TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 58


__ADS_3

Kaisar tidur di tempat tidur khusus penunggu passien, dirinya merasakan lelah karena kurang tidur. Audrey terbangun di malam hari, merasakan bahunya yang terasa sakit, namun Audrey tidak tega membangunkan Kaisar kerena melihat Kaisar tidur dengan lelapnya


Audrey ingin menekan tombol untuk memanggil suster jaga, namun tangannya masih susah di gerakan.


"Arghh.." Pekik Audrey pelan namun membuat Kaisar terjaga dari tidurnya.


"Queen.." Kaisar segera mendekat pada Audrey, "Ada apa?" Tanyanya cemas.


"Bahuku sakit sekali, Kai.." Kata Adurey sedikit meringis. "Aku ingin memanggil suster." Imbuhnya lagi.


Kaisar segera menekan tombol untuk memanggil suster, "Kenapa tidak membangunkan aku?"


Tidak lama kemudian suster masuk dan memeriksa Audrey.


"Tolong panggil dokter jaga saja." Pinta Kaisar pada suster dan suster kembali ke luar untuk memanggil dokter jaga.


"Sakit sekali?" Tanya Kaisar lembut.


Audrey mengangguk.


Kaisar mencium pelipis Audrey, "Tahan ya sayang." Ucapnya tak tega.


Dokter masuk bersama suster dan segera memeriksa kondisi Audrey. Lalu menyuntikan obat pereda nyeri.


"Tidak apa apa, ini wajar di masa pemulihan." Kata Dokter jaga dan membuat Kaisar tenang.


Setelah di berikan obat pereda nyeri, Audrey tertidur kembali, Kaisar mengusap lengan Audrey agar Audrey merasa nyaman. Tidak sedetikpun Kaisar meninggalkan Audrey, bahkan jika andai bisa, Kaisar ingin menggantikan dirinyalah yang merasakan kesakitan itu.


"Tidurlah My Queen, aku akan selalu bersamamu." Bisik Kaisar.


**


Anhar merasakan kesepian yang luar biasa di dalam rumah megah itu, rumah peninggalan sang Ayah yang jatuh pada putranya yakni Kaisar. Penyesalan demi penyesalan slalu menyelimuti perasaan Anhar. Andai dulu ia tidak di butakan oleh cinta. Mungkin sekarang dirinya tengah berbahagia bersama Adelia juga Kaisar dan Keiina.


Anhar memutuskan untuk pindah ke luar kota, mengelola anak cabang perusahaan WG Group dan hidup lebih baik seorang diri. Anhar menerima karma atas perbuatannya. Mungkin inilah dulu yang di rasakan oleh Adelia, kesepian dan menahan rindu yang teramat dalam pada Kaisar putranya, kini Anhar yang berada di posisi Adelia, kesepian dan menahan rindu pada Putra Putrinya.


**


Pagi menjelang, Kaisar sudah lebih dulu membersihkan diri dan terlihat lebih segar. Kaisar memeriksa beberapa pekerjaannya sambil menunggu Audrey terbangun. Ia memilih mengerjakan pekerjaannya dari rumah sakit dan selebihnya mempercayakannya pada Aldo.


"Kai..." Panggil Audrey dengan nada lemah.

__ADS_1


Kaisar segera mendekat ke brankar Audrey.


"Aku haus." Ucapnya dan Kaisar segera mengambilkan air mineral untuk Audrey.


Suster masuk untuk membantu Audrey membersihkan diri. Kaisar memilih untuk pergi kafetaria rumah sakit untuk membeli sarapan dan kopi panas.


Kaisar segera kembali ke ruangan perawatan Audrey dan melihat kondisi Audrey dengan kondisi lebih baik.


Kaisar meletakan apa yang ia beli di meja sofa dan segera mendekat pada Audrey.


"Ayo sarapan, biar aku suapi." Kata Kaisar sambil meraih nampan berisikan makanan.


"Kamu sudah makan?" Tanya Audrey.


Kaisar menggelengkan kepalanya, "Belum. Kamu dulu makan, baru aku."


Audrey begitu tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Kaisar. Kaisar membuat Audrey terus saja jatuh cinta padanya. Ia tak menyangka sosok dingin dengan tatapan tajam itu mempunyai hati selembut sutera.


"Setelah keluar dari rumah sakit, aku ingin kamu tinggal di rumahku." Kata Kaisar sambil menyuapkan makanan ke mulut Audrey.


"Jangan, Kai. Biar aku di apartemen saja."


Kaisar menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa membiarkan kamu tinggal sendiri. Ini juga permintaan Mama untuk membawamu tinggal di rumah kami. Lagi pula rumah itu juga akan menjadi rumahmu juga."


