
Adelia bangun dari tidurnya saat pintu terbuka, seorang suster masuk untuk mengecek tensi Anhar, Adelia yang tidur di ranjang khusus untuk penjaga passien pun segera bangun dan menghampiri suster.
"Bagaimana tensinya sus?" Tanya Adelia.
"Tensinya sudah mulai normal kembali." Jawab Suster.
Anhar pun ikut terbangun, "Aku merasa sudah baikan, sus." Ucap Anhar.
"Iya, Tuan. Kita tunggu dulu dokter ahli untuk memeriksa hasil lab nya dulu. Karena hanya dokter yang bisa memutuskan Tuan boleh pulang atau tidaknya." Jawab suster dengan ramah.
"Apa kamu butuh sesuatu, Mas?" Tanya Adelia.
"Tidak, Adel. Terimakasih." Jawab Anhar.
"Baiklah, aku akan membersihkan diri dulu." Kata Adelia lalu meninggalkan Anhar.
Di rumah, Keiina merasa perutnya tidak nyaman, ia segera berlari ke kamar mandi, namun ia sedikit terkejut saat melihat banyak flek di segitiga pengamannya.
"Massss." Keiina berteriak membuat Ryu bangun seketika dan berlari menuju kamar mandi.
"Keii, ya Tuhan..." Ryu segera mengangkat Keiina dan membawanya ke atas ranjang, "Aku keluar flek, Mas." Keiina terlihat panik.
Sebentar aku ganti pakaian dulu, Ryu bergegas mengganti pakaian dan membasuh wajahnya. Ia juga mengganti pakaian Keiina dan menggendongnya ke mobil untuk segera mendapatkan penanganan.
"Mas, bagaimana ini?" Tanya Keiina dengan cemas.
"Sabar, Sayang. Semoga tidak terjadi apa apa dengan kandunganmu." Ucap Ryu yang sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ryu menelpon Regan dan Regan yang baru saja bangun dari tidurnya segera bersiap dan menyusul ke rumah sakit. Regan sebagai dokter kandungan pun akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan calon cucu pertamanya itu.
Regan menghela nafas lega saat berhasil menghentikan pendarahan Keiina. Ia bersyukur karena calon cucu dan menantunya terselamatkan.
"Bagaimana, Pa?" Tanya Ryu.
"Masih bisa di selamatkan, Keii harus bedrest dulu, Ry." Ucap Regan.
Ryu mengangguk. "Ryu akan menempatkan Keii di satu lantai dengan ruang rawat inap Papa Anhar, biar Mama Adel mudah untuk melihat Keii." Kata Ryu dan Regan menyetujui hal itu.
Setelah di bawa ke ruangan, Ryu menelpon Kaisar dan Kaisar terkejut mendengarnya, Kaisar dan Audrey segera menuju rumah sakit.
"Apa kata Om Regan, Ry?" Tanya Audrey.
"Keii terlalu stres, mungkin karena masalah kemarin." Ucap Ryu.
__ADS_1
"Masih bisa di selamatkan?" Tanya Kaisar.
Ryu mengangguk, "Masih.. Hanya saja Keii harus bedrest dan tidak boleh banyak pikiran."
"Ry, Oma memintaku untuk membawa Keii ke psikiater. Bagaiman menurutmu?" Tanya Kaisar.
"Ya, Papa Regan juga nenyarankan seperti itu. Aku rasa juga itu hal yang perlu Keii lakukan agar kesehatan mentalnya tetap terjaga." Jawab Ryu dengan lesu.
Kaisar menyempatkan diri melihat Keiina namun Keiina masih tertidur, Lalu Kaisar dan Audrey beralih pada kamar Anhar untuk memberi tahu Adelia tentang kondisi Keiina.
Adelia yang sedang menyuapi Anhar makan pun terkejut saat melihat jika Kaisar dan Audrey masuk begitu saja ke dalam kamar perawatan Anhar, membuat Adelia segera menaruh mangkuk ke atas nakas dan berdiri dari duduknya.
Kaisar menatap heran pada Adelia saat melihat Adelia menyuapi Anhar, bahkan kini Adelia terlihat canggung dan hal serupa pun dirasakan oleh Anhar.
"Kai, kau sudah datang?" Tanya Adelia mengalihkan perhatian Kaisar.
"Ah iya, Ma.." Jawab Kaisar yang kini mendekat ke arah brankar Anhar. "Bagaimana dengan kondisi Papa?" Tanya Kaisar.
