Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Jangan ganggu


__ADS_3

"Pagi, Tante," Langit muncul dengan sepeda lipatnya.


Tante Silvi yang sedang menikmati koleksi tanamannya, mendongak dan tersenyum lebar.


"Eh, Langit dari mana? sudah sarapan belum? tante tadi bikin nasi kuning, sarapan dulu."


"Dari rumah, tadi sudah sarapan juga. Ini mau bawakan brownies dari Mama untuk Gita."


"Duh, selalu Mama kamu itu manjakan si Gita, besar kepala nanti dia." Langit hanya tersenyum lebar menanggapi keluhan Tante Silvi.


"Pasti kamu cerita ya, kalo semalam Tante marahin dia?"


"Dikit sih," jawab Langit kikuk, dengan rasa tidak enak hati.


"Tuh kan, pasti habis ini tante di omeli sama Mama kamu," protes Tante Silvi.


Langit hanya terkekeh pelan, ia sudah paham betul hubungan persahabatan antara mamanya dan Tante Silvi.


"Dia lagi di kamar. Keluar tadi cuman sarapan aja, itupun tante paksa. Habis itu masuk kamar lagi."


"Aku boleh masuk, Tan?" Langit menunjuk ke dalam rumah.


"Kayak siapa aja pake tanya boleh masuk ato ga, biasa juga langsung nongol di dapur." Langit tertawa lepas menanggapi sindiran halus Tante Silvi.


"Aku masuk ya, Tan," ucap Langit seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


Tok ... tok ... tok


"Mpi," Langit mengetuk pintu kamar dan memanggil pelan.


"Empii, aku buka ya pintunya," panggil Langit, karena lama tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Ceklek ....


Perlahan Langit membuka pintu kamar Gita, ia hanya membuka sedikit dan mengintip ke dalam kamar.


Suasana kamar temaram, hanya cahaya matahari sedikit menembus tirai yang masih tertutup.


Gita meringkuk di atas ranjangnya, dengan kepala tertutup bantal.


"Empi, aku bawa brownies nih dari mamaku. Favorite kamu kan?, khusus buat kamu katanya. Aku aja ga boleh ngincip." Langit masih bersandar di ambang pintu kamar.


Ia berusaha masih menjaga kesopanan untuk tidak masuk ke dalam kamar Gita, padahal ia ingin sekali menarik bantal yang menutup kepala Gita.


"Empi, aku masuk loh kalo kamu ga bangun."


"Hari minggu nih, jalan yuk. Nonton, makan atau karaoke kamu maunya apa aku traktir deh." Langit masih berusaha membujuk Gita.


Masih tetap belum ada respon dari Gita. Langit menghela nafas panjang.


Ia berjalan ke arah ruang tamu, mengintip sekilas keberadaan Tante Silvi yang masih asyik dengan tanamannya, lalu kembali lagi ke kamar Gita.


Langit masuk ke dalam kamar Gita, dengan cepat tangannya membuka tirai jendela. Seketika itu juga kamar menjadi terang, karena sinar matahari yang masuk.

__ADS_1


"Bangun Empi," Langit menarik bantal yang menutupi wajah Gita.


Gita ingin menahan bantal agar tetap menutupi wajahnya, tapi kalah dengan tenaga Langit.


Setelah sudah tidak ada lagi yang bisa ia gunakan untuk menutupi wajahnya, Gita duduk dan menatap Langit dengan tajam,


"Bisa ga satu hari aja, ga usah ikut campur urusan aku?!"


Langit diam tercenung melihat tatapan kebencian dari sorot mata Gita.


"... Maaf, bukan maksudku mau ikut campur, aku cuman mau ... ya udah aku balik dulu." Langit menaruh bantal yang ia pegang, lalu berjalan ke luar kamar dengan langkah yang perlahan seakan tidak ingin beranjak dari kamar Gita.


Sampai di ambang pintu kamar Langit berbalik, Gita masih duduk di atas ranjang menatapnya masih dengan sorot mata yang sama, "Kuenya aku taruh di atas meja," ucap Langit pelan, setelah itu ia berbalik dan keluar dari kamar Gita.


"Loh, tumben cepat?" Tante Silvi menatapnya heran.


"Masih ada urusan, Tan."


"Oh, ya udah. Makasih yo Lang, salam buat Mama."


