Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Keluar 'kandang'


__ADS_3

"Jam berapa?" tanyaku setelah mempertimbangkan banyak hal.


Sebenarnya aku malas malam ini keluar, karena banyak berkas yang harus aku periksa dan serahkan kembali ke Om Wahyu.


Melihat keinginan Gita yang begitu kuat untuk menerima ajakan kencan Teddy, Langit merasa yakin kata 'jangan pergi' tak akan mampu menahannya di rumah.


"Jam tujuh, Kak. Bener Kak Langit mau nemenin aku?" Dia berjalan mendekat.


Aku hanya mengangguk dan tetap fokus pada isi di piringku, malas rasanya menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban.


"Thank you so much. Kak Langit memang abangku yang paling baeek." Aku terkesiap saat ia memelukku dari samping, walaupun hanya sesaat tapi sesuatu yang tumbuh di dadanya sempat menempel erat di lenganku.


Senang? jelas senang, pria mana yang tidak bahagia dapat asupan gizi mendadak seperti tadi, tapi rasa senangnya sedikit berkurang kadarnya, gara-gara keluar kata 'Abangku' dari mulut si Empi.


"Taan, Gita pulang dulu ya."


"Loh, kamu ga makan dulu?" Mama keluar dari dapur dengan membawa beberapa kotak superware, yang sudah bisa dipastikan isinya makanan untuk Tante Silvi.


"Udah tadi incip-icip ueeennaaak pokoknya masakan Tante Laras nih ga ada duonyooo." Empi ini memang paling pinter mengambil hati. Hatiku pun sudah dia ambil dan lupa dikembalikan lagi ... huuhh.


"Ngerayu paling jago memang Gita ini. Makanya sering-sering datang ke sini, tante ga ada temannya. Langit sejak pegang kantor Papanya, hampir ga pernah keluar kamar. Turun cuman untuk makan lalu pergi aja."


"Kak Langit suruh kawin aja, nanti rumahnya jadi rame sama cucu." Aku langsung melotot mendengar usulan gilanya.


"Mau kawin sama siapa? ga pernah tuh dia bawa pacar ke rumah."


"Bukan suka sama cewek kali?" Apa pula maksudnya cewek ini, dia kira aku penyuka sesama batang? beraninya dia.


"Maksudnya? ...." Mama memandangku curiga, oke stop! Sebelum pembicaraan semakin kemana-mana aku harus segera menghentikan.


"Nanti jadi ga?" Aku bertanya dengan nada mengancam. Rupanya dia sudah mengerti, dengan cengar-cengir setelah mengucapkan salam ia langsung melesat kembali pulang.


...❤...


Sebelum jam tujuh Langit sudah duduk di ruang tamu Gita.


"Kalian mau kemana to Lang?" tanya Mama Gita.


"Keluar jalan aja, Tan. Bosen di rumah terus."


"Oww iya sih, jangan malam-malam ya pulangnya." Benar perkiraan Gita, kemanapun dan alasan apapun jika bersama Langit semua akan lancar soal perijinan.


"Yuk, Kak." Tidak berapa lama Gita keluar dari kamar, dan langsung menggamit lengan Langit tidak sabar.


"Kamu mau jalan ato mo lenong?, hapus!" Langit terbelalak menatap wajah Gita, ia hampir tidak mengenali wajah gadis itu dengan make up yang super tebal menurutnya

__ADS_1


"Iiihh, ini dua jam aku dandannya pake lihat tutorial dari yutub segala loh."


"Ga!, malu aku nanti dikira jalan sama pemain lenong." Tanpa meminta ijin, Langit mengambil tisu di atas meja dan langsung menghapus warna yang berlebihan di pipi, bibir dan mata Gita.


"Jadi pergi ga ini?" Saat mulut Gita sudah siap memberikan perlawanan, Langit langsung mengeluarkan kalimat pamungkas.


"Itu apa?" Langit melirik curiga dengan paper bag yang di sembunyikan Gita di balik punggungnya.


"Punya temen nitip, ayo buruan." Dengan tidak sabar Gita mendorong Langit ke arah pintu keluar.


"Loh Kak Langit kok naik mobil?, malam minggu gini macet loh." Jika biasanya wanita tersanjung saat dijemput dengan mobil mewah, lain halnya dengan Gita soal materi belum dapat menyilaukan matanya.


"Bau asep," ucap Langit singkat.


"Ikut masuk?" tanya Gita ragu, saat Langit mengarahkan mobilnya masuk terus ke dalam gedung apartment mewah itu untuk mencari tempat parkir.


"Jelas, kenapa kamu keberatan?"


"Ga sih," Wajah Gita berubah sedikit tidak nyaman.


