TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 83


__ADS_3

Pagi hari, Anhar ikut sarapan bersama Adelia dan keluarganya, sebenarnya Anhar tidak ingin menampakan dirinya seperti saat semalam, Anhar pura pura tertidur lebih cepat karena tidak merasa percaya diri untuk berkumpul untuk makan bersama.


Namun pagi ini, Anhar tidak bisa menghindar lagi. Audrey menyusul Anhar untuk sarapan bersama di meja makan.


Anhar duduk tepat di samping Audrey dan berhadapan dengan Adelia secara langsung.


"Papa mau kemana?" Tanya Kaisar yang melihat Anhar sudah berpakaian rapih.


"Bekerja, ke kantor utama." Jawab Anhar.


"Tidak Pa, Papa tidak akan bekerja, Papa harus banyak istirahat." Ucap Kaisar yang membuat Adelia dan Keiina merasa heran.


"Tapi Kai.."


"Papa akan di rumah bersama Oma. Papa boleh ke kantor hanya dua kali dalam seminggu" Ucap Kaisar lagi tanpa bisa di bantah.


"Sudahlah Anhar, dengarkan saja apa kata Kaisar." Sahut Mutia.


Anhar menurut, dalam hatinya ia bertanya, mungkinkah Kaisar tau jika dirinya mendonorkan ginjalnya untuk Keiina sehingga membuat Kaisar seperhatian ini padanya.


Ryu mendatangi kantor WG Group saat jam makan siang, sebenarnya ada yang mengganjal di hati Ryu soal Anhar yang tiba tiba saja berada di rumah Adelia dan kondisi Anhar yang terlihat tidak seperti biasanya. Ryu tidak bisa bertanya pada Kaisar di rumah karena khawatir Kaisar tidak akan menceritakannya.


"Tumben." Kata Kaisar ambigu namun Ryu tau apa maksudnya.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi pada Papa Anhar?" Tanya Ryu yng kini duduk di sebrang Kaisar.


Kaisar menghela nafas, ia sudah menduga jika Ryu akan bertanya soal ini.


Kaisar menatap wajah Ryu, "Apa benar kamu tidak tau siapa yang mendonorkan ginjal untuk Keiina?" Tanyanya serius.


Ryu menangkap maksud ucapan Kaisar, "Apa Papa Anhar yang mendonorkannya Key?" Tanya Ryu.


Kaisar menghela nafas, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Papa Anhar yang mendonorkannya." Ucap Kaisar pada akhirnya.


Ryu terkejut mendengar pengakuan Kaisar.


"Tapi Papa Anhar belum mengakui hal ini padaku, Ry. Papa bersikap biasa saja, padahal aku tau semuanya." Kata Kaisar lagi yang seolah olah berbicara pada langit langit ruangannya.

__ADS_1


"Beri tahu aku, Ry. Apa yang terjadi jika seseorang telah mendonorkan ginjalnya, beri tahu aku agar aku bisa menjaga agar Papa tetap sehat meski hidup hanya dengan satu ginjal." kata Kaisar.


Ryu melihat keputus asaan di wajah Kaisar. "Pada dasarnya, pendonor bisa hidup dengan normal selama menjaga pola hidupnya dengan baik, tetapi tetap ada resiko yang mungkin terjadi seperti adanya luka bekas operasi yang cukup besar, tekanan darah tinggi, protein pada urin, fungsi ginjal menurun, dan pada beberapa kasus dilaporkan adanya rasa nyeri yang berkepanjangan, kerusakan saraf, obstruksi usus atau hernia." Jawab Ryu menjelaskan, "Seseorang yang mendonorkan ginjalnya harus melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin dan juga memonitor tekanan darah secara berkala." Imbuhnya lagi.


"Itulah mengapa aku begitu menjaga Papa agar tidak terlalu lelah, meski bagaimanapun, dialah Papaku, Ry. Meski Papa pernah bersalah, namun dia tetap Papaku, aku akan menjaganya di masa tuanya yang hidupnya tidak sempurna." Balas Kaisar.


"Apa kita perlu memberitahu Keiina?" Tanya Ryu.


Kaisar menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak ingin Keii mempunyai rasa berhutang budi pada Papa, aku ingin Keii menerima Papa dari hatinya sendiri."