"Tinggal nunggu dokter Ahli untuk melihat hasil lab Papamu." Jawab Adelia.
"Kalian pagi sekali kesini." Kata Anhar.
"Hmm.." Kaisar ragu untuk berbicara.
"Keiina, Ma.."
"Keii kenapa?"
"Keii ada di ruangan sebelah." Jawab Kaisar ragu.
"Apa?" Pekik Adelia dan Anhar bersamaan.
"Keii sedikit mengeluarkan Flek, Ryu membawanya kesini, beruntung pendarahannya berhenti dan Keii harus bedrest." Kata Kaisar menjelaskan.
Adelia menutup mulutnya, "Ya Tuhan, Keii."
"Mama mau ke kamar Keii?" Tanya Audrey.
"Antar Mama, Audrey." Ajak Adelia dan Audrey mengikutinya.
Hanya tinggal Kaisar dan Anhar di ruangan ini, membuat Kaisar mengintrogasi Anhar dengan bebas.
"Bisa jelaskan pada Kai apa yang Kai lihat tadi?" Tanya Kaisar.
__ADS_1
"Ah. Kai... Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Jangan marah pada Mamamu, sampai kapan pun Mamamu tidak akan kembali pada Papa." Ucap Anhar Ragu.
Anhar berpikir, mana mungkin Kaisar menginginkan Anhar bersatu kembali dengan Adelia setelah apa yang Anhar lakukan dulu pada Adelia dan Kaisar.
Meski Adelia sudah mengatakan jika Kaisar menginginkan keluarga yang utuh, namun Anhar tidak mempercayainya mengingat perlakuan Kaisar dulu pada Anhar yang bahkan selama lebih dari dua puluh tahun, tidak memanggilnya dengan sebutan Papa.
Kaisar terlihat kecewa, ia menghela nafas, "Kai kira Papa akan kembali mengejar Mama."
Anhar tersenyum miris, "Apa yang kamu harapkan, Kai?"
"Setidaknya, Papa kembali mengejar Mama, memperbaiki masa lalu demi aku dan Keii, mengobati sakit hati Mama selama bertahun tahun." Jawab Kaisar.
"Haruskah seperti itu? Kamu merestui?" Tanya Anhar tak percaya.
"Asal Papa benar benar membahagiakan Mama dan menebus segala kesalahan Papa di masa lalu, Kai akan merestui." Kata Kaisar.
Anhar menunduk, "Adikmu tidak akan menyetujuinya, Kai." Kata Anhar.
"Dengan berjalannya waktu, Keii pasti akan menerima, Pa.." Balas Kaisar.
Siang hari, dokter memberitahu hasil tes kesehatan Anhar, dan mengatakan jika kondisi Anhar baik baik saja. Dokter mengijinkan Anhar pulang, namun Anhar meminta waktu satu malam lagi dengan alasan masih merasa tubuhnya tidak enak, hal itu membuat Adelia merasa heran karena tadi pagi Anhar sendiri yang mengatakan jika dirinya sudah merasa lebih baik.
Adelia dan Audrey memutuskan pulang dan malam ini Kaisar lah yang akan menjaga Anhar. Sementara Keiina, ada Ryu yang menjaganya.
Malam hari, saat Kaisar sudah tertidur di ranjang khusus penunggu pasien, Anhar mencoba bangun dan mencabut selang infusnya sendiri.
Anhar dengan pelan berjalan keluar dan masuk ke dalam kamar petrawatan Keiina, ia tidak melihat adanya Ryu karena Ryu sedang ada panggilan darurat di IGD, menolong korban kecelakaan beruntun sehingga Ryu ikut turun tangan membantu dokter jaga yang sedang bertugas.
Anhar mendekat ke arah brankar, dimana Keiina sedang tertidur.
"Maafkan, Papa Keii." Lirih Anhar.
"Jika dengan Papa menjauh membuatmu bahagia, Papa akan melakukannya, Keii. Semua akan Papa lakukan demi kebahagiaanmu. Papa datang kesini untuk berpamitan denganmu, jagalah dirimu dan calon anakmu, Papa juga titip Mama dan Oma padamu. Papa yakin kalian akan bahagia meski tanpa Papa."
Anhar mundur satu langkah, namun langkahnya terhenti saat melihat Ryu yang sudah berada di depan pintu.
"Papa..."
Anhar gelagapan, ia takut Ryu mendengar smua apa yang di katakannya pada Keiina.
"Ryu, sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya Anhar dengan cemas
...****************...
__ADS_1