. Kevin masih berada di box karena sudah selesai di beri susu oleh Adelia.
Anhar juga kembali ke rumah sakit, wajahnya terlihat berseri saat melihat ke tiga cucu kembarnya. Setelah mencuci tangan, Anhar menuju box tempat Kevin tertidur.
"Kevin sepertimu saat bayi." Kata Anhar seolah menelusuri masa lalu saat Kaisar baru saja terlahir ke dunia.
**
Keiina tengah bersiap untuk ke rumah sakit bersama Mutia dan Nina. Selain untuk menjenguk Audrey. Keiina juga akan memeriksakan kandungannya dan Ryu sudah menunggunya di rumah sakit.
"Oma, Oma duluan saja sama Mbak Nina ke ruangan Kak Audrey. Keii mau ke ruangan Mas Ryu dulu." ucap Keiina.
Mutia mengangguk dan mereka berpisah di loby.
Keiina mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli dimsum karena sedari kemarin. Keiina sangat menginginkan dimsum.
"Berapa?" Tanya Keiina pada kasir.
"dua puluh lima ribu." Jawab Kasir.
Keiina membuka tas nya namun ia lupa jika belum mengambil uang tunai.
__ADS_1
"Ini saja." Sahut seseorang dari samping Keiina yang memberikan satu lembar uang 100 ribu rupiah.
Keiina menoleh dan sedikit terkejut saat melihat sosok pria yang kini ingin ia akui.
Anhar tersenyum pada Keiina, setelah menerima kembalian, Anhar membawa Keiina untuk duduk di meja kantin dan berbicara berdua.
Hingga kini, Keiina belum mengetahui jika Anhar telah kembali, dan baru kali ini Keiina bertemu dengan Anhar kembali.
"Apa kabarmu, Nak?" Tanya Anhar.
"Baik." Jawab Keiina. Dirinya pun bingung dengan pertemuan yang tiba tiba ini.
Anhar tersenyum. "Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Tanyanya.
"Jalan delapan bulan." Jawab Keiina masih dengan singkat.
"Kamu semakin cantik saat sedang hamil, apa calon bayimu perempuan?" Tanya Anhar.
Keiina hanya mengangguk samar.
"Aku akan memiliki 2 cucu laki laki dan dua cucu perempuan." Ucap Anhar dan Keiina hanya diam.
"Keii..." Panggil Anhar dengan lembut. "Maaf... Karena semua kesalahanku membuatmu terluka." Ucap Anhar dengan tulus. "Tolong jangan membenciku, Keii. Aku hanya ingin memperbaiki hidupku bersama kalian." Kata Anhar lagi.
"Tapi kamu membenciku." Balas Anhar dengan cepat.
"Itu dulu." Jawab Keiina. "Aku tau jika aku salah." Ucapnya lagi.
Anhar menatap wajah Keiina yang tampak tenang. Mereka sama sama diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Papa..." Kata Keiina pada akhirnya.
Anhar membeku mendengar kata Papa untuk pertama kalinya dari mulut Keiina.
"Pa... Apa Papa tetap menyayangiku meski dari awal Papa tidak tau keberadaanku? Apa Papa akan menganggapku sebagai putri Papa sendiri?" Tanya Keiina.
Wajah Anhar sudah basah karena air mata, ia merasa tak percaya Keiina memanggilnya Papa, "Keii. Papa tidak sedang bermimpi kan?" Tanya Anhar.
"Jawab aku, Pa.." Kata Keiina lagi.
Anhar mengangguk, "Papa menyayangimu, Keii. Sangat menyayangimu." Kata Anhar. "Kamu memanglah putri Papa, karena itu Papa sangat menyayangimu." Ucapnya lagi.
Keiina juga menangis, dan Anhar memeluk Keiina. "Kamu putri Papa, Keii. Maafkan Papa, terimakasih sudah mau mengakui Papa."
