
Kini Kaisar dan Audrey berada di depan halaman rumah Adelia, mereka masih berada di dalam mobil.
Kaisar membuka seatbeltnya, "Bisa jalan?" Tanyanya pada Audrey.
"Bisa." Jawab Audrey.
"Tapi kamu bilang tadi perih, aku gendong aja ya." Kata Kaisar yang terdengar khawatir.
"Ishh, jangan." Balas Audrey cepat. "Nanti mereka bertanya tanya. Tidak mungkin kan aku bilang baru menunaikan kewajibanku sebagai istri." Imbuhnya lagi.
Kaisar tersenyum. "Iya."
Kini mereka semua duduk bersama di ruang keluarga, meski Ryu dan Kaisar bersahabat namun tetap saja Ryu secara formal meminta ijin pada Kaisar sebagai kepala keluarga di rumah Adelia untuk meminta Keiina secara resmi.
Meski awalnya terasa berat bagi Kaisar, melepas adik yang baru saja ia temukan, namun Kaisar juga merasa bahagia karena Ryu sahabatnya sendiri yang melamar Keiina untuk menjadi istrinya. Kaisar menerima niat baik Ryu dan mengijinkan Ryu membawa keluarganya untuk melamar Keiina secara resmi.
**
Audrey tengah berendam air hangat dengan tetesan aromateraphy di dalam bathtub tubuhnya terasa remuk karena bagian intinya yang masih sakit. Audrey bukan tipe orang yang suka mengeluh, karena itu dia tidak mengeluhkan rasa sakitnya pada Kaisar, hanya saja jika Kaisar bertanya pasti akan Audrey jawab.
Audrey memejamkan matanya sambil menikmati air hangat yang terasa nyaman di tubuhnya, ia memikirkan apa yang tadi di bahas oleh Mutia dan Adelia soal resepsi pernikahannya sebelum Keiina dan Ryu menikah.
Mutia dan Adelia ingin mengadakan resepsi pernikahan Kaisar dan Audrey, sementara Kaisar dan Audrey belum sama sekali membahasnya.
Pergerakan air di dalam bathtub membuat Audrey terkesiap, saat seseorang masuk dan ikut duduk di dalam bathtub.
"Kai.." Panggil Audrey. "Bikin kaget aja." Ucapnya.
Kaisar merubah posisi duduk di belakang Audrey sambil memeluk Audrey yang membelakanginya dan kini Audrey duduk bersandar di depan Kaisar.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kaisar yang menyadari ada sesuatu yang tidak di ungkapkan oleh Audrey.
"Tidak ada." Jawab Audrey.
Kaisar mencium bahu Audrey yang terbuka, "Beritahu aku."
"Tidak ada, Kai. Aku hanya lelah sekali." Jawab Audrey.
"Kamu masih tidak mempercayai aku? Hem?" Tanya Kaisar.
Audrey hanya diam.
__ADS_1
"Apa ini karena resepsi pernikahan kita?" Tanya Kaisar.
Audrey masih diam dan Kaisar mengeratkan pelukannya. "Kamu tidak nyaman jika kita mengadakan resepsi?" Tanya Kaisar dan Audrey mengangguk.
"Aku hanya tidak ingin, asal usulku di publikasi." Kata Audrey mencoba jujur. "Bagaimanapun kamu tau, aku terlahir dari sebuah kesalahan, ibuku merebut Papaku dari istrinya, Ibuku pergi begitu saja, Papa tidak mengurusku sehingga membuatku di adopsi oleh keluarga Ryu." Audrey menghela nafas. "Apa lagi sebelum bertemu denganmu aku hampir saja menjadi seorang pelakor juga." Kata Audrey.
Kaisar mengerti apa yang tengah di rasakan oleh Audrey. Audrey yang dulu seorang gadis introvert dan tidak percaya diri tidak menyukai keramaian.
"Aku akan membungkam mulut media, tidak akan ada yang berani mengusikmu." Kata Kaisar.
Audrey menggelengkan kepalanya. "Bisakah jika aku tidak mau?"
Kaisar tidak menjawab, dirinya juga bingung. Di sisi lain ia harus menggelar resepsi itu untuk mengenalkan Audrey sebagai istrinya ke publik, bahkan ke semua rekan kerjanya. Tapi di sisi lain, ia tidak ingin menekan Audrey.
"Maaf, Kai. Tapi aku tidak mau. Tidak apa jika kamu ingin menceraikanku saja, aku akan terima." Ucap Audrey yang terlihat tidak tenang.
"Apa maksudmu?" Tanya Kaisar tak suka sambil membalikan tubuh audrey untuk berhadapan dengannya.
"Menikahlah dengan wanita yang bisa kamu kenalkan ke publik, Kai."
