TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 76


__ADS_3

1,5 Tahun berlalu..


Lagi lagi Audrey menatap kecewa dengan benda pipih yang ia pegang. Sebuah tespek yang masih sama memperlihatkan satu garis yang tercetak jelas.


Audrey menghela nafas menelan rasa kecewa. Meski Kaisar tidak pernah bertanya soal anak, namun Audrey yakin jika di hati Kaisar juga menginginkan seorang anak.


Audrey kembali membuang tespek itu, entah sudah berapa banyak tespek yang ia buang karena tak kunjung mendapatkan hasil dua garis.


Audrey duduk di dalam bath tub yang masih kosong, waktu masih menujukan pukul empat dini hari, Kaisar pun masih terlelap tidur. Audrey menangis sambil memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya di atas lutut.


Kaisar terbangun saat tangannya meraba bagian di sebelahnya yang terasa kosong.


"Audrey..." Panggil Kaisar.


Kaisar mencari ke dalam kamar mandi dan melihat Audrey yang duduk di dalam bathtub kosong sambil menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ia tekuk.


"Queen." Kaisar segera menghampiri Audrey.


Audrey mengangkat wajahnya dan Kaisar melihat wajah Audrey yang sembab.


"Queen, kamu kenapa?" Tanya Kaisar dengan khawatir.


Audrey menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa apa." Ucap Audrey lirih.


Sebenarnya Kaisar cukup tau apa yang terjadi, pastilah Audrey tengah kecewa karena mendapat satu garis merah di alat tespek. Bukan hanya satu atau dua kali Kaisar menemukan benda pipih itu berada di dekat tong sampah. Kaisar sangat tau rasa kecewa bahkan kesedihan yang di rasakan oleh Audrey.


Kaisar segera menggendong Audrey ala bridal untuk kembali ke kamar, ia menidurkan Audrey dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Jangan sedih, Queen.. Kita akan berusaha." Kata Kaisar sambil membelai rambut Audrey. "Atau kamu mau kita program hamil?" Tanya Kaisar. "Kita bisa merencanakan kehamilan kembar. Ah pasti seru sekali." Ucapnya lagi meyakinkan Audrey.


Audrey diam dan tidak menjawab, hanya terdengar suara isakan kecil di dalam dekapan Kaisar.


"Jangan menangis ya, aku sedih dan tak bersemangat jika melihat kamu menangis." Ucap Kaisar.


"Lihatlah Keiina dan Ryu juga belum punya anak, padahal pernikahan kita dan mereka hanya berselisih dua bulan." Kaisar terus saja menguatkan Audrey.


**


Keiina tengah merasakan sakit di bagian pinggangnya, ia merasa tak nyaman saat tidur.


Ryu yang terganggu dengan pergerakan Keiina segera membuka matanya, "Baby, ada apa?" Tanya Ryu.


"Pinggangku sakit." Kata Keiina.


"Sini aku usap." Ucap Ryu.


Keiina membelakangi Ryu dan Ryu mengusap pinggang Keiina.


Sejak memutuskan untuk menikah dengan Ryu, Keiina memilih untuk tidak jadi meneruskan kuliahnya. Itu karena Keiina merasa dirinya sudah tidak ingin lagi di sibukan dengan mata kuliah.


"Kamu kurang olah raga, mulai besok rajinlah berolah raga agar tubuhmu tidak kaku." Ucap Ryu.

__ADS_1


"Aku tidak suka olah raga." Balas Keiina.


Keiina dan Ryu pun sepakat untuk tinggal di rumah Regan. Dan sesekali mereka juga menginap di rumah Adelia. Keiina menyukai rumah Regan, ia menyukai keluarga Ryu yang hangat dan baik padanya. Bahkan Keiina sendiri merasakan kasih sayang seorang ayah dari Regan.


Pagi hari di rumah Regan,


"Ry, hari ini kamu di undang seminar di hotel grand?" Tanya Regan.


Ryu mengangguk, "Iya, Pa. Ini Ryu mau antar dulu Keiina ke rumah Mama Adel, baru jalan kesana."


"Salam untuk keluargamu, ya Keii." Sahut Ayla.


"Iya Ma. Nanti Keii sampaikan." Jawab Keiina.


"Wajahmu pucat, Keii. Apa kamu sedang sakit?" Tanya Regan.


"Tidak, Pa. Hanya sedikit tidak enak badan." Jawab keiina.


"Vitamin dari Papa sudah di minum?" Tanya Regan yang slalu memberikan vitamin penyubur kandungan untuk Keiina.


"Sudah Pa." Jawab Keiina berbohong.


Sebagai dokter kandungan, Regan selalu memberikan vitamin terbaik untuk menantunya itu, namun tak satupun vitamin yang Keiina minum.


"Apa sudah ada tanda tanda?" Tanya Ayla.


Keiina menggelengkan kepalanya, "Belum, Ma.. Malah sepertinya Keii akan mendapatkan periode Keii karena Keii merasa pinggang Keii tidak nyaman."


