
"Kok Om lagi sih?, Daddy dong." Om Bagas mengedipkan sebelah matanya.
"Daddy mau ajarkan Gita sesuatu yang bikin enak." Om Bagas tersenyum penuh arti, seraya membuka sabuk pengamannya.
Kening Gita mengkerut saat Om Bagas mendekatkan tubuh serta wajah ke arahnya.
"Da-daddy ma-mau apa??" Gita menjauhkan tubuhnya, tapi geraknya terhalang sabuk pengaman.
"Mau sayangin Gita," bisik Om Bagas seraya membelai rambutnya. Bahu Gita spontan bergerak menolak saat tangan Om Bagas menyentuh lehernya.
"Jangan takut, Daddy cuman mau sayang Gita aja."
"Ja-jangan, Dad." Gita terus bergerak mundur hingga menempel di pintu mobil.
"Jangan jauh-jauh dong, sini deket Daddy. Pertama biasa memang takut, tapi kalo sudah merasakan enaknya hmmm ... malah nagih." Om Bagas menarik lengan Gita.
"Aku ga mau, Dad." Gita mulai menangis.
"Ga di apa-apain kok, cuman mau sayang aja. Gita mau kan di sayang sama Daddy?" Om Bagas berkata lembut namun tegas di telinganya.
Tubuh Gita mengkerut, merasakan hawa panas dari mulut Om Bagas yang meniup telinganya.
"Geli ya?" Om Bagas terkekeh.
"A-aku mau pulang, Dad." Gita melirik takut ke arah Om Bagas.
"Pulang sebentar ke rumah Daddy yuk." Om Bagas menyelipkan tangan ke tengkuk Gita, sementara tangan yang satunya sudah mulai mengusap-usap lutut Gita.
"Ma-mau pulang ke rumah Gita aja," ucap Gita lirih.
"Mmmm, okay lain kali main ke rumah Daddy ya." Gita menarik nafas lega mendengar jawaban Om Bagas.
"Pulang yuk, Dad." Gita mencoba tersenyum. Gita sungguh takut, jika ia berontak Om Bagas akan berbuat yang jauh lebih nekat karena saat ini, daerah sekitar mereka sangat sepi dan jauh dari jalan besar.
"Tapi cium dulu ya." Om Bagas menarik tengkuk Gita.
"Ja-jangaaann!" Gita memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
"Sebentar ajaaa." Om Bagas menarik tubuh Gita lebih mendekat. Tangannya memegang dagu Gita, memaksa untuk memalingkan wajahnya.
"Gita ga mau, Dad." Gita mulai terisak.
"Enak kok, coba dulu," paksa Om Bagas.
BRAAKKKK!!! ...
Saat bibir hitam Om Bagas hampir menyentuh bibir Gita, ada yang menghantam dari belakang bagasi mobil.
"Breng*sek!, apa itu!" gerutu Om Bagas, matanya nyalang mencari-cari wujud pengganggu lewat kaca spion.
PRAAKK!! ....
Kali ini kaca spionnya pecah terkena lemparan batu, dengan emosi Om Bagas keluar dari mobil.
"Bocah sia*lan!, mau apa kamu!" tuding Om Bagas.
"Mau jemput calon istri saya."
__ADS_1
"Ngawur!, pulang sana! kalo mau malak salah tempat kamu!" Om Bagas menarik handle mobil hendak masuk kembali ke dalam, tapi kaki Langit lebih cepat menendang pintu mobil hingga tertutup kembali.
"Anak kurang ajar!!" Om Bagas mengangkat kepalan tangannya, ia akan menghantam kepala Langit.
BUGGHH!! ....
Belum sempat tangannya menyentuh kepala Langit, kaki pemuda itu sudah menyentuh perut Om Bagas lebih dulu.
Sementara Om Bagas tersungkur kesakitan, Langit memutari mobil dan membuka pintu depan sebelah supir.
"Turun!" perintah Langit.
"Cepaattt!" Tak sabar menanti Gita yang hanya diam melongo menatapnya, ia menarik tangan gadis itu keluar dari dalam mobil.
"Hei!, mau di bawa kemana gadisku?!" teriak Om Bagas seraya memegang perutnya.
"Apa ini?!" Langit mengabaikan teriakan pria setengah baya itu, ia lebih tertarik dengan paper bag yang dipegang Gita.
"Hape dibelikan Daddy," ucap Gita lirih.
