
Kaisar duduk di depan IGD menunggu Anhar yang sedang di tangani oleh dokter. Audrey dengan setia selalu mendampinginya sambil menggenggam tangan Kaisar.
Adelia datang menyusul seorang diri, sementara Mutia menemani Keiina yang masih terlihat shock di rumah.
"Mama..." Kaisar berdiri saat melihat Adelia berjalan cepat ke arahnya.
"Bagaimana kondisi Papamu?" Tanya Adelia.
"Masih di cek oleh dokter, Ma." Jawab Kaisar
Adelia memegang kedua bahu Kaisar, "Kenapa menyembunyikan ini dari Mama?"
Kaisar tak kuasa menjawab, melihat Adelia dengan mata sembab membuat hati Kaisar terasa tak tenang, mata sembab Adelia yang menandakan jika Adelia menangis kembali.
"Kenapa tidak mengatakan hal ini pada Mama, Kai." Adelia menangis kembali dan menyandarkan dahinya di dada Kaisar. "Harusnya kamu tidak boleh menyembunyikan ini dari Mama." Adelia terus meraung, menangisi semua yang tidak ia tau.
Audrey membantu menenangkan Adelia, rasa mual di kehamilannya tidak ia rasa, Audrey merasa sedih karena keluarga Kaisar berada di dalam suatu masalah.
Dokter ahli yang memeriksa Anhar memanggil Kaisar. Adelia pun memaksa untuk ikut mendengar apa yang di katakan oleh dokter.
"Semua baik baik saja, Tuan Anhar hanya merasa tertekan sehingga membuat tensinya naik, Tuan Anhar akan di rawat dulu sampai hasil lab nya keluar. Mohon di jaga emosinya, jangan sampai tekanan darahnya naik, tekanan darahnya harus slalu stabil." Ucap dokter yang membuat Kaisar dan Adelia menjadi tenang.
Anhar di pindahkan ke ruang perawatan, "Mama pulang saja dulu." Kata Kaisar.
"Tidak Kai, biar Mama yang menjaga Papamu. Kamu pulang saja, tidak baik jika Audrey terlalu lama di sini." Ucap Adelia.
"Tapi, Ma.."
"Biarkan Mama yang menjaga Papamu, ada hal yang mau Mama bicarakan dengannya. Tolong percayalah pada Mama, Kai." Ucap Adelia penuh permohonan.
Audrey mengangguk dan Kaisar mengikuti permintaan Adelia.
"Kai pulang, Ma. Kabari Kai, besok Kai kesini lagi." Ucap Kaisar dan Adelia mengangguk.
Adelia duduk di kursi sebelah brankar, menatap wajah Anhar yang terlihat pucat.
"Aku masih mencintaimu, Mas. Meski rasa itu sudah pudar, namun rasa cinta itu tetap ada." Gumam Adelia.
Sementara itu, Kaisar dan Audrey baru saja tiba di rumah, ia segera masuk dan Mutia memanggilnya.
"Kai, Audrey.." Panggil Mutia.
Kai menahan langkahnya dan melihat ke arah Mutia.
"Papa baik baik saja Oma, tensinya naik karena sedikit tekanan, tapi sejauh ini Papa baik baik saja, sambil menunggu hasil lab nya keluar dan Papa harus tetap di rawat di sana." Kata Kaisar.
"Mamamu?" Tanya Mutia.
"Mama memaksa ingin menjaga Papa di sana, Oma."
Mutia menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Dimana Keiina, Oma?" Tanya Audrey.
"Di kamar. Sepertinya masih shock dengan apa yang Kai katakan." Jawab Mutia.
Kaisar menghela nafas, "Kai tidak habis pikir, Oma. Mengapa Keii sebegitu bencinya dengan Papa."
"Jangan menyalahkannya, Kai. Bukan salah Keii seperti itu. Lebih baik kamu bicara pada Ryu untuk membawa Keiina ke psikiater, siapa tau dengan sedikit berkonsultasi dengan psikiater membuat kita untuk lebih mengerti Keiina." Ucap Mutia yang memang slalu bijaksana.
"Tapi bagaimana jika Keii masih belum bisa menerima Papa? Atau Keiina semakin membenci Papa?" Tanya Kaisar.
"Semoga Keiina tidak seperti apa yang kamu pikirkan Kai. Oma berharap setelah ini, Keiina bisa menerima Papamu."
**
Anhar terbangun dari tidurnya, ia merasa tenggorokannya sangat kering.
"Kamu sudah bangun, Mas.." Kata Adelia.
"Adel, kamu di sini?" Tanya Anhar bingung.
Adelia tersenyum, "Aku di sini nemenin kamu, Mas." Jawab Adelia lalu mengambil air mineral dan membantu Anhar untuk meminumnya.
"Terimakasih." Kata Anhar setelah Adelia membantunya.
