
"Audrey akan ikut denganku!!" Suara seorang pria yang tiba tiba saja masuk ke dalam kamar perawatan Audrey. Membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Papa..."
"Bang Raja..."
"Raja..."
"Om Raja..."
Kaisar menyipitkan matanya melihat sosok pria paruh baya yang masuk begitu saja ke dalam kamar perawatan Audrey.
Dialah Raja, Papa Audrey dan kakak tiri Regan.
"Audrey akan ikut bersamaku tinggal di Pulau K." Kata Raja yang kini berada dekat Audrey.
"Audrey tidak mau, Pa.." Sahut Audrey.
"Mau tidak mau, kamu akan ikut Papa, tinggal bersama Papa." Kata Raja dengan tegas.
"Tidak bisa seperti itu, Bang. Selama ini Audrey tinggal bersama kami." Regan mencoba melawan keinginan Raja.
"Audrey putriku." Kata Raja lagi.
"Putri yang kamu lupakan, Ja!!" Sahut Ayla dengan cepat. "Sejak kapan kamu mengakui Audrey sebagai putrimu? Sementara kamu tidak pernah mau tau bagaimana kehidupan dan pertumbuhan Audrey selama ini." Kata Ayla dengan sinis.
"Selepas aku seperti apa dulu. Audrey tetap putriku." Kata Raja dengan tegas.
Ayla tersenyum sinis. "Putrimu? Sedangkan kartu keluarga Audrey bersama kami, bahkan akta kelahiran Audrey tercatat sebagai putri kami karena kamu tidak pernah mau mengurusnya!!"
Raja hanya diam dan tidak bisa menjawab semua perkataan Ayla. Sedari dulu Ayla memang slalu pandai jika berdebat, dan Raja selalu tidak bisa membalas semua ucapan Ayla.
"Maaf, Om." sahut Kaisar lalu menggenggam tangan Audrey dengan erat. "Saya Kaisar Wiguna, saya ingin menikahi Audrey." Kata Kaisar dengan serius.
Raja menatap wajah Kaisar. "Aku belum mau melepas putriku." Kata Raja pada akhirnya.
"Raja, seumur hidup Audrey kamu tidak pernah berperan menjadi Papa yang baik untuk Audrey. Sekarang sudah waktunya dalam hidupmu melakukan suatu hal yang berguna untuk Audrey, kamu harus menebus kesalahanmu dengan melepas Audrey untuk menikah dengan pria yang di cintainya." Bela Ayla.
Lagi lagi Raja tidak bisa berkutik dengan semua ucapan Ayla.
"Kaisar.." Panggil Ayla.
"Ya, Aunty.."
"Bisakah kamu menikahi Audrey hari ini juga? Mumpung Ayahnya Audrey berada di kota ini dan bisa menyaksikan pernikahan kalian." Kata Ayla.
__ADS_1
"Ay..." Raja memotong perkataan Ayla.
"Apa??" Balas Ayla dengan sengit. "Kaisar tetap akan menikahi Audrey, mereka saling mencintai, dan kamu sebagai Papanya jangan pernah berpikir untuk menghalangi kebahagiaan putrimu." Ayla menghela nafas sejenak, ia tidak pernah bisa menjangkau pikiran Raja. "Kamu tidak pernah bisa membahagiakan Audrey, setidaknya berikan Audrey kebahagiaan dengan merestui dan menyaksikan pernikahannya." Tekan Ayla lagi.
"Bagaimana, Kaisar?" Tanya Ayla lagi.
Kaisar mengangguk yakin. "Baik Aunty, aku akan mengurusnya hari ini juga." Kata Kaisar.
Raja tidak bisa berkutik lagi, bahkan Audrey saja tidak mau melihat ke arah Raja, tangannya selalu menggenggam tangan Kaisar seolah meminta perlindungan.
Kaisar segera menghubungi Adelia dan menceritakan semuanya, tentu saja Adelia menyetujuinya, ia segera berangkat ke rumah sakit, sebelumnya Adelia mampir ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan juga seperangkat perhiasan sebagai kado pernikahan dari Adelia untuk menantunya tersebut. Adelia juga membawakan pakaian yang rapih untuk Audrey dan Kaisar.
Kaisar juga menghubungi Aldo untuk membawa orang dari kantor catatan sipil ke rumah sakit, dengan segera Aldo menjalankan perintah Kaisar.
Untuk penghormatan terakhirnya juga, Kaisar memberitahu pernikahannya pada Anhar, sebagai wujud rasa berterimakasih Kaisar pada Anhar karena telah mendonorkan darahnya pada Audrey. Anhar merasa senang sekali saat Kaisar memberitahu pernikahan dadakannya itu, setidaknya sebelum Anhar pindah ke luar kota, ia bisa menyaksikan pernikahan putranya dengan wanita yang dicintainya
Anhar pun memberikan Kado pernikahan sebuah mobil mewah untuk Audrey sebagai menantunya. Anhar yakin sang putra akan menjadikan pernikahannya sebagai pernikahan yang pertama dan terakhir dalam hidupnya. Kaisar tidak mungkin melakukan hal yang sama sepertinya dulu di masa lalu.
