TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 43


__ADS_3

Lagi lagi Kaisar ikut terlelap, namun kali ini ia terbangun lebih dulu. Kaisar tersenyum saat melihat Audrey tertidur dengan nyenyak di dalam dekapannya.


Kaisar merapihkan rambut yang menutupi wajah Audrey ke belakang telinganya, ia mengusap lembut pipi Audrey.


"Audrey, bangun.. Kamu belum makan." Kata Kaisar dengan lembut sambil menyentuh ujung hidung Audrey.



Audrey menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya, di lihatnya wajah Kaisar yamg sedari tadi menatapnya dengan tatapan lembut.


"Kamu masih sakit, aku pesankan makanan ya." Kata Kaisar dan Audrey mengangguk.


Kaisar melepaskan dekapannya dan Audrey berpindah pada bantal empuknya, Kaisar meraih ponselnya dan memesan makanan secara online.


"Tubuh kamu masih sedikit demam, kamu harus banyak makan agar cepat sembuh." Kata Kaisar penuh perhatian.


Audrey hanya diam karena masih belum terbiasa dengan perlakuan Kaisar terhadapnya. Namun perasaan Audrey menghangat dan tidak menolak semua yang di lakukan oleh Kaisar.


"Masih pusing?" Tanya Kaisar.


"Sedikit." Jawab Audrey pelan.


"Kita ke dokter aja ya." Ajak Kaisar.


Audrey menggelengkan kepalanya, "Tidak."


Kaisar ingin memaksa namun dirinya enggan membuat Audrey menjadi tidak nyaman, sehingga Kaisar menuruti apa mau Audrey.


Tangan Kaisar masih setia bermain di rambut Audrey, mengusapnya dengan penuh kasih sayang dan Audrey dapat merasakan hal itu. Meski Audrey merasakan kebingungan, tentu saja soal status mereka, namun Audrey enggan mengungkapkannya. Biarlah seperti ini, Audrey merasa nyaman bersama Kaisar meski belum jelas hubungannya seperti apa.


Bel pintu apartemen berbunyi, "Aku buka pintu dulu, ya." Kata Kaisar dan Audrey mengangguk.


Kaisar membuka plastik berisikan makanan cepat saji ala bento, lalu ia membawa satu kotak ke atas tempat tidur. "Duduklah, aku suapi kamu." Kata Kaisar lagi.


Audrey duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Kaisar memberikan air mineral terlebih dahulu pada Audrey.


"Aku makan sendiri saja." Kata Audrey.


"Tidak, aku ingin menyuapi kekasihku." Jawab Kaisar.


Audrey mengernyitkan dahinya tanda bingung, dan Kaisar tersenyum melihatnya. "Mulai hari ini, kamu adalah kekasihku." Katanya lalu mencium pelipis Audrey.


Audrey hanya diam dan tidak bereaksi, sebenarnya ia sangat senang namun masih membatasi hatinya karena takut ini hanya sebuah mimpi atau kenyataan yang akan berakhir. Audrey masih mengingat jelas saat Kaisar meminta Aldo untuk menghubungi detektif dan menyelidiki soal wanita bernama Keiina. Namun lagi lagi Audrey tidak mengutarakan isi hatinya. Audrey lebih memilih untuk diam.


"Ayo makan." Kata Kaisar yang juga merasakan jantungnya berdegup kencang.


Ini adalah pengalaman pertamanya berdekatan dengan seorang wanita, dan hanya Audrey yang bisa membuat hatinya berdegup kencang.

__ADS_1


Audrey membuka mulutnya perlahan, lalu menerima suapan dari sendok yang di suapi oleh Kaisar. Kaisar juga menyendok makanan untuk dirinya sendiri, masih satu sendok yang sama dengan Audrey.


"Jangan, sendok itu bekas aku. Kamu ganti sendoknya dulu." Ucap Audrey.


"Tidak apa, aku sengaja ingin makan berdua denganmu." Kata Kaisar.


Mereka makan dalam keheningan, sesekali pandangan mereka bertemu dan saling tersenyum.


"Sekarang minum obatnya." Kaisar memberikan obat yang semalam ia beli untuk Audrey.


"Terimakasih." jawab Audrey lalu meminum obatnya.


Kaisar mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen Audrey. "Sudah lama lama tinggal di sini?"


"Sudah hampir empat tahun." Jawabnya.


"Ini apartemenmu sewa atau beli?" Tanya Kaisar ingin tau lebih dalam lagi.


"Beli, aku mencicilnya setiap bulannya." Jawabnya lagi.


"Berapa cicilannya?"


"Tiga juta perbulan."


Kaisar hanya mengangguk.


Audrey menatap wajah Kaisar.


"Apa kamu percaya jika aku ingin serius padamu?" Tanya Kaisar dengan serius.


Audrey mengerti maksud yang di utarakan oleh Kaisar. Namun Audrey memilih diam dan tidak menjawabnya.


