TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 55


__ADS_3

"Mas Anhar...."


Anhar mematung saat mendengar suara wanita yang pernah ia sia siakan di masa lalu, wanita yang akhir akhir ini ingin ia temui hanya untuk mengucap satu kata. "Maaf..."


Kaisar membalikan tubuhnya dan melihat wajah Adelia yang tanpa beban saat memanggil Anhar. Ia segera menghampiri Adelia.


"Ma..."


Adelia tersenyum pada Kaisar dan mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Kaisar. "Tidak apa, Kai. Semua harus segera di selesaikan agar tidak ada masalah kembali di masa depan."


Kaisar diam untuk mencerna perkataan Adelia.


"Kita ke kamar perawatan Keii, kita bicara disana." Ajak adelia.


"Tapi, Ma.. Dia...." Kata Kaisar menggantung kalimatnya.


"Biarkan Papamu ikut." Ucap Adelia dan Kaisar terlihat ragu.


"Semua harus di selesaikan, Kai." Ucap Adelia lagi dengan meyakinkan.


"Adel, bisakah kita bicara berdua dulu?" Sahut Anhar yang ingin berbicara dengan Anhar.


Adelia menatap wajah Anhar, wajah pria yang dulu begitu ia cintai namun dengan tega menggoreskan luka di hati Adelia.


"Di antara kita sudah tidak ada yang harus di bicarakan lagi, Mas. Aku hanya ingin meluruskan semua masalah ini di depan anak anak agar tidak ada kesalahan di masa depan nanti." Balas Adelia.


Anhar tidak bisa memaksa, di sini Anhar lah yang salah, setidaknya Adelia mau meluruskan semuanya meski di depan putra putri mereka.


Adelia dan Kaisar berjalan bersama menuju ruang perawatan Keiina, sementara Anhar hanya bisa mengikuti dari belakang dan menatap punggung dua orang yang dia cintai.


Keiina baru saja selesai memakan sarapan paginya sambil di temani oleh Ryu. Tak sedetikpun Ryu meninggalkan Keiina dan dengan setia menunggui Keiina di ruang perawatannya.


Kaisar dan Adelia juga Anhar masuk ke dalam ruang perawatan Keiiina, membuat Keiina dan Ryu langsung menoleh ke arah pintu masuk.


"Kak Kai.. Mama...." Panggil Keiina dan kemudian Keiina mematung saat melihat keberadaan Anhar dibelakang Kaisar dan Adelia.


Adelia mendekat pada Keiina, "Ma, kenapa dia di sini?" Tanya Keiina bingung.


"Tidak apa apa Keii, mama hanya ingin menjelaskan sesuatu di sini dan di depan kalian." Kata Adelia selembut mungkin.


"Kalau begitu, saya permisi dulu mau melihat Audrey dan Mama saya di atas." Kata Ryu dengan sopan.

__ADS_1


Adelia tersenyum, "Terimakasih telah menjaga Keii, Nak Ryu."


"Sama sama, Tante." Balas Ryu.


Setelah Ryu meninggalkan kamar perawatan Keiina, tinggalah Adelia, Kaisar, Keiina dan Anhar.


"Mas Anhar..." kata Adelia membuka pembicaraan.


Anhar terus terusan menatap wajah Adelia yang masih terlihat cantik meski di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Sebelumnya aku minta maaf karena menyembunyikan Keiina darimu." Adelia menghela nafasnya sejenak. "Bukan aku ingin menyembunyikannya, namun aku tidak ingin kamu mengambil Keiina dari ku seperti dulu kamu mengambil Kaisar dari sisi ku, memisahkan aku dengan Kaisar dan membiarkan aku hanya hidup seorang diri."


Kaisar dan Keiina hanya saling menggenggam tangan, menguatkan satu sama lain saat mendengar cerita dari Adelia.


"Kaisar, Mama juga ingin meminta maaf padamu karena meninggalkanmu tanpa bisa membawamu, karena saat itu Mama tak bisa melakukan apapun selain berpikir untuk mempertahankan adikmu keii di perut Mama dan melahirkannya untuk menemani hidup Mama."


"Mama juga minta maaf pada Keii, karena tak pernah bisa memberikan keluarga yang utuh, karena keterbatasan Mama. Maafkan Mama karena Mama, Keii menjadi seperti ini."


Keiina menangis, Kaisar merangkulnya dan mengusap bahunya.


"Pria di hadapan kita ini, dia adalah Tuan Anhar Wiguna, ayah dari kalian. Mungkin Kai tau, tapi Keii, kini kamupun harus tau jika pria di depan mu ini adalah Papamu." Ucap Adelia dengan suara hampir tercekat.


"Maaf...." Satu kata keluar dari mulut Anhar.


"Mama hanya ingin memberitahumu, Keii. Meski kamu terlahir tanpa seorang Ayah, namun kamu tetap memiliki Ayah." Balas Adelia. "Meski ternyata kamu sudah mengetahui jika dia adalah Ayahmu, bertemu dengan diam diam dengan niat membalas dendam, Mama hanya ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara memperkenalkan dia secara resmi padamu, jika dia adalah Tuan Anhar Wiguna, Papamu."


