
Keiina segera di larikan ke IGD bahkan Regan sendiri yang mengambil alih pemeriksaan menantunya itu.
"Tidak ada yang aneh, bahkan bagian perutnya juga tidak keram." Gumam Regan.
Regan melihat sedikit ruam di pergelangan tangan Keiina, lalu dirinya menatap wajah menantunya itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Regan mengambil sampel darah Keiina untuk pemeriksaan lebih lanjut, juga sampel berupa urine untuk hasil tes lebih akurat. Sementara itu Keiina dipindahkan ke ruang perawatan karena harus mendalami pemeriksaan lainnya.
Ryu datang saat Keiina sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Namun Regan menahan Ryu untuk masuk dan mengajaknya berbicara di ruangannya. Kaisar dan Audrey pun ikut ke ruangan Regan.
"Apa ada yang serius, Pa?" Tanya Ryu.
"Ry, apa kamu tau jika Keiina mengkonsumsi pil kontrasepsi?" Tanya Regan.
Hal itu membuat Ryu, Kaisar dan Audrey terkejut.
"Pil kontrasepsi?" Tanya Ryu.
"Papa curiga karena menemukan sedikit ruam di pergelangan tangan Keiina, dan semua di perkuat oleh hasil lab nya. Keiina mengkonsumsi pil itu tanpa berkonsultasi dengan dokter ahli." Kata Regan.
Ryu menggelengkan kepalanya. "Ryu tidak tau, Pa.."
Ryu melihat ke arah Audrey, ingin menanyakan pada Audrey, karena selama ini Keiina slalu terbuka pada Audrey.
"Kamu tau ini, Audrey?" Tanya Ryu.
"Aku tidak tau, Keii tidak pernah menceritakan hal ini padaku. Malah aku selalu mengajaknya untuk program hamil bersama." Jawab Audrey.
Ryu mengusap wajahnya kasar.
"Tanyalah baik baik pada istrimu, Ry. Keiina pasti ada alasan mengapa dirinya meminum pil itu tanpa ijin darimu." Ucap Regan.
Regan keluar dari ruangannya menyisakan Ryu, Kaisar dan Audrey yang masih terkejut akan fakta yang baru saja terungkap.
Audrey pun tidak mengerti mengapa Keiina mengambil jalan untuk menunda kehamilannya. Bahkan Audrey saja harus rela mengikuti program kehamilan demi untuk segera memiliki keturunan.
Ryu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar, namun Kaisar mencoba mencegahnya.
"Ry.." Panggil Kaisar yang juga ikut berdiri dari duduknya.
Ryu menghentikan langkahnya. "Apa yang kita pikirkan sama, Key?" Tanya Ryu.
"Tolong mengerti adikku, Ry. Lahir setelah perceraian dan di besarkan tanpa seorang Ayah membuatnya begitu terluka." Lirih Kaisar.
Ryu membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan Kaisar. "Aku kurang mengerti apa, Key? Aku mencintai adikmu, tidak cukupkah cinta yang ku beri untuknya? Kenapa Keiina tidak percaya padaku dan melakukan hal ini tanpa seijinku?" Tanya Ryu bertubi tubi.
"Keiina takut jika ia memiliki anak dan kalian bercerai, maka anak kalian akan merasakan apa yang di rasakan oleh Keii dulu." Jawab Kaisar.
__ADS_1
Ryu menganggukan kepala dan tertawa sinis. "Lalu untuk apa Keiina mau menikah denganku?"
"Ry..."
"Key, aku tidak mengerti jalan pikiran Keiina, aku menikahinya karena aku ingin membahagaiakannya. Menjadikannya satu satunya wanita di hidupku. Kenapa Keiina tidak percaya padaku?" Teriak Ryu frustasi.
Audrey mendekat pada Kaisar dan Ryu yang sedang bersitegang, "Sudah, kita bicarakan ini baik baik nanti, kita tidak bisa menghakimi Keiina, Keiina punya hak atas tubuhnya sendiri."
Mereka hanya saling diam.
"Ry, lihatlah Keii dulu. Apapun yang terjadi Keii tetap istrimu, tetap tanggung jawabmu." Kata Audrey lagi.
Ryu menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, "Aku lihat Keii dulu." Ucapnya lalu meninggalkan Kaisar dan Audrey.
Audrey menggenggam tangan Kaisar.
"Aku tidak bisa mengerti adikku." Ucap Kaisar.
"Terlalu banyak bebanmu, Kai. Ini bukan salahmu." Jawab Audrey dengan bijak.
