Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Kepala sekolah


__ADS_3

Langit mempercepat langkahnya masuk ke dalam area rumah sakit. Satu jam yang lalu Mamanya memberi kabar kalau Gita sudah sadar, dan bisa langsung pulang jika sudah stabil kondisi kesehatannya.


"Naah, itu Langit sudah datang. Mama sama Tante Laras keluar dulu cari makan ya," ujar Mama Gita.


Kedua wanita setengah baya itu berdiri dari duduknya dan langsung melangkah keluar kamar rawat, bergantian dengan Langit yang baru masuk.


"Hei, sudah bangun? Ada yang sakit?" tanya Langit pelan, dengan mata masih terasa berat Gita hanya melirik sekilas.


"Makan dulu ya." Langit mengambil piring yang masih utuh isinya dan tertutup plastik wrapping.


"Mual," tolak Gita seraya menutup mulutnya dengan tangan, "Phiu tadi kemana sih?"


"Ketemu sama Raditya, dia dulu tetangga lama aku."


"Ga bisa nunggu nanti ketemuannya?" Gita merajuk walau masih dengan suara serak.


"Ini bukan hanya sekedar ketemu, tapi ada sesuatu hal yang harus segera diproses."


"Pasti masalah kerjaan," sungut Gita.


"Bukan, nanti pasti aku ceritakan kalau kamu sudah sehat betul. Makanya sekarang makan dulu, katanya sore ini sudah boleh pulang kalo kamu sudah sehat."


"Bener?" Langit mengangguk yakin.


Gita langsung memposisikan badannya duduk bersandar di ranjang dan membuka mulutnya besar, saat Langit menyuapkan sendok berisi nasi dan lauknya.


"Permisi, maaf mengganggu." Seorang perawat setengah baya masuk ke dalam ruang rawat dengan membawa nampan kecil.


"Sore ini sudah bisa pulang kalo sudah kuat ya. Ini vitaminnya diminum sesuai aturannya sampai habis, dan ini bisa dibawa pulang," ucap perawat itu dengan nada suara merendah.


Langit menerima satu persatu plastik klip dari tangan perawat, dan saat plastik klip terakhir ia terima hatinya mendadak trenyuh.


"Saya permisi dulu," ujar perawat itu tersenyum dan langsung meninggalkan Langit dan Gita berdua.


Beberapa saat mereka hanya terdiam berdua memandangi sebuah plastik klip berukuran sedang, yang berisi seperti sebuah gumpalan darah.


Langit terlebih dulu bereaksi, ia tersenyum dan mengusap kepala Gita, "Everything will be oke?" Gita mengangguk dan memeluk tubuh suaminya.

__ADS_1


...❤...


Suasana sekolah masih cukup sepi. Jarum jam masih menunjukkan angka setengah tujuh, tapi Langit sudah duduk di ruang kepala sekolah sedangkan pemiliknya sendiri belum terlihat batang hidungnya.


Bukan suatu kebetulan Langit datang sepagi ini, tapi dikarenakan rasa jengkelnya pada sang kepala sekolah yang tidak menghiraukan permintaannya untuk bertemu guna membahas tindak perundungan yang terjadi di sekolah.


"Kamu?" Pak Setyo, kepala sekolah berusia 60 tahunan itu terkejut saat melihat Langit ada di dalam ruangannya sepagi itu.


"Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktunya," ujar Langit sopan seraya sedikit membungkukan badan.


"Ada perlu apa?" tanya Pak Setyo dengan raut wajah tak suka.


"Kepentingan saya di sini sudah saya sampaikan pada Bapak beberapa hari yang lalu via telepon, kalau Bapak masih ingat," ucap Langit tenang.


"Aaah, itu. Ngapain lagi harus dibahas. Hal seperti itu sudah biasa, Langit. Di sekolah manapun pasti ada, itu kan hanya kenakalan kecil anak-anak jaman sekarang. Sebentar berkelahi, sebentar lagi bermain," jelas Pak Setyo seraya berpura-pura sibuk dengan berkas di hadapannya.


