Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Jangan pukul Gita, Tante


__ADS_3

“Benar apa yang dibilang Gaby?!” tanya Mama Gita. Suaranya terdengar bergetar. Tatapannya antara luka dan marah menjadi satu. Kilatan ingatan dikhianati oleh mantan suami yang berselingkuh dengan anak ABG, membuat emosinya menjadi tidak terkendali.


“Itu tidak benar, Tante,” Langit yang menjawab. Wajah Gita semakin memucat, ia tidak berani mengangkat wajahnya. Kepalanya terus menunduk.


“Maaf, kami pulang dulu,” ucap Mama Gita tidak menghiraukan perkataan Langit. Sedikit agak memaksa, Mama Gita menarik dan mendorongnya ke arah pintu keluar.


Semua yang berada di ruang tamu, hanya diam terpana melihat kejadian itu. Hanya Gaby yang mengulum senyum sinis, saat melihat wajah pucat Gita.


Saat mendengar pintu mobil dibanting, semua seolah tersadar dari keheningan yang ada.


“Aku lihat Gita dulu,” ucap Langit pada Mamanya yang memandang ke arah luar, dengan khawatir.


Gita dan Mamanya baru saja turun dari mobil, saat Langit baru sampai rumah Gita. Tante Silvi setengah menyeret Gita masuk ke dalam rumah.


Wajah Gita sudah terlihat basah oleh air mata. Rupanya di dalam mobil, ia sudah banyak menangis.


“Kenapa kamu masih belum mau bicara??! Jawab Gita!” seru Mamanya.


“Bu-bukan Maaa, itu bohooong hhuuhuhuuu …” Gita terus menangis seraya menutup wajahnya.


“Kalo Gaby bohong, lalu kenapa kamu ga ngelawan dan cuman bisa nangis?!” Gita tidak menjawab. Ia masih terus menangis tersedu karena ketakutan.


“Kamu mau jadi apa, hah?!”


“Mau jadi pelacur??!!”


“JAWAB GITA!!” Tante Silvi berteriak semakin kencang.


“Maaf, Maaa … ampuuuunnn.” Gita semakin mengkerut ketakutan.


“Jadi benar kamu simpanannya om-om??!” Mama memandangnya jijik dan marah.


“Buuukaannn.” Gita menggeleng panik, “Jangaan Maaa!” seru Gita seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya, saat Mamanya sudah mengayun tangannya keatas.


“Jangan, Tante!” Langit yang dari tadi masih mengamati dari teras rumah, berlari mendekat dan langsung merengkuh tubuh Gita yang ketakutan.


“Jangan pukul Gita, Tan. Saya mohon.” Langit menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya. Sebelah tangannya menghadang Mama Gita agar tidak mendekat, sebelahnya lagi memeluk serta menutup wajah Gita yang menempel di dadanya.


“Dia harus diberi pelajaran, Lang! Tante malu punya anak seperti dia!” seru Tante Silvi emosi. Tangis Gita semakin menjadi, saat mendengar perkataan Mamanya.


“Tante salah sangka, semua tidak seperti yang Tante bayangkan.”


“Dia sudah berbohong, Lang!”


“Saya tau semuanya, Tan, dan saya jamin, Gita bukan seperti yang dibilang oleh Gaby.”


Perlahan emosi Mama Gita terlihat mengendur terlihat dari raut wajahnya, tapi nafasnya masih sedikit menderu.


“Tolong biarkan Gita istirahat dulu ya, Tan. Mungkin dia masih kaget.” Langit memohon. Mama Gita hanya mengangguk lalu duduk di sofa.


“Git, kamu masuk kamar dulu. Biar aku yang jelaskan sama Mama kamu,” bisik Langit.

__ADS_1


“Git,” panggil Langit lagi saat tidak ada pergerakan dari gadis itu. Gita bukannya tidak mendengar, dia hanya belum rela melepaskan pelukannya pada tubuh Langit.


Sejenak ia lupa pada Mamanya yang berteriak tadi. Bersandar di dada Langit, membuatnya merasa nyaman. Aroma khas Langit memberinya ketenangan.


“Git,” panggil Langit lagi. Kali ini ia terpaksa melepaskan pelukannya, karena Langit menjauhkan tubuhnya lalu menunduk untuk melihat wajahnya dari dekat.


“Kamu ga pa-pa?” tanya Langit sambil menangkup pipi Gita.


Gita mengangguk dan terus berusaha menunduk, agar rona merah di wajahnya tidak terlihat oleh Langit.


“Masuk kamar dulu ya, aku mau bicara sama Mamamu," bujuk Langit.