"Daddyy??!! Langit mengernyit, mendengar sebutan Gita untuk pria buncit itu. Ia merampas paper bag itu dari tangan Gita.
"Masuk!" Langit menunjuk ke arah mobilnya, yang terparkir beberapa meter di belakang mobil Om Bagas.
Gita berjalan perlahan, sambil terus menoleh ke arah Langit yang maju mendekati Om Bagas.
"Saya mau bawa pulang calon istri saya, ada masalah?!" Langit berkata pelan dan tajam.
"Ambil kembali!, anda sudah tua lebih baik perbanyak ibadah, mana tau ini hari terakhir anda." Langit mendorong tubuh Om Bagas, menggunakan paper bag berisi ponsel Gita.
Langit menyusul Gita, ia melihat gadis itu hanya diam berdiri di sisi mobil dengan pintu depan terbuka.
"Kamu kenal di mana orang itu?" tanya Langit saat mobilnya sudah membelah jalanan.
Gita tidak mau menjawab, ia hanya diam membisu dan memandang ke arah luar jendela.
Ia merasa kesal dan kecewa, saat melihat Anggita ada di mobil Langit.
"Empi!, aku tanya, kamu kenal di mana orang itu? ... kamu dikenalkan Teddy?!" Langit melirik Gita lewat kaca spion.
"Kalo bukan karena Anggita yang maksa aku ikutin kamu, mungkin kam---"
"Kalo Kak Langit ga ikhlas tolongin aku, turunin aja aku di sini!" seru Gita.
Kekecewaan Gita bertambah lagi karena kalimat Langit yang seakan menyatakan, jika ia menolong karena Anggita yang memintanya, bukan karena keinginannya sendiri.
Langit menarik nafas panjang, ia tahu saat ini Gita sedang tidak bisa diajak berkomunikasi dengan baik.
Mereka bertiga hanya diam membisu selama perjalanan. Tangan Gita mengepal saat Langit mengarahkan mobilnya, ke jalur tujuan tempat tinggalnya.
"Kamu istirahat dulu, nanti kita bicara lagi. Aku antar A---"
BRAAKK!! ....
Belum sempat Langit menyelesaikan kalimatnya, Gita membanting pintu mobil lalu masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
Gita langsung masuk ke dalam kamar, tanpa membuka baju ia langsung naik ke atas ranjangnya dan menangis tersedu di atas bantal.
__ADS_1
"AKU BENCI KALIAN!!" teriak Gita, namun suaranya teredam oleh bantal.
"PENGKHIANAT!!"
"Bilang aja mau berduaan, sok suruh aku istirahat!"
"Apa pedulimu!, tau gitu aku sama Teddy ato Daddy aja!!"
"JAHATTT!!"
Gita terus berteriak, menangis dan memukul bantal, ia mengeluarkan semua emosinya.
Entah berapa lama ia sudah tertidur, suara ketukan di pintu memaksanya untuk membuka mata.
Tok ... tok ... tok
"Git, Gitaa! bangun!, anak ini kalo tidur, kayak kebo beneran susah bangunnya." Omelan Mama membuatnya harus segera membuka pintu.
"Astagaaa!, sudah malam masih pakai baju seragam. Mandi!" Mama membuka paksa pintu kamarnya.
"Kamar sudah kayak kandang kebo, pantes orangnya jadi mirip kebo kalo tidur. Anak perempuan itu ga boleh tidur lewat waktu maghrib." Omelan Mama masih terdengar saat Gita berjalan ke arah kamar mandi.
"Empi." Langkahnya berhenti sejenak, saat melihat Langit duduk di kursi meja makan.
Gita terus berjalan masuk ke kamar mandi tidak menghiraukan panggilan Langit. Ia sengaja berlama-lama di kamar mandi karena malas bertemu dengan pemuda itu.
Setelah hampir lebih dari setengah jam di dalam kamar mandi, ia akhirnya keluar karena sudah merasa kedinginan.
"Empi, duduk sini dulu aku mau bicara." Langit menarik tangan Gita untuk duduk di sebelahnya.
"Apa sih!" Gita menyentak tangan Langit dan menolak untuk duduk di samping pria itu.
"Kalo mo ngomong, ya ngomong aja ga usah pake pegang-pegang."
"Jadi kamu lebih suka dipegang sama om-om genit itu?!" seru Langit, ia menatap tajam dan kembali mencengkram lengan gadis itu.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku yuk
__ADS_1