
Anhar menemani Keiina dan Ryu untuk memeriksakan kandungannya, ia melihat calon cucu ke empatnya dari layar monitor.
Setelah memeriksakan kandungannya, mereka mendatangi ruang perawatan Audrey untuk menjenguknya.
Mutia dan Kaisar begitu lega setelah mendengar cerita dari Ryu soal Keiina yang sudah menarima Anhar kembali. Bahkan Keii memaafkan Ryu yang sudah menyembunyikan Anhar selama ini.
Adelia juga merasa lega karena Keiina benar benar sudah pulih dari rasa trauma dan kebencian yang mendalam. Kedepannya Adelia berharap keluarganya akan terus merasakan kebahagiaan.
"Keysha cantik sekali, seperti Kak Audrey." Kata Keiina sambil mengusap usap perutnya yang sudah membuncit.
"Putrimu juga akan cantik sepertimu, Keii." Kata Mutia.
"Iya, dan mereka akan tumbuh bersama." Jawab Keiina berbinar.
Setelah bercengkrama di kamar Audrey, Keiina memutuskan pulang bersama Mutia dan Ryu. Sementara Adelia dan Anhar masih menemani Kaisar.
"Mama pulang saja. Biar aku yang menjaga Audrey." Kata Kaisar.
"Iya, Mama pulang saja, aku sudah lebih baik." Sahut Audrey mendukung.
"Baiklah kalau begitu, Mama akan pulang." Jawab Adelia.
"Biar Papa yang mengantar Mama." Sahut Anhar.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang sendiri." Kata Adelia dengan cepat.
"Maaf Adel, aku tetap akan mengantarmu." Balas Anhar keras kepala.
"Biar Papa mengantar Mama, Kai akan lebih tenang, Ma." Ucap Kaisar.
Adelia menghembuskan nafas kasarnya, "Baiklah." Jawabnya pada akhirnya.
Adelia dan Anhar berpamitan pada Audrey dan Kaisar. Saat berpamitan, Anhar membisikan sesuatu di telinga Kaisar dan Kaisar mengangguk. Setelah mereka keluar, Audrey menatap wajah Kaisar yang terus menatap pintu yang sudah tertutup.
Audrey menggenggam tangan Kaisar, "Apa yang kamu pikirkan?"
Kaisar menoleh ke arah Audrey dan menatap wajah Audrey yang slalu terlihat cantik. "Bolehkah aku berharap ke dua orang tuaku kembali bersama?" Tanya Kaisar.
__ADS_1
Audrey masih terus menatap wajah Kaisar, menunggu apa yang akan di ucapkannya lagi.
"Aku tau Mama masih mencintai Papa dan Papa juga mencintai Mama meski sudah terlambat. Tapi aku ingin sekali merasakan keluarga yang utuh, meski mereka slalu ada tapi hubungan mereka hanyalah sebatas mantan suami istri." Lanjut Kaisar.
"Biarkan Papa Anhar mendekati Mama dengan caranya sendiri. Aku yakin jika Papa Anhar akan merebut kembali hati Mamamu dengan caranya, biarkan Mama merasakan Papa memperjuangkannya." Kata Audrey.
Kaisar mengangguk, "Ya, kamu benar. Papa harus berusaha sendiri demi untuk meyakini Mama. Mereka harus kembali bukan karena anak anak, melainkan harus kembali karena menyadari rasa cinta di hati mereka."
**
Anhar melirik ke arah Adelia yang sedari tadi hanya diam, hingga Anhar mengarahkan mobilnya menuju jalan lain dan Adelia mulai menyadarinya.
"Mas, ini bukan jalan pulang." Kata Adelia.
"Aku lapar, ingin makan dulu." jawab Anhar dengan fokus mengemudi.
"Tapi ini belum jam makan malam." Balas Adelia.
"Ya kita cari cemilan untuk ganjal perut sampai jam makan malam." Jawab Anhar dengan santai dan melirik sekilas ke arah Adelia.
Adelia turun dari mobil, "Terimakasih." Ucapnya singkat.
Anhar meraih tangan Adelia dan menggenggam nya erat. Membuat Adelia terkesiap.
"Hei..." Kata Adelia.
Anhar menoleh ke Adelia yang berada di sebelahnya. "Takut kamu hilang." Jawabnya tanpa rasa bersalah.
Adelia hanya mengggeleng gelengkan kepalanya. Anhar membawa Adelia duduk di sebuah meja dekat dengan jendela.