Langit menghentikan mobilnya di lantai dua puluh, lalu mereka berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai enam puluh di mana kesenangan sesaat malam ini akan berlangsung.


Pintu lift terbuka mereka di sambut dengan getaran lantai akibat dari dentuman musik yang sangat keras. Padahal ruangan yang akan mereka tuju masih ada beberapa meter di depan.


Saat keluar lift mereka bergantian dengan sepasang muda mudi yang sudah terlihat mabuk. Tanpa malu-malu mereka saling memeluk dan berci*uman.


Langit menarik tangan Gita segera menjauh dari sepasang muda mudi yang sudah panas itu.


"Me-mereka kok ga malu gitu ya?" Sambil berjalan cepat berusaha mengikuti langkah Langit, Gita masih menyempatkan menoleh lagi kebelakang.


"Ga usah pake dilihat lagi, jadi kepingin nanti susah sendiri." Gita bergidik mendengar kalimat Langit.


Club malam yang mereka datangi berada di rooftop apartment. Masuk dari pintu yang sangat besar, berjalan terus melewati beberapa ruang yang terlihat eksklusif mereka akhirnya tiba di ruang terbuka dengan ketinggian enam puluh lantai.


"Mmm, Kak Langit sana deh cari cewek, kita pisah di sini." Belum sempat Langit menjawab, Gita berlari masuk ke dalam toilet wanita.


Mata Langit hampir lepas dari tempatnya, saat melihat Gita keluar dari toilet dengan dress satin hitam di atas lutut dengan dada rendah dan punggung terbuka.


"GANTI BAJUMU!" Langit mencekal lengan Gita, suaranya yang keras teredam oleh dentuman musik live yang di sajikan sebuah band rock dari atas panggung.


"GA MAU!" Gita berontak berusaha melepaskan diri.


"Heeii beib, you're so gorgeous." Teddy mendekat dan langsung menggamit pinggang Gita.


"Aku pikir kamu ga jadi dateng tadi, yuk." Tanpa menghiraukan adanya Langit, Teddy menggiring Gita ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul.

__ADS_1


Langit ingin menahan Gita, namun ia tidak ingin membuat keributan di tempat yang bukan daerah kekuasaannya.


Selain itu, dia bukan siapa-siapa bagi Gita, dan gadis itu juga terlihat menginginkan berada di samping pria itu.


Langit mengambil posisi di mana ia bisa melihat Gita dari jauh. Matanya hampir tidak berkedip, mengawasi pergerakan Gita dan Teddy.


Saat tangan Teddy sudah mulai bergerak menyentuh leher Gita, dan bibirnya mendekat ke wajah, Langit langsung berdiri dan menarik tangan Gita.


"PULANG!"


"Heii, jangan ganggu dong. Kamu cari wanitamu sendiri malam ini." Teddy mendorong tubuh Langit.


"Aku sedang tidak ingin berkelahi malam ini, aku hanya mau membawanya pulang sekarang."


"Kamu siapanya sih?"


"Orang yang dipercaya keluarga Gita untuk menjaganya," ucapan Langit membuat Teddy mundur satu langkah memberikan jalan untuk Gita.


"Aku belum mau pulang," cicit Gita.


"Oke, biar Mamamu yang jemput kamu di sini." Langit berlagak mengambil ponselnya dan mencari nama Tante Silvi, Mama Gita.


"Iyaa, iyaa! aku pulang sekarang." Gita menahan tangan Langit dengan kesal.


Setelah mengganti pakaiannya, Gita mengikuti Langit dengan langkah menghentak-hentak sampai ke tempat parkir.


"Aku baru aja sampe, sudah disuruh pulang. Kenapa sih Kak Langit ga cari cewek, di sana kan banyak tadi. Gangguin orang pacaran aja," sungut Gita.


"Emang kamu sudah pacaran sama dia? yakin betul kamu?"


"Mana kamu tahu, habis kamu pulang gini tempatmu sudah diisi cewek lain."


"Ya itu gara-gara Kak Langit!, padahal tadi Teddy sudah mau cium aku," ucap Gita dengan wajah merengut.


"Oww, jadi kamu pingin dicium?, kalo tadi ga cuman dicium tapi digrepe-***** juga emang kamu mau?!"


"Ga mungkin Teddy kayak gitu!, Teddy itu orangnya baik banget, semua cewek-cewek di sekolah pasti mau juga dicium Teddy. Aku juga, tapi gara-gara Kak Langit, hilang kesempatanku bisa dicium cowok idola seko---"


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Langit menarik leher Gita mendekat ke arahnya dan langsung menciumnya dengan gemas.


...❤❤...


Terima kasih masih mengikuti


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah kopi ato bunganyaa 🥰🙏

__ADS_1


Mampir ke karya temanku ya



__ADS_2