
"Segini banyak?" Gita melotot melihat daftar undangan rencana resepsi pernikahan mereka, "Siapa aja nih, pada ga kenal semua." Wajahnya merengut sambil mengamati satu persatu nama yang tercantum di sana.
"Kebanyakan kenalannya Mama sama rekan bisnis Papa," ucap Langit seraya menyusun daftar undangan yang kesekian kali.
"Dari Mama aku aja juga sudah banyak, kita yang punya acara malah dikit yang diundang," keluh Gita.
"Yah namanya acara nikah, biasanya memang acara keluarga besar. Sekalian pengumuman kalo anaknya sudah laku dan sudah punya pasangan resmi juga untuk mohon doa restu," ujar Langit bijak seraya mencubit ujung hidung Gita.
"Kalo segini banyak tamunya, pasti pegel berdiri kasih salam tamu-tamu," keluhnya lagi, "Akad kemarin cuman keluarga aja pegelnya bukan main," tambahnya.
"Kamu sendiri yang minta dua kali acaranya. Ga apa-apa, nanti kalo pegel aku pijetin," bisik Langit.
"Kalo mijet situ pake modus."
"Pake manggil situ lagi." Langit memandang ke arah istrinya tak suka.
"Maap." Gita menyengir, "Phiuuu, maksudnya."
"Biasakan manggil suami yang baik." Langit ingin melanjutkan petuahnya, namun ponselnya berdering menampilkan nama Raymond sepupu Gita.
"Halo, Kak," sapa Langit setelah mengangkat panggilannya.
"Halo, Lang, gimana setuju konsep yang kemarin aku kirim?"
__ADS_1
"Aku ngikut aja, Kak. Sudah pasti bagus kalo Kak Ray yang tangani acara resepsi."
"Istrimu setuju ga?"
"Sengaja aku ga kasih tau dulu, mau kasih kejutan, tapi aku yakin dia pasti suka," ujar Langit seraya melirik ke arah istrinya yang bersandar di lengannya sedang mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Jadi untuk biaya transport dan akomodasi para tamu undangan ikut masuk dalam budgeting semua, Lang?"
"Iyaa, seperti kesepakatan awal."
"Oke siap. Nanti aku hubungi lagi ya." Pria di seberang sana memutus pembicaraan.
"Transport dan akomodasi? kejutan buat aku? kalian lagi bicarakan apa sih?" tanya Gita tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iihhh, itu Kak Ray kan? pasti lagi bicarakan konsep resepsi kita kan? kok undangan pake transport segala, emang mereka dijemput satu persatu dari rumah gitu?" kejar Gita. Langit hanya tertawa dan pergi menjauh menghindari pertanyaan lebih lanjut dari istrinya.
...❤...
"Kok bajunya biasa banget, Kak?" tanya Gita keheranan. Siang ini ia ditemani oleh Lea istri dari sepupunya yang menangani acara resepsi mereka.
"Modelnya memang biasa aja, tapi tanya tuh harganya," ujar Lea sembari memberi kode pada pemilik butik tempat Gita memesan gaun untuk resepsi mereka.
Bayangan Gita, ia akan memakai gaun pengantin yang mewah, besar dan menjuntai panjang seperti yang ia lihat pada pernikahan yang spektakuler.
__ADS_1
"Harga ga penting, pinginnya yang gede, mekar gitu." Gita mencebik kesal. Ia mengharapkan gaun pengantin yang penuh dengan pernak-pernik dan berkilauan.
"Ini juga sudah cantik dan keren loh, Sayang," hibur si gemoy, pemilik butik tempat Lea dulu memesan gaun pengantin
"Kalo yang itu?" Gita menunjuk gaun pengantin yang ia maksud.
"Kalo yang itu cuman menang di hiasan aja, terlalu ramai untuk kamu yang masih remaja. Malah lebih mahal punyamu dari pada yang itu. Badanmu kan mungil, kalo pake yang gede gitu jadinya ga keliatan." Lea terus berusaha meyakinkan istri dari saudara sepupunya itu. Ia merasa geli mengingat saat ia dan sepupu Gita akan menikah dulu, suaminya malah yang rewel memilih gaun pengantin.
"Ya udah." Gita akhirnya menyerah.
"Yuuk di coba dulu ya, nanti baru kelihatan cantiknya." Si Gemoy membantu Gita untuk berganti pakaian.
"Cantik, kaaan," puji si gemoy.
"Tapi kenapa lengannya panjang siiih, pinginnya yang sexy gituu." Gita masih terus memberikan protes.
Lea memberi kode pada si gemoy agar lebih bersabar dan maklum, karena pelanggannya ini masih tergolong muda usianya.
...❤❤...
Lanjut nanti malam yaa
__ADS_1