TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 91


__ADS_3

Regan memberikan kode pada asistennya untuk membawa Kaisar keluar. Asistennya yang mengertipun segera mendekat ke arah Kaisar.


"Tuan, bayi bayi anda sudah bisa di lihat. Dokter anak yang menangani bayi bayi anda ingin berbicara dengan anda."


"Nanti saja, aku ingin menemani istriku dulu." Kata Kaisar yang melihat Audrey seperti ingin tertidur.


"Kai, anak anakmu harus kau lihat dulu." Kata Regan.


Namun Kaisar mengernyitkan dahinya saat melihat Audrey terpejam dan suara monitor detak jantung terdengar lebih cepat.


"Om Re, ada apa?" Tanya Kaisar.


"Kai, Om mohon keluarlah, agar Om bisa fokus." Kata Regan.


Kaisar di bawa paksa oleh dua perawat untuk keluar, Anhar yang melihatnya segera berdiri dan menghampiri Kaisar.


"Ada apa ini?" Tanya Anhar.


Adelia pun ikut menghampiri Kaisar.


"Dokter sedang melakukan tindakan, Silahkan Tuan lihat dulu bayi bayi Tuan." Kata seorang suster kemudian masuk dan menutup kembali pintu ruang operasi.


"Ada yang tidak beres ini, Ma.. Kai lihat tadi mata Audrey tiba tiba saja terpejam." Kata Kaisar.


Adelia mengusap punggung Kaisar, "Sabar, Kai.. Percayalah pada dokter Regan."


"Iya, Kai. Dokter Regan pasti melakukan yang terbaik pada Audrey." Sahut Anhar. "Lebih baik kamu melihat anak anakmu dulu." Ajak Anhar dan Kaisar menggelengkan kepalanya.


"Kai mau di sini menunggu Audrey." Ucap Kaisar.


"Kai, dokter anak yang menangani anak anakmu ingin bicara denganmu." Kata Adelia.


"Mama sama Papa saja yang menemui dokter anak, Kai mau disini." Balas Kaisar sambil menatap pintu ruang operasi.


Adelia menghela nafas, Kaisar sama sekali tidak bisa di bujuk.


Adelia terpaksa menemui dokter anak seorang diri. Ia tidak mau di temani oleh Anhar dengan alasan agar Anhar lebih menemani Kaisar yang sedang mengkhawatirkan kondisi Audrey.


"Kai, tenanglah." kata Anhar.


"Bagaimana Kai bisa tenang Pa, Audrey di dalam dan Kai tidak tau kondisinya." Ucap Kaisar dengan tidak tenang.


Adelia kembali setelah berbicara dengan dokter Liana.


"Kai, Triplets sangat lucu. Pipi mereka merah, lihatlah sebentar." Bujuk Adelia.


"Nanti saja, Ma. Kai lihat bareng sama Audrey." Jawab Kaisar.

__ADS_1


Setelah dua jam, operasi juga belum selesai. Kaisar semakin frustasi.


Regan memanggil Kaisar untuk berbicara serius dengannya. Anhar dan Mutia pun ikut menemani.


"Ada apa, Om?" Tanya Kaisar dengan cepat.


"Kai, Om butuh persetujuanmu. Audrey mengalami pendarahan, Om menyarankan agar rahimnya di angkat." Kata Regan dengan hati hati.


"Lakukan saja, Om. Lalukan apa saja untuk membuat Audreyku terselamatkan." Kata Kaisar tanpa berpikir panjang.


Regan mengangguk, Kaisar menandatangani surat pernyataan dan menunggu kembali Audrey.


Setelah beberapa waktu, operasi Audrey telah selesai. Namun efek obat bius membuat Audrey belum sadarkan diri.


"Kai.. Lihat lah dulu anak anakmu." Bujuk Adelia karena sedari tadi Kaisar masih belum melihat ke tiga anak anaknya.


"Nanti saja, Ma. Kai tidak mau meninggalkan Audrey." Jawab Kaisar yang tak beranjak dari sisi Audrey.


Adelia hanya bisa pasrah. Kai seperti anak kecil yang takut kehilangan barang berharganya. Mungkin seperti ini lah dulu Kaisar saat ditinggal pergi oleh Adelia.


Mereka bertiga berada di dalam kamar perawatan Audrey untuk menunggu Audrey siuman dan menemani Kaisar.


Anhar menyuruh orang kepercayaannya untuk membelikannya makanan untuk mereka bertiga.


"Adel, makanlah dulu." Kata Anhar.


Anhar dan Adelia makan di meja makan yang berbentuk bundar dengan tiga kursi itu.


"Apa kamu suka dengan makanannya?" Tanya Anhar.