Kaisar menatap lembut ke dua mata Audrey. "Kamu mau tinggal di rumah Aunty Ay? Kamu merasa nyaman jika suatu saat nanti Aunty Nanda datang berkunjung ke rumah Aunty Ay?"


Audrey menggelengkan kepalanya samar.


"Biar nanti aku yang bicara pada Aunty Ay. Aunty Ay pasti memahami ini, Audrey." Balas Kaisar dan Audrey hanya diam menurut.


Pintu ruangan terbuka, Ayla masuk bersama Regan dan Ryu untuk menjenguk Audrey.


Audrey mencoba duduk di bantu oleh Kaisar yang slalu setia di sampingnya.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Regan.


"Baik, Om." Jawab Audrey dengam sedikit menunduk.


"Om sudah lihat hasilmu, dokter Hilda bilang kondisimu akan lebih cepat pulih." Ucap Regan.


Audrey hanya mengangguk, terlihat rasa tidak percaya dirinya saat berhadapan dengan Regan dan Ryu.

__ADS_1


"Setelah pulih, tinggalah kembali di rumah kami, Audrey." Kata Regan lagi.


Audrey hanya diam sambil menunduk, ia bingung harus menjawab apa.


"Maaf Om Regan, sebelumnya saya mohon maaf jika masuk ke dalam pembicaraan kalian." Kata Kaisar dengan ragu ragu. "Tapi setelah Audrey keluar dari rumah sakit, saya akan membawa Audrey untuk tinggal di rumah saya, kebetulan Mama saya juga memintanya sepert itu."


"Key, tapi Audrey tanggung jawab kami." Kata Ryu.


Kaisar mengangguk, "Kenapa baru sekarang kamu bilang Audrey adalah tanggung jawabmu dan keluargamu juga? Apa karena Audrey menyelamatkanmu dari tembakan itu?" Kata Kaisar membalas semua perkataan Ryu.


"Nak Kaisar, bukan seperti itu." Sahut Ayla.


"Maaf Aunty Ay, aku akan menikahi Audrey dalam waktu dekat. Karena itu aku akan membawa Audrey untuk tinggal bersama keluargaku." Kata Kaisar tak ingin mengalah.


"Key..." panggil Ryu.


"Ry.. Pernah kamu berpikir untuk kenyamanan Audrey? Bagaimana posisi Audrey di rumahmu? Bagaimana jika Aunty Nanda berkujung ke rumahmu dan bertemu Audrey?" Tanya Kaisar bertubi tubi.


"Maaf Om Regan, Aunty Ay, Ryu. Mulai detik ini Audrey adalah tanggung jawabku. Aku tidak ingin melihat Audrey tertekan meski kalian tidak pernah menekannya, aku hanya ingin mengobati luka hati Audrey karena perpisahan ke dua orang tuanya, mengobati mentalnya dari semua orang yang menatapnya sinis hanya karena Audrey lahir dari pernikahan yang salah." Kata Kaisar pada akhirnya yang mampu membuat Regan dan Ryu bungkam seketika. Sementara Ayla merasa begitu terharu melihat ketulusan Kaisar pada Audrey.


Regan menatap Audrey yang terus tertunduk dan sesekali mengusap air mata yang terjatuh di pipinya.


"Maafkan Om Regan, Audrey." Kata Regan pada akhirnya.


Audrey balas menatap wajah Regan. "Om Regan tidak salah. Kedua orang tuaku lah yang salah karena menitipkan aku dan lepas tanggung jawab padaku."


"Jangan bicara seperti itu, Audrey. Aunty menyayangimu seperti anak Aunty sendiri." Sahut Ayla.


Audrey pun melihat wajah teduh Ayla. "Audrey akan selalu ingat kebaikan Aunty, terimakasih telah mengurus Audrey selama ini, Aunty. Audrey sangat menyayangi Aunty." Kata Audrey yang kini menangis dengan menutup wajahnya.


Ada perasaan menyesal di hati Regan. Hanya karena membenci kelakuan Raja yang tak lain kakak tirinya dan merupakan Papanya Audrey, membuat Regan menjaga jarak dengan Audrey. Hanya Ayla lah yang begitu memperhatikan semua kebutuhan Audrey, meski Regan ikut membiayai pendidikan dan kehidupan Audrey, namun sikap Regan begitu dingin pada Audrey.


"Audrey akan ikut denganku!!" Suara seorang pria yang tiba tiba saja masuk ke dalam kamar perawatan Audrey. Membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.


"Papa..."


"Bang Raja..."


"Raja..."


"Om Raja..."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2