Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Perangkap


__ADS_3

Teddy menghentikan motornya di salah satu tempat hiburan malam di pusat kota.


"Ayuk." Teddy mengulurkan tangan ke arah Gita, tak sabar ia langsung menarik tangan gadis itu, saat terlihat ragu untuk masuk ke dalam gedung yang sudah terdengar hingar bingar dari arah luar.


"Anggita di sini?" Gita menyambut tangan Teddy, sesaat hatinya berdebar tapi setelah itu biasa aja.


"Mungkin, tapi kita kan mo kencan bukan nyariin Anggita?" Teddy mengedipkan sebelah matanya, membuat Gita menunduk tersipu malu.


"Baru lagi nih, Ted?"


"Widiihh, gress nih."


"Waah, boljug lu Ted, emang paling bisa milih."


"Setoran ... setoran."


"Suitt ... suiitt."


Bisikan dan celetukan nakal mengiringi langkah mereka, saat menyusuri sepanjang lorong temaram itu.


"Kak Teddy kenal banyak orang ya di sini?" Gita merapatkan tubuhnya ke arah Teddy, bukan karena centil tapi rasa tidak nyaman dari tatapan lapar pria di sekitarnya.


"Yaaah, lumayan. Mau minum apa?" tanya Teddy, setelah mereka memilih tempat duduk di sofa paling pojok ruangan.


"Eemm, es teh aja."


"Hahahahaa ... makin gemes aku sama kamu. Ini bukan warung sayang. Aku pesankan cola aja ya." Teddy terbahak dan mencubit ujung hidungnya.


Panggilan sayang dari Teddy membuat Gita kembali tersipu.


"Satu cola, aku seperti biasanya aja ya, manis," ucap Teddy pada waiters perempuan yang memakai baju kurang bahan.


"Belum pernah ke sini?" tanya Teddy sambil melingkarkan tangannya di bahu Gita.


"Belum." Gita merasa sedikit rikuh ia sedikit menjauhkan badannya.


"Kamu tadi cerita, kalau Papamu sudah ga ada?"


"Masih ada, tapi sama Mama sudah pisah."


"Papamu nikah lagi?"


"Entah." Gita menggeleng malas melanjutkan pembicaraan tentang Papanya.


Ia melemparkan pandangannya pada sekelompok muda mudi yang sedang bergoyang di tengah lantai dansa.


"Maaf, kalo ingetin kenangan kamu yang jelek." Gita hanya tersenyum.


"Jadi Mama kamu sendirian yang kerja penuhi kebutuhan kamu?"


"Iya, Mama aku hebat banget. Mama aku usaha catering join sama temennya, tapi kadang aku kasihan kalo mama sudah kelihatan capek. Apalagi pas ada acara nikahan biyuhhh, pulang bisa subuh."


"Temen kamu si Anggita, Ibunya terima jahitan. Ayahnya sudah meninggal kalau ga salah, tapi dia sekarang sudah punya Ayah yang baru."

__ADS_1


"Ibunya Anggi nikah lagi?, Kak Teddy kok tau banyak sih tentang Anggita." Gita cemberut kesal.


"Kalo lagi cemburu tambah cantik, makanya aku suka kalo buat kamu cemburu."


"Iisssh, apaan." Gita menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.


"Aku hanya dapat cerita dari teman-temanku. Ibunya Anggita itu ga nikah lagi, tapi temen kamu itu dapet Ayah baru." Teddy menatap lekat perubahan wajah Gita.


"Maksudnya gimana sih, Kak?"


"Kamu lihat itu." Teddy menunjuk ke beberapa sofa di seberang mereka yang masing-masing dihuni sepasang sejoli.


"Mereka kenapa?"


"Perhatikan aja, menurut kamu ada yang aneh ga?" Gita mencoba menajamkan penglihatannya ke beberapa pasang pria wanita yang sedang asyik berduaan.


Sekilas tidak ada bedanya dengan mereka berdua sekarang ini, tapi ada yang aneh spontan Gita membuka mulutnya dan menutupnya dengan tangan.


"Yang laki kok ...." Jari telunjuk Gita terarah ke depan.


"Jangan ditunjuk gitu, ga sopan." Teddy menarik tangan Gita dan menggenggamnya.


"Yang pria lebih tua, benar."