"Dimana Kai?" Tanya Anhar.
"Aku menyuruhnya pulang, kasihan Audrey jika menemani Kai disini." Ucapnya.
"Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Adelia.
"Aku sedikit lapar." Ucap Anhar dengan ragu.
"Sebentar lagi suster akan membawakanmu makanan, tunggulah karena ini sudah memasuki waktu jam makan siang." Kata Adelia.
Anhar dan Adelia sama sama diam, mereka cukup canggung berada dalam situasi ini.
"Mas..." Panggil Adelia.
Anhar hanya diam, tetapi matanya menatap wajah Adelia.
"Terimakasih." Kata Adelia ambigu namun Anhar mengerti apa maksud Adelia.
"Jangan berterimakasih, Adel. Setidaknya dalam hidupku, aku bisa bermanfaat untuk putri yang tidak pernah aku ketahui keberadaannya." Jawab Anhar dengan lirih.
Adelia mengangguk, "Pengorbananmu menyelamatkan putri kita, Mas." Adelia menghela nafas sejenak, "Andai aku tau dari awal, pasti aku tidak akan menyetujuinya."
"Karena itu aku memilih diam dan menghindar, tidak ku sangka Kai tau semuanya." Balas Anhar.
"Setelah ini tetaplah tinggal bersama kami, Mas." Pinta Adelia.
"Tidak, Adel. Aku tidak bisa tinggal di rumahmu." Kata Anhar.
__ADS_1
"Bahkan demi putra putri kita, Mas?" Tanya Adelia.
Anhar diam sejenak, "Keiina akan menolakku." Ucapnya.
"Itu akan jadi urusanku, Mas."
Anhar menatap mata Adelia, "Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, aku tidak pantas untukmu, Adel."
"Apa kamu tidak ingin memperbaikinya, Mas? Tidak inginkah kamu membahagiakan aku? Menebus kesalahanmu padaku?" Tanya Adelia.
"Kondisiku tidak sempurna, Adel. Aku sudah tidak seperti dulu lagi." Kata Anhar.
"Kita bisa menjadi pendamping yang saling melengkapi, Mas. Kai sudah menikah dengan Audrey. Keiina juga sudah menikah dengan Ryu. Bagaiman dengan aku, Mas? Aku hanya jalan seorang diri." Kata Adelia. "Tidak inginkah kamu menebus kesalahanmu dengan menemani masa tuaku?"
"Kamu menerimaku kembali, Adel? Kamu tidak membenciku?" Tanya Anhar.
"Rasa itu memang pudar, Mas. Tapi masih ada rasa cinta di hatiku. Bohong kalau aku mengatakan aku sudah tidak mencintaimu." Ucap Adelia.
"Adel, benarkah apa yang kau katakan?" Tanya Anhar.
"Buktikanlah padaku, Mas. Buktikanlah jika kamu ingin menebus kesalahanmu. Aku akan menerimamu kembali." Kata Adelia tersenyum.
Anhar tertunduk lalu menangis, "Mengapa kamu begitu lembut, Adel. Aku menyesal pernah menyia nyiakanmu."
Adelia menggenggam tangan Anhar. "Kita mulai semuanya dari awal, Mas. Kita akan menjadi keluarga yang sempurna untuk Kaisar dan Keiina meski terlambat, Mas."
**
Audrey meninggalkan Kaisar yang sudah tertidur. Ia mendatangi kamar Keiina.
"Keii..." Panggil Audrey.
Keiina berhambur memeluk Audrey dan menangis sesenggukan, "Mengapa tidak ada yang memberitahuku, Kak."
Audrey mengusap punggung Keiina, mencoba menenangkannya lewat usapan. Hingga Keiina merasa tenang dan Audrey melerai pelukannya, membawa Keiina untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Audrey.
"Aku bingung, Kak." Ucap Keiina.
"Jangan membenci Papa Anhar, Keii. Papa Anhar sudah menebus semuanya, bahkan ia rela merasakan sakit demi menyelamatkanmu." Kata Audrey.
"Aku tidak memintanya." Ucap Keiina dengan cepat.
Audrey tersenyum, "Kamu memang tidak memintanya, tetapi Papa Anhar begitu ingin menyelamatkanmu dengan tulus, menebus segala kesalahannya behkan rela jika sampai kehilangan nyawanya sekalipun untukmu, Keii."
Keiina menutup wajahnya dan menangis kembali, Audrey memeluknya dengan sayang. "Berdamailah, Keii. Papa Anhar sudah mendapatkan balasannya, terimalah Papa Anhar sebagai Papamu yang sesungguhnya. Jangan sampai kamu menyesali semuanya nanti."
...****************...
Tamat beberapa hari lagi, tolong di bantu like, koment, vote, hadiah dan bantu nilai dengan bintang 5 ya..
__ADS_1