
Perlahan Gita memasukan kapsul itu ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan masuknya kapsul itu ke dalam tenggorokannya, air matanya pun jatuh.
"Kenapa nangis?" tanya Langit seraya mengusap air mata Gita.
"Ga tau, pingin nangis aja." Gita mulai terisak.
"Kenapa, Sayang kok nangis?" Mama Langit berjalan mendekat. Gita menggeleng dan terus terisak.
"Baru minum obat peluruhnya," ucap Langit dengan suara berbisik.
"Oww, ga apa-apa. Bagus itu, berarti Gita sudah punya rasa memiliki. Naluri keibuannya sudah mulai muncul," jelas Mama Gita sambil memberi kode pada putranya agar memeluk istrinya.
"Aku juga sedih, semua sedih, tapi ini jauh lebih baik. Nangis aja ga apa-apa. Aku ada disini." Langit memeluk istrinya dan mengusap-usap punggungnya. Perlahan tangisan Gita sudah mulai mereda.
"Bantu Gita pakai ini, Lang kalau dia masih lemes," saran Mama Gita seraya menyodorkan sekantung pembalut berukuran besar.
"Kok besar banget, Ma?" tanya Gita heran karena yang biasa ia pakai yang ukuran normal.
"Kamu habis minum obat itu, nanti malam pasti keluar seperti datang bulan tapi lebih banyak. Sudah pakai aja dulu di kamar mandi."
Langit membantu istrinya turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
"Aku bisa sendiri, Phiu tunggu di luar aja," tolak Gita saat suaminya ingin ikut masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
__ADS_1
"Aku bantuin, biar cepet. Kamu masih pucet sama lemes gitu kok." Langit tetap memaksa masuk ke dalam.
"Ini gimana pakainya?" tanya Langit bingung.
Selama mereka menikah, Langit sama sekali belum pernah melihat istrinya memakai pembalut, karena ternyata percobaan pertama hubungan intim mereka langsung membuahkan hasil.
"Phiu ga tau kan, siniin." Gita meraih pembalut dari tangan Langit lalu membuka bungkusnya. Perlahan ia duduk di atas kloset dan membuka pakaian dalam yang menutup intinya. Langit terus memperhatikan segala kegiatan istrinya sambil bersandar di wastafel.
"Jangan dilihatin aja dong, katanya mo bantuin," keluh Gita kesal serasa jadi tontonan.
"Aku belum paham, Empi. Kamu bilang aja aku harus ngapain." Langit berjalan mendekat.
"Ga usah. Aku bisa sendiri," ujar Gita seraya merekatkan pembalut di pakaian dalamnya.
Langit kembali menuntun Gita keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang, "Aku ngantuk, Phiu," ucap Gita dengan mata sayu.
"Tidur aja, aku di sini terus nemenin kamu." Langit mengusap rambut dan mengecup kening Gita.
Setelah Gita benar-benar terlelap. Mama dan mertuanya ikut pamit pulang ke rumah mereka masing-masing.
Belum lama kedua orang tua mereka pulang, Anggita dan Nindy muncul dari balik pintu ruang rawat Gita.
"Malaaam," ucap Anggita dan Nindy bersamaan.
__ADS_1
"Sssttt." Langit memberi kode dengan jari telunjuknya mengarah pada Gita yang sudah tertidur.
"Uppss, maaf Kak." Keduanya spontan terdiam.
"Ga apa-apa, tapi maaf Gitanya sudah tidur. Besok pagi dia harus di kuret," jelas Langit.
"Iya, Kak tadi kita ketemu sama Mama Gita di bawah. Tante Silvi sudah cerita juga, kalo kandungan Gita tidak berkembang, tapi kita kesini tujuannya mau ketemu Kak Langit, bukan Gita," jelas Nindy.
"Ketemu aku?" Langit merubah posisi duduknya menghadap kedua sahabat istrinya.
Nindy dan Anggita saling melirik dan menyikut satu sama lain.
"Kamu aja yang bilang," ucap Nindy.
"Kamu ajaaa," tolak Anggita seraya menggelengkan kepala.
"Emang ada apa sih?" Langit mulai tak sabar.
...❤❤...
Lanjut besok siang yaaa
Hai teman2 sudah tau belum event Noveltoon yang ini? yuk like, komen, dan beri hadiah kopi/bunga pada karya yang kalian suka, siapa tau kalian beruntung (jangan lupa ke karya ku juga yaa 😁)
__ADS_1