Dari jauh, Ryu melihat pemandangan penuh mengharukan itu. Tadinya Ryu akan menyusul Keiina yang tak kunjung datang ke ruangannya, ia menyusul ke kamar perawatan Audrey namun tak menemukan keberadaannya, Ryu mencari ke loby dan melihat Keiina sedang duduk bersama Anhar di kantin. Ryu sengaja tidak menghampirinya karena ingin memberikan ruang lebih untuk Keiina dan Anhar.
__ADS_1
Kini Ryu merasa lega, ia tak menyesali keputusannya menyembunyikan Anhar untuk sementara waktu dan memberikan Anhar pengobatan terbaik sehingga Anhar terlihat lebih sehat dan terus stabil.
"Pa.. Kita di lihat banyak orang." Kata Keiina sambil mengusap air mata di pipinya.
Anhar melerai pelukannya. "Biarkan saja. Papa masih ingin memeluk putri kecil Papa." Jawab anhar yang membuat Keiina bahagia.
"Aku bukan putri kecil lagi, Pa.. Bahkan aku sudah mau melahirkan." Ucap Keiina.
Anhar menggelengkan kepalanya. "Bagi Papa, kamu akan terus jadi putri kecil Papa." Anhar mengusap lembut kepala Keiina.
"Apa aku mengganggu?" Tanya Ryu yang kini ikut bergabung.
Anhar berdiri dan memeluk Ryu. "Terimakasih untuk semuanya, Ryu. Ini semua juga karena idemu." kata Anhar.
Ryu menepuk pundak Anhar. "Ryu hanya ingin yang terbaik untuk Keiina, Pa." Jawabnya lalu melerai pelukan Anhar.
"Maksud kalian apa?" Tanya Keiina bingung.
Ryu dan Anhar saling pandang dan tertawa bersama. Lalu Ryu menceritakan semuanya.
"Saat itu Papa Anhar berencana pergi diam diam dan berpamitan padamu saat kamu sedang tidur dan dirawat disini karena pendarahan. Aku mendengar semua perkataan Papa Anhar padamu, lalu aku yang merencanakan untuk membawa Papa Anhar ke kota lain, kota dimana teman Papa Regan memiliki dokter terbaik untuk pemulihan Papa Anhar. Aku selalu mengabari Papa Anhar soal perkembangan psikismu yang semakin membaik. Semua itu kami lakukan untuk memberimu waktu dan menyembuhkan dulu psikismu, Sayang." Kata Ryu.
"Kenapa Mas Ryu pura pura tidak tau selama ini, dan Kak Kai mati matian juga mencari Papa." Ucap Keiina.
"Agar semua berjalan dengan jalan yang sudah aku atur, dan aku tidak menyesalinya, meski nanti Key akan mengomel padaku." Kata Ryu dengan tertawa.
"Papa akan membelamu, Ry. Tenang saja." sahut Anhar.
"Ya, karna Key kalau ngomel sudah seperti pria tidak mendapatkan jatah, Pa. Apalagi Audrey baru melahirkan, Key akan puasa selama dua bulan, pasti omelannya semakin menjadi." Kata Ryu lagi dan mereka tertawa bertiga.
...****************...
*TAMAT*
Selanjutnya aku kasih Bonchap ya 😉
Sebenarnya cerita ini salah satu request dari readers setiaku, dia mengalami trauma akan pria karena di tinggalkan oleh ayahnya yang meninggalkan ibunya hanya karena kembali dengan mantan kekasihnya.
Aku menambahkan alurnya dan sudah di setujui oleh Readersku, tapi ending ceritanya memang seperti ini, dia memilih berdamai dengan ayahnya kembali.
Kalau kalian mau juga dibuatkan cerita di novelku selanjutnya, bisa DM IG aku dan ceritakan kisah hidup kalian ya. Siapa tau bisa untuk inspirasiku selanjutnya.
Aku tuh ingin banget buat cerita soal rumah tangga yang hancur karena campur tangan mertua, ada yang sudah beberapa DM pengalamannya, yuk kalian yang mungkin punya pengalaman seperti ini bisa juga DM di IG ya.
#KalianTidakSendiri, banyak yang minta cerita rumah tangga yang hancur karena mertua. Aku butuh banyak inspirasi 😉
__ADS_1