"Benar, Pak. Jika Bapak bicara sebagai kepala sekolah SD atau TK saya bisa memaklumi, tapi ini tingkat SMU dimana anak didik yang bersekolah di sini beranjak dewasa dan sudah mengetahui mana yang benar atau tidak."


"Aahh, kamu berlebihan. Semua sudah teratasi, toh kamu kan sudah lulus ngapain ikut bingung?"


"Memang benar saya alumni, tapi istri saya masih bersekolah di sini. Saya kira Bapak tahu, atau pura-pura tidak tahu kejadiannya?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Pak!" Langit menggebrak meja kerja Pak Setyo.


Pria berkaca mata itu sempat tersentak kaget tak menyangka anak didik yang dulu tidak banyak bicara itu mampu bersuara keras dan mengamuk.


"Jangan lagi menutupi tindakan tidak bermoral di lingkungan sekolah. Saya yakin anda tahu bagaiman bejatnya beberapa anak didik anda, dan sayangnya mereka anak emas sekolah ini. Karena apa? karena dengan adanya mereka fasilitas mewah sekolah ini terus mengalir. Begitu juga dengan aliran dana ke rekening anda, bukan begitu?" tantang Langit.


"Jangan kurang ajar kamu Langit!" Wajah Pak Setyo mulai memerah menahan emosi bercampur ketakutan.


"Apa perlu diadakan pelacakan aliran dana semua rekening atas nama anda?" tantang Langit lagi. Wajah Pak Setyo yang tadi memerah berangsur-angsur memucat saat Raditya dan dua personil polisi beratribut lengkap masuk ke dalam ruangan.


"Selamat siang Pak Setyo dan Pak Langit, maaf memotong pembicaraannya," ujar Raditya.


"Ada apa ini, Pak?" Pak Setyo langsung berdiri dari duduknya, sedangkan Langit masih duduk di kursinya dengan senyum terkembang.


"Kami membawa surat penangkapan untuk saudara Teddy Aliando. Dari data yang saya terima, yang bersangkutan bersekolah di tempat ini." Raditya menyerahkan satu lembar surat kepada Pak Setyo.

__ADS_1


"Tapi kenapa harus jemput di sekolah sih, Pak. Anak-anak yang lain bisa ketakutan," ujar Pak Setyo.


"Maaf sebelumnya, kami harus menjemput yang bersangkutan di sini karena setelah diselidiki ternyata tempat tinggalnya berpindah-pindah. Selain itu, kami juga menjemput beberapa nama untuk kami jadikan saksi penting." Raditnya kembali mengeluarkan selembar surat dimana ada beberapa nama tertulis di sana.


Mata Pak Setyo membesar saat melihat deretan nama yang tertulis di sana. Bagaimana tidak jika hampir semuanya adalah anak dari donatur tetap dan besar sekolah itu. Belum lagi Melinda adalah anak dari ketua yayasan SMU yang ia pimpin.


"Eeh, Pak. Bisa ya saya bicarakan dulu dengan mereka. Ga enak kalau tiba-tiba dijemput dengan pakaian seragam, biar orang tua mereka yang mengantar ke kantor polisi, bagaimana?" tawar Pak Setyo penuh harap.


"Sekali lagi kami mohon maaf, Pak. Saya harus menjemput mereka sekarang. Jangan khawatir, ini hanya proses pemeriksaan biasa tidak ada kekerasan jika yang bersangkutan dapat berkerjasama," tutur Raditya.


"Lang, tolong jangan begini," Pak Setyo menatap Langit penuh harap.


"Maaf Pak, untuk urusan pemanggilan polisi saya tidak ada urusan. Saya hanya ingin tindak perundungan di sekolah ini hilang. Kalau untuk kenakalan mereka di luar sana, sudah bukan urusan saya."


Pak Setyo menunduk pasrah lalu meminta guru yang ada di sana memanggil nama-nama yang tertulis di daftar kepolisian.


"Bapak ga perlu khawatir, untuk memanggil orang tua mereka, biar kami yang mengurusnya," ucap Raditya seolah mengerti kegundahan hati kepala sekolah itu.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Cerita Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟

__ADS_1


Votenya doong 🥰


__ADS_2