
Keiina mengernyitkan dahinya. Ryu tersenyum melihat Keiina. "Aku akan kembali ke Jerman, aku di undang untuk ikut bergabung di sebuah rumah sakit disana."
"Je.. Jerman.. Bukannya Mas Ryu sudah menjadi dokter spesialis bedah?" Tanya Keiina.
Ryu memang sudah menjadi seorang dokter. Bahkan ia meraih predikat salah satu dokter termuda karena sudah meraih gelar dokter di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun saat menempuh pendidikannya di Jerman. Ryu yang cukup jenius pun melanjutkannya untuk mengejar spesialis bedah dan meraih gelarnya di usia hampir dua puluh enam tahun di negara yang sama.
"Bukannya keluarga Mas Ryu punya rumah sakit disini? Kenapa tidak di sini saja?" Tanya Keiina bingung.
Ryu tersenyum samar, "Hanya ingin cari pengalaman baru." Ucapnya yang membuat Keiina mematung.
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Kaisar yang tiba tiba saja menghampiri Ryu dan Keiina.
"Sudah dari tadi." Jawabnya. "Dimana Audrey?" Tanya Ryu mengalihkan pembicaraan.
"Sama Oma di tarik ke dapur, katanya di suruh nyicipin kue buatan Oma dan Mama." Jawab Kaisar dengan senyum mengembang.
Keiina berdiri dari duduknya. "Aku juga mau nyusul Kak Audrey." Ucap Keiina lalu bergegas pergi menuju dapur.
"Kamu mau ke Jerman?" Tanya Kaisar menyelidik.
"Kamu nguping?" Tanya Ryu balik.
"Tidak." Jawab Kaisar tanpa berdosa. "Hanya kebetulan saja terdengar olehku." Imbuhnya lagi.
"Jadi benar?" Tanya Kaisar.
"Aku di undang untuk bergabung di salah satu rumah sakit disana." Jawab Ryu.
"Kamu menerimanya?" Tanya Kaisar lagi.
Ryu mengerdikan bahunya. "Entahlah. Tidak ada alasan untukku tetap tinggal di sini." Ucapnya.
Kaisar merasa tak enak pada Ryu karena Keiina yang terus saja menolaknya. "Kamu menyerah, Ry?"
"Aku tidak tau. Kamu kira gampang melupakan seseorang?" Balas Ryu.
__ADS_1
"Maafkan adikku, Ry." Lirih Kaisar.
"Adikmu tidak bersalah, Key. Hanya saja aku juga tidak bisa menjangkau hatinya." Kata Ryu.
Kaisar dan Ryu sama sama terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Diam diam Keiina juga mendengar pembicaraan itu, Keiina tak benar benar menyusul Audrey ke dapur, ia ingin mengetahui apa yang akan di bicarakan oleh Ryu pada Kaisar.
"Maafkan aku, Mas Ryu. Aku begitu takut." Gumam Keiina.
Audrey menepuk pundak Keiina dan membuat Keiina terkesiap. Audrey memperhatikan apa yang Keiina lakukan.
"Keii.." Panggil Audrey tersenyum.
"Kak Audrey." Balas Keiina.
"Ayo panggil Ryu dan Kak Kai. Kita makan malam bersama." Kata Audrey.
Keiina mengangguk namun tetap diam di posisinya.
"Keii...." Panggil Audrey lagi. "Panggil dulu Ryu dan Kak Kai ya." Ucapnya lembut.
Kini mereka makan bersama di rumah megah itu, ini adalah pengalaman pertama Audrey bergabung dengan keluarga suaminya yang kini menjadi keluarganya juga.
Ryu juga ikut makan malam bersama karena Adelia yang memintanya.
"Ma.. Tadi Mamaku menelpon. Katanya besok akan kesini untuk menjenguk Audrey." Ucap Ryu yang sebelum ikut bergabung ke ruang makan telah menerima telpon dari Ayla terlebih dahulu.
Adelia mengangguk. "Tentu saja. Bagaimana jika datang saat makan siang, Mama mengundang keluargamu untuk makan siang di sini." Kata Adelia.
"Ma.. Papa Anhar juga besok akan datang kesini, untuk pamitan sebelum pindah ke luar kota." Sahut Kaisar dan Keiina hanya menyimaknya saja.
Keiina cukup terkejut karena mendengar Anhar akan pindah ke luar kota.
"Iya, Oma sudah bilang pada Mama. Sekalian saja datang di jam makan siang, Kai." Balas Anhar.
