TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 81


__ADS_3

Kaisar mengusap pelipisnya saat membaca laporan yang diberikan oleh Harun. Air matanya mengembun seketika dan keringat membasahi dahi Kaisar.


"Papa..." Satu kalimat yang ia sebut secara lirih.


Benar dugaan Mutia selama ini, jika Anhar lah yang mendonorkan ginjalnya pada Keiina. Kondisi Anhar tidak lagi seperti dulu yang slalu gagah. Kini bahkan dirinya tidak bisa terlalu lelah karena hanya memiliki satu ginjal. Itulah mengapa Anhar tidak pernah datang ke kota untuk menghadiri rapat perusahaan anak cabang di kantor utama WG Group dan memilih Theo untuk mewakilinya.


Kaisar memutuskan untuk menyusul sang Ayah ke Villa tempat dimana Anhar tinggal selama ini. Villa salah satu aset milik keluarga Wiguna dan yang sudah Anhar tempati hampir satu tahun ini.


Dengan di antar oleh supir dan di dampingi oleh asisten Bayu, Kaisar menuju kota tempat dimana Anhar tinggal.


Perasaan Kaisar tidak karuan, ia akui memang Anhar sudah banyak berubah, mungkin perubahan itu adalah untuk menebus kesalahannya di masa lalu, tapi Kaisar tidak menyangka jika Anhar rela mendonorkan ginjalnya untuk Keiina.


Kaisar masuk begitu saja ke dalam villa, suasana sepi begitu terasa, tidak ada suara sama sekali, villa terasa begitu sunyi.


"Selamat datang Tuan muda. Senang sekali anda berkunjung kesini." Kata Pak Min penjaga villa.


"Dimana Papaku?" Tanya Kaisar sambil mengedarkan pandangannya.


"Tuan Anhar sedang di taman belakang memberi makan ikan koi peliharaannya." Jawab Pak Min.


Dengan langkah lebar, Kaisar segera menuju taman belakang. Di lihatnya Anhar sedang duduk sambil menabur makanan ikan untuk ikan ikannya itu. Tidak ada lagi tubuh Anhar yang kekar, yang ada hanya tubuh Anhar yang kian mengurus.


"Tuan Anhar semalam demam tinggi, tapi menolak dan tidak ingin kami bawa ke rumah sakit." Kata Pak Min memberitahu Kaisar.


"Tinggalkan kami." Titah Kaisar dan Pak Min menunduk lalu mundur kebelakang dan meninggalkan taman belakang.


Suara langkah terdengar di telinga Anhar dan Anhar melihat Kaisar dari sudut ekor matanya. Anhar menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Pa...." Panggil Kaisar dan Anhar menghentikan aktifitasnya.


Anhar membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Kaisar. "Kai, kamu disini?" Tanya Anhar berbasa basi meski hatinya tengah senang melihat putra yang slalu ia rindukan itu.


"Apa yang terjadi pada Papa? Mengapa Papa kurusan?" Tanya Kaisar pura pura tidak tau.

__ADS_1


Anhar tertawa palsu, "Jelas saja Papa kurusan, tidak ada yang mengurus Papa disini." Ucapnya.


"Apa kamu kesini untuk mengunjungi perusahaan anak cabang?" Tanya Anhar mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku kesini untuk mengunjungi Papa, sudah lama Papa tidak menghadiri rapat perusahaan anak cabang di kantor pusat." Jawab Kaisar.


Anhar membawa Kaisar duduk di kursi taman belakang. "Theo bisa mengurus semuanya, Papa hanya ingin beristirahat di villa dan mengurus perusahaan anak cabang."


Kaisar hanya diam, melihat gerak gerik Anhar yang tak nyaman di tatap penuh tanya oleh Kaisar.


"Mengapa tidak membawa Audrey kesini? Kamu harus sering mengajak Audrey berlibur." Ucap Anhar.


"Audrey sedang hamil, Pa." Kata Kaisar memberi tau.


Anhar tersenyum, "Benarkah? Selamat, kamu akan menjadi seorang Ayah."


"Papa juga akan menjadi seorang Kakek." Kata Kaisar.


Anhar mengangguk, "Sering sering lah membawa anakmu nanti kesini untuk bertemu dengan Papa."


Anhar terkejut mendengarnya, "Benarkah? Ah pasti rumah Mamamu akan sangat ramai." Anhar menatap ke depan dengan tatapan kosong. Anhar juga membayangkan jika di masa tua nya juga hidup dengan hangat ditengah keluarganya, menghabiskan waktu bermain bersama cucu cucunya.


