Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Misteri Anggita


__ADS_3

"Makannya sudah belum?, ini sudah mau jam sembilan, nanti mamamu ga bisa tidur lagi nungguin kamu belum pulang." Langit sudah mulai bosan melihat cara makan Gita yang sangat menikmati, dan berulang kali menambah porsi nasi seakan ada kantong cadangan di lambungnya.


"Yaelah baru juga jam sembilan, ini tuh malam minggu. Rencana tadi aku malah mau pulang jam dua belas."


"Pulang jam dua belas malam sama Teddy?"


"Ho oh ... aduuuhhh, apaan sih!" Gita meringis memegang kepalanya yang kena toyor tangan Langit.


"Apa bagusnya sih itu anak? kamu seperti kerbau dicucuk hidungnya kalau ngomong sama dia." Langit bertanya dengan wajah merengut.


"Dah jelas kan bagusnya, pakai ditanya. Teddy itu sem ... pur ... na," ucap Gita dengan mengerling pada Langit serta mengeja dan menekankan kata sempurna.


Langit tidak menanggapi, hanya diam menatap Gita yang masih meneruskan makannya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Kak, itu temen aku si Anggita bukan?" Gita menunjuk ke arah sepasang pria dan wanita yang berada sedikit jauh dari mereka duduk.


"Ga tau, kamu aja ga bisa ngenali apalagi aku. Inget wajahnya aja ga," sahut Langit tak peduli setelah menoleh sebentar ke arah yang ditunjuk Gita.


"Iiiihh, coba lihat tuuh beneran Anggita temen aku Kak!"


"Lalu kenapa?" Langit masih malas menanggapi yang bukan urusannya.


"Dia sama siapa sih?" Gita memanjangkan lehernya berusaha mencuri lihat sosok pria yang membelakangi mereka.


"Ga usah kepo deh. Ini malam minggu dan temen kamu sudah gede, mungkin pacarnya." Langit memegang kepala Gita agar tidak bergerak-gerak di hadapannya.


"Kalo pacar, tapi kok gitu ya?" ucap Gita meragu.


"Kenapa memangnya? apa harus si Teddy yang ada di sana?"


"Enak aja!" Gita memandang Langit dengan mata yang membesar.


"Itu laki-laki yang sama Anggita kok kayak om-om ya?, rambutnya agak putih."


"Bapaknya kali."


"Kalo Bapaknya masak seperti itu." Gita menggeleng ragu.


Ia melihat sikap pria itu memperlakukan Anggita tidak seperti seorang Bapak kepada anak pada umumnya.


Pria itu mengusap pipi Anggita lembut, meraih tangannya dan mengecupnya. Temannya itu pun tersenyum tersipu malu.


Jelas bukan sikap hubungan antara Bapak dengan putrinya.


"Kamu mau ke mana?!" Langit menahan tangan Gita yang sudah berdiri dari duduknya. Langit tahu dari tatapan Gita dia akan menuju ke tempat di mana temannya duduk.


"Mau nyapa aja."


"Ga sopan, dan kamu nanti mengganggu mereka." Langit menarik Gita agar kembali duduk di tempatnya.


Dengan wajah cemberut Gita meraih ponselnya dan mulai mengetik sesuatu di sana.


"Kamu kirim pesan ke siapa?" tanya Langit curiga.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa ... eeh, siniin hape akuu!" Gita terkejut saat Langit meraih ponselnya dengan tiba-tiba.


"Jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi orang lain!," ucap Langit geram, setelah membaca pesan yang belum sempat terkirim di ponsel Gita.


Isi pesan Gita pada temannya di ponsel yang belum sempat terkirim, 'Nggi, kamu lagi sama siapa tuh? Bapak kamu bukan sih, bukan pacar kan, kok kelihatan tua?' jelas membuat Langit marah karena terdengar sama sekali tidak sopan dan tanpa filter.


"Aku penasaran, dia kan temen deket aku."


"Mau temen kamu, mau musuh kamu. Kehidupan pribadi mereka bukan urusanmu, selama mereka tidak berniat menceritakannya sendiri!"


"Sudah selesai kan makannya?, ayo pulang!" Langit berdiri, dan langsung menarik tangan Gita ke arah pintu keluar belakang restoran.


"Lohh, ikan bakar aku belum abis Kak!"


"Nanti aku bawa kamu ke pasar ikan, kamu bisa habiskan semua ikan di sana sampai puas."


"Iiih, emang aku kucing makan ikan mentah."