"Queen Audrey!!" Panggil Kaisar. "Kamu pikir aku main main menikah denganmu? Kamu pikir gampang untuk mencari pasangan hidup yang benar benar seumur hidup?"
"Tapi aku tidak bisa, Kai. Aku tidak ingin di kenalkan ke publik. Kamu tidak tau rasanya mendengar cemoohan negatif banyak orang tentangku." Kata Audrey yang kini menutup wajahnya dan menangis.
Kaisar menyusul Audrey, ia juga segera mencari keberadaan Audrey yang sudah berada di atas tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut tebal hingga ke dagu dengan posisi membelakangi Kaisar.
Kaisar juga ikut naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan merapatkan dirinya dengan tubuh Audrey.
"Maaf." Ucap Kaisar dengan lirih. "Maaf aku tidak mengertimu." Kata Kaisar lagi sambil memeluk Audrey dengan erat.
"Tolong jangan mengatakan perpisahan lagi, bagiku itu sangat menyakitkan. Aku mencintaimu, Queen. Aku sangat mencintaimu." Kata Kaisar.
Audrey hanya diam dan pura pura tertidur meski Kaisar sendiri tau jika Audrey belum sepenuhnya tidur.
**
Pagi hari, Kaisar mengerjapkan matanya, ia langsung terduduk saat tidak melihat keberadaan Audrey di sisinya.
"Audrey.." Panggil Kaisar. Ia segera bangun dan mencari Audrey ke toilet dan walk in closet namun tak menemukan keberadaan Audrey.
"Shiittt." Umpat Kaisar sambil meninju Udara.
__ADS_1
Rasa trauma saat kecil ditinggalkan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih, Kaisar menganggap jika Audrey meninggalkannya.
Kaisar keluar dari kamarnya dan mencari Audrey ke kamar Keiina, namun ia tetap tak menemukan keberadaan Audrey, hanya terlihat Keiina yang tidur seorang diri.
Kaisar segera menuju ke lantai bawah untuk menanyai bagian keamanan di rumahnya, namun matanya tertuju pada sosok yang membuatnya takut setengah mati, Audrey yang tengah berada di dapur sedang membuatkan secangkir minuman yang pasti ditunjukan untuk Kaisar.
Dengan langkah lebar Kaisar mendekati Audrey lalu menarik tangannya hingga menghadapnya, Kaisar memeluk Audrey dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Audrey.
"Maaf... Maafkan aku.." Ucapnya terdengar bergemetar.
"Kai.. Kamu kenapa?" Tanya Audrey.
"Kemu meninggalkanku." Kata Kaisar.
"Aku membuatkanmu kopi dan mengambilkanmu air mineral." Balas Audrey memberitahu.
"Aku kira kamu meninggalkanku, aku takut sekali. Maafkan aku, maaf atas semua kesalahanku. Jangan pergi." Lirih Kaisar.
Audrey mengusap punggung Kaisar, untuk menenangkannya, "Aku tidak kemana mana, aku di sini slalu bersamamu." Hati Audrey begitu tersentuh, selama ini tidak ada yang pernah mengharapkannya ada, tetapi Kaisar selalu berharap dirinya ada di sisinya.
Betapa Kaisar adalah satu satu nya orang yang mengaggap keberadaannya. Dengan Kaisar, Audrey merasa nyaman, merasa di butuhkan, merasa terlindungi, sebenarnya tidak ada yang harus di takuti oleh Audrey, Benar kata Kaisar jika Kaisar pasti akan melindunginya dari mereka semua yang akan mengusik masa lalu Audrey. Harusnya Audrey mempercayai Kaisar dan tidak perlu takut pada suatu hal yang belum terjadi.
"Ayo kita ke kamar." Kata Audrey sambil melerai pelukannya.
Audrey membawa nampan berisikan air mineral dan kopi yang tadi ia buat untuk Kaisar. Sementara Kaisar tak melepas rangkulannya pada bahu Audrey.
Kini mereka duduk di sofa di dalam kamar. Audrey memberikan air mineral dan Kaisar meminumnya hingga tandas.
Audrey merangkum wajah Kaisar, "Maafkan aku."
Kaisar nenatap wajah Audrey.
"Harusnya aku percaya padamu jika kamu akan slalu melindungiku." Ucapnya pada akhirnya.
"Kita tidak akan mengadakan resepsi jika kamu tidak nyaman." Kata Kaisar.
Audrey menggelengkan kepalanya, "Kita adakan resepsi, aku percaya kamu akan melakukan hal terbaik untukku, melindungiku dan tak akan membiarkan orang lain mengusikku."
Kaisar tersenyum, "Kamu yakin? Kamu tidak akan meninggalkanku nantinya?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah, itu janjiku." Balas Audrey.
__ADS_1
...****************...