"Aku serius ingin menikahimu, Audrey." Kata Kaisar lalu kini menggenggam kedua tangan Audrey dan mengecupnya dengan lembut.


"Jangan, Tuan.."


"Kai.. Panggil aku Kai, Audrey." Kata Kaisar lagi.


Audrey mengangguk samar. "Jangan mengasihaniku, Kai." Ucap Audrey pada akhirnya.


"Hei..." Tangan Kaisar menangkup ke dua pipi Audrey. "Dengarkan aku baik baik." Kata Kaisar dan membuat mata Audrey bertatapan dengan matanya. "Aku jatuh cinta padamu, saat pertama kali kita bertemu di sisi pantai."


Audrey terus menatap mata Kaisar, tatapan hangat dan lembut dengan penuh ketulusan.


"Percaya padaku ya, hem.." Kata Kaisar dan Audrey mengangguk samar.


Wajah Kaisar perlahan mendekat pada wajah Audrey, membuat Audrey seketika memejamkan matanya.

__ADS_1


Cupp..


Kaisar mengecup sekilas bibir Audrey. Lalu melihat wajah Audrey dengan mata terpejam. Kaisar mengecup ke dua mata Audrey silih berganti dan turun untuk mengecup hidungnya, juga sekali lagi untuk mengecup bibirnya kembali.


Hanya sebuah kecupan, Kaisar tidak ingin berbuat lebih meski dirinya sangat ingin mencium lebih dalam bibir Audrey.


Kaisar menarik kembali wajahnya dan mata Audrey kembali terbuka sempurna.


"Kamu percaya padaku, kan?" Tanya Kaisar dan Audrey mengangguk.


"Aku akan segera berbicara pada Mama dan juga Oma ku sebagai orang tuaku. Lalu aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ryu untuk membantuku menyampaikan niat seriusku pada keluargamu." Kata Kaisar lagi.


"Tidak kah ini terlalu cepat?" Tanya Audrey.


"Apa kamu juga mencintaiku, Audrey?" Tanya Kaisar.


Audrey hanya diam.


"Kamu masih bingung dengan perasaanmu?" Tebak Kaisar dan di angguki oleh Audrey.


Kaisar tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Kita akan jalani dulu semua ini sampai hati kamu yakin, bagaimana?" Tanya Kaisar.


Audrey mengangguk, "Setidaknya itu lebih baik, kita harus saling mengenal karakter kita masing masing supaya tidak ada penyesalan di masa depan."


Kaisar tersenyum, kemudian menarik Audrey kembali dalam dekapannya. "Kita berjuang sama sama, Audrey. Berjuang untuk sembuh dari luka karena perpisahan orang tua kita masing masing. Kita harus hidup lebih baik dari mereka, jangan meniru apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu." Kata Kaisar meyakinkan.


Hati Audrey begitu tersentuh mendengar semua penuturan dari Kaisar. Ternyata di balik ketegasan dan sikap dingin Kaisar di perusahaan, Kaisar mempunyai hati yang lembut. Sifat lembut Adelia turun kepada Kaisar, dan Audrey akan menjadi satu satunya wanita paling beruntung karena mendapatkan hati yang tulus dari seorang Kaisar Wiguna.


Audrey membalas pelukan Kaisar, mulai hari ini Audrey akan mencoba mempercayai Kaisar, namun Audrey begitu saja melerai pelukan Kaisar dan menatap mata Kaisar dengan ragu.


"Ada apa? Hem?" Tanya Kaisar sambil merapihkan anak rambut Audrey ke belakang telinganya.


"Siapa itu Keiina?" Tanya Audrey pada akhirnya. Audrey hanya tidak ingin masuk ke dalam sebuah hubungan yang sudah terikat. Ia tidak ingin kejadian yang sama menimpa dirinya.


Kaisar tersenyum. "Keiina adalah adikku yang aku sembunyikan identitasnya." Jawab Kaisar. "Bahkan Papaku saja tidak mengetahui jika Keiina ada di dunia ini. Keiina ada setelah perceraian ke dua orang tua kami." Jawabnya lagi menjelaskan.


Audrey hanya diam, bagaimana bisa ia berpikir jika Keiina adalah kekasih Kaisar. Sementara Kaisar masih merasa jika Audrey belum sepenuhnya mempercayai dirinya.


Kaisar menempelkan keningnya dengan kening Audrey, "Aku bersumpah, belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun." Ucapnya setengah berbisik. "Hidup dan waktuku, slalu aku habiskan untuk mencari keberadaan Mama dan Adikku." Imbuhnya lagi.


"Maaf.." kata Audrey lirih. "Aku hanya takut..."


"Tidak ada yang perlu di takuti. Aku bersamamu." Balas Kaisar dengan cepat.


...****************...


Ada yang melted gak sama sikap Babang Kai ke Audrey?

__ADS_1


__ADS_2