
Kaisar memeluk Audrey di kamar saat mengantar Audrey untuk meminum obatnya.
"Pasti kamu yang membuka hati dan pikiran Keii." Katanya dengan lembut.
"Aku hanya memberi tahunya tentang pengalaman dan apa yang aku rasakan. Selebihnya Keii sendiri yang meyakini dirinya sendiri." Jawab Audrey.
"Tadinya aku berpikir untuk membawa Keiina ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya. Tapi ternyata Keii hanya butuh seseorang yang memahaminya dan itu kamu." Ucap Kaisar.
Kaisar membalikan tubuh Audrey untuk menghadapnya. "Terimakasih, Queen." Lalu memeluknya dan mendekapnya sedikit erat.
**
Anhar dengan perasaan sedihnya menggaret kopernya untuk meninggalkan rumah yang sudah ia tempati sejak kecil. Betapa tidak bersyukurnya Anhar, dibesarkan oleh seorang wanita yang menyayanginya, mempunyai istri yang cantik dan lembut seperti Adelia namun di sia siakannya. Anhar bertekad akan meninggalkan kota agar mantan istri dan kedua putra putrinya bisa hidup dengan nyaman.
"Mama, Adel, Kai, Keii.. Maafkan aku." Gumamnya sambil melangkah keluar dari pintu rumah.
Anhar menuju rumah megah Adelia, ia merasa cukup senang di undang untuk makan siang bersama karena keluarga Ryu yang juga keluarga Audrey akan mengunjunginya. Hal ini juga Anhar jadikan sebagai moment perpisahan dengan Ibu, dan mantan istrinya juga kedua putra putrinya.
Adelia tengah menata kue yang ia buat sendiri. Adelia membuatkan tiramisu cake kesukaan Audrey dan Lemon cake kesukaan Kaisar dan Mutia juga puding leci untuk besannya itu.
"Ma... Ada Tuan Anhar tuh di depan." Kata Keiina dengan cuek.
Adelia tersenyum, "Gak mau kamu temenin dulu, Keii. Mama lagi nanggung nih." Jawab Adelia menggoda.
"Enggak ah, dia kan tamu Mama dan Kak Kai." Balas Keiina sambil memakan cemilan yang berada di depannya.
"Ya sudah, biar Oma saja yang melihat Tuan Anhar itu." Sahut Mutia yang ikut ikutan menyebut Anhar dengan sebutan Tuan Anhar seperti Keiina menyebutnya.
Kaisar turun bersama Audrey. "Keluarga Ryu belum datang?" Tanyanya.
"Belum, Kai. Papa kalian yang sudah datang dan ada di depan bersama Oma." Jawab Adelia.
"Papa Kakak, Ma. Bukan Papaku." Kata Keiina dengan asal.
Kaisar hanya mengusap puncak kepala Keiina.
Satu jam kemudian, Ryu bersama keluarganya datang untuk menjenguk Audrey. Ayla begitu senang melihat kondisi Audrey yang bisa tersenyum lepas. Belum lagi Adelia dan Mutia yang slalu saja memuji Audrey.
Untuk pertama kalinya juga Ayla bertemu dengan Keiina, wanita yang tengah di kejar oleh Ryu.
__ADS_1
Selama pertemuan itu, Keiina hanya diam, Ryu juga terlihat mulai menjaga jarak dengan Keiina. Hanya sesekali saja Keiina berbicara itupun jika Ayla maupun Regan bertanya padanya.
Adelia dan Mutia juga terlihat terkejut saat mendengar dari Regan jika Ryu akan ke Jerman karena menerima tawaran untuk bergabung dengan salah satu rumah sakit di sana.
Keiina masih bingung menentukan sikap, sebenarnya ia tidak mau jika sampai Ryu menerima tawaran itu dan pindah negara.
Keiina ingin mencoba mendalami hatinya kembali namun ia takut saat itu jika waktunya tiba ia sudah terlambat dan yang tersisa hanya penyesalan.
Setelah makan siang bersama dan berbincang ringan, keluarga Ryu pamit untuk pulang. Ayla dengan lega melepas Audrey pada keluarga Kaisar.
Tinggalah Anhar yang masih berada di rumah Adelia.
"Adel, aku datang sekalian untuk berpamitan." Ucap Anhar.
Adelia hanya tersenyum dan mengangguk, "Semoga di tempat baru, Mas bisa lebih baik lagi." Kata Adelia dengan tulus.
