
"Bercanda, Sayang. Tidur yuk, aku capek. Langit tersenyum penuh arti. Ia lebih dulu merebahkan tubuhnya di sisi Gita.
"Loh, malah senyum-senyum. Sini tidur." Langit menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.
"Kak Langit tadi manggil apa?" Gita tersenyum tersipu.
Langit tersenyum geli, "Sayang. Kenapa?" Tangannya terbuka lebar, memberi kode pada Gita agar merebahkan diri di pelukannya.
"Bukan Empi lagi?" Gita masih bertahan di tempatnya duduk bersandar di pinggiran ranjang.
"Tetep, Empi sayang, sini." Tidak sabar Langit menarik Gita hingga jatuh di pelukannya.
"Mpie, kamu jangan panggil Kakak lagi dong. Aku jadi ga ada bedanya sama Bima." Langit menyelipkan rambut Gita di belakang telinga.
"Terus panggil apa?" Gita sedikit menjaga jarak dengan tubuh Langit, agar dadanya tidak terlalu menempel pada tubuh suaminya itu.
"Apa yaa ...." Langit memejamkan matanya.
"Mas, Honey, hubby ... sayang juga boleh," ujar Langit. Wajah Gita merengut tidak setuju.
"Oppa."
"Heh?" Langit membuka matanya.
"Oppa Langit." Gita terkikik, "Kayak di drama korea itu loh."
"Itu di Korea, Mpi. Di sini masih asing sebutan seperti itu, nanti malah kamu dikira cucuku. Kalo gitu kamu aku panggil Oma."
"Enak aja." Gita menusuk perut Langit dengan telunjuknya, "Ya udah, Mhiu Phiu aja."
"Apa lagi itu??"
"Phiu kalo aku panggil Kak Langit, Mhiu kalo Kak Langit panggil aku." Langit mendesah malas, ia sedikit bingung apa dirinya yang terlalu kolot ataukah istrinya ini yang terlalu kecil untuk dinikahi.
"Terserahlah, Phiu atau Oppa sama aja. Tapi aku tetep panggil kamu Empi aja, lidahku sudah biasa manggilnya itu," ucap Langit dengan suara mengantuk.
__ADS_1
"Selamat tidur, Phiu." Gita mengecup pipi Langit.
"Selamat tidur juga, Empi." Langit balas mencium Gita tapi di bagian bibir dan sedikit lebih lama.
"Mmpphh, selalu minta lebih." Gita melepas pagutan bibir Langit.
"Hehehe, ya udah makanya tidur." Langit mengeratkan pelukannya.
Beberapa menit kemudian, "Empi ... jangan banyak gerak," ujar Langit lirih.
Gita menengadah dan melihat mata Langit masih terpejam, tapi ia merasakan sesuatu menekan pahanya dan ia tahu apa itu.
Perlahan Gita memundurkan tubuhnya, namun Langit semakin mempererat rengkuhannya, malah satu kakinya dilingkarkan pada tubuh Gita seperti guling.
Gita hanya pasrah dan berusaha memejamkan mata walaupun tidak nyaman dari pada besok batal berangkat ke Inggris, karena demam efek habis vaksin malam-malam.
...❤...
"Sudah beres semua?" tanya Mama Langit.
"Sudah, Ma. Aku kan masih ada pakaian di sana, jadi ga perlu bawa banyak-banyak," ucap Langit seraya menata bajunya di dalam koper.
"Apa nih?" tanya Langit seraya membuka pouch yang diberikan Mamanya.
"Ini?? ...." Mata Langit membesar saat melihat isi di dalam pouch tersebut. Beberapa bungkus plastik warna-warni seperti permen ada di dalamnya.
"Jangan pura-pura ga tau itu untuk apa. Buat jaga-jaga aja," ujar Mamanya.
"Hehehe ... tau." Langit menyengir malu.
"Ingat pesan Mamanya Gita kemarin, jangan sampe kebablasan. Semalam gimana?" tanya Mamanya dengan pandangan menyelidik.
"Semalam ga ada apa-apa kok, kita tidur biasa aja." Langit menggaruk-garuk kepalanya sekedar untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Ya udah itu simpan baik-baik. Jangan kelihatan Gita sama Mamanya dulu," ujar Mama Langit sambil menyelipkan pouch tersebut di bawah lipatan baju dalam koper.
__ADS_1
"Makasih ya, Ma," ucap Langit bahagia mempunyai orang tua yang sangat pengertian.
Ia semakin semangat karena dari Mamanya sudah mendapatkan SIM (surat ijin menyetu*buhi), tinggal mendapatkan SIM (surat ijin menghamili) dari Mama mertuanya.
"Itu sepertinya Gita sama mertuamu sudah datang." Gita tadi pulang sebentar ke rumahnya untuk mengambil beberapa pakaian yang masih tertinggal di rumah.
Langit menyeret kopernya keluar kamar dengan senyuman terkembang sempurna. Rasanya sangat tidak sabar untuk cepat sampai di apartmentnya yang tertutup.
"Senyum-senyum ga jelas," sindir Gita.
"Kan lagi hepi, kamu masak mau pergi keluar negeri ga hepi juga?" ujar Langit masih dengan senyum lebarnya.
"Lang, sini dulu," panggil Mama Gita.
"Ya, Ma?" Langit menghampiri mertuanya. Sebutan baru untuk Mama Gita terasa canggung di ujung lidahnya.
"Titip Gita di sana ya, tolong sabar-sabar aja kalo dia banyak tingkah," ucap Mertuanya seraya mengusap-usap punggung Langit.
"Tenang, Jeng. Langit itu kan sudah jadi kepala keluarga, jadi dia harus bisa bertanggung jawab ya kan, Lang? lagian Langit sudah bawa kok penawarnya," seloroh Mama Langit seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Penawar apaan?" tanya Mama Gita heran.
"Ituu ... obatnya Langit khusus kalo dia lagi pusing. Ayooo buruan nanti ketinggalan pesawat." Mama Langit langsung menggiring semuanya ke luar rumah, sebelum Mama Gita membahas lebih lanjut tentang penawar yang di maksud.
...❤❤...
Lagi nungguin MP di Inggris yaaa ... sabar ya bestie 😁
Mampir dulu di sini, 2 novel rekomendasi yang seru
Like a Dandelions dan Protagonis laki-laki terlalu mencintaiku
__ADS_1