Anhar menunduk kemudian ia menangis sesenggukan, ia menangisi perbuatannya di masa lalu, ia juga menangisi kehidupan masa kini yang begitu sepi tanpa ada yang menemani.


"Pa...." Kaisar mendekat dan mengusap punggung Anhar yang masih menangis sesenggukan.


"Papa..." Panggil Kaisar sekali lagi. Sungguh Kaisar tidak tega pada Anhar, menangis pilu seperti ini di hadapannya.


Anhar mengangkat wajahnya yang basah dengan mata sembab, "Papa sedang menjalani hukuman Papa, Kai. Hukuman dari dosa yang tidak termaafkan." Ucap Anhar.


Kaisar ikut menangis melihat Anhar dengan kesungguhannya. "Aku menyangimu, Pa.. Meski Papa tidak bisa kembali pada Mama, Papa tetaplah Papaku."


Anhar mengangguk, "Andai waktu bisa di ulang, Kai. Papa pasti tidak akan kejam pada mamamu."

__ADS_1


"Kai percaya itu, Pa.. Karena itu, pulanglah Pa.. Ayo pulang bersama Kai. Setidaknya Kai bisa seeing mengunjungi Papa, Triplets nanti bisa sering juga bertemu dengan Opa nya."


Anhar hanya diam dalam tangisannya, haruskah ia kembali ke rumah utama keluarga Wiguna dan mengenang semua kenangan yang ingin dilupakannya.


"Kai janji sesekali akan menginap di rumah utama, Pa. Kai janji akan mengurus Papa karena Papa tetaplah Papa Kai." Ucap Kai dengan tulus.


Anhar menggelengkan kepalanya, "Tidak, Kai.. Biarkan Papa tetap disini untuk menebus kesalahan Papa pada Mamamu, merasakan apa yang dulu Mamamu rasakan, kesepian, hanya seorang diri dan tinggal jauh dari orang orang yang di sayanginya."


"Papa akan ikut denganku, Oma juga meminta Papa untuk pulang. Ayo Pa kita pulang, Mama sudah memaafkan Papa meski tidak bisa kembali lagi bersama Papa." Kata Kaisar memaksa.


Sementara itu di rumah Adelia, Audrey kembali merasakan mual. Dengan sigap Adelia membuatkan minuman hangat yang aman untuk ibu hamil.


"Kai, belum pulang?" Tanya Adelia.


"Kai sedang ke luar kota, Ma. Mungkin besok baru pulang." Jawab Audrey.


Adelia mengernyitkan dahinya, "Ke luar kota? Apakah ada urusan pekerjaan?" Tanya Adelia.


Audrey bingung menjawab apa, ia tidak mungkin membohongi mama mertua yang sudah seperti malaikat bagi dirinya, tapi Audrey juga tidak ingin berkata jujur takut membuat Adelia kecewa.


Adelia menggenggam tangan tangan Audrey. "Beri tahu Mama, Kemana Kai?" Tanya Adelia dengan lembut.


"Kai, pergi untuk menjenguk Papa Anhar, Ma." Jawab Audrey ragu ragu. "Kai bilang, Papa Anhar sudah lama tidak pernah menghadiri rapat perusahaan anak cabang di kantor pusat, karena itu, Kai pergi untuk melihat Papa Anhar."


Adelia tersenyum. "Audrey...."


Audrey menatap wajah cantik Adelia.


"Mama tidak pernah melarang Kai untuk mengunjungi Papanya, Mama tetap ingin Kai bersikap baik pada Papanya, dan Mama senang karena kamu sebagai istri Kai slalau mendukung Kai. Bahkan kamu juga yang membuat Keiina untuk memberikan maaf pada Papa Anhar meski Keii tidak bisa menerima keberadaan Papa Anhar." Kata Adelia.


Audrey mengangguk, "Audrey hanya ingin melihat Kai dan Keiina menjalani hidup dengan bahagia dan tanpa dendam, Ma."


Mereka diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.

__ADS_1


"Ma.. Bagaimana jika Papa Anhar benar benar berubah, tidak inginkah Mama memberi kesempatan kedua pada Papa Anhar? Tidak inginkah Mama membuat Keiina merasakan kasih sayang keluarga yang utuh?" Tanya Audrey yang membuat Adelia mematung seketika.


...****************...


__ADS_2