Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Mantan?


__ADS_3

"Hai," sapa perempuan yang paling tidak ingin ia temui sampai kapanpun. Gita enggan menjawab, ia hanya meberikan tatapan tajamnya pada Gaby yang terlihat sangat ceria pagi ini.


"Aku ga dipersilahkan masuk nih?" ujar Gaby saat melihat Gita masih menghalangi pintu masuk.


"Sebenarnya kalau aku tahu kamu yang datang, untuk buka pintu ini pun, aku males," sahut Gita terang-terangan.


"Ohh, ayolah, Git. Tak bisa kah kita berkawan sedikit? Kita sama-sama di negara asing loh ini, berarti kita saudara."


"Kamu mau apa kesini?" tanya Gita tak sabar.


"Berkunjung ke pengantin baru," ucap Gaby terlihat seperti tidak ada maksud jelek di belakangnya.


"Kamu tau aku sama Kak Langit sudah nikah?"


"Ya taulah, Papaku yang cerita. Aku boleh masuk ga ini? di luar dingin banget loh, Git." Gaby mengusap-usap lengannya. Akhirnya Gita melebarkan pintu dengan berat hati.


"Ga berubah ya," ucap Gaby seraya memutari ruang tengah dan dapur apartment Langit.


"Kamu sering kesini?"


"Sering banget."


"Ngapain aja?" Ingin rasanya menutup mulut, tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar.


"Kamu ga kepingin taulah," ucap Gaby disertai dengan tawa kecil yang misterius. Jawaban yang semakin membuat jiwa penasaran Gita meronta-ronta.


"Ya-ya, kepingin taulah, sekarang aku kan istrinya Kak Langit," ucap Gita berusaha meredam emosinya.


"Yaaah, apa sih yang dilakukan wanita dan laki-laki kalau berduaan aja?" Gaby tertawa kecil, "Masa lalu, Git. Ga usah dipikirkan. Eh, kamu lagi makan siang ya. Lanjut aja deh, maaf aku ganggu." Gaby berjalan anggun ke arah pintu keluar.


Sebelum mencapai pintu keluar ia berbalik, "Eh, sebelum kamu kembali ke Indonesia, nanti aku ajak jalan keliling kota. Mau ya. Kak Langit pasti sibuk, kan? udah biasa itu, kamu pasti bosan ditinggal sendirian." Gaby tersenyum ramah.


"Nanti aku kabari lagi, ya. Bye Gita." Sebelum Gita sempat menjawab ajakan Gaby, perempuan itu sudah berjalan menjauh.


Gita menutup pintu apartment dengan kesal. Ia berjalan ke meja makan dan menutup kembali semua makanan yang sudah ia buka.


"Bikin ga napsu makan aja!"


...❤...


Langit melirik istrinya yang sejak ia pulang tadi, hampir tidak terlihat senyum di bibirnya. Bahkan makanan siang tadi hanya berkurang sedikit.


"Eheem." Langit berdehem mencoba menarik perhatian Gita yang memandang televisi, dengan wajah cemberut, "Mau jalan ga?" tanyanya.


"Dah malam, aku ngantuk, capek."

__ADS_1


"Capek gara-gara semalam atau yang tadi pagi?" goda Langit seraya merapatkan tubuhnya ke arah Gita.


Gita mendengus kesal, "Belagak jual mahal di Indonesia, tapi kalo di sini ternyata .. aaah, sudahlah!" Gita merebahkan diri memunggungi suaminya.


"Kamu ngomongin apa sih?"


"Siapa lagi kalo bukan situ," sahut Gita ketus.


"Aku? jual mahal di Indonesia?" Langit tampak berpikir keras.


"Iya, bilangnya ga suka sama Gaby, tapi jangan-jangan karena sudah bosan aja."


"Hei, hei ada apa ini kok bawa-bawa nama Gaby segala." Langit membalikkan tubuh Gita.


"Ga suka aku nyebut nama mantan Kak Langit?" Gita jika sudah marah, lupa dengan panggilan kesayangannya.


"Mantan??"


"Iya, jujur aja kalo Kak Langit di Inggris, sudah sering berduaan kan sama Gaby di sini?"


"Gaby memang pernah kesini, cukup sering malah, tapi kita ga ngapa-ngapain kok," sahut Langit yakin.


"Bohong banget! mana ada laki-laki sama perempuan satu ruangan tertutup ga ngapa-ngapain."


"Ga usah pake sumpah-sumpah segala!"


"Terus aku harus gimana supaya kamu percaya?" Langit sudah mulai frustasi.


"Ga usah ngapa-ngapain lah, aku cukup tau aja," sahut Gita ketus. Tubuhnya sudah kembali membelakangi Langit.


"Kamu denger dari mana sih?!"


"Sapa lagi kalo bukan mantan Kak Langit yang susah move on!" Gita berbalik menghadap Langit.


"Ngomong yang jelas dong. Mantan apaan, aku deket sama cewek dari dulu sampe sekarang ya cuman satu. Kamu aja!"


"Gaby!" cetus Gita.


"Kan kamu tau sendiri ceritanya, Mpi. Masak harus berulang lagi sih? Kita belum ada seminggu loh nikah, masak sudah ribut?"


"Ribut juga gara-gara Kak Langit yang ga jujur."


"Coba bilang, jujur yang bagaimana yang kamu maksud? Kalo yang kamu bilang tadi aku ngapa-ngapain sama Gaby di apartment ini dengan jelas aku sangkal!" tegas Langit.


"Terus kalo Gaby kesini ngapain dong?" Gita melirik curiga.

__ADS_1


"Makan, masak mie, nonton, ngobrol, udah itu aja. Duduk dan berdiri jarak aku sama dia lebih dari satu meter kok," jelas Langit yakin.


"Tapi kok waktu di Indonesia dia kayaknya dah deket sama Kak Langit?" Gita terus menyelidik.


"Ga tau juga, makanya aku agak risih dengan tingkah dia di Indonesia. Beda banget, selama di sini dulu dia sopan aja."


"Jadi dulu suka?"


Langit melirik istrinya kesal, "Tuduhan baru?" sindirnya.


"Ga nuduh, kan cuman nanya," cicit Gita.


"Masih belum yakin sama aku?" Langit mendekatkan wajahnya, lalu dengan cepat mengecup pipi Gita.


"Gimana mo yakin, Phiu ga jujur," ucap Gita dengan wajah memerah. Tanpa sadar panggilan kesayangan, kembali terucap.


"Aku selalu jujur sama kamu, tidak ada yang aku tutupi sedikitpun. Kamu tau aku dari kita masih kecil, sampai bisa buat bayi kecil seperti sekarang ini, dan kamu masih ragu, hmm??" Langit semakin mendekat. Gita tertawa mendengar perkataan Langit.


"Kamu wanita satu-satunya di hidupku, Empi," Langit menarik dagu Gita dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Wanita satu-satunya? Mama kamu?"


"Ee, itu hal yang berbeda," ucap Langit setelah berpikir sebentar.


"Lagi, yuk." Langit menggodanya dengan kedipan mata, "Capek tadi debat sama kamu, mending capek yang lainnya aja." Langit menarik tubuh Gita ke dalam pelukannya.


...❤❤...


follow IG : Ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2