Kaisar dan Audrey pun menyusul Ryu untuk melihat Keiina di kamar perawatan.
Ryu mengatur nafasnya sesaat sebelum membuka pintu kamar perawatan Keiina, dirinya akan mencoba untuk lebih ekstra sabar menghadapi istrinya yang masih labil itu. Ryu berpikir, Keiina adalah pilihannya sendiri. Kekurangan dan kelebihan Keiina tentulah harus Ryu terima.
Ryu melangkah masuk ke dalam kamar perawatan Keii, di lihatnya Keiina yang sedang makan di suapi oleh Adelia.
"Sudah enakan?" Tanya Ryu tetap dengan lembut.
Keiina mengangguk. "Aku boleh pulang?" Tanyanya.
"Tidak boleh, kamu harus menjalankan beberapa tes lagi." Kata Ryu.
"Tapi aku udah gak apa apa." Kata Keiina sedikit merajuk.
"Kamu tetap harus istirahat disini.. Menurutlah." Kata Ryu sedikit tegas namun tetap lembut.
"Iya Keii, menurutlah pada suamimu." Ucap Adelia mendukung Ryu.
Kaisar dan Audrey juga masuk ke dalam kamar petawatan Ryu. Keiina melihat wajah Kaisar yang terlihat kecewa. Namun Keiina tidak berani menanyakannya.
Menjelang malam, Adelia, Kaisar dan Audrey kembali pulang ke rumah. Sementara Ryu dengan setia menemani Keiina.
Meski Ryu tengah merasakan kecewa di hatinya karena Keiina, namun ia mencoba untuk tidak menyalahkan Keiina.
Ryu memeluk Keiina di atas berankar, ia membelai lembut rambut Keiina.
"Baby..." Panggil Ryu.
__ADS_1
"Iya, Mas.."
Ryu diam sesaat, membuat Keiina merasa heran.
"Mas kenapa?" Tanya Keiina.
"Tidak apa apa, hanya ingin memanggilmu saja." Jawab Ryu.
Namun Keiina tidak sepenuhnya percaya, "Mas kenapa?" Tanyanya lagi.
Ryu hanya diam, namun tangannya masih tetap mengusap rambut Keiina.
"Mas!!" Panggil Keiina lagi.
"Aku gagal, Baby." Kata Ryu pada akhirnya.
"Gagal apa?" Tanyanya tak tau.
"Gagal membuatmu percaya padaku." Kata Ryu lagi.
Keiina diam tidak mengerti, namun tiba tiba saja perasaannya jadi tidak enak.
"Aku mungkin berhasil menikahimu, menjadikanmu milikku. Tapi aku tidak berhasil membuatmu percaya padaku, kamu masih takut apa yang terjadi pada orang tuamu akan terjadi pada pernikahan kita." Kata Ryu.
Hening sejenak, mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Aku tidak akan memaksamu untuk memiliki anak jika kamu memang tidak mau, harusnya kamu membicarakan hal ini dulu padaku. Tidak baik mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa konsultasi. Apa lagi kamu belum pernah hamil. Itu sangat membahayakan kondisi rahimmu." Akhirnya Ryu memberitahukannya pada Keiina apa ia yang tau.
Terdengar suara isakan Keiina di dalam dekapan Ryu. "Aku hanya masih butuh waktu, Mas." Lirih Keiina.
Ryu tetap membelai lembut rambut Keiina. "Iya Baby, aku mengerti." Kata Ryu.
"Maaf jika Mas kecewa padaku." Lirih Keiina lagi.
Ryu mengeratkan dekapannya, "Tidak, Baby. Aku akan menunggumu hingga kamu siap. Tapi dari sekarang stop mengkonsumsi pil itu."
Keiina semakin menangis, ia merasa malu pada Ryu yang begitu baik dan salalu sabar menghadapi kelabilannya.
"Sudah jangan menangis, ayo kita tidur. Besok kamu harus menjalani tes kesehatan dan juga pemeriksaan rahimmu. Sakit di pinggamu juga harus di periksa." Kata Ryu.
"Mas tidak marah?" Tanya Keiina.
"Tidak Baby, mungkin aku memang kecewa, tapi aku tidak akan marah padamu."
"Kenapa tidak marah padaku?"
"Karena aku sangat mencintaimu, aku begitu mencintaimu, tidak apa jika kamu tidak ingin memiliki anak, asalkan kamu terus menemaniku sampai tua, tetap di sisiku hingga kita menua bersama." Jawab Ryu yang membuat Keiina semakin bersalah dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
...****************...