
Enam bulan kemudian.
Audrey tengah merasakan tubuhnya yang berubah drastis. Ia berkaca dan melihat tubuhnya yang lebih berisi.
"Ini pasti karena obat obat penyubur kandungan." Kata Audrey sedikit tidak percaya diri.
Kaisar memeluk Audrey dari belakang, "Kamu seksi, jangan merasa insecure." Ucap Kaisar sambil mencium ceruk leher Audrey.
Memang sudah enam bulan ini Audrey dan Kaisar menjalankan program kehamilan, meski belum ada hasilnya, namun Audrey dan Kaisar terus berusaha. Merekapun menjalani proses bayi tabung dan berharap akan berhasil.
"Aku takut kamu selingkuh." Kata Audrey.
Kaisar membalikan tubuh Audrey. "Hey.." Kaisar menatap wajah Audrey. "Itu tidak akan terjadi." Ucapnya lalu mengecup kening Audrey.
Tangan Audrey melingkar di perut Kaisar, "Bagaimana jika bayi tabung pun tidak berhasil?"
"Tidak apa apa Audrey, jangan terlalu menjadikannya beban. Kamu harus bahagia bersamaku." Kaisar mengeratkan pelukannya.
"Ayo kita berangkat." Ajak Kaisar.
Mereka memang akan melakukan check up kembali hari ini. Bertemu dengan dokter yang dipilihkan oleh Regan untuk proses program kehamilan Audrey dan Kaisar.
Dokter Vera tersenyum saat menempelkan alat USG di atas perut Audrey.
"Apa anda belum tespek?" Tanya dokter Vera.
"Belum dok, saya takut jika hasilnya negatif lagi." Jawab Audrey.
Kaisar dengan setia menggenggam tangan Audrey saat Audrey menjawab pertanyaan dokter Vera.
"Kalian lihatlah ini." Kata dokter Vera.
Kaisar dan Audrey menatap layar monitor di depan Audrey.
"Ini kantung rahim." Kata dokter Vera sedikit menjelaskan. "Dan titik titik ini, adalah janin kalian." Imbuhnya lagi.
Kaisar menyipitkan matanya melihat pada layar datar yang menunjukan kondisi rahim Audrey.
"Apa itu artinya?" Tanya Audrey penuh harap.
"Selamat Tuan Kai, Nyonya Audrey. Program inseminasi kalian berhasil."
Audrey menatap wajah dokter Vera. "Dokter gak lagi bercanda kan?" Tanyanya penuh harap.
"Tentu saja tidak, Nyonya. Saya pastikan anda sedang mengandung dengan usia kandungan enam minggu." Jawabnya lagi dan membuat Audrey menutup mata nya.
__ADS_1
Audrey menangis merasa terharu, Kaisar terus saja menciumi genggaman tangan Audrey dan mengucap syukur.
Mereka kembali fokus menatap layar datar 32 inchi itu.
"Tiga titik itu maksdunya apa dok?" Tanya Kaisar.
Pertanyaan yang sedari tadi ingin dokter Vera dengar.
"Itu adalah tiga janin kalian. Kalian akan memiliki triplets atau kembar tiga." Kata dokter Vera dengan tersenyum.
"Tiga dok?" Tanya Audrey tak percaya.
Dokter Vera mengangguk, "Kalian program untuk memiliki bayi kembar, tapi sepertinya Tuhan memberikan kalian bonus dengan menambahkannya satu."
Kaisar mengusap wajahnya tanda syukur, kemudian ia mendekat ke wajah Audrey. "Tiga, Sayang." Ucapnya bahagia.
Audrey mengangguk. "Tiga." Gumamnya bahagia.
Sementara itu di tempat yang lain, Keiina hidup kembali normal meski masih dalam pengawasan dokter ahli. Hingga detik ini, Keiina masih tidak tau siap orang baik hati yang mendonorkan ginjalnya. Bahkan Ryu sendiri juga tidak mengetahuinya.
Kini Keiina hidup dengan pola hidup sehat, ia juga berolah raga ringan dan Ryu sangat menyukai perubahan itu. Bahkan Keiina sudah memutuskan ingin juga segera hamil jika memang kondisinya sudah stabil. Namun dokter menyarankan untuk menunggu enam bulan pasca operasi transplantasi ginjal agar kondisi tubuh Keiina benar benar pulih.
Ryu memberi kejutan pada Keiina dengan memberikannya buket mawar merah muda kesukaan Keiina. Ryu bersyukur setelah Keiina di berikan kesempatan untuk lebih sehat membuat Keiina bersikap lebih manis lagi pada Ryu.
"Cantik sekali bunganya." Kata Keiina saat menerima buket bunga dan mencium aromanya.