"Cafe ini bagus, dekat juga dengan kantor Kaisar." Ucap Adelia sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut.
"Cafe ini, tempat pertama kali aku bertemu dengan Keiina." Kata Anhar yang membuat Adelia langsung menatap Anhar dengan tatapan penuh tanya dan rasa ingin tau mendalam.
"Aku bertemu Keiina disini, saat itu, kami tak sengaja bertabrakan, atau mungkin lebih tepatnya Keii menabrakan dirinya padaku." Anhar tersenyum miris. "Saat itu aku terpesona melihat matanya, mata yang mengingatkanku padamu."
"Aku merasa kecolongan saat Keiina bertemu denganmu, dan mencoba membalas dendam padamu dengan cara menghancurkan rumah tanggamu dengan Riska." Ucap Adelia.
__ADS_1
"Tapi, bukankah karena hal itu semua jadi terbongkar?" Tanya Anhar.
Mereka sama sama diam, entah apa yang mereka pikirkan.
"Adel..." Panggil Anhar.
"Hem.."
"Bolehkah aku meminta kesempatan ke dua darimu?" Tanya Anhar. "Sebelum kemarin aku menghilang untuk membuat semua berpikir dengan jernih, kamu mengatakan jika masih ada rasa cinta untukku. Bolehkah aku. Masih merasakan cinta tulus dari mu itu?" Tanya Anhar.
Adelia menghela nafas sejenak, "Awalnya, aku ingin kembali denganmu karena Kaisar, Mas. Lalu aku berpikir ingin kembali padamu agar suatu saat Keiina bisa benar benar berdamai denganmu dan menerimamu. Tapi ternyata tanpa aku kembali padamu baik Kai maupun Keiina mereka sudah sangat menerimamu, masih perlukah kita bersama, Mas?" Tanya Adelia.
"Tentu saja Adel. Lagi pula tujuanku kembali padamu bukan karena anak anak kita, tapi aku ingin kembali padamu karena rasa cinta yang datang terlambat." Ucap Anhar.
Anhar mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. Adelia melihat ke arah kotak cincin berwarna putih yang terbuka. "Adel, maukah kamu menerimaku kembali? Memberiku kesempatan untuk terakhir kalinya?" Tanya Anhar namun Adelia hanya diam saja. "Aku berjanji, akan mencintaimu setulus hatiku, menjadikanmu satu satunya wanita di dalam hidupku." Imbuhnya lagi.
"Jangan mudah berjanji, Mas." Kata Adelia. "Dulu juga kamu berjanji untuk membahagiakanku, tapi kenyataannya kamu malah memberikanku luka." Imbunya lagi.
"Bolehkah aku membuktikannya, Adel?" Tanya Anhar lagi.
"Buktikan saja dulu, Mas. Kita bukan lagi dua orang dewasa, tapi kita sudah menjadi dua orang yang sudah mempunyai cucu. Jangan lagi mengatakan hal hal yang membuatmu mudah berjanji." Balas Adelia.
"Kalau begitu, mari kita menikah. Mari kita memperbaiki semuanya. Kaisar sudah menikah, Keiina juga sudah menikah, ayo kita menikah juga, kita saling melengkapi, saling menemani masa tua kita." Kata Anhar dengan tulus.
Adelia menatap mata dan wajah keseriusan di diri Anhar. Perlahan ia menganggukan kepalanya. Anhar tersenyum, matanya mulai memanas dan mengembun. Hal yang ia syukuri dalam hatinya jika Adelia mau menerimanya kembali.
Dengan segera, Anhar menyematkan cincin di jari manis Adelia. "Akan aku pastikan, cincin ini tidak akan pernah lagi lepas dari jarimu, meski aku mati duluan sekalipun." Ucapnya penuh keyakinan.
Anhar berdiri dari duduknya dan mengajak Adelia dengan menggenggam kembali tangannya.
"Lho, Mas kita mau kemana?" Tanya Adelia saat Anhar mengajak Adelia ke lantai dua cafe itu.
Adelia melihat Keiina dan Ryu berada di sana, juga ada Mutia dan Nina. Adelia juga melihat beberapa orang petugas catatan sipil dan pengacara keluarga Wiguna.
"Cafe ini sudah aku beli, aku membelikannya untuk Keiina. Dan aku juga sudah meminta restu Mama, Kaisar juga Keiina untuk kembali padamu." Ucap Anhar.
...****************...
__ADS_1