"Kamu memang kucing." 'Kucing garong nakal yang sudah mencuri hati', Langit meneruskan kalimatnya dalam hati.


...❤...


Rasa penasaran Gita tentang pria yang bersama temannya, tidak bisa dihentikan oleh kalimat petuah Langit saat di restoran tadi malam.


Setelah semalam menahan diri agar tidak menghubungi dan mengirim pesan pada Anggita, pagi ini ia sedang menunggu kedatangan kawannya itu.


"Haaii," sapa Anggita bersemangat, ia baru masuk kelas dengan wajah cerah.


"Kamu kenapa sih, senyam-senyum ga jelas," ucap Anggi pada Gita sembari menambah polesan wajahnya dengan bedak.


"Kamu kemarin kencan di restoran Rumput Laut ya?"


Anggita menghentikan sapuan bedaknya, lalu menoleh pada Gita yang duduk disebelahnya. Ia tidak ingin menjawab, hanya mengerutkan keningnya dengan tatapan waspada.


"Kamu sama siapa tuh?" Gita mendekatkan tubuhnya ke arah Anggita, wajahnya semakin antusias dan penasaran.


"Salah liat kamu." Anggita membereskan perlengkapan make up-nya dengan tergesa.


"Ga ah, aku yakin itu kamu. Aku tadinya sudah mau nyamperin kamu, tapi sama Kak Langit ga boleh katanya nanti gangguin."


"Cerita doong." Gita mengguncang tangan Anggita, saat temannya itu masih diam tidak menanggapi pertanyaannya.


"Apaan sih?!" Anggita menatapnya tak suka.


"Pelit iiihh, ga bagi-bagi cerita," sungut Gita, ia masih belum memahami ketidaksukaan Anggita atas pertanyaannya.


"Bukan urusanmu!" Anggita berdiri dari duduknya, lalu pindah ke barisan depan yang kosong.


"Eh, kenapa dia?" tanya Nindy saat Anggita melewatinya dengan wajah yang berlipat.


"Ga tau, aku cuman nanya dia sama siapa makan di restoran kemarin." Nindy yang akan bertanya lebih lanjut, terpotong saat guru yang akan mengajar pagi itu sudah masuk ke dalam kelas.


Saat jam istirahat siang Gita masih belum bisa mendekati Anggita, karena gadis itu sudah melesat keluar dari kelas tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


"Nggi!, Anggita!" Gita berlari mengejar temannya itu, yang sudah terlebih dahulu berjalan dengan sangat cepat melintasi lapangan saat pulang sekolah.


Langkah Gita terhenti saat sebuah mobil mewah melewati dirinya, dan dari balik kaca mobil itu ia melihat Anggita ada di kursi depan bersama seorang pria setengah baya yang berbeda dari semalam.


"Git, lihatin apa?" Teddy menghentikan sepeda motornya tepat di sebelah Gita.


"Itu ...." Mata Gita masih terpaku pada mobil yang membawa temannya dan sudah semakin terlihat menjauh.


"Temen kamu?, si Anggita?" Gita menoleh cepat ke arah Teddy. Ia baru sadar di belakang cowok idolanya itu, ada seorang cewek yang berbeda lagi.


"Kak Teddy kok tau itu Anggita?" Matanya terus mengamati wanita yang membonceng di belakang Teddy.


"Taulah." Teddy tertawa penuh arti.


"Aku antar Marisa dulu ya ke toko buku." Teddy mengikuti arah pandang mata Gita.


"Kamu ga apa-apa pulang sendiri? atau biasanya kan bareng Langit pulangnya? mana dia?" Teddy mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang sudah seperti bayangan Gita.


"Aku pulang sendiri." Gita menganggukan kepala dan tersenyum terpaksa.


"Oke kalau gitu. Aku jalan dulu ya, kamu hati-hati pulangnya," ucap Teddy seraya mengedipkan sebelah mata, dan mencubit dagunya.


Gita menatap kepergian Teddy dengan perasaan kecewa, kesal, marah sekaligus merasa lucu karena ucapan pria itu yang meminta maaf karena kali ini ia harus pulang sendiri.


Bukankah dari dua puluh lima hari dalam sebulan waktu sekolah, ia pulang dengan Teddy tidak lebih dari hitungan jari sebelah tangannya.


...❤❤...


Terima kasih sudah mengikuti 🙏


Maafkan saya bolong update dua hari, karena kesibukan dunia nyata yang tidak bisa ditinggal. Mohon jangan kapok ya 😘🙏


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk


__ADS_1


__ADS_2