
Langit memperhatikan perlahan raut wajah Pak Yudha semakin memucat, saat berbicara dengan orang di seberang teleponnya.
Pembicaraan itu tidak berlangsung lama. Sepertinya orang di seberang sana memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Dengan langkah ragu Pak Yudha menghampiri Langit yang masih terus mengawasinya.
"Duduk dulu, Pak." Langit mendorong kursi ke arah Pak Yudha yang sudah terlihat tidak fokus berjalan. Ia juga memberikan satu botol kecil air mineral pada mantan ketua yayasan almamaternya itu.
"Terima kasih," ucap Pak Yudha lemas, "Si-siapa Ibu Larasati Prasojo itu?" tanya Pak Yudha.
"Suami Pak Hendrik Prasojo ... Ibu saya," jawab Langit pelan.
Sebenarnya ia merasa kasihan dengan pria yang duduk di hadapannya itu. Sikapnya yang arogan saat baru datang tadi, sangat berbeda dengan sekarang yang seperti maling ketangkap basah mencuri di siang hari.
Pria itu semakin menunduk setelah mendengar jawaban Langit.
"Ibumu yang dari dulu jadi donatur tetap?" tanya Pak Yudha dengan sorot mata sayu.
"Benar. Ibu dan Bapak saya juga ikut membangun SMU Persada," tambah Langit yang semakin menambah pias wajah Pak Yudha.
"Ibumu sekarang ketua yayasan?" tanyanya lagi dengan suara semakin melemah.
"Iya, lebih tepatnya diminta untuk menjadi ketua yayasan."
Pak Yudha berdiri dari duduknya lalu berjalan pelan ke arah pintu keluar dengan wajah yang kalut, "Saya pamit dulu," ujarnya perlan tanpa membalikkan badan.
"Baik Pak. Saya harap kasus Melinda dan teman-temannya segera cepat teratasi," ucap Langit tulus. Pak Yudha hanya mengangguk pelan tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
...❤...
Gita duduk menghadap Mama dan Mama mertuanya di ruang tamu. Langit ikut mendampinginya duduk di sisi kanannya.
"Kenapa kamu ga mau lanjutin sekolah lagi, Git?" tanya Mamanya kesal.
"Bukan ga mau lanjutin sekolah, Ma, tapi aku mau selesaikan lewat home schooling aja."
"Kenapaaa? kamu masih takut masuk sekolah? kan yang bikin onar sudah ga ada," cetus Mama Langit gemas.
"Iyaa, aku tau cuman ... ga nyaman aja kembali ke sekolah," cicit Gita seraya menunduk.
"Ga apa-apa, Ma. Kami sudah bicarakan hal ini berdua. Empi hanya butuh waktu 2 tahun aja untuk dapat ijazah SMU, home schooling juga ga jelek kok," bela Langit.
"Temen aku yang tulus di sekolah cuman dua, Ma. Kami ga perlu ke sekolah kalau ingin bertemu," ucap Gita seraya tersenyum.
"Lagian ijzasah SMU Empi paling cuman jadi hiasan di lemari. Kerjanya nanti cukup duduk manis di rumah nungguin aku pulang, sama temenin anak-anak main," seloroh Langit yang langsung disambut cubitan kecil di pinggangnya.
"Aah, iyaa benar. Kamu banyak istirahat aja Git, jadi kalian bisa fokus program punya anak lagi ya. Biar Mama ga kesepian punya temen main di rumah," sahut Mama Langit bersemangat.
"Eehh, enak aja. Kalo bayinya di rumah kamu, terus aku sama sapa. Aku kan juga kesepian, Ras. Mana Bima mau lanjutin S2-nya," rengek Mama Gita tak mau kalah.
"Bisa gantian nanti. Seminggu di rumahku, seminggu lagi di rumahmu. Jadi pas selama dua bulan masing-masing dapat jatah dua kali," saran Mama Laras dengan mata berbinar.
"Lah, terus babynya kapan sama kita, Ma?" protes Langit.
__ADS_1
"Makanya, kalian berdua buat anak yang banyak!" cetus Mama Langit yang ditanggapi anggukan bersemangat oleh Mama Gita.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Haiii cerita ini beberapa bab lagi sudah akan berakhir yaa 🙏🥰
__ADS_1