“Maaf, Tan. Boleh bicara sebentar?” Langit duduk di hadapan Mama Gita setelah memastikan, jika Gita sudah masuk ke dalam kamarnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Lang? Apa yang Tante tidak tahu?” Mama Gita terlihat lelah dan sedih.


“Sebelumnya saya mau minta maaf, karena tidak menyampaikan hal ini pada Tante dan Bima.”


Langit mulai menceritakan kepada Mama Gita sejak awal. Saat Teddy mengajak Gita pergi ke tempat hiburan malam, dan ia sebagai tamengnya. Tentunya ia tidak menceritakan moment saat ia mencium Gita.


Lalu ia melanjutkan cerita saat Teddy berusaha menjerumuskan Gita, ke dalam dunia prositusi dengan dalih mempunyai Ayah pengganti. Tentunya ia juga tidak menceritakan perihal Anggita.


“Teddy yang dulu pernah kesini jemput Gita?” Langit mengangguk membenarkan.


“Bahaya sekali anak itu, Lang. Kenapa ga dilaporkan polisi?”


“Sudah dalam pengawasan yang berwajib, Tan.”


“Kamu yakin Gita aman, Lang?” tanya Mama Gita khawatir.


“Terima kasih, Lang. Kalo ga ada kamu … aahhh, ga tau jadi apa Gita sekarang.” Mama Gita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Saya janji akan terus menjaga Gita," ucap Langit yakin.


...❤...


“Lang, bagaimana Gita?” Baru saja ia akan naik ke kamarnya, Mamanya keluar dari kamar dan memanggilnya.


“Hampir aja di pukul, Ma.” Langit mengikuti Mamanya duduk di kursi meja makan.


“Untung kamu cepat datang,” ucap Mamanya sambil menyodorkan secangkir teh hangat.


“Iyaa,” sahut Langit singkat. Ia mengusap wajah dan menyugar rambutnya. Seketika tubuhnya terasa sangat letih.


“Benar yang dibilang sama Gaby tadi?” tanya Mamanya hati-hati.


“Bohong,” Langit tertawa sinis, “Itu cuman gosip ga benar, Tante Silvi juga sudah aku ceritakan semuanya.”


“Iyaa, Mama tadi juga ga percaya kok.”


“Lang, gimana penawaran Om Wahyu, kamu mau tunangan sama Gaby?”

__ADS_1


“Menurut Mama?” tanya Langit balik dengan wajah tak suka.


“Menurut Mama sih kamu ga mau.”


“Ya itu tau.” Mama Langit tersenyum simpul mendengar nada suara putranya yang kesal.


“Jadi kamu maunya tunangan sama siapa?” tanya Mamanya menggoda.


“Menurut Mama siapa?” tanya Langit balik. Ia tahu Mamanya sedang menggodanya, dan ia masih merasa malu untuk mengungkapkan secara terang-terangan.


“Mmm, siapa ya? … Empi mungkin?” mata mama mengerling.


“Ga mau ah,” sahut Langit.


“Loh??” Mamanya terkejut tak menyangka jawaban Langit yang menolak.


“Ga mau kalo cuman tunangan, aku maunya langsung kawin aja,” ujar Langit seraya tertawa terbahak-bahak, lalu berlari ke atas menghindar dari cubitan Mamanya.


...❤...


“Gita, Mama boleh masuk?” Mamanya mengetuk pintu lalu memanggil namanya, menunggu untuk dibukakan pintu kamar oleh putrinya.


“Masuk aja, Ma.” Gita membuka pintu dan kembali lagi ke atas ranjangnya.


“Langit sudah cerita semuanya.” Mama mengikuti dirinya duduk di atas ranjang.


“Mama … minta maaf,” Tangan Mama mengusap pipi yang hampir ia tampar lagi.


“Gita yang harus minta maaf sama Mama.” Gita kembali terisak.


“Mama benar, Gita sudah berbohong. Gita ga jujur mau ke diskotik, tapi Gita benar-benar ga tau kalo Teddy itu niatnya nawarin Gita ke om-om hidung belang, Ma. Kalo ga ada Kak Langit, mungkin ….” Gita semakin tersedu ketakutan.


“Ga apa-apa. Itu berarti kamu masih dilindungi. Ini pelajaran berharga, Git. Jangan mudah percaya dengan orang lain. Tidak semua orang itu baik dan tulus, dan jangan pernah memandang orang hanya dari fisiknya yang indah.” Mama terus memberikan petuahnya, seraya memeluk dan mengusap-usap punggung putri satu-satunya.


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


Mampir ke karya teman aku ya



__ADS_2