
"Pacar?" gumam Langit heran, tapi ia enggan membalas karena melihat raut wajah Gita yang sangat tidak bersahabat.
Lagipula belum terlalu penting untuk dibahas saat ini, karena ada hal yang jauh lebih penting yang akan disampaikannya pada gadis di sebelahnya itu.
"Kita mau ngapain di sini, aku mau cepat pulang, Kak," keluh Gita kesal, saat Langit memberhentikan mobilnya di salah satu gerai makanan siap saji.
Ia ingin segera pulang dan rebahan di kamar lalu mencoba semua fitur ponsel barunya.
"Laper," jawab Langit singkat.
"Kalo laper kan bisa makan di rumah," Gita menggerutu. Langit hanya diam saja, tapi dalam hatinya menjawab 'kalo di rumah makan sendirian, ga ada kamu.'
Seperti biasa Gita langsung masuk dan mencari tempat duduk, sementara Langit mengantri untuk memesan.
"Makan dulu." Langit menyodorkan bagian Gita.
Langit menatap dengan intens gadis dihadapannya yang sedang asyik menikmati potongan ayam, dengan sebelah tangan memegang ponsel barunya.
"Empi, kamu kenal di mana Om-om yang kemarin?" tanya Langit pelan.
Gita mengangkat wajahnya, dilihatnya sebentar wajah Langit yang memandangnya sendu.
"Dikenalkan sama Kak Teddy," jawabnya pelan.
"Aku sudah tau."
"Kalo tau kenapa pake tanya segala," sahut Gita kesal.
"Aku cuman pingin kamu jujur, dan aku ga mau kalo nanti terkesan menuduh Teddy."
"Tapi Kak Teddy kan ga tau kalo Om Bagas itu brengsek. Dia cuman mau tolongin aku," Gita bersikukuh.
Langit menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Dia mau tolong kamu apa?"
Gita diam sejenak lalu akhirnya menjawab pelan, "Aku pingin seperti Anggita."
Langit mengkerutkan keningnya, "Seperti Anggita?"
"Anggita punya Daddy pengganti yang sayang sama dia, belikan apa aja yang dia mau," ucap Gita lirih.
"Daddy pengganti?"
"Anggita sama seperti aku ... sudah ga punya ayah."
Langit menghela nafas lega. Sempat ia berpikir, jika Gita ingin seperti Anggita menjadi sugar baby.
Langit bukan tidak tahu apa yang dikerjakan Anggita dan Teddy, tapi selama tidak mengganggu dirinya dan orang di sekitarnya, itu semua bukan urusannya.
"Memangnya apa yang mau kamu beli?, kamu bisa bilang sama Mama mu, bilang sama Bima, sama aku juga boleh, tapi jangan minta sama orang asing."
"Aku ga minta dibelikan barang kok. Ponsel kemarin dibelikan gitu aja, karena aku bilang ponselku rusak," protes Gita.
"Lalu?" tanya Langit bingung.
"Kak Langit ga bakal ngerti!" sergah Gita.
"Empi ...." Langit terdiam sejenak. Ia bingung, bagaimana menjelaskan pada gadis yang masih punya pikiran polos di hadapannya ini.
__ADS_1
Gita memandang Langit, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir pria itu.
"Yang ditawarkan Teddy itu bukan seperti yang ada di pikiranmu." Langit menghentikan kalimatnya, ia menunggu reaksi dari Gita.
"Maaf kalo aku harus berkata seperti ini ... Teddy ingin menjualmu," jelas Langit dengan pelan namun tegas.
"Menjual bagaimana maksud Kak Langit??" Wajah Gita mengkerut, ia tidak suka dengan pernyataan Langit yang terkesan menyudutkan Teddy.
"Empi, Teddy itu seorang mucikari." Langit masih sabar berkata dengan sangat pelan.
Gita mulai bergerak gelisah. Ingin rasanya tidak percaya, tapi hatinya mengatakan bahwa semua yang dikatakan Langit itu benar adanya.
"Kalau kamu ga percaya, coba tanya temen kamu si Anggita." Gita melengos malas mendengar nama Anggita di sebut dari mulut Langit.
"Kak Langit lebih percaya sama Anggita dari pada sama aku?" tanya Gita tak suka.