Hening, hanya terdengar suara isakan tangis Keiina.


"Maafkan aku, Adel, Kai, Keii. Maafkan aku." Anhar berlutut di depan brangkar Keiina. "Aku memang tidak pantas mendapati pengampunan dari kalian, tapi sungguh aku menyesali semuanya." Kini Anhar menangis karena penyesalannya.


"Maafkan luka yang aku torehkan, maafkan aku." Anhar menangis sesenggukan.


Namun tangisannya tak membuat hati Adelia melembut. Adelia telah mati rasa dan tidak lagi perduli pada mantan suaminya itu.


"Apa kata maaf yang kau ucapkan bisa mengobati luka hati kami?" Tanya Keiina dengan sinis. "Aku membencimu, sangat membencimu."


"Beri aku kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya." Kata Anhar yang merangkak ke arah Adelia. "Aku mohon Adelia, beri aku kesampatan." Pintanya memohon.


"Maaf, Mas. Aku memang sudah memaafkanmu. Namun untuk memberimu kesempatan, aku tidak bisa." Kata Adelia dengan tegas.


"Adel...." Lirih Anhar.

__ADS_1


"Aku sudah tidak bisa memberi kesempatan apapun padamu, karena kamu sendiri yang dulu membuangku, Mas. Kamu sendiri yang menceraikanku dan menyuruhku untuk meninggalkan rumahmu." Kata Adelia dengan nada tenang.


"Jika kamu ingin meminta kesempatan, mintalah pada ke dua anak anakmu, mintalah kesempatan untuk menjadi seorang Ayah yang berguna untuk anak anaknya. Bersikaplah baik layaknya seorang Ayah pada umumnya." Kata Adelia lagi.


Anhar hanya menunduk, meresapi semua perkataan Adelia. Adelia tidak memberinya kesempatan, wajar saja karena Anhar membuangnya dengan begitu mudah, bahkan tangisan Adelia di masa lalu yang memohon untuk tidak di ceraikan oleh Anhar tidak di dengarkan oleh Anhar. Anhar mengingat semua perlakuannya dulu pada Adelia.


"Kai.. Keii.. Mama tidak ingin kalian menjadi anak yang penuh dendam. Meski bagaimanapun, dia adalah Papa kalian, biarlah permasalahan Mama dan Papa kalian menjadi masa lalu kami dan kami yang menguburnya." Kata Adelia dengan bijak.


"Hentikan semua dendam ini, jika kalian tidak ingin bersama Papa kalian, setidaknya jangan memusuhinya. Maafkanlah semua kesalahannya dan hiduplah dengan baik, dengan cinta yang pernah mama ajarkan untuk kalian, Mama memohon pada kalian, hentikan dendam kalian dalam bentuk apapun. Mari hidup bahagia dengan hati yang lapang." Adelia menitikan air matanya dan mengusapnya dengan cepat.


Semua perkataan Adelia seperti belati yang menghujam hati Anhar, Anhar benar benar menyesali perbuatannya di masa lalu, kini ia tidak bisa memutar waktu, tidak bisa mengembalikan waktu karena Adelia sudah benar benar menutup hatinya untuk memberikannya sebuah kesempatan.


"Pergilah." Kata Kaisar tiba tiba.


Anhar melihat ke arah Kaisar.


"Pergilah, Pa.." Kata Kaisar dengan menyebut kata Papa, sudah dua puluh tahun lebih lamanya Kaisar tidak memanggilnya Papa.


"Hiduplah dengan baik setelah ini, jangan mengganggu kami yang sudah terbiasa tanpamu. Kami memaafkanmu hanya saja kami tidak bisa lagi bersamamu." Kata Kaisar lagi.


"Kai..." Lirih Anhar namun Kasiar hanya diam.


Lalu pandangan Anhar beralih pada Keiina yang masih berada dalam dekapan Kaisar. "Keii putriku.." Lirih Anhar.


Keiina hanya menangis dalam dekapan Kaisar.


Adelia mendekat pada Keiina. "Keii, kamu ingin bicara dengan Papamu?" Tanya Adelia.


Keiina menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin Keii? Mama akan meninggalkanmu dengan Papamu jika ingin berbicara berdua." Kata Adelia lagi.


"Keii yakin, Ma.. Keii sangat yakin.. Keii membencinya, Keii tidak punya Papa.. Keii hanya punya Mama dan Kak Kai. Jangan paksa Keii untuk mengakuinya, dia bukan Papa Keii, Papa Keii sudah mati." Keiina menangis histeris.


Semua perkataan Keiina dan tangisannya begitu membuat hati Anhar sakit.


"Begini rasanya tidak di inginkan dan berpisah dengan orang yang di sayangi." Gumamnya dalam hati.


...****************...


Catatan Author:

__ADS_1


Tidak ada kesempatan untuk para pelaku pengkhianat.


Betul apa betul?


__ADS_2