Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Lamaran


__ADS_3

"Gimana jadi ga?" Langit menggerak-gerakan alisnya naik turun.


“Apanya yang gimana?”


“Kamu mau nikah sama aku atau pergi ke Inggris?” tanya Langit lagi, kali ini lebih serius. Ia menatap Gita lekat.


Gita menggigit bibirnya, ada perang batin di dalam hatinya. Ia menoleh ke arah Langit yang masih memandangnya seolah tak berkedip. Pria ini sudah menemani harinya sejak ia masih balita. Keberadaan Langit di hidupnya, hampir sama posisinya dengan Kak Bima. Tidak rela rasanya membayangkan jika Kak Langit dimiliki oleh wanita lain.


Gita mengembangkan senyumnya, ia menganggukan kepala.


“Apa itu artinya?” tanya Langit ragu.


“Aku mau,” jawab Gita pendek.


“Mau apa?”


“Mau ke Inggris.”


“Jadi?? ….”


“Iya, aku mau nikah sama Kak Langit,” ucap Gita tertunduk.


Wajahnya memerah seketika. Dia yang biasanya selalu bertingkah seenaknya di hadapan Langit, sekarang terasa ada perasaan ganjil jika ditatap selekat itu.


“Bener? Jangan-jangan karena kamu cuman mau ikut ke Inggris aja.”


“Ya itu juga sih.” Gita menyengir.


“Tulus ga sih, kamu mau nikah sama aku. Jadi istriku?” tanya Langit kembali seraya menggenggam tangan Gita.


“Iya, aku mau. Aku tuh cuman ngerasa kita kecepetan gitu. Aku kan masih sekolah. Kenapa sih Kak Langit mau buru-buru nikah?”


Langit tidak langsung menjawab, ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Gita, “Karena aku ga mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu Gita Gempita,” ucapnya lirih.

__ADS_1


Klontaaangg ….


Suara benda jatuh dari arah ruang makan, membuat keduanya reflek saling berjahuan menjaga jarak.


“Aku pulang dulu ya,” ucap Langit salah tingkah. Gita menutup mulut menahan tawanya.


Gita menemani Langit menemui Mamanya di rung makan. “Saya permisi pulang dulu, Tan,” pamit Langit.


“Loh, makan dulu, Lang.”


“Terima kasih, Tan. Nanti di rumah aja. Kasihan Mama kalo makan sendirian nanti.”


“Oh, ya udah.”


“Nanti … Mama yang hubungi Tante tentang … pernikahan,” ucap Langit malu-malu. Gita ikut tertunduk menghindari tatapan mamanya.


“Kalian … jadi mau nikah cepat?” Mama Gita berjalan mendekat. Gita dan Langit mengangguk serempak.


...❤...


Seperti tidak mau menunggu lebih lama lagi, malam itu juga Langit dan Mamanya datang ke rumah Gita dengan membawa berbagai jenis hantaran.


“Ibu dan anak sama aja, gercep sat set sat set,” sindir mama Gita.


“Mumpung belum berubah pikirannya. Anak muda kan labil, pagi ngomong A sorenya sudah berubah jadi Z.”


“Ras, mereka nikah sekarang apa ga terlalu cepat?” bisik Mama Gita, saat mereka berdua ada di dapur. Sedangkan Langit dan Gita asyik bercanda di ruang tengah.


“Kok jadi kamu yang ragu?”


“Aku bukannya ragu, cuman khawatir aja. Apalagi kamu tau sendiri bagaimana anakku. Masih bocah nangisan gitu mau jadi istri, gimana coba?” ucap Mama Gita seraya mengintip sepasang anak muda yang kasmaran di ruang tengahnya.


“Kedewasaan kan ga dilihat dari umur, Sil. Biar aja mereka belajar dewasa, kita yang orang tua ini hanya bisa mendampingi dan menasehati aja. Ayo kita ke depan ngobrol sama mereka, supaya sama-sama mantap persiapannya.” Mama Langit menggiring mama Gita ke luar dari dapur.

__ADS_1


Begitu Mama Langit dan Mama Gita keluar dari dapur lalu duduk di hadapan mereka berdua, Gita dan Langit langsung duduk sedikit berjauhan seolah menjaga jarak.


“Tuh, kalo dibiarin tanpa ikatan sah, bisa bahaya loh,” bisik mama Langit.


“Gita, tadi Langit bilang sama Tante kalo kamu menerima lamarannya, benar?” tanya Mama Langit, Gita hanya menjawab dengan anggukan kecil.


“Kalian berdua sudah yakin?” tanya Mama Langit kembali. Keduanya saling bertatapan lalu mengangguk bersamaan.


“Baiklah kalo begitu, kalau kalian berdua sudah sama-sama yakin, kami sebagai orang tua tidak bisa menghalangi. Kami hanya mendukung jika itu mendatangkan kebaikan untuk kalian,” lanjutnya.


“Pernikahan itu ga selamanya manis dan indah. Apa kalian sudah tahu dan siap dengan segala resiko, suka duka dan pahitnya dalam pernikahan?” tanya Mama Gita. Pernikahannya yang berakhir tragis, membuatnya berhati-hati untuk menentukan masa depan putrinya.


“Saya siap, Tan,” ucap Langit yakin, lalu ia menoleh pada Gita yang duduk di sampingnya. Gita pun mengangguk, walau sebenarnya ia kurang paham dengan apa yang ditanyakan oleh mamanya.


...❤❤...


follow IG : Ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2