Ayla begitu terharu melihat Audrey yang begitu di terima dengan tangan terbuka di keluarga Wiguna.
Adelia dan Ayla merias wajah Audrey yang masih sedikit pucat.
"Audrey, apa tidak apa menikah seperti ini?" Tanya Adelia. Pasalnya sebagai seorang wanita, pasti menginginkan pernikahan impiannya.
"Tidak apa, Ma.. Maaf jika ini terburu buru." Kata Audrey tidak enak.
"Terimakasih banyak, Nyonya." Sahut Ayla.
"Panggil Adelia saja." Kata Adelia tersenyum hangat.
"Rasanya tidak sopan, bagaimana jika panggil Mbak saja." Kata Ayla dan Adelia mengangguk.
"Saya titip Audrey ya." Kata Ayla lagi.
Adelia mengusap lengan Ayla, "Audrey putri kita sama sama." Jawabnya yang membuat hati Ayla menghangat.
"Kalian Mama terbaik yang aku punya." Kata Audrey dengan tersenyum.
Anhar bisa melihat wajah Adelia yang slalu tersenyum hangat, terlebih saat mengobrol dengan Ayla.
"Andai kamu memberikanku satu kesempatan lagi, Adel..." Batin Anhar.
"Pa..." Suara Kaisar membuyarkan lamunan Anhar.
"Kai.." Balas Anhar. Rasanya Anhar masih tidak percaya bisa mendengar kembali Kaisar memanggilnya Papa.
__ADS_1
"Terimakasih Papa sudah mau datang dan menyaksikan Kai menikah dengan Audrey." Kata Kaisar dengan tulus. "Terimakasih juga karena papa menyelamatkan Audrey dengan mendonorkan darah Papa untuk Audrey." Imbuhnya lagi.
Anhar mengangguk, "Setidaknya Papa melakukan hal yang berguna sebagai orang tuamu, Menyelamatkan gadis yang kamu cintai." Anhar menghela nafas sejenak. "Papa berdoa, semoga kamu slalu bahagia bersama istrimu."
"Iya Pa, terimakasih." Jawab Kaisar.
"Papa juga ingin berpamitan padamu, "Papa akan pindah ke luar kota, Papa akan fokus mengelola perusahaan anak cabang disana saja." Ucapnya.
"Hiduplah dengan baik, Pa. Semoga Papa menemukan kebahagiaan Papa." Kata Kaisar.
Anhar menggelengkan kepalanya, "Kebahagiaan Papa adalah Mamamu, adikmu, Omamu, dan juga Kamu Kai."
"Mama sudah memaafkan Papa, tapi Mama tidak bisa kembali pada Papa." Ucap Kaisar.
"Ya, kesalahan Papa terlalu fatal, tidak mungkin Mamamu mau menerima Papa kembali." Kata Anhar dengan tersenyum.
"Setidaknya hiduplah dengan baik, Pa. Jaga diri Papa baik baik." Kata Kaisar dan Anhar mengangguk.
"Bolehkah Papa bertemu dengan Oma untuk yang teralhir kalinya?" Pinta Anhar.
"Kapan Papa akan pindah?" Tanya Kaisar.
"Minggu depan, Papa akan menyelesaikan pekerjaan Papa dulu di sini." jawabnya.
"Baiklah, aku akan mengundang Papa untuk makan malam di rumah, mungkin setelah Audrey keluar dari rumah sakit."
"Apa adikmu tidak akan apa apa jika bertemu dengan Papa?" Tanya Anhar.
"Kai akan membujuknya untuk perlahan menerima Papa, hanya hal itu yang bisa Kai lakukan Pa.. Setidaknya jika Papa tidak bisa kembali bersama Mama, Keii tetaplah anak Papa juga." Jawab Kaisar dan membuat Anhar menaruh harapan besar pada putranya.
Adelia menghampiri Kaisar. "Kai bersiaplah, petugas catatan sipil sudah tiba." Kata Adelia.
Kaisar berdiri. "Baiklah Ma. Kai mau cuci muka dulu, Kai gugup." Ucapnya yang membuat Adelia tersenyum.
"Adell..." Panggil Anhar dan Adelia melihat ke arah Anhar.
"Iya, Mas."
"Aku akan pindah ke luar kota minggu depan." Ucap Anhar berharap Adelia mencegahnya.
Adelia hanya mengangguk, "Hiduplah dengan baik, Mas. Semoga di manapun kamu tinggal, kamu akan bahagia." Balas Adelia.
"Aku sudah mendapatkan ijin dari Kai untuk bertemu dengan Mama." Kata Anhar lagi.
"Ya, kamu memang harus berpamitan pada Mama, meski bagaimanapun, Mama Mutia adalah Mamamu juga." Jawab Adelia.
__ADS_1
...****************...