"Bukan masalah aku ga percaya sama kamu, tapi aku memang tau siapa itu Teddy. Kakak kamu juga tau, coba aja tanya."
Gita tak menjawab, ia memusatkan perhatiannya pada ayam yang ia sobek-sobek tanpa berniat memakannya.
"Kamu jangan dekat-dekat lagi sama Teddy, ya. Jangan mau diajak pergi berduaan lagi," lanjut Langit pelan.
Ada emosi yang membuncah di hati Gita. Seharusnya ia bahagia Langit mengkhawatirkannya, tapi sebaliknya ia merasa seperti hewan peliharaan yang di rantai, sedangkan sang majikan pergi untuk bersenang-senang.
Gita tidak membalas kalimat Langit, ia berusaha sekuat tenaga agar air yang ada di sudut mata tidak jatuh ke pipinya.
"Aku ngerti. Kita bisa pulang sekarang?" tanya Gita dengan kepala tertunduk.
"Makanmu belum habis."
Langit memiringkan kepalanya, ia merasa aneh dengan sikap Gita. Jelas awal tadi, gadis itu terlihat lahap sekali dengan menu yang ia pilihkan.
"Aku ada salah bicara?"
Gita menggeleng, "Bisa kita pulang sekarang?"
"Oke," Langit mengangguk lalu berdiri dari duduknya, diikuti Gita yang langsung berjalan mendahuluinya.
"Suka sama ponselnya?" tanya Langit saat mereka sudah dalam mobil. Ia menoleh ke arah Gita lalu tersenyum.
"Suka," jawab Gita singkat. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam dan selalu memandang ke arah luar jendela mobil.
Langit menarik nafas panjang. Situasi yang paling tidak disukainya adalah seperti saat ini. Gita mendiamkannya.
Lebih baik baginya gadis itu marah, mengomel bahkan berteriak tapi jangan diam seperti ini.
"Doctor Strange sudah main loh, nonton yuk." Gita menoleh cepat, sedetik kemudian wajahnya kembali keruh.
"Males." Gita menggeleng lalu kembali memandang ke luar jendela mobil.
Langit yang sempat berharap saat Gita memandangnya dengan mata berbinar, lalu kembali kecewa saat Gadis itu menggeleng.
"Kamu kenapa, Mpi?" tanya Langit lelah.
"Ga ada apa-apa." Gita mengembangkan senyumnya dengan terpaksa.
"Kamu ... katanya mau belajar buat kue sama Mamaku?" tanya Langit penuh harap saat mobilnya mulai memasuki gerbang perumahan mereka.
__ADS_1
Ia masih belum rela berpisah di saat ada yang mengganjal di hatinya. Ia berharap Gita mau ikut pulang ke rumahnya sebentar.
"Iya, tapi lain waktu aja," sahut Gita pelan. Ia sudah bersiap akan turun, meski mobil belum sampai di depan rumahnya.
"Makasih ya, Kak," ucap Gita tanpa mau memandang lurus ke wajah Langit, walaupun bibirnya mengulas senyum.
Langit tidak menjawab, hanya mengangguk dan menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya.
Baru satu langkah masuk ke dalam rumah, kedatangannya disambut dengan seruan Mamanya, "Aahh, Langit akhirnya pulang juga kamu, dari tadi Mama telpon sama kirim pesan kamu ga jawab."
"Kenapa, Ma?" tanya Langit malas. Ia melirik ponselnya, ternyata dalam keadaan mode silent.
"Nanti sore kita mau jenguk keponakannya Tante Silvi, istrinya baru melahirkan."
"Anaknya Pak Suroto yang punya usaha suka pamer-pamer itu loh," cetus Mama saat melihat Langit mengernyitkan kening tidak mengerti.
"Ow, Kak Ray. Itu namanya usaha Exhibition, Ma yang handle pameran produk usaha."
"Ya itulah pokoknya."
"Jam berapa?"
"Jam lima ya, Lang. Kamu ga ada acara kan sore nanti."
"Ga ada."
"Ya udah, kita jemput Tante Silvi sama Gita sekalian nanti."
"Berangkat sama-sama, Ma?" Mata Langit seketika berbinar.
"Ya, kita ke rumah sakit sama-sama."
"Okeee, jam lima aku siap." Langit mencium pipi Mamanya, lalu langsung melesat masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang membuncah.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku yuk
__ADS_1