TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 74


__ADS_3

Kini, Kaisar dan Audrey akan menjalankan resepsi pernikahan mereka. Audrey terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna broken white, gaun mewah dan elegan yang di pilihkan oleh Mutia dan Adelia sebagai tanda jika Audrey adalah istri dari pewaris tunggal WG Group.


Kaisar tak berkedip saat melihat kecantikan Audrey, bukan hanya kecantikan wajahnya namun kecantikan Audrey juga terpancar dari hatinya.


Ryu menyenggol lengan Kaisar yang tak berkedip itu. "Ngedip Key, ngedipp." Ledek Ryu.


"Istriku itu, Ry.." Gumam Kaisar.


"Ya jelas istrimu, masa istrinya Aldo." Ledek Ryu lagi.


Untuk acaranya kali ini, Kaisar dan Audrey sepakat untuk mengundang Anhar, Keiina pun tak merasa keberatan karena alasan Audrey yang mengatakan jika Anhar yang sudah nenyelamatkan nyawanya dengan mendonorkan darahnya untuk Audrey. Anhar juga yang mengantar Audrey hingga ke pelaminan karena Audrey sendiri tidak memberitahu pada Raja soal resepsi pernikahannya.


"Terimakasih, Audrey. Karena kamu, Kai bisa menerima Papa lagi." Kata Anhar sambil berjalan mengantarkan Audrey pada Kaisar.


"Iya, Pa.. Audrey juga senang akhirnya Kaisar bisa berdamai dengan hatinya. Audrey harap Keii pun akan segera menerima Papa." Balas Audrey.


Hingga mereka berada di atas pelaminan, Anhar memberikan tangan Audrey ke tangan Kaisar. Anhar juga berdiri di atas pelaminan bersama Adelia, namun bukan berarti Adelia menerima kembali Anhar di hidupnya. Adelia hanya ingin mengabulkan permintaan Kaisar, yakni mempunyai foto keluarga yang utuh meski Adelia dan Anhar tidak lagi bersama.


Keiina tengah duduk bersama Mutia di sebuah kursi bermeja kan bundar. Keiina melihat wajah bahagia Kaisar dan juga Audrey. Keiina juga melihat Anhar yang duduk di samping Adelia meski mereka tidak saling bicara.


Mutia menggenggam tangan Audrey, "Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"


Keiina terkesiap dan menatap wajah Mutia. "Tidak ada, Oma." Jawab Keiina.


"Papamu sudah mendapat hukumannya, berdamailah dengannya." Kata Mutia yang tidak tega terhadap Anhar.


Keiina menggelengkan kepalanya, "Tuan Anhar belum sepenuhnya mendapatkan karmanya, Mama saja menderita selama dua puluh tahun, sedangkan Tuan Anhar baru saja beberapa bulan."


Mutia menghela nafas, "Jika harus menunggu dua puluh tahun, maka Papamu akan membawa karmanya hingga dia mati, tak menyesalkah kamu jika sampai seperti itu? Tidak inginkah kamu menikah nanti di dampingi oleh Papamu seperti Audrey tadi?"


Keiina hanya diam.


"Berdamai dengan Papamu bukan berarti akan membuat Mama dan Papamu bersatu kembali, mungkin pernikahan mereka sudah berakhir, namun darah lebih kental dari pada air, di dalam tubuhmu ada darah Papamu, Keii." Kata Mutia lagi.


"Keii tidak bisa, Oma. Lagi pula ada Kak Kai yang akan mendampingi Keii menikah nanti. Keii tidak butuh Tuan Anhar." Ucap Keiina dengan yakin.


Mutia hanya bisa diam, Keiina mewarisi sikap keras kepala Anhar, sikap tidak mau mengalah dan selalu mengedepankan emosi. Mutia hanya berharap semoga Keiina segera menyadari kesalahannya dan mau berdamai dengan Anhar.


"Kamu cantik sekali. Rasanya aku tidak rela mereka melihat kecantikanmu." Bisik Kaisar pada Audrey.

__ADS_1


"Tapi kamu kan pemenangnya?" Tanya Audrey.


"Ya, kamu benar, akulah pemenangnya, aku yang mendapatkan Queen Audrey." Ucap Kaisar dengan bangga.


Acara resepesi berlangsung meriah, di hadiri rekan bisnis dan petinggi perusahaan, di liput oleh semua media sebagai pernikahan termegah tahun ini. Tim Harun berhasil menghapus berita tidak baik mengenai asal usul Audrey, bahkan mengancam akan menutup media yang berani memberitakan hal hal yang tidak baik mengenai Audrey.


Dengan kekuasaan Kaisar, semua media tidak berani melawan apa lagi sampai memberitakan hal negatif tentang Audrey ke semua publik.


Setelah tiga jam, acara resepsi itu pun berakhir. Anhar megambil kesempatan untuk mendekati Keiina meski Keiina terlihat tidak menganggapnya.


