Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Kakak Ipar


__ADS_3

Ucapan syukur bersahutan dari para tamu undangan. Langit menoleh pada gadis yang duduk dengan kepala menunduk di sampingnya. Gadis kecil itu sudah resmi berstatus resmi sebagai istri Langit Angkasa, dan itu impiannya sejak masih kecil.


"Mba, salim sama suaminya," panggil Pak Penghulu.


Gita bergeser sedikit menghadap Langit masih dengan kepala tertunduk. Langit menyodorkan tangannya, lalu disambut Gita dan didekatkkan ke hidungnya.


Lembut bibir Gita sedikit menyentuh punggung tangan Langit. Nyesss ... serasa ada air dingin mengalir di dadanya.


Begini rasanya jadi suami. Batin Langit bahagia.


Sesuai arahan, Langit meletakan tangannya di atas kepala Gita, dan mengucapkan doa lalu mengecupnya sekilas.


Kembali terdengar sorak dari para undangan dan keluarga, kali ini lebih semarak dan heboh.


Setelah menerima ucapan selamat dari para undangan dan keluarga, Langit mengajak Gita duduk di sofa yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.


"Sakiitt," keluh Gita seraya melepas sepatunya yang berhak tinggi.


"Coba lihat." Langit berjongkok di bawah Gita, lalu meniup tumitnya yang memerah.


"Heeehhhh, apakah aku harus melihat pemandangan ini setiap hari??" Bima kembali berceloteh kesal.


"Eeh, ada kakak ipar," goda Langit yang semakin menambah rasa kesal Bima.


"Sana ambilin makan buat adekku, dia ga bakal kenyang kalo cuman kamu kasih kata cinta tiap hari," ucap Bima sewot.


"Iya aku ambilkan makan untuk istriku. Jangan galak-galak dong, Kakak Ipar."


"Ga usah panggil-panggil Kakak Ipar segala! gatel tau kupingku." Sambil berjalan ke meja prasmanan Langit tertawa lepas.


"Bahagia sekali dia kelihatannya," ucap Bima sambil terus memandang sahabatnya, yang sekarang menjadi adik iparnya itu.


"Kamu bagaimana, bahagia ga?" tanya Bima seraya duduk di sisi Gita.


"Bahagia," jawab Gita singkat.

__ADS_1


"Sudah nikah, sudah jadi istri, jangan suka ngambekan, nangisan. Nanti dikit-dikit mewek, terus minta pulang ke rumah," pesan Bima tapi lebih terkesan menyindir.


"Maaaa ...." Gita merengek pada Mamanya yang kebetulan melintas di depan mereka.


"Tuuuh, baru juga aku bilang apa."


"Kenapa lagi kalian ini?" tanya Mama Gita.


"Kak Bima, gangguin teruusss." Gita merengut kesal.


"Aku ga gangguin, cuman kasih pesan sebagai seorang Kakak."


"Gita, jangan gitu ah. Kamu sudah nikah, jangan merengek-rengek gitu. Ga enak dilihat orang," ujar Mamanya lalu beranjak pergi meninggalkan kakak adik itu berdua.


"Benar, 'kan kataku," ujar Bima angkuh. Ia terlonjak berdiri saat Gita ingin mencubit pinggangnya.


"Aduuhh!" suara gadis kesakitan mengagetkan Bima. Ia menoleh ke belakang, ternyata ia telah menginjak kaki seorang gadis.


Gadis itu menunduk sambil memegangi kakinya, dari mulutnya masih terdengar rintihan kesakitan.


"Nindy, kenapa? Kak Bima sih ga hati-hati!" Gita memukul lengan kakaknya dengan kipas.


"Maaf ya, aku ga sengaja," ujar Bima. Sedetik ia terperangah menatap gadis yang berdiri berhadapan dengannya.


Tubuh yang tinggi hampir setara dengannya, rambut sebahu dengan style ikal di ujungnya. Gaunnya yang berwarna hitam, semakin menonjolkan warna kulitnya yang kuning langsat.


Wanita ini sangat berbeda dengan Gita, adiknya. Jika Gita wajah dan tampilannya terlihat kekanakan, wanita di hadapannya ini sangat dewasa dan anggun.


"Ga apa-apa, Kak. Aku tau tadi Kak Bima menghindar karena mau dicubit sama Gita."


"Kamu tau namaku?" Bima terbelalak bahagia.


"Norak!" seru Gita ketus, "Nindy ini kan temen sekolahku, Kak. Pernah juga kan ketemu di sekolah, ya jelas tau Kak Bima lah."


"Oww, yaa." Bima tersenyum malu, "Siapa namanya tadi?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Nindy," sahut Nindy seraya menyambut uluran tangan Bima.


"Aku sepertinya ga asing sama kamu, suaramu juga pernah denger di mana ya?" Bima berusaha mengingat-ingat.


"Sudah dibilang temen sekolahku, Kak," ucap Gita gemas.


"Bukan, bukan. Aku sepertinya kenal banget suaramu ini? Kamu penyiar radio?" tebak Bima.


"Bukan." Nindy menggelengkan kepala panik.


"Di mana ya??" Bima masih terus berusaha membongkar ingatannya. Ia merasa sangat lekat sekali dengan suara dan raut wajah Nindy, tapi ia sedikit lupa apa dan di mana.


"Hmmm, sudah mulai menebar jala Kakak ipar?" Langit kembali menggoda Bima. Di tangannya sudah memegang piring berisi nasi dan lauknya.


"Belum sehari jadi adik ipar, sudah mulai cari penyakit ni anak," gerutu Bima.


"Makan dulu, Kak Bima. Biar lebih luas tebaran jalanya," seloroh Langit sambil menyuapkan sendok nasi dan lauknya ke mulut Gita.


"Si*alan!" Bima memilih pergi menjauh, dari pada matanya panas melihat kemesraan Langit dan adiknya yang disengaja.


...❤❤...


follow IG : Ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕

__ADS_1


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


__ADS_2