"Bukan lebih tua lagi, tapi mirip ayah sama anaknya. Aku pikir mereka pacaran loh."


"Ya, itu yang aku bilang tadi. Mereka itu mirip temen kamu si Anggita, punya pengganti Ayah yang menyayangi mereka, memberikan mereka limpahan materi, enak banget pokoknya mereka itu."


"Punya pengganti Ayah, tapi ga nikah sama Ibunya?, kok aneh ya?"


"Ooo, jadi Anggita juga sudah punya Ayah pengganti juga ya. Pantes aku pernah lihat dia makan sama model om-om gitu. Pulang sekolah kemarin juga dijemput sama om-om juga, tapi beda orang loh kok bisa ya?"


"Waah, keren berarti si Anggita punya banyak Ayah pengganti. Dompet dan rekeningnya pasti terisi terus tuh." Teddy kembali melirik reaksi Gita.


"Apa hubungannya?"


"Kalo yang namanya Ayah pengganti itu kalo sudah sayang, rekening bankmu bakal gendut. Belum lagi mau belanja apa tinggal tunjuk."


"Waah, kok enak banget sih. Pantes Anggita penampilannya keren banget, rupanya ada yang subsidi."


"Naah, itu temen kamu." Teddy menunjuk ke arah pintu masuk, tampak Anggita berjalan dengan seorang pria yang sama saat di restoran rumput laut.


"Bajunya bagus banget, cantik banget sih Anggi." Gita berdiri mau menghampiri temannya.


"Eeh, mau kemana? udah ga usah ganggu, ada waktunya kamu tanya hal ini sama dia. Kalau kamu tidak sama dan sepaham dengannya, dia ga bakal cerita sama kamu."


"Maksudnya gimana sih?!" Gita merasa kesal sudah ditahan untuk mendekati temannya itu.


"Kamu mau seperti Anggita, punya Ayah pengganti?" tanya Teddy hati-hati.


"Siapa juga yang mau anggap aku anak?, makanku banyak." Gita tertawa sumbang.


"Aku punya kenalan, lagi cari anak remaja putri untuk disayang. Mau ga?"

__ADS_1


"Aku tanya Mama aku dulu ya."


"Loohh, jangan pernah tanya hal ini pada orang lain!" tegas Teddy, tatapannya memperingatkan tepat pada kedua mata Gita.


"Lalu?"


"Ya kan kamu dah gede, bisa putuskan keinginan kamu sendiri, kamu pingin ga seperti Anggita?"


Sebenarnya untuk soal materi Gita sama sekali tidak khawatir. Usaha Ibunya berjalan sangat lancar di bidang catering dan EO yang sering bekerja sama dengan Raymond sepupunya.


"Aku kenalkan sama temen aku mau?, kamu tunggu di sini dulu ya."


Dari kejauhan Gita melihat Teddy membisikan sesuatu pada seorang pria yang dikelilingi oleh wanita berbaju minim, tak lama Teddy dan pria itu berjalan mendekat ke arah Gita.


"Git, kenalkan ini namanya Om Bagas."


"Ini yang namanya Gita, Om."


Gita duduk berhadapan dengan seorang pria dewasa yang memindainya dari ujung kaki hingga kepala.


"Om Bagas ini, lagi cari anak putri yang bisa disayang, Git," jelas Teddy, ia masih bisa melihat ketakutan di mata Gita.


"Om Bagas ga punya anak perempuan ya?" tanya Teddy seraya memberi kode dengan mengedipkan sebelah mata ke pria berperut buncit di hadapannya.


"Iya, Ted. Saya ingin punya anak perempuan yang cantik seperti Gita ini." Pria dewasa itu tersenyum pada Gita, "Kamu umur berapa sayang?"


"Enam belas, Om," sahut Gita lirih sambil terus melirik ke arah Teddy.


"Jangan panggil Om dong, panggil Papi atau Daddy, kan Gita mau jadi anak perempuan yang di sayang. Gita mau kan jadi putri Daddy?"


Gita melirik Teddy dengan dahi berkerut meminta bantuan, karena ia masih belum mengerti konsep Ayah pengganti tapi orang tua tidak menikah dan anak perempuan yang di sayang oleh ayah pengganti.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk

__ADS_1



__ADS_2