Ryu tidak setuju, namun ini adalah keputusan Kaisar dan dia harus menghormati keputusannya itu.


Anhar tengah duduk di taman belakang seorang diri, menikmati pemandangan bunga bunga koleksi Adelia. Anhar seperti kembali ke masa lalu saat masih menikah dengan Adelia, taman belakang rumah keluarga utama penuh dengan tanaman dan bunga bunga yang Adelia tanam. Lagi lagi rasa penyesalan menghampiri Anhar kembali, membuat dada Anhar terasa sesak, Anhar mengusap wajahnya kasar saat rasa penyesalan itu terus saja menghantui.


Adelia membawa secangkir teh untuk ia nikmati sambil membaca majalah di halaman belakang, namun langkahnya terhenti saat melihat Anhar duduk di tempat ia biasa duduk.


Suara langkah terhenti membuat Anhar menyadari jika ada seseorang di dekatnya. Anhar menoleh dan langsung berdiri saat mengetahui jika Adelia yang berada di dekatnya.


"Maaf, aku tidak tau kamu di sini." Kata Adelia.


Anhar melihat ke arah tangan Adelia yang membawa cangkir berisikan teh. "Silahkan Adel, aku sudah selesai." Ucap Anhar tanpa berani menatap wajah Adelia.


Anhar berjalan melewati Adelia, namun langkahnya terhenti saat Adelia memanggilnya.


"Mas Anhar." Panggil Adelia.


Anhar tetap berdiri di tempatnya.


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya adelia sambil menatap punggung Anhar yang membelakanginya.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Balas Anhar.


"Maksudku, "Apa kau baik baik saja?" Tanya Adelia.


"Tentu saja aku baik baik saja." Kata Anhar. "Maaf aku permisi masuk dulu." Ucap Anhar menghindari Adelia.


Ada perasaan tidak nyaman saat Anhar menjawab pertanyaan Adelia, entah mengapa Adelia merasa jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Anhar.

__ADS_1


"Mas, kita masih bisa berteman." Kata Adelia dengan cepat saat Anhar ingin melangkah pergi.


"Meski hubungan kita telah berakhir, tapi ada Kaisar dan Keiina di antara kita." Ucap Adelia lagi.


Anhar membalikan tubuhnya, ia memberanikan diri menatap wajah Adelia. "Ya, kita masih bisa berteman." Anhar tersenyum menanggapi ucapannya sendiri.


Adelia benar benar merasa ada yang lain dari Anhar, namun Adelia sendiri tidak dapat menyimpulkannya.


Adelia melihat ke arah gelas Anhar yang hanya berisikan air mineral saja. "Air minummu belum habis." Kata Adelia.


Anhar segera mengambil gelasnya, "Akan ku minum di kamar."


"Kenapa tidak meminumnya disini?" Tanya Adelia.


"Aku takut kamu tidak nyaman." Jawab Anhar.


"Bukannya kamu yang tidak nyaman?" Kata Adelia menyelidik.


Anhar hanya mengusap tengkuknya saja.


"Sampai kapanpun hubungan kita tetap terikat karena ada Kaisar dan Keiina diantara kita, Mas." Kata Adelia.


"Mereka sudah menikah, Adel. Sudah bukan tanggung jawab kita lagi." Jawab Anhar.


"Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Keii?" Tanya Adelia lagi.


Anhar mengangguk, "Luka yang ku beri begitu dalam, meski Keii sudah memaafkanku, namun aku tau jika Keii tidak akan pernah menerimaku. Aku cukup tau diri untuk hal itu." Anhar menghembuskan nafas kasarnya.


"Kamu masih bisa menebusnya, Mas." Kata Adelia.


Anhar tersenyum getir, "Meski dengan nyawaku sekalipun, aku tidak pernah bisa menebus kesalahanku padamu dan juga Keiina."


"Kamu menyerah?" Tanya Adelia dengan sinis.


"Aku bukan menyerah, hanya saja aku cukup tau diri untuk tidak terlalu masuk ke dalam kehidupanmu dan juga Keiina. Aku tidak ingin membuat kalian tidak nyaman, kalian tetap bisa menganggapku sudah mati meski aku tinggal disini. Aku tidak pernah menyalahkan kalian" Kata Anhar terdengan pilu dan segera meninggalkan Adelia yang masih terpaku sendirian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2