
Kaisar duduk menunduk sambil menopang kepalanya dengan ke dua tangannya. Ryu menceritakan semuanya sekaligus meminta maaf atas nama Keiina, istrinya.
Kaisar berada di dua posisi yang tak bisa ia pilih. Audrey mengusap punggung Kaisar membuat Kaisar mengangkat kepalanya dan menatap wajah Audrey.
"Aku harus bagaimana Queen?" Tanya Kaisar.
"Jalani saja, Kai. Semua akan baik baik saja." Ucap Audrey yang mampu membuat Kaisar sedikit lega.
Ryu kembali ke rumah saat menjelang sore, ia menjelaskan pada Mutia dan Adelia, tentu saja Ryu tidak mengatakan yang sejujurnya. Setidaknya Mutia dan Adelia bisa tenang saat Ryu mengatakan jika Anhar saat ini baik baik saja.
Ryu masuk ke dalam kamar dan melihat Keiina yang berdiri di pintu balkon yang terbuka. Ryu mendekat pada Keiina dan mencium puncak kepalanya.
"Mas.." Panggil Keiina dengan ragu.
"Hemm." Jawab Ryu.
Namun Keiina hanya diam saja dan tidak berbicara apapun.
"Papa Anhar baik baik saja." Ucap Ryu pada akhirnya.
Ryu membawa Keiina duduk di sofa. "Hentikan semuanya Keii. Jangan sampai kamu menyesali perbuatanmu pada Papa Anhar nantinya." Kata Ryu sambil menggenggam tangan Keiina.
"Harusnya dia yang meyesal, Mas." Balas Keiina.
"Papa anhar sudah menyesali semuanya, bahkan kini ia hidup dalam penyesalan, Keii. Aku mohon berhentilah bersikap kasar pada Papa Anhar." Kata Ryu.
Keiina hanya diam, meski hatinya merasa bersalah, namun Keiina merasa jika dirinya benar.
Setelah tiga hari, dokter mengatakan jika kondisi Anhar membaik dan hasil lab menunjukan tidak mendapati gagal ginjal yang fatal. Anhar bisa pulih dengan banyak beristirahat dan tidak terlalu lelah. Kaisar kembali membawa Anhar ke rumah Adelia.
Setelah mengantar Anhar untuk beristirahat di kamarnya, Kaisar pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat bersama Audrey.
Adelia membuatkan bubur untuk Anhar dan mengantarnya langsung ke kamarnya.
Dengan ragu, Adelia mengetuk pintu.
"Masuk." Kata Anhar dari dalam kamar.
"Permisi, Mas." Kata Adelia yang masuk dengan membawa nampan berisikan bubur dan segelas air mineral.
Anhar yang sedang melihat taman belakang dari jendela kamarnya segera menoleh saat mendengar suara Adelia.
"Adel..." Ucapnya terkejut.
__ADS_1
Adelia tersenyum dan menuju sofa, meletakan nampan berisikan mangkuk bubur di atas meja.
"Aku membuatkan Mas bubur, makanlah." Kata Adelia dengan ragu.
Anhar berjalan dan duduk di sofa yang lain, matanya tertuju pada semangkuk bubur di hadapannya. "Apa ini buatanmu?" Tanyanya dengan tatapan tak lepas dari mangkuk bubur.
Adelia tersenyum, "Tentu saja, aku membuatnya untukmu. Apa Mas Mau makan? Atau masih kenyang?" Tanya Adelia.
Anhar mengangguk cepat, "Aku masih lapar." Ucapnya terharu, "Aku akan memakannya." Katanya lagi sambil mengambil mangkuk bubur dan mulai mengaduknya.
Adelia tertawa kecil, "Kamu masih sama, setiap makan bubur slalu di aduk dulu." Kata Adelia.
Anhar tersenyum, ia tidak bisa berkata apapun, menikmati bubur yang sudah lama tidak ia nikmati, bubur buatan Adelia memang slalu di rindukannya.
Anhar meneteskan airmatanya, namun ia segera mengusapnya, "Rasanya masih sama." Ucapnya dengan nada gemetar menahan air mata.
Adelia memberikan gelas berisikan air mineral untuk Anhar. "Minumlah dulu, Mas." Ucap Adelia.
Anhar menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sedang menikmati bubur buatanmu. Air mineral bisa membuat rasa bubur buatanmu hilang dari lidahku." Katanya dengan masih menyuapkan sendok ke mulutnya sendiri.
"Aku bisa membuatkannya lagi, untukmu." Kata Adelia.
Anhar mengagguk, "Terimakasih." Anhar menghela nafas. "Maaf jika aku merepotkanmu."
