TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 64


__ADS_3

Kaisar segera menuju kamarnya setelah mengantar Ryu pulang hingga di terasnya.


"Quenn." Kaisar membuka pintu kamar namun tidak menemukan keberadaan Audrey yang kini berstatus istrinya itu.


Kaisar mencari di kamar mandi dan walk in closet juga tidak terlihat adanya Audrey. Pikiran Kaisar tertuju pada satu tempat, yakni kamar sang adik tersayangnya.


Kaisar perlahan membuka pintu kamar Keiina dan tiba tiba saja perasaan hangat menjalar di hatinya, Kaisar tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah tempat tidur, dimana ia melihat istri dan adiknya tengah tertidur, lebih tepatnya mungkin ketiduran.


"Terimakasih, Tuhan. Kau menggantikan kesedihkanku selama dua puluh tahun dengan kebahagiaan seperti ini." Gumam Kaisar sambil menatap ke dua wanita yang terlelap dalam tidurmya.


Kaisar merasa senang sekali karena Audrey bisa beradaptasi dengan cepat dengan keluarganya. Kaisar juga merasa tenang karena Keiina juga menerima kehadiran Audrey sebagai kakak iparnya.


Kaisar tidak membangunkan apa lagi memindahkan Audrey ke kamarnya, ia membiarkan Audrey tidur bersama Keiina. Kaisar mengambil selimut dan menyelimuti ke dua gadis itu, lalu mematikan lampu utama dan menyisakan lampu temaram di kamar Keiina.


"Selamat tidur Queen." Bisik Kaisar di pelipis Audrey. "I love U." Ucapnya lagi kemudian beralih pada sisi Keiina.


"Selamat tidur Princess." Bisik Kaisar setelah mencium puncak kepala Keiina. "Kakak menyayangimu."


**


Sinar mentari pagi menelusup melalui celah gorden di kamar Keiina, Keiina mengerjapkan matanya sambil meregangkan otot nya, ia melihat ke sampingnya dan Audrey masih terlelap tidur.


"Ya ampun, Kak Audrey ternyata tidur di sini." Kata Keiina.


Lalu ia melihat selimut yang menutupi tubuh mereka, serta lampu utama yang sudah padam dan tergantikan dengan lampu temaram. "Pasti Kak Kai." Ucapnya ambigu.


Keiina tersenyum sambil membuka gorden kamarnya, "Kak Kai tidak memindahkan Kak Audrey ke kamarnya, Kak Kai memang Kakak terbaik sedunia." Ucapnya riang.


Audrey juga mengerjapkan matanya saat Keiina membuka gordeyn kamarnya. "Akhh aku tertidur di kamarmu, Keii." Ucap Audrey.


"Iya dan Kak Kai tidak memindahkan Kakak." Balas Keiina.


Audrey hanya tersenyum, Kaisar tidak bersikap posesif dan mengerti Audrey dalam hal apapun.


"Keii, bisa bantu aku?" Tanya Audrey ragu ragu.


"Bantu apa, Kak?" Tanya Keiina yang sedang menguncir rambutnya secara asal.


"Aku ingin membersihkan tubuhku, hanya saja aku masih kesulitan melakukannya sendiri."


Keiina menyipitkan matanya, "Kenapa tidak sama Kak Kai saja?" Tanyanya menggoda.

__ADS_1


Audrey mencebikan bibirnya, "Ishh kamu ini.. Ya sudah kalau tidak mau." Kata Audrey merajuk.


Keiina tertawa, "Ahahaha, iya iya Kakakku sayang, ayo aku bantu. Di kamar mandiku saja ya."


Audrey tersenyum, "Terimakasih adik ipar." Lalu mereka tertawa bersama.


Keiina dengan hati hati membersihkan punggung Audrey agar tak mengenai luka bekas tembakan yang belum sepenuhnya pulih. Dengan begitu telaten menyeka bagian punggung Audrey.


"Tubuh Kakak terawat sekali, apa Kakak suka melakukan perawatan di salon?" Tanya Keiina yang merasa takjub melihat kulit Audrey yang putih bersih dan bentuk tubuhnya yang ideal.


Tentu saja Audrey sangat cantik dan bentuk tubuh yang ideal, perpaduan wajah Raja yang tampan dan Sarah yang begitu cantik tercetak jelas pada Audrey.


"Tidak, Keii.. Aku tidak pernah melakukan perawatan tubuh ke salon, kalau pun ke salon paling hanya potong rambut saja." Kata Audrey.


Keiina hanya mengangguk saja, ia berpikir kecantikan yang Audrey miliki pastilah di turunkan oleh Mamanya, namun Keiina tidak berani mengucapkannya.