Keiina berdiri dari duduknya dan mengecup sekilas bibir Ryu. "Aku mencintaimu."
"Aku tau." Balas Ryu. "Tapi kamu harus tau, jika aku yang lebih mencintaimu." Ryu memeluk Keiina dengan erat.
"Bersiaplah, Mas. Kak Kai mengundang kita untuk makan malam di rumah. Kita sekalian menginap ya?" Pinta Keiina.
"Tentu saja, Baby. Sebentar aku membersihkan diri dulu." Ucapnya.
Kini.. Mereka semua berada di rumah Adelia, makan malam bersama dengan begitu ceria.
Hingga mereka selesai makan dan pelayan menyajikan puding lemon sebagai makanan penutup, Kaisar berdiri dari duduknya.
"Sengaja aku ingin makan malam bersama keluargaku malam ini. Karena aku akan memberikan sebuah berita gembira dariku juga Audrey." Ucap Kisar.
Mutia dan Adelia bisa menebak meski mereka belum yakin, dan lebih memilih menunggu apa yang akan di sampaikan oleh putranya.
"Audrey, di nyatakan hamil enam minggu oleh dokter." Kata Kaisar pada akhirnya membuat semua mengusap wajahnya tanda syukur.
Keiina yang berada di sebelah Audrey segera memeluk Audrey dan memberinya ucapan kata selamat.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Keii. Terlalu dini mengucapkan kata selamat karena belum semua aku beritahu." Kata Kaisar.
"Apa lagi, Kak?" Tanya Keiina yang juga ikut merasakan kebahagiaan itu.
Kaisar menatap wajah Audrey dan mereka saling melempar senyum.
"Audrey bukan hanya mengandung satu bayi."
"Aaaahhh, jadi kembar?" Tanya Keiina antusias.
"Sebentar, Keii.. Kakak belum selesai." Ucap Kaisar lagi membuat Keiina menahan dirinya untuk memeluk Ausrey lagi.
"Apa lagi, Kak." Kata Keiina dengan kesal, karena Keiina masih ingin memeluk Audrey.
"Baby..." Panggil Ryu dan Keiina kembali duduk dengan benar di posisinya.
Kaisar tersenyum melihat ke antusiasan Keiina.
"Aku dan Audrey akan memiliki tiga bayi sekaligus." Kata Kaisar pada akhirnya dan membuat Mutia juga Adelia menutup mulutnya karena terkejut.
"Aaaaa Triplets..." Teriak Keiina yang kini benar benar memeluk Audrey.
"Ini kejutan sekali, kurang dalam waktu satu tahun, rumah ini akan ramai dengan tiga suara bayi yang saling bersahutan." Kata Mutia yang ikut berdiri lalu memeluk Kaisar, kemudian menghampiri Audrey dan juga memeluknya.
"Terimakasih Audrey, Oma sangat berterimakasih padamu." Kata Mutia dengan mata mengembun.
Adelia juga melakukan hal yang sama pada Kaisar. "Selamat, Sayang. Kamu akan segera menjadi seorang Papa. Tanggung jawabmu bertambah, dan kamu harus semakin kuat."
Kaisar mengangguk, "Tentu, Ma. Kai akan selalu kuat karena Audrey slalu bersama Kai." Jawab Kaisar.
Adelia pun mendekat dan memeluk Audrey, lalu mengusap perut Audrey, "Baik baik disini, Sayang. Oma menunggu kalian." Kata Adelia yang membuat Audrey terharu.
"Lebih baik kamar kalian pindah ke bawah, Audrey bukan hanya mengandung satu bayi, namun tiga. Bahaya jika tidur di lantai dua meski ada lift di rumah ini." Kata Mutia.
"Ya, Mama setuju akan hal itu." Sahut Adelia.
"Iya Ma, kami juga bepikir seperti itu. Kai akan merenovasi kamar bawah agar nyaman untuk Audrey." Ucap Kaisar.
Mutia tersenyum, "Beri tahu kabar baik ini pada Papamu juga, Kai. Sudah lama sekali Papa mu tidak pernah menghubungi Mama." Ucap Mutia yang kini kembali duduk di tempatnya.
"Kai juga sudah lama tidak bertemu Papa, setiap rapat anak cabang perusahaan, Papa hanya di wakili oleh Om Theo, asistennya." Kata Kaisar.
Mutia merasa tidak enak perasaan, meski bagaimanapun, dirinya tetap menyayangi Anhar meski Anhar tidak terlahir dari rahimnya.
Sementara itu Keiina hanya diam jika Mutia dan Kaisar membahas Anhar. Entah mengapa ada perasaan yang tidak bisa di artikan saat mendengar nama Anhar di dalam pembahasan mereka.
__ADS_1
...****************...