Adelia mengangguk. "Kamu tau percis jika ini makanan kesukaanku, kenapa masih bertanya?" Kata Adelia sedikit ketus, pasalnya Anhar memesankan makanan kesukaan Adelia, untuk apa lagi Anhar bertanya.


Anhar hanya tersenyum tipis, "Kamu jadi galak."


Adelia memutar malas bola matanya. "Pria sepertimu harus aku galakin."


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


Adelia hanya mengerdikan bahunya dan membuat Anhar hanya tersenyum.


Saat menjelang tidur, Adelia memilih tidur di ranjang khusus penjaga Passien, sementara Anhar tidur di sofa bed.


Kaisar memegang tangan Audrey dan menempelkannya di pipi, "Bangun, Queen.. Kamu tau kan aku begitu mencintaimu, kamu juga tau kan aku tidak bisa jika tidak ada kamu." Kata Kaisar dengan sendu.


"Ayo bangun, Queen.. Kasihan triplets, mereka merindukan kita. Kamu tau kan rasanya tidak memiliki ibu, jangan sampai Triplets merasakan hal yang sama, kuatlah Queen, demi Triplets, demi aku juga." Kaisar tertunduk dengan menyandarkan kepalanya di sisi berangkar, tidak lama ia pun terlelap.


Keesokan paginya, Adelia memilih kembali ke rumahnya, sementara Anhar kembali ke penthouse miliknya. Anhar masih enggan kembali ke rumah keluarga Wiguna karena merasa rumah itu terlalu besar untuk ia tempati sendiri.

__ADS_1


Audrey perlahan mengerjapkan matanya, tangannya menggenggam tangan Kaisar dan membuat Kaisar melihat ke arah wajah Audrey.


"Queen.. Kamu sudah sadar?" Kaisar langsung menekan tombol untuk memanggil suster.


"Kepalaku sakit sekali." Ucapnya.


"Sebentar Queen, suster akan cepat kesini untuk melihatmu." Jawab Kaisar.


Suster masuk ke kamar Audrey dan memeriksanya. Tidak lama dari itu Regan pun datang untuk memeriksa Audrey.


"Semua normal, Audrey hanya tinggal pemulihan saja." Ucap Regan dengan lega.


Kaisar menghela nafas, ia memejamkan matanya dan menunduk sambil mengucap syukur di dalam hatinya.


Setelah Regan keluar, Kaisar terus saja menciumi wajah Audrey. "Kamu membuatku takut." Kata Kaisar.


"Apa yang terjadi denganku?" Tanya Audrey.


"Kamu tiba tiba saja tertidur di ruangan operasi, Om Regan menyuruhku keluar, ternyata kamu mengalami pendarahan, dan Om Regan memintaku untuk menyetujui pengangkatan rahimmu untuk menghentikan pendarahan." Kata Kaisar pelan pelan menjelaskan.


"Rahimku di angkat?" Tanya Audrey.


Kaisar mengangguk, "Kita sudah memiliki Triplets, sudah cukup, Queen." Ucapnya lembut. "Aku lebih membutuhkanmu untuk menemani hari hariku." ucap Kaisar kembali.


"Tapi aku sekarang tidak sempurna." Lirih Audrey.


"Kamu selalu sempurna di mataku. Kita saling melengkapi satu sama lain, ada Kevin, Kenzo dan Keysha di hidup kita. Kita sudah sempurna Queen." Ucap Kaisar.


"Kamu sudah memberinya nama?" Tanya Audrey.


Kaisar mengangguk sambil tersenyum. "King Kevin Wiguna, King Kenzo Wiguna, Queen Keysha Wiguna." Kata Kaisar. "Bagus tidak?" Tanyanya.


Audrey mengangguk. "Bagus, aku suka." Ucap Audrey.


"Tapi aku belum melihat mereka." Kata Kaisar dengan sendu.


"Kenapa?" Tanya Audrey.


"Aku ingin melihatnya bersamamu." Kata Kaisar.


"Bagaimana jika kemarin aku mati, apa kamu akan mengabaikan Triplets sama seperti Papaku mengabaikan aku?" Tanya Audrey.


"Jangan bicara begitu, Queen. Aku tidak bisa dan tidak mau membayangkan bagaimana hidup tanpa kamu." Kaisar mengecup punggung tangan Audrey. "Aku hanya ingin kamu, hanya kamu Queen."


Audrey begitu terharu, ia tak menyangka jika cinta Kaisar untuknya bisa sedalam ini.


"Kita akan membesarkan Kevin, Kenzo dan Keysha bersama sama." Ucap Kaisar dan Audrey mengangguk.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2