Ayla tersenyum. "Tidak apa apa, mungkin memang belum waktunya." Ucap Ayla tidak memaksa.


"Papa dengar, Audrey akan menjalani program kehamilan dengan dokter Vera." Ucap Regan.


Keiina mengangguk, "Kak Audrey ingin segera hamil. Semoga programnya berhasil."


Regan dan Ayla mengangguk, "Papa akan membantu memerika kesehatan Kaisar, dan dokter Vera yang memeriksa Audrey." Kata Regan.


"Kalian kapan mau periksa? Tidak ada salahnya kan memeriksa kesehatan reproduksi kalian sedari dini." Kini Regan bertanya.


"Nanti saja, Pa. Kalau Kak Audrey sudah berhasil." Keiina menjawab sebelum Ryu yang menjawabnya.


Sebenarnya Ryu cukup kecewa karena Keiina terkesan cuek jika membahas soal kehamilan, namun Ryu juga begitu sabar menghadapi Keiina yang masih labil.


**


Ryu mengantar Keiina dan menyapa mama mertuanya itu sebelum akhirnya meninggalkan Keiina disana.


Keiina yang masih merasakan sakit di pinggangnya hanya duduk bersandar di sofa.


"Kenapa tidak di periksa sama Ryu?" Tanya Mutia.


"Sakit pinggang ini sudah biasa koq, Oma. Karena mau datang bulan." Ucap Keiina.

__ADS_1


"Jangan di anggap sepele, Keii. Mama khawatir kamu kenapa kenapa." Kata Adelia.


"Engga koq Ma, ini karena mau datang bulan." Jawab Keiina.


"Dimana Kak Audrey dan Kak Kai, Ma?" Tanya Keiina mengalihkan pembicaraan.


"Oh mereka sedang ke rumah sakit. Mereka mau ikut program kehamilan." Jawab Adelia.


"Kamu tidak ingin ikut program juga, Keii?" Tanya Mutia.


"Nanti saja Oma, lagi pula Papa mertuaku kan dokter kandungan. Aku bisa kapan saja konsultasi dengan Papa Regan." Jawab Keiina.


Mutia dan Adelia hanya saling melirik. Mereka juga merasakan jika Keiina tidak terlalu antusias jika membahas soal kehamilan.


**


Siang hari, saat Mutia, Adelia dan Keiina akan makan siang bersama, tiba tiba saja Keiina merasa tubuhnya lemas dan hilang keseimbangannya.


"Keii..." Pekik Mutia.


Nina yang melihatnya segera berlari ke arah Keiina. "Nona Keii.." Nina menepuk nepuk pelan pipi Keiina.


"Paggil dokter." Kata Mutia.


"Tidak Ma, kita bawa saja ke rumah sakit." Kata Adelia yang begitu khawatir.


Adelia membawa Keiina bersama supir ke rumah sakit. Sementara Mutia di rumah karena kondisi kesehatannya sedang menurun.


Sementara Nina menelpon Kaisar karena Ryu sedang tidak bisa di hubungi. Kaisar dan Audrey yang masih berada di rumah sakit pun menunggu Adelia yang membawa Keiina ke rumah sakit.


Kaisar mencoba menelpon Ryu namun Ryu mensilence ponselnya sehingga Ryu yang sedang mengikuti seminar tidak mengetahui jika Kaisar dan Nina menghubunginya sedari tadi.


"Kai, belum pulang?" Tanya Regan yang baru saja akan pulang dan melihat Kaisar berada di depan loby rumah sakit. Pasalnya Kaisar dan Audrey sudah selesai dari tadi melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksinya.


"Keii pingsan, Om. Mama sedang membawanya kesini." Ucap Kaisar.


"Tadi pagi Om memang sudah melihat Keii pucat, namun Keii tidak mau diperiksa dan hanya bilang sakit pinggangnya karena mau datang bulan saja." Kata Regan.


"Apa setiap datang bulan, wanita slalu merasa sakit seperti itu, Om?" Tanya Kaisar penasaran, karena selama ini Kaisar tidak pernah melihat Audrey merasakan sakit pinggang maupun keram perut saat datang bulan.


"Tidak semua. Tergantung kondisi kesehatan dan daya tubuh pada setiap wanita." Jawab Regan.


"Ryu tidak bisa di hubungin, Om." Kata Kaisar memberitahu.


"Ryu pasti mensilence ponselnya, dia sedang mengikuti seminar di hotel grand." Kata Regan. "Biar Om telpon penyelenggara seminar di sana, untuk secepatnya menghubungimu." Kata Regan sambil mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


...****************...


Note:


Konflik terakhir ya, Ada kaitannya kembali dengan Anhar.

__ADS_1


Semangatin aku dulu dong dengan Vote kalian mumpung senin 😉


Tambahin Likenya gitu biar gak segitu gitu aja likenya 🥲


__ADS_2