"Keii aku pinjam pakaianmu, ya." Kata Audrey yang masih memakai bathtrub.


"Ambil saja, kak." Kata Keiina.


"Pilihkan saja olehmu." Kata Audrey lagi.


"Tidak apa Kak, ambil saja yang mana Kakak suka." Balas Keiina namun Audrey hanya diam saja.


"Ini cocok." Kata Keiina sambil memberikan sebuah dres berwarna peach.


"Warnanya terlalu pucat." Kata Audrey lalu ia memilih sendiri pakaian milik Keiina.


"Ini saja." Kata Audrey dengan menunjukan dres selutut dengan lengan pendek berwarna biru muda.


"Wah selera Kak Audrey bagus juga." Kata Keiina. "Akhirnya impianku tercapai, ingin punya kakak perempuan dan hal seperti ini bukan mimpi lagi." Ucapnya.


Audrey hanya tersenyum. Setelah membantu Audrey, kini giliran Keiina yang membersihkan diri dan Audrey kembali ke kamar Kaisar.


Audrey masuk bersamaan dengan Kaisar yang baru saja keluar dari walk in closet dengan tampilan yang lebih segar.


"Queen.. Kamu sudah bangun?" Tanya Kaisar yang menghampiri Kaisar lalu mencium keningnya dengan begitu dalam.


"Sudah, kamu tidak membangunkanku semalam?" Tanya Audrey.


"Tidurmu dan Keiina terlalu pulas, jadi aku membiarkanmu tidur di kamar Keiina." Jawab Kaisar.

__ADS_1


" Kamu sudah mandi?" Tanya Kaisar yang melihat teampilan Audrey lebih segar.


"Sudah, tadi di bantu Keii." Jawab Audrey.


Kaisar hanya tersenyum, "Pinter banget minta bantuan Keii, takut ya sama aku." Ledek Kaisar.


Audrey menyikut perut Kaisar, "Ishh apa sih, Sayang." Kata Audrey malu malu.


Kaisar semakin mengembangkan senyumnya, terlebih saat Audrey memanggilnya sayang, Kaisar mengecup pelipis Audrey dengan lembut dan mengajaknya turun untuk sarapan bersama.


Adelia tersenyum saat melihat Kaisar dan Audrey turun bersama lalu di susul oleh Keiina. Mereka bertiga tertawa membuat isi rumah semakin hangat.


Mutia mengusap punggung lengan Adelia, "Rumah ini semakin hangat." Kata Mutia dan Adelia mengangguk setuju.


"Terimakasih, Ma.. Karena Mama mendidik Kaisar dengan begitu baik, aku berhutang sekali pada Mama." Kata Adelia.


"Tidak, sayang.. Kamu tidak berhutang apapun pada Mama, Mama ikhlas melakukan semuanya. Mama juga bahagia melihat kalian semua bahagia. Mama yang hanya seorang diri ikut merasakan kebahagiaan kalian." Kata Mutia dengan sendu.


"Mama tidak boleh bicara begitu. Aku ini anak Mama, meski bukan terlahir dari rahim Mama, tapi aku tetap anak Mama. Kai dan Keii juga tetap cucu Mama." Adelia berkata dengan begitu tulus.


Mereka makan bersama di ruang makan, sesekali berbincang hangat. "Keii, kamu tidak apa apa jika nanti Tuan Anhar ikut makan siang bersama kita di sini?" Tanya Adelia pada Keiina.


Keiina menatap wajah Audrey dan Audrey mengangguk samar. "Tidak apa, Ma. Silahkan saja. Keii tidak apa." Jawabnya yakin tanpa beban.


Adelia, Mutia dan Kaisar hanya saling melirik satu sama lain. Sementara Audrey dan Keiina saling melempar senyum.


Kaisar melihat ke arah Keiina dan Audrey yang duduk bersebrangan, lalu ia mengangguk paham dan mengerti apa yang terjadi semalam dan mengapa Audrey bisa sampai tertidur di kamar Keiina.


Kaisar bersyukur karena Audrey membawa aura positif dalam keluarganya, Audrey mampu membuka pikiran Keiina yang slama ini tertutup dan sulit di artikan. Entah bagaimana nanti Keiina bersikap pada Anhar. Kaisar tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, baginya Keiina tidak tertekan dan nyaman saja itu sudah lebih cukup.


...****************...


Note:


Satu Like,


Satu Vote,


Satu Komentar dari kalian,


Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.

__ADS_1


Please jangan jadi silence readers.


__ADS_2