"Keii, boleh Papa duduk di sini?" Tanya Anhar.


Keiina tidak menjawabnya namun Anhar tetap saja memaksakan diri untuk duduk di satu meja yang sama dengan Keiina.


"Bulan depan, pernikahanmu, bolehkah Papa datang untuk melihatmu menikah?" Tanya Anhar hati hati.


"Datang saja jika Kak Kai mengundangmu." Jawab Keiina tak perduli.


"Kai akan mengundang Papa jika kamu mengijinkannya, Keii." Kata Anhar.


Keiina tidak menanggapi ucapan Anhar dan lebih memilih diam sambil melihat isi ponselnya.


"Papa akan memberikanmu sebuah rumah sebagai kado pernikahan untukmu dan Ryu." Kata Anhar lagi.


"Tapi Papa tetap akan memberikannya." Kata Anhar memaksa.


"Aku tidak akan menerimanya, sama seperti Mama dulu yang tidak menerima rumah yang kau berikan saat dulu kau menceraikan Mama." Balas Keiina sinis.


"Keii.." Lirih Anhar.


"Maaf Tuan, anda bisa ada di sini bukan karena kemauanku, itu semua karena Kak Kai yang mengundangmu karena Kau adalah Papanya. Dan kata maaf yang sudah ku berikan bukan berarti aku bisa menerimamu apa lagi berdamai denganmu, hanya saja aku memang benar benar menganggapmu tidak ada." Kata Keiina lagi.


Keiina berdiri dari duduknya. "Aku menghormati Kak Kai karena dia adalah pengganti sosok Ayah untukku, jadi kau harus tau batasanmu." Keiina meninggalkan Anhar begitu saja.


Mutia yang memperhatikan mereka sedari tadi langsung duduk bersama Anhar. "Mau tau kamu di masa muda seperti apa?" Tanya Mutia.


Anhar menatap wajah Mutia.


"Keiina adalah cerminan dirimu, Anhar. Keiina tidak perduli apa yang di lakukannya salah atau benar, baginya semua yang dilakukannya adalah benar tanpa merasakan perasaan orang lain. Itulah yang dulu kamu lakukan pada Adelia, kamu menceraikannya, mengambil Kaisar darinya, mengusir dari rumah dan membawa wanita lain ke rumah, sama sekali tidak memikirkan perasaan orang di sekitarmu, kamu menganggap apa yang kamu lakukan itu benar."

__ADS_1


Anhar menunduk dengan menopang kepalanya, "Aku memang melihat bayangan diriku pada keiina, Ma." Kata Anhar.


"Berdoalah, Anhar. Semoga saja ada keajaiban yang bisa membuat Keiina mau berdamai denganmu dan menerimamu sebagai Papanya." Mutia menatap iba pada putra tirinya itu.


Keiina berjalan ke arah Ryu yang sedang mengobrol bersama Pras dan Cean.


"Hai, Sayang.." Ryu mencium pelipis Keiina dan tangannya melingkar di pinggang Keiina.


"Akhemmm.." Pras berdehem melihat kebucinan Ryu pada Keiina.


Keiina terlihat manja dengan menyandarkan kepalanya di lengan Ryu.


"Daddy Pras seperti tidak pernah muda saja." Kata Ryu.


"Padahal Daddy lebih lebih bucinnya dari pada kamu, Ry." Sahut Cean.


"Hei, Son. Harusnya kamu bangga karena Daddy meratukan Mommy mu." Kata Pras.


Cean memutar malas bola matanya.


"Cean, berhentilah berpetualang, segera temukan wanita untuk di hidupmu." Kata Ryu pada sepupunya itu.


"Aku masih muda, masih ingin bebas tanpa komitmen." Balas Cean.


"Benar itu Cean, dengarkan Ryu. Berhentilah berpetualang, fokuskan hidupmu pada satu wanita." Kata Pras menyetujui.


Cean hanya mengerdikan bahunya lalu membalikan tubuhnya dan meninggalkan mereka.


"Hei Cean, mau kemana?" Panggil Pras yang kemudian menyusul Cean.


"Apa Cean seorang pemain?" Tanya Keiina pada Ryu.


Ryu mengangguk, "Cean playboy, ia dekat dengan banyak wanita tapi tidak ada yang dia pacari."


Keiina menatap heran pada Ryu dan Ryu mengerti akan tatatapan itu.


"Sayang, aku tidak seperti Cean. Tanya saja pada kakakmu Key. Kamu itu wanita pertama di hidupku, dan akan ku jadikan yang terakhir, satu satunya dalam hidupku." Ucap Ryu meyakinkan.


...****************...

__ADS_1


Note:


Tidak ada cerita Ocean disini ya, Cean di sini hanya figuran. Nanti kalo Novel ini rame pembacanya, aku buatin novel khusus untuk Ocean.


__ADS_2