
“Ya ga mungkin lah, mana berani aku sama abangnya yang galak.”
“Terus kenapa harus buru-buru?? Aku ini abangnya pacar aja belum punya loh, Lang. Gini banget kamu jadi temen. Tega sama calon kakak ipar,” Bima mulai merajuk.
“Abis gimana dong, adikmu terlalu sayang kalo keduluan diambil sama orang lain,” Langit terkekeh, suatu kepuasan baginya jika bisa satu langkah di depan sahabatnya itu.
“Tapi kalian belum … ngapa-ngapin kan?” Bima memandangnya curiga.
“Ngapa-ngapain yang bagaimana dulu? Kalo maksud kamu yang enak-enak yaaa ….” Langit sengaja menggantung kalimatnya.
“Set*an lu!” Bima melempar bantal kursi ke arah Langit.
“Selaluuu aja ribut kalo ketemu, kayak tom and jerry.” Gita menaruh dua cangkir teh di atas meja teras.
“Git, kamu sudah diapain sama dia?”
“Diapain?! Jangan aneh-aneh kalo nanya!” sergah Gita kesal, lalu langsung kembali ke dalam rumah. Langit makin tertawa keras.
“Ga usah macem-macem kamu, aku ini walinya Gita. Aku ga kasih ijin, bubar acaramu,” ancam Bima.
“Waduh, aku harus sungkem dong. Tenang aku sudah siapkan hadiah khusus karena sudah melangkahi kakak tersayang,” ucap Langit masih menyisakan tawanya.
Bima menarik nafas panjang, ia memandang jauh kedepan dengan tatapan sendu, “Aku ga minta apa-apa, Lang. aku cuman minta kamu jaga adekku baik-baik. Jangan kamu sakiti dan buat dia sedih. Dia itu kesayangan kami,” ucap Bima.
Langit tidak langsung merespon perkataan Bima, ia hanya menatap sahabatnya itu sambil tersenyum, “Kamu kalo gini jadi keliatan tambah tua, Bim. Cepet cari jodoh gih, keduluan ponakanmu lahir loh,” seloroh Langit.
“Sia*lan!” Bima kembali melempar bantal kursi kedua. Langit sedang dalam suasana hati yang sangat bahagia, seakan tidak terpengaruh dengan pesan puitis Bima.
...❤...
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Gita duduk di depan cermin dengan gaun pengantin dan rias wajah yang terlihat sempurna.
“Takut,” cicitnya. Tangannya tidak mau melepas genggaman pada tangan Lea, istri dari sepupunya.
Mamanya dan Bima, sudah duduk di ruang tamu untuk menyambut tamu dan rombongan dari keluarga Langit.
__ADS_1
“Takut apa?” tanya Lea.
“Nikah itu serem ga sih?”
“Tergantung dari sisi mana kita lihatnya.”
“Duh, itu artinya apa lagi? Susah banget.” Lea terkekeh melihat Gita yang merengut.
Ia paham otak gadis itu sedang tidak mau diajak berpikir berat di saat yang menegangkan ini, sama seperti dulu saat ia akan menikah dengan sepupu Gita.
“Kalo kamu menikah dengan orang yang tepat, pasti hidupmy bahagia dan tidak seseram yang kamu bayangkan.” Gita terdiam memikirkan arti kalimat yang diutarakan istri sepupunya itu.
“Kak Lea, jadi istri itu harus bisa masak, nyuci sama bersih-bersih rumah ya?”
“Mmmm ….” Lea bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan yang dilontarkan pengantin wanita, yang masih sangat muda ini.
Jika ia menjawab harus bisa, yang dikhawatirkan Gita langsung ngambek dan membatalkan pernikahan.
“Gita, sudah siap sayang? Ayo keluar sudah ditunggu.” Untunglah Mama Langit menyela dari balik pintu.
“Duh, mantuku cantik banget,” puji Mama Langit. Lea menyerahkan Gita pada calon mertuanya.
“Tangannya dingin sekali, kamu tegang?" tanya Mama Langit. Gita menjawab dengan anggukan kepala dan raut wajah yang kalut.
“Ga pa-pa, wajar itu. Nanti kalo sudah selesai akad biasa sudah lebih tenang, ayuk Langit sama saudara yang lain sudah tunggu di depan.”
Saat Gita masuk ke dalam ruang tamu di mana sudah banyak tamu yang menuggunya, semua mata langsung terarah padanya.
Tatapan kagum dari kerabatnya dan keluarga Langit tertuju padanya. Ia bagaikan boneka hidup yang sedang berjalan di antara para tamu. Gadis kecil yang mungkin lebih pantas menjadi pagar ayu dari pada sebagai mempelai wanita.
Gita melihat kedua sahabatnya, Anggita dan Nindy juga ada di antara para tamu yang hadir. Keduanya terlihat antusias melambaikan tangannya saat Gita melewati mereka.
Langit memutar tubuhnya, saat menyadari Gita berjalan mendekat ke arahnya. Spontan mulutnya terbuka melihat penampilan calon istrinya itu. Wajah yang tidak pernah tersentuh oleh make up, sekarang terlihat begitu berbeda namun tidak menghilangkan ciri khasnya sebagai anak reamaja.
Mama Langit mengarahkan Gita untuk duduk di samping Langit. Sedangkan Mama Gita membantu mengenakan kain di atas kepala calon pengantin.
__ADS_1
“Mas … Mas, nanti lagi dilihatnya. Sekarang lihat ke arah saya dulu ya,” celetuk penghulu menyadarkan Langit yang matanya tidak lepas dari calon istrinya. Bima yang duduk di sebelah penghulu, tertunduk menahan tawanya.
“Benar ya, ini pasangannya. Bisa sama-sama dilirik dulu cuman memastikan jangan sampai salah,” ucap penghulu.
Setelah membacakan pesan dan mas kawin yang akan diberikan, Bima mulai menggenggam tangan Langit.
Sebelum ini, keduanya sudah berlatih berulang kali untuk mempersiapkan moment spesial ini. Dengan sekali tarikan nafas, Langit berhasil mengucapkan ijab kabul secara lancar dan sempurna.
“Sah?” tanya penghulu pada kedua saksi.
“Sah!”
...❤❤...
Akhirnyaaa resmi sudah, tinggal bulan madunya yaaa
follow IG : Ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampirr yuuk, ceritanya Lea dan sepupunya Gita ada di novel Cinta Jangan Datang Terlambat.
__ADS_1