__ADS_1
"Ya, sebaiknya kita memang berkumpul. Oma juga ingin mengenal keluarga Ryu yang ternyata masih kerabat Audrey." Sahut Mutia. "Ada baiknya keluarga Ryu mengenal Orang tua Kai meski mereka sudah berpisah." Imbuhnya lagi.
Audrey terus memperhatikan Keiina yang hanya diam, Audrey tau apa yang ada dalam pikiran Keiina.
Selesai makan malam, Kaisar dan Ryu membahas proyek mereka yang sedang berjalan di ruang kerja Kaisar. Ryu juga berencana akan merenovasi beberapa rumah sakit dan tentu saja perusahaan Kaisar yang memegangnya.
Audrey sengaja mendatangi kamar Keiina untuk berbincang sambil menunggu Kaisar. Audrey duduk di atas tempat tidur Keiina sambil mengobrol bersama.
"Aku tau, sebenarnya kamu menyukai Ryu juga kan?" Tebak Audrey.
Keiina menatap wajah Audrey, "Aku menyukainya, hanya saja aku takut, Kak." Jawab Keiina.
"Ceritakan padaku apa yang kamu takuti." Kata Audrey.
Keiina menghela nafas sejenak. "Aku takut cinta Mas Ryu nanti berpaling. Seperti Tuan Anhar dulu pada Mama."
Audrey mengangguk anggukan kepalanya, "Dulu juga aku begitu takut." Audrey menatap kedepan seolah menelusuri masa lalunya. "Hidupmu jauh lebih beruntung dari padaku, Keii. Saat aku masih bayi, Mama meninggalkan aku tanpa jejak. Papa yang seharusnya mengurusku malah menyerahkanku pada Nenek yang tak lama kemudian Nenek meninggal dan aku di urus oleh keluarganya Ryu." Audrey tersenyum kecut. "Setidaknya, walau tanpa seorang Ayah, kamu masih merasakan kasih sayang seorang ibu, sedangkan aku tidak mendapatkan keduanya."
"Kak Audrey...." Lirih Keiina.
Audrey tersenyum. "Tidak apa Keii, kamu harus tau, masih banyak yang jauh tidak beruntung dari kamu. Termasuk aku."
"Mungkin kamu trauma karena kamu pernah di cela oleh seseorang karena hidup tanpa seorang Ayah." Kata Audrey dan Keiina mengangguk, Audrey tersenyum. "Sementara aku di cela karena aku anak seorang pelakor dan kedua orang tuaku tidak ingin mengakui aku sehingga aku di ambil oleh keluarga Ryu."
"Kamu tau Keii?" Tanya Audrey dan Keiina menggelengkan kepalanya. "Aku memilih menghindar dan tinggal di asrama demi menjaga nama baik keluarga Ryu. Mereka begitu baik meski Om Regan bersikap dingin padaku dan Ryu slalu saja ketus kepadaku. Tapi aku bisa merasakan mereka perduli padaku." Audrey menyeka air matanya yang mengaliri pipinya. "Aku rindu kehangatan keluarga namun aku tidak pernah bisa mendapatkannya. Aku ingin sekali bermanja manja pada ibu dan ayahku tapi mereka tidak perduli bagaimana kehidupanku saat itu, aku ingin marah, tapi untuk apa aku marah?"
"Kak...." Keiina merasa ikut pilu mendengar cerita Audrey.
"Saat aku tertembak kemarin, Papa datang di saat masa kritisku sudah lewat, aku ingin memakinya, aku ingin marah padanya, kenapa tidak dia saja yang menyelamatkanku lewat darahnya, kenapa harus darah orang lain yang menyelamatkanku, namun sekali lagi aku bertanya, untuk apa aku marah?" Audrey tersenyum pada Keiina. "Aku memilih memaafkannya, menjalankan hidupku dengan baik, membiarkannya bertindak sesukanya, dan Papa tetap memilih pergi, aku membiarkannya."
"Kak Audrey tidak membencinya?" Tanya Keiina.
"Aku membencinya saat aku masih remaja, tapi kebencianku tidak sama sekali membuat aku bahagia. Jadi aku memilih untuk memaafkan dan membiarkannya saja." Jawab Audrey.
"Bisakah aku seperti itu, Kak?" Tanya Keiina.
__ADS_1
Audrey mengangguk, "Kamu pasti bisa, Keii." Audrey menggenggam tangan Keiina, "Dan kamu juga pasti bisa membuka hatimu untuk Ryu. Percayalah pada dirimu sendiri, sebelum Ryu pergi dan kamu menyesal."
...****************...