"Apa ada sesuatu terjadi padamu, Mas? Aku memintamu untuk hidup dengan baik. Tapi aku melihatmu tidak baik baik saja." Kata Adelia.
Adelia hanya diam dan menatap wajah Anhar yang terlihat masih pucat.
"Mas..." Panggil Adelia.
Anhar ridak berani menatap wajah Adelia.
"Aku ingin bicara soal Kai." Kata Adelia yang membuat Anhar segera melihat wajah Adelia.
"Kai bilang ingin merawatmu dan tetap menjagaku." Ucap Adelia sambil menunggu reaksi Anhar.
"Kai sudah menikah, bahkan Kai akan segera memiliki anak. Lagi pula aku bisa mengurus hidupku sendiri. Kai bukan lagi anak kecil berusia lima tahun yang butuh kehadiran ke dua orang tuanya di sisinya." Jawab Anhar.
"Tapi Kai kehilangan moment itu, Mas. Kai tetap ingin merasakan ke dua orang tuanya yang kumplit."
"Tapi kenyataannya tidak bisa, kan?" Tanya Anhar. "Kamu sudah menolakku, tidak memberi kesempatan ke dua padaku, aku tidak mau memaksa." Kata Anhar.
Mereka sama sama diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.
__ADS_1
"Adel.. Semua kesalahan ada padaku. Aku akan menanggungnya. Aku tidak akan lagi mengambil Kaisar dari dirimu, Kaisar selamanya akan slalu menjagamu. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Ucap Anhar dengan lirih dan menunduk.
"Kita masih bisa jalan bersama, Mas." Ucap Adelia yang membuat Anhar mengangkat wajahnya. "Kita bisa perbaiki semuanya, aku ingin membuat keluarga yang sempurna untuk Kai." Kata Adelia.
Mendengar hal itu membuat Anhar bahagia, rasanya Anhar ingin sekali menarik Adelia untuk memeluknya, namun sekilas ia teringat pada penolakan Keiina dan juga dirinya yang tidak sempurna, membuat Anhar merasa dunianya runtuh seketika.
"Putrimu tidak akan menerimanya." Kata Anhar.
"Keiina adalah putri kita juga, Mas." Ucap Adelia.
"Keiina tidak mau mengakuiku." Balas Anhar.
"Kamu harusnya berusaha untuk meyakininya, Mas. Bukannya menyerah."
Anhar menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Adel. Aku mohon jangan kasihani aku. Aku bisa hidup dengan baik baik saja." Kata Anhar.
Hal itu membuat Adelia kecewa, Adelia berdiri dari duduknya, "Terserah padamu, Mas. Apa yang aku lakukan semuanya hanya untuk Kaisar." Kata Adelia lalu keluar dari kamar Anhar.
"Maafkan aku, Adel. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu lagi. Aku hanya merasa tidak pantas dengan kondisiku yang seperti ini." Gumam Anhar menyesal.
Saat makan malam bersama, Kaisar meminta Anhar untuk ikut makan malam bersama, semua tampak hening menikmati makanannya, hingga semua mata tertuju pada Keiina.
Keiina berdiri dan berlari menuju kamar mandi terdekat, ia memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Ryu segera menyusul istrinya itu, dengan sigap memijat tengkuknya.
Setelah selesai memuntahkannya, Keiina membasuh mulutnya, Ryu mengusap peluh yang berada di dahi Keiina.
"Sejak kapan kamu mual begini?" Tanya Ryu.
"Dari tadi pagi, Mas." Jawab Keiina.
Ryu segera membawa Keiina untuk beristirahat di kamar, kemudian Ryu mengambil stetoskop dan memeriksa kondisi Keiina karena khawatir ada kaitannya dengan operasi transplantasi ginjal, namun Ryu tersenyum saat memeriksa kondisi Keiina.
"Ingat tidak kapan terakhir kali kamu mendapatkan periodemu?" Tanya Ryu.
"Harusnya aku mendapatkan periodeku bulan ini seminggu yang lalu." Jawab Keiina.
Ryu mencium kening Keiina, lalu ia mencium perut Keiina.
"Apa aku baik baik saja, Mas?" Tanya Keiina yang merasa takut jika ginjalnya kembali bermasalah.
Ryu menangkup wajah Keiina, "Besok kita akan periksakan kondisimu, menurut pemeriksaanku, kamu tengah hamil, tapi untuk lebih pastinya besok kita USG ya."
Mata Keiina berbinar. "Aku hamil?" Tanyanya tak percaya.
__ADS_1
"Semoga pemeriksaanku tidak salah." Ucap Ryu dengan yakin.
...****************...