"Terimakasih, Adel." Balas Anhar.
"Papa menempati Villa keluarga yang disana?" Tanya Kaisar.
"Ya, untuk sementara Papa tinggal di villa dulu." Jawab Anhar.
"Ya, bawa juga istrimu. Di sana udaranya masih sejuk."
Kaisar mengangguk, "Tentu saja, Pa."
Anhar berdiri dan bersiap untuk pamit pergi, pesawatnya akan lepas landas tiga jam lagi.
Anhar memeluk Mutia dan Mutia menangis, "Hiduplah dengan baik, Anhar. Jadikan semua pelajaran untukmu."
Anhar memeluk wanita yang mengasihinya dengan tulus. "Terimakasih, Ma.. Maafkan Anhar karena Anhar banyak mengecewakan Mama."
Perlahan Anhar melepaskan pelukannya dan mendekat pada Adelia. "Sekali lagi aku minta maaf, Adel. Maaf atas semua luka yang ku beri."
Adelia mengangguk. "Aku sudah memaafkannya, setelah ini hiduplah dengan baik."
Anhar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Adelia dan Adelia membalas jabatan tangan itu.
Anhar mendekat pada Audrey dan Kaisar, "Jadilah pasangan suami istri yang saling mengasihi satu sama lain. Jangan pernah meniru apa yang di lakukan oleh ke dua orang tua kalian."
__ADS_1
"Terimakasih, Pa.. Audrey juga ingin mengucapkan terimakasih karena Papa telah menolong Audrey." Kata Audrey dengan tulus.
"Papa yang harusnya berterima kasih padamu karena menyelamatkan anak Papa, Papa juga berterimakasih karena kamu menikah dengan Kai." Kata Anhar.
"Audrey yang beruntung karena dinikahi oleh Kai, Pa." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kai, jaga Oma, Mama, adik dan Istrimu. Juga jalankan perusahaan seperti apa wasiat dari Opa." Kata Anhar pada Kaisar.
"Jangan khawatir, Pa." Kaisar memeluk Anhar.
Anhar merasa terharu, setelah lebih dari dua puluh tahun, akhirnya ia bisa memeluk Kaisar kembali.
"Terimakasih telah memaafkan Papa, Kai." Ucapnya dan membuat dua pria itu saling menangis.
"Jaga kesehatan Papa." Kata Kaisar sambil melerai pelukannya.
Anhar menatap Keiina, Kaisar menepuk pundak Anhar, "Cobalah berpamitan pada Keii, Pa."
Anhar mengangguk lalu perlahan mendekat pada Keiina.
"Keii..." Panggil Anhar lirih di depan Keiina.
Keiina tidak sama sekali menatap Anhar, namun dirinya juga tidak menjauh dari Anhar.
"Pa... Papa... Pamit padamu." Kata Anhar terbata bata, suaranya tercekat begitu saja saat dirinya memberanikan diri menyebut dirinya Papa pada Keiina.
Keiina masih diam seribu bahasa.
"Maafkan Papa, Keii.. Papa tau kesalahan Papa begitu dalam padamu, Papa tau luka hati mu begitu sakit. Tapi Papa mohon, maafkan Papa, Keii." Kata Anhar dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku memaafkanmu." Kata Keiina tiba tiba dengan tatapan lurus kedepan tanpa melihat Anhar. "Tapi aku tidak bisa memberimu kesempatan untuk memperbaiki sikapmu padaku." Ucapnya lagi.
Anhar mengangguk, "Aku tau." Katanya dengan penuh penyesalan. "Maaf jika Papa tidak bisa menjadi seorang Papa yang kamu harapkan, Keii. Sungguh Papa menyesali semuanya."
Anhar perlahan mundur satu langkah, ia memberikan senyum tulusnya pada Mutia, Adelia, Kaisar dan Audrey.
Dulu, Adelia yang berada di posisi Anhar, keluar dari rumah seorang diri, meninggalkan putranya dengan perasaan hancur. Kini semua terjadi pada Anhar, meninggalkan rumah dan meninggalkan putra putrinya dengan perasaan yang sama hancurnya.
"Aku merasakan apa yang dulu kamu rasakan, Adelia.. Maafkan aku, sungguh aku menyesal." Batin Anhar saat masuk ke dalam mobilnya yang akan mengantarkannya ke bandara.
__ADS_1
...****************...