"Sama-sama. Nanti aku sampaikan sama Mama." Langit tersenyum kaku. Ia segera naik ke atas sepedanya, lalu memacu pulang menuju ke arah rumahnya.


Sepanjang perjalanan, sorot kemarahan mata Gita melekat erat di benak Langit. Selama mengenal Gita sejak masih kecil, gadis itu tidak pernah menatapnya seperti itu. Jika marah ia hanya cemberut, ngambek, merajuk setelah dibujuk dengan cepat akan kembali ceria.


"Git, ada apa kamu tadi sama Langit?" Tante Silvi duduk di pinggir ranjang dan menepuk pant*at Gita.


"Duh!, apaan sih Ma?!" Gita yang tadi kembali tidur, bangun dan menatap Mamanya kesal.


"Mama tuh bikin kaget, dateng-dateng cuman nanyain yang ga penting." Gita kembali merebahkan diri dan menutup kepalanya dengan bantal.


"Nah kan bener, pasti ada apa-apanya nih. Bangun!" Mama menarik bantal yang menutup kepala Gita.


"Apa sih Maaa??!" seru Gita frustasi.


"Ada apa kamu sama Langit?, kamu marah karena Langit, Mama jadi tau kamu sudah berbohong?!" Gita hanya terdiam, rahangnya mengeras mengingat kejadian semalam. Bekas tangan Mama masih terasa panas di pipinya.


"Masih untung Mama yang tau, kalo sampai kakak kamu Bima yang tau, bisa dipasung kamu dalam kamar." Gita hanya mendecih kesal, ia masih duduk termenung memeluk bantal setelah Mama keluar dari kamarnya.


...❤...


Rambut dan baju seragam Gita terlihat kusut setelah turun dari angkot. Senin pagi ini terpaksa ia harus berdiri di barisan murid terhukum, karena terlambat atau yang tidak lengkap memakai atribut upacara.


Biasanya Langit selalu menjemputnya, tapi pagi ini ia harus berangkat sendiri dan terjebak macet serta terhambat angkot yang berhenti menunggu penumpang.


Ia juga tidak bisa menghubungi Teddy, karena ponselnya masih di tangan Mama.


Gita melirik barisan kelas Teddy dan Langit yang berada tepat di depan barisannya. Dua pria itu seperti tak acuh dengan keberadaannya.


"Aahhhh, capek bangettt." Gita merebahkan kepalanya di atas meja. Setelah upacara berakhir mereka yang terhukum harus berdiri lagi selama lima belas menit di depan tiang bendera.


"Tumben telat," celetuk Nindy yang sekarang jadi teman sebangkunya. Anggita yang sebelumnya duduk bersamanya sekarang memilih duduk di barisan depan setelah percakapan mereka terakhir.


"Telat bangun," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Git, kamu malam minggu kemarin ke mana? si Langit panik tau nyariin kamu malam-malam. Kamu bohong pake bawa-bawa namaku lagi."


"Maap, aku cuman jalan aja kok."


"Sama sapa?, Teddy? jalan ke mana sampe malem gitu ga pamit?" selidik Nindy. Anggita yang mendengar nama Teddy disebut melirik ke arah belakang.


"Adalah, yang pasti tempatnya seru." Gita sengaja mengeraskan suaranya, agar Anggi mendengar.


"Hai, Gita," Teddy melongokan kepalanya di pintu kelas. Suara suit-suitan menggoda kembali terdengar.


"Ya, Kak." Gita menghampiri Teddy dengan tersenyum lebar.


"Kamu kemarin ga apa-apa kan pulang sendiri?, di marahin ga?"


"Ga apa-apa kok aman aja."


"Ponselmu mati ya, kemarin aku hubungi ga bisa."


"I-iya, jatuh terus pecah."


"Pantes, nanti pulang sekolah jadi kan?" Teddy sedikit memelankan suaranya.


"Mmm, mau pergi sama Om itu ya?"


"Ssssttt, jangan keras-keras. Ntar yang lain minta ikut lagi." Gita mengangguk dan tersenyum tersipu.


Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Semua tampak sibuk sendiri, hanya Anggi yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan serius.


"Pulang sekolah aku tunggu di parkiran ya sayang." Langit menoel dagunya dengan jari telunjuk.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk.


__ADS_1


__ADS_2